
"Mas Keenan....." pekik Nayla.
Nayla langsung berlalu menghampiri Keenan yang sudah terkulai lemas di lantai. Dia langsung menaruh kepala Keenan di paha nya dan menepuk pipi Keenan berharap Keenan akan membuka mata nya. Ada guratan khawatir dari wajah Nayla melihat keadaan Keenan seperti itu.
"Mas Keenan bangun mas..." ucap Nayla berusaha membuat Keenan sadar dengan menepuk pipi Keenan.
"Ya Allah badan kamu panas sekali mas, aku harus bagaimana sekarang di sini tidak ada orang lain selain aku dan mas Keenan," kata Nayla panik saat tangannya menyentuh dahi Keenan yang panas sekali.
"Sebentar ya mas aku akan mencari bantuan terlebih dahulu," ucap Nayla dan perlahan meletakkan kepala Keenan ke lantai kembali.
Saat Nayla hendak berdiri tiba - tiba tangannya di cekal oleh Keenan. Nayla yang merasa tangannya di pegang oleh Keenan langsung membalikkan badannya. Dan terlihat Keenan sudah sadar. Keenan berusaha untuk bangkit tapi merasa kesusahan.
"Kamu sudah sadar mas ?"
"Sebentar aku bantu untuk berdiri."
Ketika Nayla ingin membantu Keenan berdiri, tiba - tiba tangannya ditepis kasar oleh Keenan.
"Lepas ! aku bisa sendiri," bentak Keenan.
Nayla seketika menghentikan aktifitasnya yang ingin membantu Keenan melihat penolakan dari Keenan.
Baru saja mencoba untuk berdiri sendiri Keenan sudah ambruk lagi ke lantai. Kepala nya masih terasa sakit dan pandangannya berputar - putar.
"Ssst .."
Keenan mendesis menahan sakit di kepala nya. Tangannya memijit pelipis nya untuk mengurangi rasa sakit di kepala nya. Nayla yang melihat Keenan seperti itu merasa tidak tega. Dia bertekad akan tetap membantu Keenan sekalipun niat baiknya nanti akan ditolak oleh Keenan, Nayla tidak peduli.
"Astaghfirullah Mas... dalam kondisi seperti ini saja kamu masih galak dan emosian, ditunda dulu kenapa galak dan marahnya sampai kamu sembuh nanti," ucap Nayla kesal dengan keegoisan Keenan.
Nayla dengan sigap memapah Keenan menuju kamarnya di lantai atas. Mau tidak mau akhirnya Keenan bersedia dipapah oleh Nayla sampai kamarnya.
__ADS_1
Akhirnya dengan susah payah Nayla berhasil membawa Keenan ke kamar Keenan di lantai atas. Sesampainya di kamar Nayla langsung merebahkan tubuh Keenan di tempat tidur.
"Maafkan aku mas, jika aku lancang sudah masuk ke dalam kamar mas Keenan," kata Nayla saat merebahkan tubuh Keenan di atas kasur.
Keenan tidak memperdulikan apa pun yang dilakukan Nayla, saat ini yang dia inginkan hanya cepat beristirahat supaya kondisi nya cepat membaik.
Nayla membantu Keenan supaya merasa nyaman saat berbaring tidak lupa dia juga menyelimuti tubuh Keenan dan mengatur suhu ruangan Keenan agar tidak terlalu dingin. Karena Nayla melihat Keenan yang menggigil kedinginan sekalipun badannya sangat panas sekali.
"Sebentar ya mas, aku siapkan alat untuk mengompres kamu dan mencari obat penurun panas dulu ke bawah," ucap Nayla.
Nayla turun ke bawah dan menuju dapur. Dia mencari obat penurun panas di kotak obat yang ada di lemari dapur. Untung saja persediaan obat di kotak obat selalu lengkap. Setelah itu Nayla menyiapkan air hangat di baskom kecil dan mencari handuk kecil untuk mengompres Keenan.
Dengan cepat Nayla naik lagi ke atas dengan membawa alat untuk mengompres dan obat penurun panas lengkap dengan air putih di gelas.
Sesampainya di kamar, Nayla langsung mengompres Keenan. Dan membantu Keenan untuk meminum obat penurun panasnya. Tidak ada penolakan sama sekali yang ditunjukkan oleh Keenan. Tubuhnya terlalu lemas untuk melakukan itu.
Nayla dengan telaten mengganti kompres nya Keenan, dengan sesekali mengecek suhu tubuh Keenan dengan telapak tangannya.
"Kenapa panasnya belum turun juga," ucap Nayla merasa khawatir.
Bagaimana pun perlakuan Keenan pada nya, dia tetap suami Nayla. Melihat suami nya tidak berdaya seperti ini membuat hati nya terasa sakit, ada rasa cemas dan khawatir dalam dirinya.
"Cepat sembuh ya Mas, biar bisa ketus lagi ma aku, biar bisa bentak aku lagi," ucap Nayla memandang wajah pucat Keenan.
"Kalau lagi tidak berdaya seperti ini kamu terlihat manis mas, wajahmu terlihat tampan walaupun sekarang pucat tapi tidak mengurangi ketampanan mu," gumam lirih Nayla.
"Haduh... apa seh yang aku pikirkan," Nayla menepuk kepala nya pelan untuk menyadarkan pikirannya yang ngelantur.
Nayla mengambil handuk kecil yang dipakai untuk mengompres di dahi Keenan. Dia kemudian meletakkan tangannya mengecek kembali suhu tubuh Keenan.
"Alhamdulillah panas nya sudah turun," ucap Nayla lega.
__ADS_1
Nayla melirik jam yang ada di dinding kamar Keenan sudah menunjukan jam dua dini hari. Dia berusaha menahan rasa kantuk dengan cara merenggangkan tubuhnya demi menjaga Keenan, walaupun sesekali Nayla menguap karena terlalu lelah dan juga mengantuk.
Mata Nayla sudah tidak kuat lagi untuk terjaga dan perlahan terpejam dengan sendiri nya. Nayla duduk bersimpuh di bawah tempat tidur Keenan dengan kepala bertumpu pada pinggiran kasur.
Tepat pukul tiga dini hari Keenan terjaga dari tidurnya. Dia merasa tubuhnya sudah membaik. Pusingnya juga sudah berkurang, tetapi badannya masih terasa lemas.
Dia melirik ke kanan dan melihat Nayla yang terlelap dengan posisi yang tidak nyaman sekali. Tiba - tiba tangannya terangkat untuk menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Nayla. Keenan menatap intens wajah Nayla. Wajah yang tetap terlihat cantik walaupun sedang dalam keadaan tidur. Tampak ada guratan lelah dan letih di wajah cantik itu.
"Kamu pasti capek sekali hari ini terlihat jelas dari wajahmu yang tampak kelelahan, harusnya kamu bisa beristirahat dengan nyaman di kamarmu, tapi kamu palah harus mengurus ku sekarang," gumam Keenan.
"Pasti dia tidak nyaman tidur dengan posisi seperti itu," lirih Keenan.
Keenan berusaha untuk membantu membenarkan posisi Nayla. Tapi dia urungkan karena melihat pergerakan dari Nayla. Dengan cepat dia langsung kembali ke posisi sebelumnya dan pura - pura memejamkan matanya kembali.
Nayla terbangun karena merasa ada pergerakan dari Keenan. Dia melihat ke arah Keenan tapi posisi Keenan masih seperti semula. Nayla mengambil handuk untuk mengompres Keenan yang terjatuh di dekat bantal dan menaruh kembali di dahi Keenan.
"Semoga besok pagi kamu sudah membaik ya mas," ucap Nayla dan melanjutkan tidurnya kembali.
Tidak butuh waktu yang lama Nayla kembali ke alam mimpi nya. Dengkuran halus terdengar menandakan kalau Nayla benar - benar sudah terlelap. Merasa tidak ada pergerakan dari Nayla, Keenan membuka mata nya kembali. Dia menatap wajah teduh Nayla yang tidak bosan untuk dipandang.
"Kenapa hati ku terasa nyaman dan hangat walaupun hanya memandang mu, wajahmu terlihat polos seperti bayi kalau sedang terlelap seperti ini, kamu terlihat sangat cantik Nay," ucap Keenan dengan menyunggingkan senyumannya.
Tangannya terulur untuk menyentuh wajah Nayla, dia mengelus lembut pipi Nayla sampai tangannya terhenti pada bibir mungil milik Nayla yang terlihat sangat menggoda. Dia mengusap perlahan bibir mungil yang pernah dia rasakan manisnya sebelumnya dengan ibu jari nya.
Entah dorongan dari mana, Keenan mendekatkan wajahnya ke wajah Nayla dan....
Cup...
Dia mencium bibir mungil milik Nayla, sejenak dia diam, merasa tidak ada pergerakan dari Nayla kemudian perlahan Keenan ******* bibir atas dan bawah Nayla yang terasa manis dengan lembut dan cukup lama Keenan melakukannya. Lama kelamaan ******* itu semakin dalam dan sedikit agresif.
Nayla sedikit terusik tidurnya, dia merasa ada suatu benda kenyal yang basah menempel di bibirnya. Kemudian dia menggeliat untuk mencari posisi yang nyaman dalam tidurnya. Karena terlalu lelah dia enggan untuk membuka mata nya, sekalipun dia merasa ada sesuatu yang aneh di atas bibirnya.
__ADS_1
Merasa ada pergerakan dari Nayla engan cekatan Keenan langsung melepaskan ciumannya dan menghapus sisa Saliva nya yang menempel di bibir Nayla dengan ibu jari nya.
"Aku sudah seperti pencuri saja," lirih Keenan setelah melepaskan ciumannya kepada Nayla.