
Akhirnya dua sahabat itu benar - benar memanjakan diri mereka di salon langganan mereka. Anggap saja ini me time mereka berdua, karena jarang - jarang mereka bisa pergi berdua seperti ini mengingat jadwal Nayla yang padat di kantor maupun di kampus nya. Walaupun Nayla kuliah mengambil jalur khusus untuk orang yang sudah bekerja tapi tetap saja dia harus bisa membagi waktu nya sebaik mungkin supaya kedua nya bisa berjalan beriringan.
"Sering - sering aja seperti ini Nay..." ucap Santi dengan cengengesan di sela - sela kegiatan mereka di salon.
"Ck....mau nya," jawab Nayla sambil melempar handuk kecil ke arah sang sahabat dan yang mendapat lemparan hanya tertawa cengengesan.
"Kalau aku pikir - pikir akhir - akhir ini kamu lebih sering perawatan diri lho Nay, kamu lebih suka nge gim, ke salon, ke spa...jangan - jangan kamu sengaja ya untuk persiapan status baru kamu menjadi....?" tanya Santi dengan menyipitkan mata nya dan langsung mendapat tatapan tajam dari sang sahabat.
"Menjadi apa....!"
"Janda yang berkelas....hahahahaha."
"Sialan kamu.....awas aja gaji mu bulan depan aku potong abis."
"Ya Allah Nay.....nanti bagaimana nasib bapak Sugiono tersayang kalau gaji anak gadis nya dipotong bulan depan," rengek Santi menjewer t kedua telinga nya.
Nayla yang melihat tingkah sang sahabat hanya tertawa terbahak - terbahak. Bagi dia ekspresi Santi sangatlah lucu dan menggemaskan seperti anak kecil.
"Aku seneng banget Nay..akhir nya kamu bisa tertawa lepas seperti itu..semoga setelah kamu terlepas dari suami mu yang brengsek itu kebahagiaan selalu datang menyertai mu," batin Santi merasa sangat bahagia karena sang sahabat sekarang sudah mulai bisa move on dari masa lalu nya.
**
Di kantor The Royal Company,
"Nayla Atifa.....cucu satu - satu nya Tuan Richard Thompson, usia 23 tahun CEO dari Rich Kingdom, menarik..." ucap Abraham sambil melengkungkan bibir atas nya kala membaca semua informasi tentang Nayla.
Mata dia fokus ke sebuah tulisan yang ada di informasi tersebut tentang status Nayla.
"Janda???" Abraham mengernyitkan dahi nya membaca status Nayla.
"Waw....usia semuda itu sudah menjadi janda, luar biasa, aku jadi semakin penasaran dengan wanita yang sudah berani membatalkan kerja sama yang belum dimulai dengan ku, lihat saja seperti apa dia nanti jika sudah berurusan dengan seorang Abraham Davidson," gumam Abraham dengan senyum seringai di bibir nya.
"Jo...atur kembali pertemuan kita dengan perusahan Rich Kingdom, apa pun cara nya aku harus bisa bertemu dengan CEO perusahaan itu tanpa terwakilkan," titah Abraham kepada sang asisten.
"Tapi tuan...bukan kah mereka sudah membatalkan kerja sama dengan kita, dan kita tidak pernah mau berhubungan kembali dengan perusahaan yang seperti itu."
"Ini pengecualian .... dan cepat segera kerjakan perintah ku," ucap Abraham dengan nada penuh penekanan dan tatapan tajam.
"Baik tuan...." Jo kemudian undur diri dari ruangan bos nya.
__ADS_1
"Nayla...Nayla.....kamu salah telah berurusan dengan ku" lirih Abraham.
**
Setelah puas bermanja - manja diri di salon, akhirnya mereka kembali ke kantor setelah makan siang. Nayla kembali mengerjakan pekerjaan yang ada di meja kerja nya begitu juga dengan sang asisten yang merangkap sebagai sekretaris nya itu.
Saat Nayla sedang asik dengan berkas yang ada di meja nya, tiba - tiba pintu ruangan nya terbuka dan masuk lah sang asisten dengan terburu - buru.
"Nay...." teriak Santi.
Nayla yang mendengar teriakan dari sang sahabat langsung melototkan mata nya.
"Iya..iya..sorry..." ucap Santi menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Permisi Bu, ada hal yang ingin saya sampaikan.." ucap Santi dengan nada bicara yang lebih lembut.
Nayla memang selalu begitu, dia harus bisa profesional. Jika di kantor dia dan Santi harus bersikap layak nya atasan dengan bawahan. Tapi jika di luar kantor mereka akan bersikap seperti teman pada umum nya. Nayla bersikap tegas seperti itu karena menjaga wibawa nya sebagai atasan. Dia tidak mau memberi contoh yang tidak baik dengan karyawan yang lain nya.
"Hemmmmz...."Nayla hanya menanggapi apa yang ingin disampaikan oleh asisten nya itu dengan santai. Dia bahkan masih asik dengan berkas yang ada di tangannya.
"The Royal Company ingin mengatur ulang pertemuan kita yang gagal nanti, bagaimana menurut mu?"
"Mengatur ulang pertemuan?" Nayla mengulang perkataan dari Santi.
"Iya...apakah kamu bersedia?"
"Kenapa...bukan kah mereka sudah tahu jika aku membatalkan kerja sama itu?"
"Entah lah...mungkin mereka merasa rugi telah menyia - nyiakan kerja sama dengan perusahaan kita, bagaimana kita atur ulang saja pertemuan yang sempat gagal itu, ini kesempatan kita juga untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan besar itu," ucap Santi begitu antusias.
"Tidak..aku tetap pada keputusan awal. Aku tidak mau bekerja sama dengan orang yang sombong dan tidak bisa menghargai orang lain seperti mereka."
"Kamu yakin?"
"Hemmm..."
"Baiklah..jika itu sudah menjadi keputusan mu, kalau begitu aku kembali ke meja ku."
Santi kemudian membalas pesan yang di kirim dari Royal Company sesuai dengan keinginan bos nya.
__ADS_1
Dan di seberang sana orang yang mendapat laporan dari sang asisten jika CEO Rich Kingdom menolak untuk bertemu dengan nya kini sedang kebakaran jenggot.
"Sial....siapa dia berani nya menolak ajakan seorang Abraham Davidson..." kesal Abraham setelah mendengar berita dari sang asisten jika Nayla menolak untuk bertemu dengan nya.
"Jo...siapkan mobil, dan kosongkan semua jadwal ku hari ini. Kita akan ke kantor Rich Kingdom sekarang juga."
"Baik tuan...."
Tidak membutuhkan waktu yang lama mereka akhirnya sampai di kantor Rich Kingdom.
Abraham memasuki gedung yang menjulang tinggi itu dengan langkah tegap dan angkuh. Banyak pasang mata yang menatap heran kedatangan pemilik The Royal Company itu, karena selama ini yang mereka tahu CEO itu paling anti untuk datang ke perusahaan lain. Dan sekarang ini dia mendatangi kantor meraka ada apa ini, itu yang ada di benak para karyawan yang ada di sana.
Saat Abraham ingin memasuki lift, tiba - tiba mereka dihadang oleh beberapa staf keamanan kantor. Karena mereka sebelumnya belum ada janji bertemu dengan CEO mereka.
Tapi bukan Abraham nama nya jika tidak bisa mengatasi masalah itu. Akhirnya dia sampai lah di lantai di mana ruangan CEO itu berada.
Saat melintasi meja Santi, dia berhenti sejenak.
"Katakan pada bos mu, aku ingin bertemu sekarang," ucap Abraham dengan dingin dan itu sontak membuat Santi menelan salavia nya dengan susah payah.
"Ma af tuan....apakah anda sudah ada janji sebelumnya dengan Nona Nayla?" tanya Santi dengan susah payah.
"Aku tidak perlu membuat janji terlebih dahulu untuk bertemu dengan atasan mu yang sombong itu," jawab Abraham dengan nada penuh dengan penekanan.
"Tapi tuan....."
Belum sempat Santi menyelesaikan ucapan nya Abraham sudah terlanjur masuk ke ruangan Nayla.
"Selamat siang Nona Nayla Atifa...." sapa Abraham kepada pemilik ruangan itu.
Sontak sang pemilik ruangan itu mendongakkan wajah nya menatap ke arah sumber suara. Dan betapa kaget nya dia melihat kedatangan Abraham ke kantor nya secara tiba - tiba.
"Maaf Bu, saya sudah berusaha untuk mencegah tuan Abraham masuk akan tetapi...." Belum sempat Santi melanjutkan bicara nya Nayla sudah memberi kode kepada Santi untuk keluar dari ruangan nya.
Tapi Santi tidak bergeming sama sekali, dia ingin tetap di situ karena dia takut terjadi apa - apa dengan bos nya itu. Tapi setelah melihat sorot mata Nayla yang mengisyaratkan jika dia bisa mengatasi masalah ini akhirnya Santi meninggalkan ruangan itu. Toh di dalam juga ada asisten dari tuan Abraham, jadi dia merasa tidak perlu khawatir akan terjadi sesuatu pada bos nya itu.
"Selamat siang tuan Abraham Davidson yang terhormat, ada angin apa sehingga membawa anda untuk datang kemari," sapa Nayla dengan se tenang mungkin dan tetap menampilkan senyuman yang ramah.
Senyuman yang mampu membuat seorang Abraham dan sang asisten terpaku dan terpesona.
__ADS_1
"Pesona janda emang tiada dua nya," batin sang asisten.