Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab.25 Ternyata dia perhatian juga


__ADS_3

" Dasar wanita sombong, sudah bagus aku bertanya tentang keadaannya, tapi palah jawabannya seperti itu," gerutu Keenan .


Akhirnya Keenan ikut meninggalkan dapur dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Dia berangkat tanpa pamit ke Nayla seperti biasa nya. Dan itu sudah tidak dipedulikan lagi oleh Nayla.


"Dengan keadaan ini mana mungkin aku bisa bekerja hari ini, sepertinya aku harus izin ma bos," ucap Nayla.


Nayla kemudian mengambil ponsel nya di lemari, dia langsung menghubungi Manager Resto dimana dia bekerja untuk meminta izin jika dia hari ini tidak bisa berangkat kerja karena sedang tidak enak badan. Dan untungnya sang bos memberikan izin pada Nayla untuk beristirahat hari ini.


Setelah meminta izin kepada sang bos, Nayla langsung bergegas membersihkan diri dan berencana memasak untuk sarapan. Saat dia keluar dari kamar, Nayla setengah terkejut mendapati ada seorang wanita paruh baya yang sedang berkutat di dapur nya.


"Siapa dia," gumam Nayla.


Tanpa ragu - ragu Nayla kemudian menghampiri wanita itu di dapur.


"Maaf anda siapa."


Merasa ada yang menyapa kemudian wanita itu membalikkan badannya ke arah sumber suara dan tersenyum ramah saat berhadapan dengan Nayla.


"Perkenalkan nyonya, saya Bi Marni yang bertugas membersihkan apartemen milik Tuan Keenan," sapa Marni dengan ramah.


Nayla baru teringat jika Keenan pernah mengatakan kalau ada seseorang yang akan datang membersihkan apartemennya dua hari sekali. Dan ternyata Bi Marni ini yang dimaksud oleh Keenan.


"Saya Nayla Bi," jawab Nayla tidak kalah ramah dengan senyum yang manis.


"Senang berkenalan dengan Nyonya, ternyata istri tuan Keenan sangat cantik," puji Bu Marni.


Nayla yang mendapatkan pujian itu hanya tersenyum.


"Oh ya, Bibi sedang buat apa."


"Ini Nya, tadi sebelum tuan berangkat kerja menghubungi saya untuk membuat bubur untuk Nyonya, kata tuan .. Nyonya sedang tidak enak badan maka nya tuan menyuruh saya untuk membuat bubur," terang Bu Marni.


Nayla yang mendengar penjelasan dari Bi Marni mengernyitkan dahi ny. Dia tidak percaya kalau Keenan memperdulikannya. Nayla tersenyum kecil karena Keenan tidak seperti yang dia bayangkan.


"Oh ," Nayla hanya ber oh ria.


"Ternyata dia perhatian juga," batin Nayla tersenyum.


"Oh ya, Bibi jangan panggil saya Nyonya dong," ucap Nayla sambil duduk di kursi bartender yang tak jauh dari dapur.


"Emang kenapa Nya," tanya Bi Marni heran.


"Aneh saja kedengarannya buat saya Bi, lebih baik Bibi panggil saya Nayla saja, biar lebih akrab."


"Maaf Nya saya tidak bisa, saya tidak berani. Bagaimanapun Nyonya adalah istri dari majikan saya," ucap Bi Marni.

__ADS_1


"Ya sudah Bibi boleh panggil saya apa pun tapi jangan panggil saya dengan sebutan Nyonya," terang Nayla.


"Baiklah saya akan panggil Nyonya dengan Nona Nayla saja."


"Seperti juga boleh Bi."


Bi Marni menghidangkan bubur yang dia buat di meja makan. Kemudian mempersilahkan Nayla untuk menyantapnya. Tanpa mengulur waktu Nayla langsung menyantap bubur itu, karena sejak bangun tidur tadi dia sudah merasa lapar.


"Masakan Bibi sangat enak," ucap Nayla mengacungkan jempolnya dan disambut senyuman oleh sang pembantu.


" Bibi sudah makan," tanya Nayla.


" Belum Non."


" Kalau belum mari sarapan bareng dengan saya," tawar Nayla.


"Terima kasih Non atas tawarannya, tapi saya harus membersihkan apartemen dulu," tolak Bi Marni halus.


"Tinggalkan dulu pekerjaan Bibi, tidak baik bekerja dengan perut yang masih kosong, sini temani saya sarapan, saya paling tidak suka dengan penolakan lho Bi," ucap Nayla sedikit mengancam. Dia sengaja melakukan itu supaya Bi Marni mau makan terlebih dahulu sebelum melakukan aktifitasnya.


Akhirnya Bi Marni menurut dengan perkataan Nayla dan ikut sarapan bersama.


"Bibi sudah lama bekerja dengan Mas Keenan," tanya Nayla di sela - sela sarapan.


"Sudah Non."


" Iya Non," jawab Bu Marni singkat.


" Kalau begitu ceritakan pada ku Bi, seperti apa kebiasaan Mas Keenan," antusias Nayla.


Bi Marni menceritakan semua hal tentang Keenan tentang apa yang tidak disukai, apa yang disukai, makanan kesukaan Keenan, dan hal yang paling Keenan benci. Semua itu tidak terlewatkan sama sekali oleh Nayla. Karena ini kesempatan dia untuk mengenal lebih dalam tentang Keenan.


" Jadi seperti itu," batin Nayla.


"Aku jadi merasa bersalah karena selama ini tidak menjalankan kewajiban ku sebagai seorang istri, walaupun Mas Keenan melarang, harusnya aku tetap melakukannya. Harusnya aku lebih berusaha lagi. Dia selama ini sarapan dimana, padahal kata Bi Marni Mas Keenan tidak bisa kalau pergi ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu," monolog Nayla.


Setelah mendengarkan cerita Bi Marni mengenai Keenan, kemudian Nayla memutuskan untuk tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan mengurus segala keperluan Keenan. Dia tidak peduli jika nanti nya tidak diterima oleh Keenan.


**


Di resto tempat Nayla bekerja ada seorang laki-laki tampan sedang duduk gelisah menunggu seseorang. Dia melihat ke sana kemari mencari keberadaan Nayla. Laki - laki itu adalah Davin Sanjaya, hari ini Davin sudah membulatkan tekadnya untuk meminta maaf kepada Nayla atas perkataannya kemarin malam. Dia akan berusaha bagaimanapun cara nya supaya mendapatkan maaf dari Nayla.


"Pelayan," panggil Davin pada salah satu pelayan yang melintas di meja nya.


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu," sapa sang pelayan yang tak lain adalah Santi sahabat Nayla.

__ADS_1


"Eum .. apakah kamu mengenal Nayla Atifa, salah satu pelayan di resto ini."


Santi mengernyitkan keningnya, dia merasa heran karena baru kali ini ada seorang pelanggan resto yang menanyakan seorang pelayan.


" Hmmmm."


Santi tersadar dari lamunannya mendengar Davin berdehem.


"Eh ... Iya tuan maaf," jawab Santi gugup.


" Kamu mengenal Nayla Atifa," Davin mengulang pertanyaannya.


"Iya tuan saya mengenalnya, kebetulan Nayla sahabat saya," jelas Santi.


"Ternyata aku bertanya pada orang yang tepat," batin Davin melengkungkan senyumannya.


" Apa kamu bisa panggilkan dia kemari."


" Maaf tuan, tapi Nayla hari ini izin tidak masuk kerja," jawab Santi.


" Tidak masuk kerja," gumam Davin lirih.


" Ya sudah kalau begitu buatkan saya Cappucino satu," ucap Davin dingin.


"Baik tuan," jawab Santi dan berlalu meninggalkan Davin.


Dalam perjalanan menuju dapur, Santi terus berpikir siapa laki - laki yang menanyakan keberadaan Nayla, dan ada hubungan apa diantara kedua nya.


" Nanti aku tanyakan saja ma Nayla, dari pada penasaran," gumam Santi.


**


Di kantor Keenan seharian ini disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Sampai dia tidak ada waktu untuk menghubungi sang kekasih.


" Dasar asisten tidak becus, hal seperti ini saja harus aku yang menyelesaikan," umpat Keenan. Dia merasa kesal karena semua pekerjaan yang seharusnya dihandle oleh Rendi terpaksa dia yang menyelesaikannya karena sang asisten masih berada di luar kota.


Keenan melirik jam yang melingkar di tangannya, ternyata sudah waktu nya untuk pulang. Dia segera meraih ponsel nya dan menghubungi seseorang.


" Hallo honey," sapa Keenan pada orang yang ada di seberang.


[ ......................... ]


" Sorry Honey, hari ini aku sangat sibuk sekali banyak berkas yang harus aku periksa dan tanda tangani," jelas Keenan pada sang kekasih.


[ ........................... ]

__ADS_1


" Okey, aku janji besok kita lunch bareng ya. Untuk tempat kamu saja yang menentukan," jawab Keenan dengan senyum mengembang karena Michel sudah tidak marah lagi.


Setelah menelepon sang kekasih, Keenan memutuskan untuk pulang. Dia merasa sangat lelah hari ini, dan ingin istirahat lebih awal.


__ADS_2