
Safira dan Davin menuju sebuah restoran yang tidak jauh dari perusahaan nya. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan apa pun diantara mereka. Hanya kesunyian yang ada di sana.
"Aku seperti duduk dengan patung Pancoran saja," gerutu Davin yang berada di samping Safira.
Safira yang awal nya fokus melihat pemandangan luar lewat jendela mobil, akhir nya menengok ke arah Davin dengan tatapan yang sedikit tajam. Telinga nya masih cukup normal untuk mendengar apa yang Davin ucapkan barusan.
"Iya Patung pancoran yang paling cantik pasti nya," ucap Safira datar sambil menengok ke arah jendela kembali.
Riki sang asisten yang berada di belakang kemudi berusaha untuk menahan tawa nya. Sedangkan Davin sendiri, hanya mencebikkan bibir nya.
Tidak lama kemudian mereka sampai di restoran, Riki sebelum nya sudah memesan tempat terlebih dahulu. Karena setelah ini mereka akan langsung meeting dengan klien di tempat itu juga.
Mereka memesan beberapa makanan yang terenak di restoran itu. Lebih tepat nya Davin yang memesan semua menu itu, mana mungkin Safira berani untuk memesan menu makanan di restoran mewah seperti itu.
Davin memang sengaja memesan semua menu yang menjadi andalan restoran itu untuk Safira karena dia sebenarnya tidak tahu makanan apa yang gadis itu sukai.
Sedangkan Safira sendiri merasa takjub dengan deretan makanan dan minuman yang terhidang di depan mata nya. Dia beberapa kali menelan Saliva nya karena tergiur dengan menu makanan yang ada di meja.
"Ayo makan..." ajak Davin karena melihat Safira yang tidak berhenti menatap hidangan yang tersaji di meja itu.
Safira masih diam tidak bersaksi sama sekali dengan ajakan Davin. Fokus dia saat ini masih dengan menu makanan yang tersaji di depan nya itu. Sampai dia tidak mendengar ajakan Davin. Maklum saja, ini kali pertama Safira makan di tempat semewah itu. Biasa nya dia hanya makan siang di kantin perusahaan, pernah sesekali makan di restoran tapi bukan restoran mewah seperti itu yang ada garpu dan pisau nya.
__ADS_1
"Hei....ayo makan sebelum makanan itu jadi dingin," kata Davin sekali lagi, kali ini Davin harus menjentikkan jari nya supaya Safira tersadar dari lamunan nya.
"Eh iya tuan...." jawab Safira gagap.
Gadis berkaca mata itu memandang garpu dan pisau yang ada ditangan nya berulang-ulang kali. Bahkan dia memutar-putar pisau dan garpu itu dari tangan kanan dan kiri nya.
Davin yang melihat ekspresi kebingungan Safira menghembuskan nafasnya perlahan," apa dia sebelum nya belum pernah makan di restoran mewah seperti ini? bukankah dia dulu sempat bekerja di perusahaan Keenan yang ada di Amerika, harus nya dia sudah terbiasa dengan pisau dan garpu bukan?" batin Davin menatap heran pada Safira.
Davin-davin......situ lupa Safira hanya pegawai kantor rendahan? 🙄 mana mungkin Safira pernah makan di tempat mewah seperti itu.
Tanpa banyak bicara lagi, Davin langsung beranjak dari tempat duduk nya dan menghampiri Safira yang kebingungan. Dengan sigap dia langsung memegang kedua tangan Safira yang memegang garpu dan pisau dari arah belakang tubuh Safira. Dia langsung mengajarkan Safira bagaimana cara memotong daging stik.
Jangan di tanya lagi bagaimana jantung Safira saat ini, jelas sudah seperti orang yang habis lari marathon berjarak kiloan meter. Posisi saat ini sangat menguntungkan bagi Davin. Karena dengan jarak yang sedekat itu, dia bisa menghirup aroma rambut Safira yang wangi. Bahkan dagu Davin sengaja dia tempelkan di pundak Safira, dan pipi nya dia tempelkan di pipi Safira. Bahkan deru nafas Davin menerpa hangat di pipi Safira.
"Ya tuhan....ada apa dengan jantungku ini, kenapa berdetak dengan kencang seperti ini. Dan ini kenapa tuan Davin begitu dekat dengan ku," batin Safira.
Hem...
"Maaf tuan...barusan ada kabar jika klien kita akan tiba di sini sekitar lima belas menit lagi," kata Riki yang baru datang.
Riki memang tidak makan di meja yang sama dengan bos dan sekertaris nya. Dia sengaja memilih meja sendiri, itu pun juga atas perintah Davin pasti nya.
__ADS_1
"Ssh...." Davin mendesis karena lagi-lagi Riki mengacaukan moment yang indah itu.
Davin langsung melepaskan tangan nya dari tangan Safira," seperti ini saja kamu tidak bisa melakukan nya," ucap Davin dengan nada kesal. Dan kembali ke kursi nya, sebenarnya kesal nya dia bukan ma Safira melainkan dengan Riki asisten nya.
Safira menatap tidak suka pada Davin, dengan apa yang dia ucapkan tadi. Siapa juga yang mengajak dia untuk makan di sini, itu lah yang ada di pikiran Safira saat ini.
Akhir nya mereka menyelesaikan makan siang nya, walaupun perlahan tapi Safira termasuk dalam golongan wanita yang pintar untuk segera memahami cara makan di restoran mewah. Davin yang melihat itu tersenyum karena Safira ternyata memang gadis yang pintar.
Saat Safira sedang meminum jus yang Davin pesan tadi, tanpa sengaja pandangan mata nya tertuju pada sepasang kekasih yang baru saja memasuki restoran itu. Safira sangat mengenal laki-laki yang merangkul mesra pinggang seorang wanita cantik di samping nya.
Deg,
"Mr.Rendi...." lirih Safira dengan terus menatap
Tiba-tiba dada Safira menjadi sesak melihat pemandangan di depan nya itu. Bola mata indah nya mengikuti setiap gerak-gerak Rendi. Bahkan Safira bisa melihat sisi lain dari seorang Rendi yang selama ini belum pernah dia lihat. Karena selama ini yang dia lihat adalah sosok Rendi yang dingin, datar dan tanpa ekspresi. Sungguh berbeda dengan yang dia lihat saat ini, Rendi yang terlihat saat ini adalah Rendi yang hangat, perhatian dan sering menampilkan senyuman manis nya. Semua sikap itu dia tunjukkan bukan untuk Safira pasti nya, akan tetapi untuk wanita yang ada di samping Rendi, siapa lagi kalau bukan untuk sang kekasih Santi.
"Ternyata Mr.Rendi sudah mempunyai kekasih, Safira...Safira...lagi-lagi kamu harus patah hati sebelum memulai nya," batin Safira dengan tatapan yang sendu.
Davin yang sejak tadi memperhatikan Safira mengikuti arah pandangan Safira saat ini. Tatapan nya tertuju pada Rendi dan kekasih nya. Ya..selama ini Davin pun tahu jika Rendi sedang menjalin hubungan dengan asisten pribadi Nayla. Dia mengetahui itu semua dari Keenan pasti nya.
"Apa Safira menyukai Rendi? kenapa sajak tadi dia melihat ke arah Rendi terus, dan tadi dia sempat menyebut nama Rendi pelan" tanya Davin dalam hati.
__ADS_1
Safira memutus pandangan nya dari Rendi, dia kemudian menghela nafas nya perlahan untuk mengurangi rasa sesak di dada nya.
"Kamu menyukai Rendi?"