Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab. 86 Makan Siang


__ADS_3

Nayla telah bersiap ke kantor seperti biasa, tidak banyak persiapan yang harus dia lakukan setiap akan ke kantor. Dia hanya memakai setelan kantor seperti yang lain nya, dia juga tidak merasa diri secara berlebihan. Tanpa make up pun dia sudah terlihat sangat cantik.


Agenda dia pagi ini meeteng bersama CEO The Royal Company, sebenarnya dia sangat malas jika harus berhadapan langsung dengan pemilik salah satu perusahaan terbesar di negara itu. Entah kenapa dari awal pertemuan mereka, Nayla langsung ilfill dengan Abraham. Tapi bagaimana pun dia tetap harus profesional.


Padahal pesona laki - laki itu tidak diragukan lagi, dia juga sering mendengar selentingan dari sesama teman bisnis nya jika Abraham adalah tipe idaman setiap wanita. Selain wajah yang tampan rupawan, dan kekayaan yang tidak diragukan lagi dia juga terkenal dengan dingin terhadap lawan jenis nya, banyak wanita dari kalangan atas, selebritis atau model yang terang - terangan mengejar dia tapi tidak satu pun yaang bisa meluluhkan seorang Abraham Davidson.


Bahkan ada beberapa wanita yang suka rela menawarkan tubuh nya hanya untuk sekedar menjadi teman ranjang sang CEO, akan tetapi lagi - lagi seorang Abraham Davidson tidak melirik sama sekali justru dia sangat ilfil dengan tipe wanita seperti itu.


Tok..tok...


"Permisi Bu, Tuan Abraham sudah datang..." ucap sang asisten Nayla.


"Suruh saja langsung ke ruang meeteng, sebentar lagi saya ke sana," jawab Nayla.


"Baik Bu...kalau begitu saya permisi."


Setelah kepergian sang asisten, Nayla kemudian merapihkan beberapa berkas yang tadi dia kerjakan. Dan dia mengambil berkas yang akan dibahas dalam meeteng nanti.


Di ruang meeteng Abraham sudah menunggu kedatangan Nayla dengan sedikit gelisah dan gugup, dia beberapa kali merapihkan penampilan nya apa kah sudah rapih atau belum, dan hal itu tidak luput dari tatapan sang asisten.


"Tidak usah melihat ku seperti itu Jo..." ucap Abraham dengan tatapan tajam ke asisten.


"Ma af tuan..." Jo langsung menundukkan kepala nya setelah mendapat tatapan tajam sang tuan.


Tidak lama kemudian terbuka lah pintu ruang meeteng itu, dan masuk lah wanita yang sejak tadi Abraham tunggu - tunggu. Wanita yang sangat anggun dan elegan itu berjalan seperti slow motion bagi Abraham dan itu mampu membuat pandangan Abraham tidak berkedip sama sekali. Sampai Abraham tidak mendengar sapaan dari Nayla.


Jo, yang melihat gelagat aneh dari tuan nya kemudian berbisik di telinga Abraham.


"Maaf tuan...Nona Nayla menyapa anda," bisik Jo.


Abraham yang mendapat bisikan dari Jo sontak kaget dan berusaha menetralkan pandangan nya seperti biasa.


"Selamat pagi tuan Abraham..." sapa Nayla dengan ramah dan tersenyum manis dan mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan seperti yang dia lakukan saat menyapa klien nya jika bertemu.


"Selamat pagi juga Nona Nayla..." jawab Abraham berusaha setenang mungkin menyambut uluran tangan Nayla. Padahal saat itu detak jantung Abraham sedang dalam tidak baik - baik saja.


"Setelah ini aku rasa harus periksa ke dokter, karena aku merasa ada yang aneh dengan jantung ku sekarang ini, kenapa berdetak begitu cepat sekali," batin Abraham.


Nayla kemudian mempersilahkan Abraham dan asisten nya untuk duduk di ruang meeteng tersebut. Dan memulai pembahasan tentang proyek yang sedang mereka kerjakan.

__ADS_1


Pembahasan itu membutuhkan waktu selama dua jam, kemudian Nayla menutup meeteng tersebut. Saat Nayla ingin beranjak dari tempat duduk nya. Tiba - tiba Abraham menahan nya. Dia menawarkan Nayla untuk makan siang bersama. Kebetulan sekarang sudah waktu nya jam makan siang.


Awal nya Nayla ragu untuk menerima tawaran itu, tapi setelah melihat isyarat dari sang asisten jika jadwal dia hari ini tidak padat, jadi dia bersedia untuk menerima ajakan Abraham untuk makan siang bersama dengan syarat asisten mereka masing - masing harus ikut. Dan itu tidak masalah bagi Abraham yang terpenting Nayla mau menerima ajakan makan siang dengan nya. Karena selama ini sangat lah sulit untuk diri nya mengajak CEO janda itu untuk keluar walaupun hanya sekedar makan siang.


Sesampai nya di restoran yang Abraham pilih, mereka langsung duduk di tempat yang sudah Abraham pesan sebelum nya. Seperti nya Abraham sudah menyiapkan segala sesuatu nya terlebih dahulu, dia seakan begitu yakin jika Nayla bersedia mau ikut makan siang dengan nya hari ini.


Awal nya Abraham menyuruh sang asisten untuk mengajak asisten nya Nayla untuk menempati tempat yang berbeda dengan mereka berdua. Akan tetapi Nayla menginginkan mereka makan berempat di meja yang sama. Alhasil Abraham pun pasrah menerima semua yang Nayla ingin kan.


Saat makan siang tidak ada obrolan yang bearti antara mereka berempat, yang ada hanya kecanggungan. Abraham beberapa kali memberi kode kepada sang asisten untuk pergi mengajak asisten nya Nayla dari meja itu, akan tetapi seperti nya Jo asisten Abraham sengaja tidak mengindahkan kode dari tuan nya itu. Justru dia palah asyik menikmati hidangan yang ada di meja itu dengan sesekali mengobrol dengan Nayla dan asisten nya. Hal itu membuat Abraham menjadi kesal. Dia beberapa kali menghembuskan nafas nya untuk meluapkan rasa kesal nya.


Melihat hal itu, Jo menjadi tidak enak hati telah mengerjai atasan nya itu. Dia kemudian memberikan isyarat kepada Santi asisten dari Nayla untuk pergi dari tempat itu.


"Maaf tuan dan nona, saya permisi dulu mau menerima telepon dari klien," pamit Jo undur diri.


Nayla dan Abraham hanya menganggukkan kepala nya dan membiarkan Jo pergi. Setelah itu tidak berselang lama giliran Santi yang izin undur diri ke toilet.


Nayla pun mengizinkan sahabat nya itu, dia tidak menaruh curiga sama sekali. Berbeda dengan Abraham dia bersorak gembira dalam hati nya karena akhirnya para asisten itu peka juga dengan apa yang dia ingin kan.


Sekarang tinggal lah mereka berdua yang di meja itu. Kebetulan mereka sedang menyantap makanan penutup. Ya walaupun mereka masih dalam mode canggung dan tidak ada yang berani memulai percakapan tapi Abraham kini memberanikan diri untuk memulai obrolan.


Hemm....


"Oh ya, apa boleh saya memanggil kamu dengan nama saja jika berada di luar kantor dan tidak dalam hal membahas pekerjaan?" ucap Abraham dengan sangat hati - hati.


Nayla mengernyitkan dahi nya ketika mendengar ucapan Abraham itu, sebenarnya dia tidak masalah jika Abraham akan memanggil dia apa saja asal itu masih dalam konteks yang sopan. Karena selama ini dia juga tidak pernah mempermasalahkan nya.


"Terserah tuan saja..." jawab Nayla singkat.


"Baiklah kalau begitu...aku akan panggil nama kamu saja jika di luar pekerjaan, tapi kamu juga harus memanggil aku dengan sebutan lain, jangan Tuan...jujur ya aku sebenarnya sangat risih jika ada yang manggil aku dengan sebutan itu, kesan nya aku ini seperti di raja kan saja," ucap Abraham terkekeh sendiri karena jujur selama ini emang dia sangat risih dengan sebutan itu, tapi sering kali orang lain pasti memanggil nya sedang sebutan itu.


Nayla yang mendengar ucapan Abraham pun tertawa kecil, dan itu membuat Abraham benar - benar merasa sangat bahagia sekali


Karena pada akhirnya dia bisa melihat Nayla yang biasa terlihat dingin kini bisa tertawa. Dan menurut Abraham itu menambah kecantikan Nayla.


"Terus saya harus panggil apa dong ke tu..." ucapan Nayla terhenti ketika mendapat tatapan tidak suka dari Abraham.


"Ups.....sorry," ucap Nayla sambil mengangkat dua jari nya ke atas dan nyengir kuda memperlihatkan deretan gigi nya yang tersusun rapih dan putih bersih.


"Terserah kamu saja, atau bagaimana kalau panggilan kesayangan mungkin," kata Abraham sambil menaikturunkan alis nya dan tersenyum menggoda Nayla.

__ADS_1


Nayla langsung melotot kan mata nya ke arah Abraham.


"Hahahahaha... becanda Nay..."


"Aku tidak pernah mempunyai panggilan kesayangan sebelum nya kepada orang lain, apa lagi pada lain jenis," kata Nayla jujur.


"Termasuk pada mantan suami mu dulu."


Deg,


Nayla langsung menghentikan seluruh aktifitas nya, dan dia tersenyum getir.


"Dari mana anda tahu tentang masa lalu saya," tanya Nayla menyelidik.


"Maafkan aku Nay...tanpa seizin mu aku mencari tahu semua tentang diri mu, ya walaupun tidak semua nya aku tahu tentang dirimu, tapi setidak nya aku tahu tentang status mu sekarang ini," jawab Abraham dengan nada yang merasa bersalah.


Lagi - lagi Nayla hanya tersenyum tipis, bagi dia tidak masalah jika ada orang lain yang mengetahui tentang status nya. Toh selama ini dia juga tidak pernah merahasiakan apa pun tentang status nya itu. Bagi dia tidak berpengaruh sama sekali jika ada orang lain yang memandang sebelah mata dengan status yang dia sandang saat ini.


"Jadi anda sudah tahu kalau saya ini seorang...."


"Janda maksud kamu...." ucap Abraham.


"Emang ada apa dengan status Janda? bagi aku tidak ada masalah dengan status itu Nay...justru aku salut dengan wanita yang mempunyai status itu tapi dia bisa berdiri sendiri dan menjadi wanita yang mandiri dan kuat di luar sana," lanjut Abraham.


Perkataan Abraham membuat hati Nayla menghangat karena selama ini banyak orang yang menganggap Janda itu adalah status yang hina tidak banyak mereka selalu dianggap menjadi wanita yang tidak benar.


"Terima kasih jika anda mempunyai pemikiran seperti itu pada wanita yang mempunyai status yang sama seperti saya, tuan..."


Ck....


"Tu kaaan....masih manggil aku dengan sebutan aneh itu lagi...." kesal Abraham dengan memasang mode pura - pura ngambek seperti anak kecil.


"Hahahaha...anda ternyata lucu juga ya...saya tidak menyangka ternyata seorang Abraham Davidson seperti ini sifat asli nya, tukang ngambek," ucap Nayla dengan tertawa lepas tanpa memperdulikan image dia sebagai seorang CEO.


"Aku kan juga manusia biasa juga kali Nay...emang kamu pikir aku ini robot apa yang tidak boleh merasakan kesal, lagian aku seperti ini juga cuma ma kamu saja."


Uhuk....


Nayla tiba - tiba tersedak minuman nya mendengar ucapan Abraham yang terakhir.

__ADS_1


"Maksud kamu...."


__ADS_2