
"Pesona janda emang tiada dua nya," batin sang asisten.
"Fix....the real janda memang selalu terdepan," gumam Jo lirih. Dan sang bos yang berada di samping nya seketika langsung melayangkan tatapan tajam ke sang asisten. Jo yang mendapat tatapan yang menghunus itu menelan ludah nya dengan kasar dan langsung menundukkan kepala nya.
Nayla yang sekarang memang beda dengan Nayla yang dulu. Nayla yang sekarang sudah menjelma menjadi seorang wanita yang dewasa, anggun dan elegan. Fisik nya juga banyak perubahan, tubuh nya lebih sintal dan terawat, the power of money bisa dikatakan seperti itu.
Dahulu saat sebelum dan sesudah menikah dengan Keenan dia tidak pernah sekalipun mengenal yang nama nya salon atau perawatan tubuh. Karena yang dia tahu untuk melakukan itu semua butuh dana yang besar pasti nya. Walaupun dia telah menyandang sebagai Ny.Dirgantara pun dia juga tidak pernah melakukan itu semua.
Jadi sekarang setelah dia mempunyai segala nya tidak ada salahnya jika dia melakukan itu semua. Tidak ada tujuan apa pun dia melakukan itu, sangat wajar bukan jika seorang wanita ingin mempunyai tubuh yang indah terawat dan body goal yang ideal.
Walaupun fisik Nayla sudah berubah tapi tidak mempengaruhi attitude nya, dia tetap menjadi Nayla yang humble, baik, lemah lembut dan peduli dengan sesama.
Abraham sempat terpukau dengan penampilan Nayla saat ini, wajah yang cantik natural, kulit putih bersih dan body goal yang ideal sungguh benar - benar wanita idaman setiap laki - laki. Itu yang ada di benak Abraham saat ini.
Tatapan Abraham benar - benar tidak bisa teralihkan dari wajah cantik yang ada di depan nya saat ini. Dia memindai seluruh wajah itu ke dalam memori otak nya. Tapi tatapan nya terhenti saat manik kedua mata itu bertemu, dia melihat ada suatu luka yang tersimpan dalam tatapan mata Nayla.
Karena merasa orang yang ada di hadapan nya sedang memandangi nya dengan sangat intens, kemudian Nayla memalingkan wajah nya ke arah samping dan berdehem untuk mencairkan suasana yang ada di ruangan itu.
"Hemmm....maaf tuan, ada keperluan apa anda datang ke kantor saya, bukan kah kita tidak ada janji bertemu sebelum nya?" tanya Nayla kembali.
"Saya ingin membicarakan soal kerja sama itu..." jawab Abraham dengan kembali memasang wajah cool.
Nayla mengernyitkan dahi nya, dia tidak mengerti kerja sama apa yang dimaksud Tuan Abraham ini. Bukan kah antara perusahaan nya dan perusahaan Abraham tidak ada hubungan kerja sama apa pun.
__ADS_1
Tapi Nayla tetap bersikap tenang dan menyuruh tamu nya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan kerja nya.
"Sebelum nya perkenalkan saya Abraham Davidson pemilik The Royal Company," ucap Abraham memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangan nya kepada Nayla.
Dan sang asisten yang melihat hal langka itu langsung membulatkan mata nya. Selama dia menjadi asisten Abraham belum pernah sekalipun dia melihat sang bos begitu ramah seperti itu dan apa ini bos nya memperkenalkan diri kepada klien nya? waw....sungguh luar biasa batin Jo sang asisten.
"Nayla..." jawab Nayla singkat dan membalas jabatan tangan dari Abraham.
"Maaf tuan...langsung saja ke topik pembicaraan kita, tadi tuan bilang ingin membahas tentang kerja sama, yang dimaksud tuan kerja sama yang mana? bukan kah perusahaan kita tidak memiliki kerja sama apa pun."
.
Abraham menghela nafas nya perlahan, ternyata CEO Rich Kingdom ini bukan tipe orang yang suka dengan basa basi rupa nya. Dia benar - benar wanita yang cerdas dan tegas pikir Abraham.
"Saya ke sini sebenarnya untuk meminta maaf atas perlakuan ku tadi pagi, mungkin apa yang saya lakukan berlebihan. Sehingga sampai membuat anda tersinggung dan sakit hati," ucap Abraham dengan lembut.
Nayla pun tak kalah terkejut nya seperti Jo, tapi sebisa mungkin dia tetap tenang di depan CEO yang terkenal dingin dan angkuh itu. Dia sampai menautkan kedua alis nya dan mempertajam telinga nya takut - takut dia salah mendengar ucapan maaf dari Abraham tadi. Karena dia tahu bagaimana seorang Abraham Davidson itu, orang yang tidak pernah mengucapkan kata maaf, tolong atau terimakasih pada siapa pun.
Dan ini barusan dia begitu mudah mengucapkan kata maaf itu kepada nya, yang notabene adalah orang yang baru dia kenal.
"Maaf?" Nayla sengaja mengulang kata itu.
Abraham menganggukkan kepala nya.
__ADS_1
"Untuk itu mari kita tetap lanjutkan kerja sama diantara perusahaan kita yang sempat tertunda tadi."
"Tapi Tuan...bukankah anda sendiri yang tidak menginginkan kerja sama dengan perusahaan yang tidak disiplin seperti perusahaan saya ini," sindir Nayla.
Dan ucapan Nayla itu mampu membuat hati Abraham mencelos. Karena apa yang Nayla ucapkan benar ada nya.
Abraham tidak kehabisan akal untuk membuat supaya Nayla mau bekerja sama dengan perusahaannya. Sebenarnya bukan masalah kerja sama nya yang terpenting untuk Abraham saat ini, semua itu hanya sebagai tameng supaya dia punya alasan untuk selalu bertemu dengan Nayla. Karena dari awal pertemuannya tadi Abraham benar - benar sudah tertarik dan ingin mengenal lebih dalam lagi tentang kepribadian Nayla yang menurutnya berbeda dengan wanita yang kebanyakan dia temui.
Dan setelah berdiskusi yang lumayan alot, akhirnya Nayla mau bekerja sama dengan perusahaan Abraham itu, selain perusahaan itu tergolong perusahaan yang sangat besar dan bonafit, menjalin kerja sama dengan Royal Company juga salah satu impian sang kakek selama ini yang belum terwujud. Karena perusahaan itu sangatlah susah untuk diajak kerja sama. Dan sekarang ini perusahaan itu dengan suka rela ingin menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan nya, jadi dia tidak akan menyia - nyiakan hal itu. Sekali pun dia mempunyai firasat jika ada udang di balik batu dari kerja sama itu. Akan tetapi Nayla tetap berpikir positif.
**
Di belahan benua,
Keenan masuk ke dalam apartemennya dengan langkah gontai, saat melintasi ruang tengah dia melirik ke arah meja makan. Di sana biasa nya sudah tersedia aneka makanan jika dia kembali dari kantor yang disediakan oleh Nayla. Dan di ruang itu dia juga sering melihat Nayla tersenyum manis menyambut kedatangannya dan selalu menawarkan untuk segera makan, tapi selalu Keenan tolak, sekarang tidak ada apa pun yang tersedia di sana, tidak ada makanan satu pun, dan tidak ada senyum manis Nayla juga di sana. Semua terasa begitu hambar dan menyakitkan bagi Keenan sekarang. Lagi - lagi rasa penyesalan itu datang kembali menghampiri.
"Huft......" Keenan menghela nafas nya berat, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk mengurangi rasa sesak dalam dada nya.
Dia kemudian berjalan menuju kamar yang selalu dia tempati setelah bercerai dengan Nayla. Dia meletakkan tas kerja nya di lemari kecil yang ada di dekat kasur lantai tipis yang sudah usang itu. Ya ..Sekarang dia menempati kamar Nayla, semenjak dia berpisah dari Nayla dia tidak pernah merasakan tidur dengan nyaman di kamar nya. Justru dia menemukan kenyamanan dan dapat tidur pulas setelah tidur di kasur tipis yang ada di kamar Nayla dan memeluk guling yang biasa Nayla gunakan. Karena di guling itu masih ada sisa - sisa aroma Nayla.
"Kamu ada dimana sekarang Nay....dan sedang apa sekarang, apa kamu baik - baik saja?" lirih Keenan menatap foto Nayla yang ada di kamar itu.
"Kenapa orang - orang ku sampai saat ini tidak juga menemukan keberadaan mu, kamu benar - benar hilang seperti di tekan bumi, siapa orang yang sudah membantu Nayla sampai tidak bisa di lacak keberadaannya seperti ini. Aku yakin orang itu bukan orang yang sembarangan, seperti nya besok aku harus menemui Davin lagi, siapa tahu dia kali ini bisa memberikan informasi tentang Nayla."
__ADS_1
Setelah berbicara sendiri, Keenan langsung membersihkan diri dan melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim sebelum dia tidur. Perceraian nya dengan Nayla benar - benar telah merubah kehidupan Keenan, dulu dia tidak pernah menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim tapi sekarang dia lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. Dalam setiap sujud nya dia selalu meminta kepada sang khalik untuk diberi kesempatan lagi untuk bisa bertemu dengan mantan istri nya itu karena banyak hal yang ingin dia lakukan kepada mantan istri nya itu untuk menebus segala kesalahan nya.
"Aku tidak akan pernah putus asa untuk selalu mencari keberadaan mu Nay..."