I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Memberi Bantuan


__ADS_3

"Hallo, Hawa, gimana? Kamu sudah coba hubungi? Oh .... Mungkin mereka sudah pada tiduran. Ya sudah, nanti kalau ada pengacara yang bisa dihubungi, bisa tolong suruh hubungi aku? Aku lagi ada di polres. Hmmm .... Mereka menangkap Mahfud dan aku butuh bantuan pengacara. Oh ya sudah .... Ok kalau begitu. Jangan lupa kabari aku lagi nanti," kataku sembari menutup telepon.


"Bagaimana?" tanya penyidik itu.


"Oh, sepertinya agak sulit mendapatkan pengacara malam ini. Kalau begitu saya cari pengacara besok pagi saja," kataku.


"Kalau keterangan Ibu tentang saudara kembar Bapak Mahfudz benar, maka Bapak Mahfudz bisa dikeluarkan besok tanpa bantuan pengacara," kata Penyidik itu.


"Saya harap begitu," jawabku. "Ngomong- ngomong saya bisa keluar sekarang?"


"Oh, iya silahkan. Maaf sudah mengganggu waktunya, namun apabila diperlukan kami masih memerlukan keterangan Bu Raya tentang saudara kembarnya Pak Mahfudz, kami masih akan memanggil Ibu sebagai saksi."


Aku khawatir akan kata- kata terakhir penyidik itu. Namun aku tetap berusaha setenang mungkin.


"Oh, iya tentu itu tidak masalah, Pak!"


Selepas itu aku segera kembali ke Ummik. Aku berharap pasangan wakil walikota dan istrinya itu tidak mengganggu Ummik selama aku ditanyai sebagai saksi tadi.


"Bagaimana Ray? Apa yang mereka tanya padamu?Apa Mahfudz akan dibebaskan?" tanya Ummik khawatir.


"Tentu saja, Ummik. Mereka salah tangkap orang." jawabku.


"Salah tangkap?" tanya Ummik tak mengerti.


Aku mengangguk dan tersenyum


"Meski pun salah tangkap tetap saja itu bagian dari keluarga suamimu. Keluarga yang tidak beradab!" cela istri Waridi.


Aku menoleh sinis pada wanita itu.


"Wow, apa kekuasaan wakil walikota sehebat itu? Aku bahkan belum keluar dari ruangan penyidik 2 menit yang lalu. Tapi sepertinya kalian sudah tau hasil dari interogasi itu." kataku takjub.


Dia memandangku remeh, namun tak menjawabku. Aku berpaling ke Ummik.


"Ummik, aku agak sedikit mual. Aku mau ke mobil dulu sebentar. Sepertinya minyak kayu putihku ketinggalan di dashboard."


Ummik mengangguk.


Aku segera ke luar dan kembali ke mobil. Aku harus segera menghubungi Fuad lagi. Untungnya penyidik itu tidak curiga saat dia meneleponku tadi. Dan Fuad juga langsung cepat tanggap mendengar aku pura- pura sedang menelepon Hawa dan saat ini sedang berada di kantor polisi.


Aku segera masuk ke mobil, menelepon panggilan masuk terakhir. Teleponku langsung diangkat.


"Kakak Ipar, tolong aku ...." Suara Fuad langsung terdengar di seberang sana.


"Kau ini .... Apa yang sedang kau lakukan Fuad? Dimana Ayuni? Kamu membuat kekacauan di sini. Kau tidak tau Mahfudz sekarang mereka tangkap karena ulahmu?" kataku marah.


Terdengar suara Fuad menghela napas di telepon.


"Maafkan aku, Kakak Ipar! Aku tidak bermaksud membuatmu repot dan kewalahan. Tapi saat ini aku butuh bantuanmu. Tolong pinjami aku uang! Aku akan bawa Ayuni pergi jauh dari kota ini untuk sementara. Uang tabunganku tidak akan cukup. Kamu tau penghasilanku dari youtube belum seberapa dan lagi untuk beberapa waktu ke depan, aku tidak akan bisa membuat konten apa pun. Jangan khawatir aku akan menggantinya padamu, kalau masalah ini sudah selesai," kata Fuad.


Aku terperangah mendengar kata- kata Fuad.


"Kau sudah gila? Untuk apa kau menyusahkan hidupmu seperti itu? Tolong antar Ayuni ke kantor polisi sekarang. Suruh dia mengaku pada polisi perbuatan Waridi. Maka semua ini akan selesai. Please, kamu jangan buat Mama cemas Ad. Aku akan memberimu uang tanpa harus meminjam. Tapi lupakan menjadikan Waridi sebagai konten youtubemu. Itu sangat berbahaya. Kau bahkan sudah jadi buronan sekarang dan besok pagi wajahmu akan terpampang di semua surat kabar dan televisi!"7 kataku cemas.


Fuad menghela napas lagi.


"Maafkan aku, kakak ipar! Ini bukan lagi soal konten. Tapi kemanusiaan. Aku tidak bisa lagi mengirim Ayuni ke sana. Waridi itu, lelaki mengerikan. Kau tidak tau apa yang bisa dia lakukan. Kau bahkan tidak akan sanggup mendengar apa yang dia lakukan pada Ayuni ...." Terdengar suara parau Fuad di telepon sana.


Apa Fuad sedang menangis? Really?


"Hmmm .... Kamu tenanglah dulu, Ad. Ceritakan pelan- pelan padaku" kataku.


Fuad menceritakan semua yang dia dengar dari Ayuni perbuatan Waridi. Dari waktu dia kecil hingga dia dipaksa melayani nafsu bejat Waridi. Padahal waktu itu umurnya sangat belia. Dan untuk menutupi kejahatannya. Dia dipaksa menikah dengan salah seorang kenalannya dari luar negeri. Dan Ayuni juga pernah pernah melayani keduanya sekaligus. Dan terakhir kali Waridi mengetahui dia hamil, dia dipaksa minum racun serangga agar terlihat seperti dia melakukan percobaan bunuh diri.


"Dia lelaki gila, psikopat! Kau tau, dia terobsesi dengan hubungan incest (hubungan seksual sedarah). Karena itu dia mengangkat anak- anak panti dan berfantasi sebagai ayahnya dan menuruti nafsu bejatnya. Please .... Tolong bantu aku, Kakak Ipar. Hanya kau yang bisa membantuku. Aku tidak mungkin meminta uang pada Mama. Dia tidak akan memberikannya. Apalagi kalau dia tau ini demi orang lain. Pokoknya tidak akan ada yang mengerti situasinya saat ini. Hanya kau harapanku satu- satunya."


Aku mengusap air mata di pipiku. Cerita Fuad di telepon itu tak sengaja membuatku berderai air mata.


"Tapi, Ad. Kenapa kita tidak bawa Ayuni saja melapor pada polisi? Dia akan dilindungi, Ad ...."


"Dia sudah pernah melakukannya. Tapi tak ada yang percaya dan menghiraukannya. Yang ada dia dipulangkan lagi ke rumah Waridi. Dan semakin disiksa lagi. Laki- laki itu abnormal, Kakak Ipar. Berhati- hatilah. Dia juga banyak koneksi kuat di segala bidang, termasuk kantor polisi. Aku juga mengkhawatirkanmu. Selain itu aku minta tolong, jaga Mama dan Nadya selama aku pergi. Ini hanya sementara. Sampai aku mendapat cara bagaimana cara mengungkapkan kejahatannya itu."


"Ayuni, apa dia tidak punya keluarga? Apa dia tidak bisak dititip ke panti asuhan tempat dia tinggal dulu?" tanyaku.


Aku masih berharap semoga masih ada cara agar Fuad tidak terlibat hal ini.


"Dia tidak punya siapa- siapa lagi. Selain itu sepertinya pihak panti asuhan lebih pro pada Waridi. Dia donatur tetap di sana. Pulang ke panti asuhan berarti sama saja memulangkan dia ke rumah Waridi."


Aku rasanya tak dapat lagi berkata- kata. Ini benar- benar sangat rumit. Satu sisi aku merasa aku tidak perlu melakukan ini. Masalah hidupku akan bertambah rumit dengan membantu Ayuni. Tapi di sisi lain sebagai seorang manusia dan wanita, aku tidak bisa memalingkan wajah untuk pura- pura tidak tau akan hal ini. Ya Allah, bagaimana ini?


"Ok, berapa banyak uang yang kamu butuhkan?"


Fuad menyebutkan nominal yang dia inginkan. Sebenarnya tidak terlalu besar namun juga bukan nominal yang kecil.

__ADS_1


"Ok, bagaimana caraku memberikannya padamu? Apa ku transfer?"


"Sebaiknya jangan. Mereka pasti akan melacakku kalau aku melakukan penarikan ATM, dan mereka akan tau kalau kau mengirimkan uang untukku. Aku tidak mau membuatmu terlibat dalam resiko yang sulit seperti ini." katanya terdengar putus asa.


"Lalu, apa rencanamu?" tanyaku.


"Kamu bawalah besok uang itu ke rumah sakit. Aku akan mengambilnya dengan caraku. Setelah itu aku akan membawa Ayuni ke luar pulau dulu sampai dia melahirkan."


Aku mendesah. "Baiklah."


"Dan tolong jangan beri tahu Mama dan Mahfudz. Aku tidak mau mereka semakin khawatir."


"Kau sudah membuat kekhawatiran pada mereka."


"Maka aku tak boleh menambahinya lagi," jawabnya.


Aku gelisah. Bagaimana mungkin aku akan berbohong hal sebesar ini pada Mama dan Mahfudz. Aku dan Mahfudz sudah saling berkomitmen bahwa kami akan jujur satu sama lain. Dan Mama? Bagaimana caraku berbohong pada Mama? Bagaimana pun dia seorang Ibu? Apakah aku harus bohong padanya tentang terancamnya keselamatan putranya saat ini.


"Ad .... Coba kamu pikirkan ulang lagi."


"Aku sudah memikirkannya masak- masak. Dan Ayuni dia tidak punya siapa- siapa lagi sekarang. Hanya aku yang dimilikinya sekarang."


Haaaa? Apa itu maksudnya?


Aku terlonjak kaget saat tiba- tiba ada yang mengetuk jendela mobilku. Jantungku hampir copot, karena sempat mengira itu Waridi. Ternyata itu Mama.


"Fud, ada Mama. Aku matikan dulu teleponnya."


Fuad terdiam. Dan sepertinya aku tak bisa lagi menunggunya untuk menjawabku. Aku segera mematikan teleponnya dan membuka pintu mobil.


Mama memelukku. Di belakangnya ada dua polisi sedang mengawalnya. Dan Nadya ikut juga.


"Raya, ada apa ini, Nak? Kau tidak apa-apa, Mahfudz di mana?"


Gurat khawatir tergambar di wajahnya. Bagaimana bisa aku akan membohongi seorang Ibu seperti ini. Ah, maafkan aku, Ma.


Aku tersenyum pahit. "Mahfudz di dalam Ma."


\*\*\*\*\*\*


Sore ini giliranku bertugas di poli. Aku sangat gelisah memikirkan bagaimana cara Fuad nanti mengambil uang yang dia minta. Aku sudah menyiapkannya sedari tadi. Uang dengan nominal 15 juta rupiah. Mahfudz sendiri sudah diperbolehkan pulang ke rumah atas jaminan Mama yabg telah memberikan kesaksian bahwa Mahfudz adalah orang yang berbeda dengan Fuad. Beliau terlihat shock mengetahui kasus yang menimpa Fuad. Dan aku merasa bersalah karenanya.


"Pasien selanjutnya, Win"


Pasien yang dipanggil adalah seorang wanita bercadar dengan pakaian serba hitam. Dia tidak di dampingi suaminya.


"Ibu silahkan tensi dulu, Bu!" suruhku.


Pasien itu manut saja. Winda langsung mengecek tekanan darahnya.


"90- 70, Dok" kata Winda.


"Ibu, silahkan berbaring dulu." kataku. "Ibu mau USG kan?"


Ibu Diana menggeleng.


"Saya ingin konsultasi, Dok! Bisa kita ngomong berdua?" tanyanya.


Aku menatap wajah berniqob itu. Yang terlihat hanya alis dan matanya.


"Hmmmm ...." Aku berpikir sejenak.


"Saya ingin konsultasi masalah pasutri dan organ kewanitaan. Saya agak risih jika di dengar orang lain."


"Ok, baiklah .... Winda, bisa tolong kamu dan anak- anak menunggu sebentar di luar. Saya ingin bicara berdua dengan ibunya."


Winda pun paham dan mengajak para mahasiswa magang dan anak koas dan meninggalkan kami berdua di ruangan ini.


Selepas mereka pergi, wanita itu membuka niqobnya. Dia Ayuni. Dia terlihat sangat kurus. Matanya cekung, kelopak matanya terlihat masuk ke dalam.


Aku berusaha tersenyum padanya. Meski pahit.


"Jadi kau Ayuni? Aku pernah sebelumnya melihatmu, saat itu kau belum sadarkan diri. Mungkin kau baru pertama kali melihatku. Perkenalkan aku Raya!"


Dia menyambut uluran tanganku.


"Aku sudah sering mendengar tentang Dokter. Dokter yang hebat." katanya tulus.


Aku tersenyum mendengar pujian itu. Dari tasku, aku mengambil sebuah amplop coklat berisi uang yang diminta Fuad.


"Jadi Fuad tidak ikut ke sini?"


Ayuni menggeleng. "Dia menunggu di luar."

__ADS_1


Aku memberikan amplop itu pada Ayuni.


"Aku tidak mengerti apa rencana kalian selanjutnya. Dan bagaimana kalian bisa begitu dekat dalam beberapa hari padahal kalian baru saja kenal. Tapi aku mohon, karena ini terjadi akibat dan demi kamu juga. Tolong jaga adik iparku baik- baik. Terus terang saja, aku juga merasa bersalah karena melibatkan dia dalam urusan Waridi. Dan aku mohon padamu, jika masanya telah datang dan kau telah siap, tolong bantu kami untuk mengungkap segala kejahatan Waridi yang telah dia lakukan padamu. Hmmm?" bujukku sambil menggenggam tangannya yang memegang amplop itu.


Ayuni menarik tangannya dan menunduk.


"Dokter, aku tidak ...."


Dia mencoba menolak permintaanku, namun aku menarik kembali tangannya.


"Aku tidak bilang harus sekarang. Kapan pun kau siap, ayo kita beri Waridi hukuman yang setimpal akan perbuatannya." kataku mencoba membujukku lagi.


Aku menatapnya dalam- dalam sampai pada akhirnya dia mengangguk. Aku menarik napas lega. Aku tidak tau kapan dia siap, tapi yang jelas aku tau dia butuh mempersiapkan mentalnya.


"Mumpung kau di sini, aku akan memeriksa kehamilanmu. Ayo, berbaringlah! Kita akan lakukan USG pada kandunganmu," kataku.


Ayuni mengangguk dan berbaring di ranjang.


"Kau sudah pernah USG sebelumnya?" tanyaku.


Dia menggeleng.


"Istrinya Waridi tak pernah membawamu?" tanyaku asal.


"Mama bilang sebaiknya tak perlu USG. Jenis kelamin bayi biarkan jadi kejutan sampai lahiran nanti," katanya.


"USG bukan cuma untuk mengetahui jenis kelamin bayi. Tapi banyak hal lain yang bisa diketahui dari USG, berat badan bayi, jumlah air ketuban, perkiraan hari lahir," kataku menjelaskan.


Aku menggerak- gerakkan dopler itu di perut Ayuni.


"Dok, maafkan aku ...." kata Ayuni dengan nada menyesal.


"Untuk ....?"


Aku pura- pura tidak mengerti.


"Karena aku telah menyebabkan banyak masalah untuk dokter dan keluarga dokter. Dokter bahkan diculik oleh Waridi dan dipersulit. Bahkan dokter sampai terpaksa menikah dengan saudaranya Fuad agar tidak malu soal berita skandal itu." katanya menjelaskan.


Aku menghentikan aktivitas menggerakkan dopler dan mengernyitkan keningku.


"Terpaksa? Siapa yang bilang aku terpaksa menikah dengan Mahfudz? Fuad yang bilang?" tanyaku kesal.


Dia mengangguk.


Astaga anak itu ....


Aku tersenyum. "Fuad berbohong padamu. Aku menikah dengan Mahfudz bukan karena terpaksa. Tapi karena aku dan dia saling mencintai. Aku bahkan sekarang sedang hamil anak kami. Kamu kira bisa hamil kalau aku merasa terpaksa?"


Aku tiba-tiba menutup mulut dan menggigit bibirku. Aku baru saja mengatakan sesuatu hal yang fatal dan salah sekali.


"Maaf, aku tak bermaksud berkata sesuatu yang menyakitimu." kataku menyesal."Tentu saja bisa hamil kalau sel telur bertemu ******. Itu bukan masalah terpaksa atau tidak,"


Aku mencoba meralat kata- kataku untuk mengobati luka hatinya andai dia tersinggung pada ucapanku.


"Tidak apa- apa, Dokter. Aku tau maksud dokter bukan sesuatu yang buruk. Meski aku hamil karena dipaksa melayani nafsu bejatnya dan jangankan mencintai, aku bahkan membencinya dengan seluruh jiwa raguku. Tapi aku tidak pernah menyesali kehadiran anak ini dalam hidupku. Dia adalah anugrah entah itu berasal dari benih siapa pun. Tapi kelak dia akan menjadi satu- satunya orang yang benar- benar mutlak ku miliki. Satu- satunya yang memiliki hubungan darah denganku. Jadi Dokter tidak perlu khawatir. Aku tidak tersinggung pada kata- kata Dokter."


Kerongkonganku terasa tercekat mendengar kata- katanya. Sungguh dia gadis malang yang tidak beruntung, padahal hidupnya selalu penuh syukur.


Aku kembali menggerakkan doppler di perutnya untuk menghilangkan rasa canggungku.


"Jenis kelaminnya laki- laki. Kondisinya sehat meski berat badannya kurang. Harusnya di usia kehamilan 26 minggu berat badan janin sudah mencapai berat 750 gram dengan tinggi badan janin 36- 39 cm. Itu artinya kau harus lebih banyak makan makanan yang sehat dan bergizi. Dan kalau memungkinkan minum susu hamil. Dan nanti aku akan meresepkan suplemen vitamin dan suplemen penambah darah untukmu." kataku.


"Jadi dia lelaki?" tanyanya senang. "Syukurlah dia bukan perempuan ...."


"Kenapa? Kau ingin memiliki sosok anak laki- laki yang akan menjagamu di hari tua kelak?" tanyaku mencoba menebal pikirannya.


Ayuni menggeleng.


"Aku tidak ingin memiliki anak perempuan. Waridi memiliki kelainan. Dia senang berfantasi melakukan hubungan incest seolah aku adalah anak kandungnya. Kalau aku punya anak perempuan, mungkin dia akan menjadikan anakku targetnya? Lebih baik begini ...." kata Ayuni pilu.


Lagi- lagi aku merasa tercekat di tenggorokanku. Mataku terasa berkaca- kaca.


"Incest? Dari mana kau tau dia memiliki kelainan seperti itu? Apa dia memiliki anak perempuan? Kau pernah melihatnya melakukannya pada anaknya?"


Ayuni menggeleng.


"Dia tidak memiliki anak perempuan. Kedua anaknya lelaki dan sekarang sudah menikah yang satunya lagi kuliah di luar negeri. Karena itu dia mengangkat anak- anak perempuan dari panti asuhan untuk dijadikannya objek kelainan seksualnya. Tiap kali dia memaksaku berhubungan, dia ingin aku memanggilnya 'ayah', "jangan ayah'. Dia terobsesi dengan kata- kata itu."


Ayuni menangis menceritakan kisah pilunya. Aku juga ikut terisak, hatiku sakit mendengarnya. Tanpa sadar aku memegang perutku sendir. Aku ngilu mendengarnya sampai aku seperti merasakan sendiri sakitnya.


Aku menyeka air mataku saat ponselku bergetar. Ada pesan baru masuk. Itu adalah pesan dari anak magang yang sengaja ku minta tolongi untuk mengawasi kondisi di luar saat aku sedang menemui Ayuni di ruanganku.


[Sepertinya ada beberapa polisi yang masuk ke area rumah sakit, Dokter. Katanya mereka sedang mencari buronan, mereka sekarang sedang berada di bagian informasi, hati- hati mereka mungkin akan memeriksa poli]

__ADS_1


Ya Allah, bagaimana ini? Aku sampai berkeringat dingin menghadapi situasi ini.


__ADS_2