
"Aku sudah seperti pencuri saja," lirih Keenan setelah melepaskan ciumannya kepada Nayla.
"Tapi kan aku suami nya, jadi tidak masalah dong kalau aku menciumnya, kan kita sudah sah jadi suami istri bahkan jika aku meminta lebih juga tidak apa - apa," monolog Keenan dalam hati.
"****... apa yang kamu pikirkan Keenan, ingat tujuan utama kamu menikahi dia," umpat Keenan.
"Lebih baik aku tidur supaya badanku lebih baik lagi besok," gumam Keenan dan kembali merebahkan diri.
Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya dia pun terlelap ke alam mimpi menyusul Nayla.
**
Nayla perlahan membuka mata nya merasa silau karena pantulan cahaya pagi dari sang mentari yang masuk lewat celah - celah jendela kaca yang ada kamar Keenan. Dia merenggangkan tubuhnya untuk mengurangi rasa pegal karena tidur dengan posisi yang tidak nyaman untuk tubuhnya.
"Ternyata sudah pagi," gumam Nayla dengan suara khas orang baru bangun tidur.
Dia melirik ke arah jam yang ada di dinding ternyata jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Untung saja dia sekarang lagi tidak sholat jadi dia tidak merasa bangun kesiangan.
Diliriknya ke arah tempat tidur, tampak Keenan masih terlelap. Nayla kemudian menempelkan tangannya di kening Keenan guna mengecek keadaan Keenan apakah masih demam atau tidak.
"Alhmdulillah demamnya sudah turun."
"Sebaiknya aku segera pergi dari kamar mas Keenan, sebelum mas Keenan bangun dan melihat aku tertidur di sini aku takut dia nanti akan marah karena tahu aku melanggar perintah dia untuk tidak masuk ke kamar pribadi nya," lirih Keenan.
Nayla kemudian merapikan semua peralatan yang dia gunakan untuk mengompres Keenan semalam. Saat dia bangkit dan akan meninggalkan kamar tersebut tiba - tiba tangannya di cekal oleh Keenan.
Ternyata Keenan sudah bangun sejak awal, dia sengaja berpura - pura tidur untuk mengetahui apa saja yang dilakukan Nayla setelah terbangun dari tidurnya.
"Mau kemana kamu," ucap Keenan.
Deg,
Nayla menelan saliva nya dengan susah payah dan seketika tubuhnya membeku. Nayla memberanikan diri untuk berbalik dan menatap Keenan yang sudah duduk bersandar.
"Maaf Mas, jika aku lancang sudah masuk dan tertidur di kamar Mas Keenan, tapi semalam Mas Keenan jatuh pingsan badan Mas Keenan panas sekali, karena khawatir terjadi apa - apa kemudian aku membawa Mas Keenan ke kamar ini," ucap Nayla terbata karena merasa takut jika Keenan akan marah pada nya.
__ADS_1
"Kenapa kamu merawat ku semalam, kamu bisa kan meninggalkanku sendirian saat aku sudah berada di sini," kata Keenan datar.
Nayla menautkan alisnya mendengar pertanyaan dari Keenan.
"Karena aku istri mu Mas, seorang istri berkewajiban untuk merawat suami nya yang sedang sakit terlepas bagaimana pun perlakuan sang suami kepada istri tetap kewajiban seorang istri adalah melayani dan merawat suami nya," jawab Nayla tenang.
Entah dapat keberanian dari mana sehingga Nayla mampu berkata seperti itu. Dan jawaban Nayla itu mampu membuat hati nya terasa nyeri.
"Tapi aku tidak butuh bantuan mu itu dan jangan harap aku akan berterima kasih dengan apa yang sudah kamu lakukan pada ku," ucap Keenan datar.
"Aku tidak butuh ucapan terimakasih atau apa pun itu dari mu Mas," ucap Nayla merasa sedih dengan ucapan suaminya dan berlalu pergi dari kamar sang suami.
Jika berada lama di sana akan membuat hati nya semakin sakit mendengar ucapan - ucapan pedas dari suaminya.
"Kenapa mulut ini selalu tidak bisa mengontrol untuk tidak mengeluarkan kalimat yang pedas untuk nya, padahal dia semalaman sudah merawat ku sampai dia rela tidur bersimpuh di lantai yang dingin hanya untuk menungguku sampai keadaanku membaik, Keenan ..... kamu memang bodoh sekali, argh ...." teriak Keenan frustasi.
"Bahkan kamu sudah mencuri ciuman dari nya semalam, dasar munafik kamu Keenan !" gumam Keenan menggerutuki kebodohannya yang selalu mengedepankan gengsi dan ego nya.
**
"Kenapa ucapan mu itu selalu kasar padaku mas, padahal aku adalah istri sah mu sedangkan dengan kekasihmu kamu selalu berkata lembut," ucap lirih Nayla.
"Aku tidak boleh lemah hanya karena ucapan kasar Mas Keenan, bagaimanapun mulai sekarang aku harus bisa membiasakan diri untuk menerima semua perlakuan buruk dari nya," batin Nayla.
"Sebaiknya aku segera membersihkan diri dan membuatkan bubur untuk Mas Keenan," gumam Nayla dan berlalu ke kamar nya untuk membersihkan diri.
Tidak perlu waktu yang lama, Nayla sudah selesai membersihkan diri. Dia bergegas ke dapur untuk membuatkan bubur buat Keenan. Kebetulan hari ini Bu Marni tidak datang ke apartemen karena setiap akhir pekan Bi Marni mendapatkan jatah libur dari Keenan.
"Alhamdulillah selesai juga buburnya, semoga saja Mas Keenan menyukai nya," harap Nayla.
"Tapi bagaimana kalau Mas Keenan menolaknya dan tidak mau memakannya karena selama ini yang Mas Keenan tahu Bi Marni yang memasak," gumam Nayla.
"Ah ... mending aku coba dulu," mantap Nayla.
Saat Nayla akan menyiapkan bubur buatannya di atas meja makan. Dia melihat Keenan turun dari tangga dalam keadaan sudah rapih seperti akan pergi.
__ADS_1
"Bukannya Mas Keenan masih sakit, tapi kok jam segini sudah rapih mau pergi kemana dia," batin Nayla menatap Keenan.
Keenan berlalu saja tanpa memperdulikan keberadaan Nayla di sana. Melihat Keenan yang berlalu pergi begitu saja Nayla berusaha menghentikan Keenan dengan tangan yang masih membawa bubur yang sudah dia buat tadi.
"Mas Keenan mau pergi kemana," tanya Nayla.
Keenan menghentikan langkahnya saat mendengar sapaan dari Nayla. Dia berbalik dan menatap Nayla yang membawa semangkuk makanan yang dia yakini adalah bubur.
Merasa tidak ada respond dari Keenan, Nayla memberanikan diri untuk berkata lagi.
"Sebaiknya Mas Keenan makan dahulu, ini aku sudah membuatkan bubur untuk Mas Keenan," ucap Nayla dengan menyodorkan semangkuk bubur yang masih panas.
"Bubur sangat baik lho mas untuk orang yang sedang sakit," imbuh Nayla.
Keenan melihat ke arah bubur yang Nayla buat, dari aroma nya bubur itu terlihat sangat menggugah selera ny. Tapi tiba - tiba ponselnya berdering.
Drrrt ... drrrrt...
"Hallo honey..." sapa Keenan dengan orang yang di seberang sana.
[...........................]
"Baiklah aku akan segera ke sana," jawab Keenan memutuskan panggilan teleponnya dan berlalu pergi.
Nayla yang melihat kepergian suami nya berusaha untuk mencegahnya.
"Mas... sebaiknya kamu makan terlebih dahulu dan beristirahat jangan pergi keluar dulu karena kamu baru saja pulih dari demam Mas," ucap Nayla memperingatkan Keenan.
Keenan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap tajam ke Nayla.
"Memang kamu siapa hah ! kamu tidak ada hak untuk melarang ku, karena kamu bukan siapa - siapa bagi ku," kata Keenan penuh penekanan dan berlalu pergi meninggalkan Nayla yang berdiri mematung dengan membawa semangkuk bubur.
"Karena aku istri mu Mas," lirih Nayla dengan mata yang berkaca - kaca.
Nayla kembali ke arah meja makan dengan perasaan yang kecewa. Dia menatap bubur yang sudah dia buat dan meletakkan bubur tersebut di atas meja makan. Kemudian dia pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Sesampainya di kamar Nayla langsung terduduk di balik pintu kamarnya. Dia menangis tersedu - sedu mengingat apa yang sudah Keenan ucapkan tadi.
"Apa yang harus hamba lakukan,Ya Allah.." lirih Nayla dengan bibir bergetar.