Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab. 117 Asmara dua Aspri#1


__ADS_3

"Rasain lho...."


Santi tertawa cekikikan sendiri di dalam mobil. Dia senang sekali karena telah mengerjai asisten Keenan itu.


"Salah siapa mengerjai ku....tapi bagaimana pun aku juga salah, sudah nampar dia tadi. Dan aku lihat tadi kening dia juga terlihat memar. Ah....tapi aku nampar dia kan juga ada alasan nya. Dia juga asal main cium anak orang aja," celoteh Santi di dalam mobil.


Sudah hampir sepuluh menit, tapi Rendi tidak kembali juga ke mobil. Sant jadi penasaran dengan apa saja yang dilakukan Rendi di dalam sana. Sehingga dia memutuskan untuk keluar dan menyusul Rendi ke dalam mini market. Betapa terkejut nya dia saat sudah sampai di dalam.


"Pantesan lama...dia ternyata sedang asik ngobrol dengan cewe rupa nya. Ck....belum juga satu jam dia mengungkapkan perasaan nya pada ku, ini sudah keganjenan dengan wanita lain, dasar manusia kulkas aneh," kesal Santi dengan menghentakkan salah satu kaki nya ke lantai dan berbalik ke arah pintu ke luar. Dan......


Bugh.....


Lagi - lagi dan lagi Santi kembali menabrak pintu kaca mini market itu.


"Lain kali ganti ini pintu dengan baja sekalian," ucap Santi kepada petugas mini market yang sedang menertawai dia.


"Astaga .....seperti nya aku harus segera mandi kembang tujuh rupa untuk menghilangkan kesalahan ku ini," gerutu Santi sambil mengusap kening nya yang terasa nyeri dan sakit


Rendi yang tadi nya sedang asik mengobrol dengan salah satu rekan bisnis nya kemudian menengok ke arah sumber keributan. Dia mengernyitkan dahi nya setalah melihat yang menjadi pusat keributan itu adalah wanita yang baru saja dia tembak. Sontak saja Rendi langsung menghampiri ke sana. Akan tetapi Santi sudah keburu pergi keluar.


"Duh....wajah ku sudah tidak ORI lagi sekarang, bibir ku sudah tidak perawan, dan ini juga kening ku jadi memar. Aaarggh....." teriak Santi saat melihat wajah nya yang berantakan di depan cermin kecil yang selalu dia bawa di dalam tas nya.


Rendi yang mendengar hal itu hanya tertawa kecil. Kebetulan kaca jendela Santi terbuka sehingga dia dapat melihat dan mendengar semua yang Santi ucapkan barusan.


"Hemmm....."

__ADS_1


Santi melirik ke samping, ternyata sudah ada Rendi dengan membawa sebuah kantong belanjaan.


"Ini buat kamu," ucap nya masih dengan suara yang datar.


Tanpa sepatah kata pun Santi langsung menerima kantong belanjaan itu. Di lihat nya di situ ada beberapa makanan ringan dan minuman dingin.


"Kompres lah kening mu dengan botol minuman dingin itu, karena tadi tidak ada alat kompres maka pakai lah itu dulu. Setidak nya bisa mengurangi memar di kening mu karena benturan pintu kaca tadi," kata Rendi yang langsung membalikkan badan dan berjalan mengelilingi mobil menuju pintu kemudi.


"Astaga....jadi dia tadi lihat saat aku kebentur pintu?" celetuk Santi sambil menutup mulut nya.


"Santi...Santi....hancur sudah reputasi mu...." teriak Santi frustasi dalam hati.


Santi tidak melirik ke arah Rendi sama sekali. Dia sangat merasa malu dengan apa yang terjadi tadi di mini market.


"Ssh...." Santi meringis kesakitan saat dia mengompres kening nya menggunakan botol air mineral dingin yang Rendi berikan tadi.


"Eh....apa yang kamu lakukan," protes Santi karena tiba - tiba Rendi merebut botol minuman mineral dingin itu.


"Bisa diam sebentar tidak, dan menurut?" tegas Rendi.


Ucapan Rendi itu seperti perintah bagi Santi. Dan aneh nya Santi pun diam dan menurut dengan apa yang Rendi perintahkan. Dengan perlahan Rendi mengompres dahi Santi dengan sangat lembut. Wajah kedua nya sekarang sangat dekat, bahkan Santi bisa merasakan hembusan nafas Rendi yang menerpa kulit wajah nya.


Mata Santi tidak berhenti menatap intens setiap wajah tampan Rendi yang ada di depan nya. Jujur dalam hati Santi sangat mengagumi wajah itu. Tatapan nya kini tertuju pada bibir seksi Rendi yang beberapa menit yang lalu berhasil mencuri ciuman pertama nya. Mengingat hal itu seketika pipi nya langsung merona.


Rendi sebenarnya tahu kalau Santi sedang memperhatikan nya. Akan tetapi dia pura - pura tidak mengetahui dan tetap fokus mengompres kening Santi.

__ADS_1


"Sudah puas hemm...memandangi wajah tampan ku."


"Hah...." Santi langsung gelagapan mendengar ucapan Rendi. Jangan di tanya muka nya seperti apa sekarang. Merah padam seperti kepiting rebus karena menahan malu setelah ketangkap basah telah menatap wajah Rendi secara intens.


"Aku tahu kalau aku ini sangat tampan, tapi tidak segitu nya juga kamu memandangi ku, sampai air liur mu menetes."


Dan bodoh nya Santi pun mengusap mulut nya. Padahal apa yang diucapkan Rendi itu tidak lah benar. Dan sontak hal itu membuat Rendi terbahak - bahak. Santi yang merasa dikerjai oleh Rendi langsung melayangkan tatapan tajam nya dan memukuli dada Rendi dengan membabi buta.


Hap....


Tangan Santi langsung di tangkap oleh Rendi dan digenggam nya dengan lembut di dada nya. Santi dapat merasakan detak jantung Rendi yang sangat kencang saat itu.


"San....apa yang aku ucapkan tadi adalah benar ada nya. Jika kamu tidak percaya maka saat ini juga kita pulang ke Indo dan menemui kedua orang tua mu. Aku akan minta izin ada tuan Keenan dan Nona Nayla. Aku akan langsung melamar mu, kalau perlu kita langsung menikah saat ini juga," lagi - lagi Rendi meyakinkan Santi tentang perasaan nya.


"Hah.... ngga usah aneh - aneh ya."


"Bagaimana aku bisa percaya, baru nembak aku aja dia sudah berani mengobrol mesra dengan wanita lain," lirih Santi yang masih bisa didengar oleh Rendi.


"Wanita tadi hanya rekan bisnis dari tuan Keenan, dan dia sudah mempunyai anak dan suami. Mana mungkin aku tertarik dengan wanita yang sudah bersuami. Aku selalu belajar dari tuan Keenan jika berhadapan dengan klien maka kita harus bersikap baik dan ramah. Lagian Nyonya Smith adalah klien prioritas dari Drg. Group. Mana mungkin aku bersikap dingin pada nya," jelas Rendi.


Santi yang mendengar penjelasan dari Rendi menjadi menyesal telah menuduh yang bukan - bukan. Apa yang Rendi ucapkan memang benar ada nya, dia harus bersikap ramah dan profesional pada setiap klien. Apa lagi itu adalah klien yang sangat penting bagi perusahaan. Dia juga merasa bodoh karena bertindak seperti itu, dia sendiri juga merasa heran kenapa bisa kesal melihat Rendi yang sedang mengobrol dengan wanita lain dengan begitu lembut dan ramah. Sedangkan dengan diri nya Rendi selalu dingin dan datar.


"Aku tidak tahu harus menjawab apa, karena aku sendiri juga tidak tahu perasaan ku kepada mu seperti apa. Ini terlalu cepat bagi ku, secara selama ini hubungan kita juga tidak dekat seperti layak nya seseorang yang sedang saling menjajaki untuk memulai suatu hubungan yang serius. Bahkan kita lebih sering bertengkar jika bertemu. Bagaimana bisa kamu tiba - tiba mengungkapkan perasaan mu pada ku," Santi mengungkapkan apa yang dia rasakan saat ini.


Rendi mengerti jika Santi merasa ragu dengan perasaan nya. Apa yang dia lakukan memang terkesan buru - buru dan sangat cepat. Tapi memang seperti itu lah Rendi, dia selalu mengintai wanita yang dia sayangi secara diam - diam. Bahkan dia sudah mengumpulkan semua informasi tentang latar belakang Santi secara detail.

__ADS_1


"Kenapa diam....?"


__ADS_2