Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab. 110 Door..


__ADS_3

"Kakek ku tidak akan bisa berbuat sekeji itu tuan?"


"Hahaha...menghabisi seluruh keluarga ku itu bukan perbuatan keji hah!" hardik tuan Sultan mendekati Nayla.


"Kakek kamu harus merasakan apa yang aku rasakan selama ini, harus nya aku melenyapkan mu bersama kedua orang tua mu dulu, sehingga aku tidak bekerja dua kali seperti ini," ucap tuan Sultan dengan mencengkram kuat dagu Nayla.


"Jadi kecelakaan itu?"


"Ya....aku yang merencanakan kecelakaan itu, dan kau juga harus nya ikut mati dalam kecelakaan itu, sehingga tidak ada satu pun keturunan dari Richard Thomson yang hidup sekarang ini. Tapi sial nya, kamu palah selamat dari kecelakaan itu."


Nayla hanya bisa menggelengkan kepala nya tidak henti - henti nya dia meneteskan air mata nya.


"Ini tidak mungkin.....A ku yakin pasti ada kesalahpahaman di sini tuan...kakek ku tidak mungkin berbuat seperti itu," kata Nayla dengan terbata.


Sultan kemudian menghempaskan dagu Nayla dengan sangat kasar.


"Tapi seperti itu kenyataan nya nona....dan sekarang kamu harus menanggung apa yang sudah kakek kamu lakukan pada ku."


Setelah mengucapkan hal itu Sultan Davidson kemudian pergi. Dia menyuruh salah satu anak buah nya untuk menyumpal mulut Nayla kembali dan mengaktifkan bom yang membalut tubuh Nayla.


Nayla hanya bisa pasrah dengan apa yang aka terjadi pada nya nanti. Walaupun dia masih berharap ada suatu keajaiban yang bisa menyelamatkan dia nanti nya. Tapi jika memang dia harus mati dengan cara seperti itu, dia ikhlas.


"Kakek....maafkan Nayla,"lirih Nayla dengan memejamkan kedua mata nya.


Braakkk,


Terdengar suara pintu terbuka dengan kasar. Nayla seketika membuka mata nya dan dia melihat sosok yang sangat dia kenal sedang baku hantam dengan beberapa anak buah tuan Sultan tidak jauh dari nya.


"Mas Keenan...." lirih Nayla dengan mata yang berbinar.


Keenan dan Rendi sedang berusaha untuk melumpuhkan beberapa anak buah tuan Sultan yang sangat terlatih itu. Mereka sedikit kualahan dalam mengatasi hal itu. Tapi untung nya Keenan dan Rendi mempunyai keahlian bela diri yang tidak diragukan lagi jadi mereka dengan mudah melumpuhkan semua anak buah tuan Sultan yang ada di dalam gedung tersebut.


Dalam perjalanan tadi, salah satu anak buah Rendi sudah berhasil menemukan tempat di mana Nayla di sekap saat ini. Mereka langsung menuju tempat tersebut dan untung nya tempat itu tidak lah jauh dari posisi mereka saat ini. Jadi tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di sana. Beberapa anak buah Keenan sudah melumpuhkan seluruh anak buah Sultan yah berada di luar gedung tua itu. Sehingga memudahkan Keenan dan Rendi untuk langsung masuk ke dalam gedung tua itu.

__ADS_1


"Tuan......sebaiknya anda menyelamatkan nona sekarang juga, biar ini saya yang mengatasi nya," ucap Rendi.


Keenan pun langsung berlari ke arah Nayla dan membuka penyumpal mulut Nayla. Keenan langsung menangkup ke dua pipi Nayla.


"Kamu tidak apa - apa kan Nay?" tanya Keenan dengan penuh khawatir.


Nayla menganggukkan kepala nya beberapa kali sebagai tanda jika dia tidak apa - apa. Saat itu Keenan belum tersadar jika di tubuh mantan istri nya itu sudah terpasang bom yang sudah di aktifkan. Keenan baru tersadar saat dia akan berusaha melepaskan tali yang mengikat di tubuh Nayla. Dan betapa terkejutnya dia melihat sebuah bom waktu yang menempel di bagian perut Nayla.


"Bom?" lirih Keenan memundurkan langkah nya ke belakang.


"Aku mohon mas, menjauh lah dari sini dan pergi lah jauh mas, aku tidak ingin kamu mati sia - sia di sini bersama ku," teriak Nayla dengan tangisan.


Keenan menggelengkan kepala nya, jujur saat ini dia sanga panik dan bingung harus berbuat apa. Rendi yang melihat atasan nya itu panik langsung menghampiri nya.


"Ada apa tuan?" tanya Rendi.


Keenan tidak menjawab pertanyaan Rendi melainkan menunjuk ke arah bom waktu yang melingkar di perut Nayla. Mata Rendi membelalak melihat mantan nyonya nya terlilit bom waktu. Dia juga sempat melihat waktu yang tersisa tinggal sepuluh menit.


"Bagaimana ini tuan, apa yang harus kita lakukan."


"Aku mohon, kalian menyingkir lah dari tempat ini, hiks...aku tidak ingin kalian mati sia - sia hanya karena menyelematkan ku," Nayla berusaha membuat Keenan dan Rendi menjauh dari tempat itu.


Keenan menggelengkan kepala nya, menandakan dia tidak akan pergi dari tempat itu.


"Aku tidak akan meninggalkan mu Nay....apa pun yang terjadi aku akan tetap di sini. Sekalipun nyawa ku harus aku korbankan, aku akan tetap berusaha untuk menyelamatkan mu, percaya lah pada ku," Keenan berusaha menenangkan Nayla.


"Tidak ada pilihan lain lagi, bismillah..." gumam Keenan melangkahkan kaki nya mendekati Nayla dan menatap bom itu dengan sangat serius.


"Tuan apa yang akan anda lakukan!" teriak Rendi.


"Mas....aku mohon jangan bertindak bodoh seperti ini yang bisa membahayakan nyawa mu," ucap Nayla dengan nada yang tinggi.


Dia berusaha menyadarkan mantan suami nya itu untuk berhenti menolong nya.

__ADS_1


Keenan sama sekali tidak menggubris ucapan dari Rendi dan Nayla. Dia tetap fokus ke arah bom itu. Tidak di pungkiri saat ini dia sangat gugup sekali, beberapa kali dia mengusap dahi nya yang berkeringat. Waktu yang ada di bom itu tinggal lima menit lagi. Dengan penuh keyakinan Keenan memegang salah satu kabel bom itu.


"Bismillah...." Keenan memejamkan mata nya dan menarik kabel itu sampai terlepas.


Tit........seketika detik waktu yang ada di bom itu terhenti. Keenan dengan sigap melepaskan bom itu dari tubuh Nayla dan berlari membawa bom itu keluar gedung dan melempar nya jauh.


Nayla dan Rendi ikut keluar dari gedung itu.


Bugh....


Nayla langsung memeluk erat tubuh Keenan. Dia terisak dalam pelukan mantan suami nya itu. Keenan mengusap punggung mangan istri nya itu dengan sangat lembut berusaha untuk menenangkan Nayla jika semua nya sudah berakhir.


Saat dia sedang berusaha menenangkan Nayla tiba - tiba dia melihat tuan Sultan Davidson sedang mengarahkan sebuah pistol ke arah Nayla dengan sigap dia membalikkan tubuh Nayla dan.....


Dooorrrr....


Terdengar suara tembakan yang sangat keras di tempat itu.


"Aaa......" Nayla berteriak karena melihat Keenan yang jatuh luluh ke lantai dengan bersimbah darah.


"Mas Keenan...." pekik Nayla dengan berusaha untuk menopang tubuh Keenan supaya tidak jatuh ke lantai.


"Tuan....."


Rendi langsung berlari ke arah Keenan yang sudah jatuh ke lantai dengan tubuh yang berlumuran darah. Rendi menatap orang yang sudah menembak atasan nya itu, dia langsung menarik pistol nya ke arah tuan Sultan. Tapi sebelum itu terjadi tiba - tiba tuan Sultan sudah jatuh tersungkur ke arah depan. Ternyata dia sudah dilumpuhkan oleh polisi yang dibawa oleh Abraham.


"Mas Keenan bangun mas.....jangan tinggalkan aku! hiks...." kata Nayla sambil menangis histeris. Dia beberapa kali menepuk pipi mantan suami nya itu berharap Keenan membuka mata nya.


Tidak peduli jika tubuhnya sekarang ini berlumuran darah, dia tetap mendekap tubuh Keenan. Dia berharap jika dengan mendekap tubuh Keenan bisa mengurangi darah yang mengalir dari tubuh Keenan.


Tidak lama kemudian ambulans pun datang di tempat itu. Dan Keenan langsung di bawa ke ambulan itu menunju rumah sakit yang terdekat. Sepanjang perjalanan Nayla tidak berhenti menangis sambil memegangi tangan Keenan. Abraham pun ikut dalam ambulans itu.


Sedangkan Rendi sendiri berada di mobil lain, karena sebelum nya dia harus membuat laporan ke kantor polisi.

__ADS_1


Abraham menatap lekat pada wajah Nayla, sangat tampak jelas di wajah itu betapa dia masih sangat mencintai mantan suami nya itu.


"Anda benar tuan Keenan.... Nayla masih sangat mencintai mu."


__ADS_2