
Deg,,,
Kata yang lolos begitu saja dari mulut Nayla mampu membungkam Keenan seketika. Ada semacam hantaman batu besar yang menimpa hati nya saat ini mendengar kata itu. Sebuah kata yang akhirnya lolos dari mulut sang istri. Sebuah kata yang dulu nya sangat dia inginkan dalam pernikahan ini, tapi sekarang kata itu justru yang paling dia takutkan.
"Apa...."
"Mari kita berpisah secara baik - baik mas, supaya tidak ada pihak yang tersakiti lagi. Dari awal pernikahan kita sudah salah, karena tidak ada niat yang tulus diantara kita menjalani pernikahan ini. Sekalipun akhirnya aku berusaha untuk ikhlas menjalani pernikahan ini dan berusaha untuk mempertahankannya akan tetapi semua itu percuma jika hanya sepihak yang mencoba untuk mempertahankan. Sedangkan mas Keenan sendiri mati - matikan berusaha untuk menghancurkan pernikahan ini. Bahkan sampai mas Keenan memperhitungkan pernikahan ini hanya dalam waktu 100 hari saja."
"Aku tahu, jika mas Keenan sudah merencanakan semua ini dari awal sebelum pernikahan ini terjadi. Hari ini, tepat 100 hari itu jadi mari kita akhiri semua ini mas.." ungkap Nayla dengan tenang, tidak ada keraguan sedikit pun di mata nya apa lagi sampai air mata yang jatuh.
"Tapi Nay....."
"Tapi apa mas....apa belum cukup mas Keenan mempermainkan pernikahan ini, belum cukup mas Keenan menyakiti ku secara batin dan fisik, belum cukup mas?" nada Nayla mulai naik.
"Maafkan aku Nay...aku tahu selama ini aku salah karena telah mempermainkan suci nya ikatan pernikahan, aku juga mengaku salah karena niat awal pernikahan dulu sudah salah, bahkan aku juga telah mengkhianati pernikahan ini dengan tetap berhubungan dengan kekasihku dulu," ucap Keenan dengan penuh penyesalan.
"Apakah tidak ada kesempatan kedua untuk ku Nay..."
"Kesempatan itu selalu ada untuk mu mas selama ini, cuma kamu tidak pernah mau berubah untuk memperbaiki ini semua," jawab Nayla dengab nada yang sudah tenang kembali.
"Pernikahan ini sudah tidak sehat lagi mas, bahkan secara agama pun kita sudah bukan suami istri lagi, karena selama ini mas Keenan tidak memberikan ku nafkah lahir dan batin."
__ADS_1
Deg,,,
Lagi - lagi ucapan Nayla mampu menampar Keenan kembali.
Apa yang dikatakan oleh Nayla benar ada nya, selama ini dia tidak pernah menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami. Dia memang pernah memberikan sebuah kartu debit pada Nayla untuk kebutuhan sehari - hari, tapi dia sendiri tidak memberikan pin debit itu jadi kartu itu tidak bisa digunakan.
Nayla kemudian menyerahkan sebuah amplop coklat di depan Keenan.
"Di dalam amplop itu adalah berkas gugatan cerai yang sudah aku urus di pengadilan agama, mas Keenan tinggal tanda tangan saja. Di situ juga ada kartu debit yang dulu pernah kamu berikan pada ku, aku jamin isi nya masih utuh karena kamu sendiri tidak pernah memberikan pin dari kartu itu pada ku. Dan ini satu lagi..." Nayla menyodorkan sebuah map yang dia yakini paling ditunggu - tunggu oleh Keenan.
"Ini adalah hal yang paling kamu tunggu selama ini, sampai kamu rela menerima pernikahan ini mas," ucap Nayla dengan tersenyum tipis.
Keenan membuka map itu, dan mata nya membulat melihat dokumen pengalihan semua aset Dirgantara kembali ke nama nya lagi, berbeda dengan apa yang dia baca saat sebelum pernikahan ini terlaksana.
Keenan menggelengkan kepala nya perlahan, seolah tidak menginginkan dokumen itu. Padahal dulu ini yang dia inginkan, tapi entah mengapa saat ini dia tidak membutuhkan itu semua. Yang saat ini dia inginkan adalah tidak berpisah dengan Nayla.
"Nay....aku mohon berikan kesempatan sekali lagi untukku memperbaiki pernikahan ini," ucap Keenan mengatupkan kedua tangannya, tidak terasa ada lelehan bening yang keluar dari kedua mata nya.
"Aku benar - benar menyesal telah mempermainkan pernikahan kita Nay, setelah aku mengetahui pengkhianatan Michel dan bagaimana rasa nya jika di khianati oleh orang yang kita sayangi, aku baru sadar betapa berharga nya sebuah ikatan suci pernikahan Nay.." lanjut Keenan.
"Hahahaha....kamu lucu sekali mas, jika kamu tidak mengetahui pengkhianatan Michel pada mu bearti kamu tidak pernah menyesali semua perbuatan mu mas."
__ADS_1
"Bukan begitu Nay..." lirih Keenan.
"Hati ku terlalu sakit mas untuk memberikan mu kesempatan lagi, saat aku terpuruk kamu tidak ada di sampingku, bahkan di saat kakek ku sedang meregang nyawa kamu palah asik berciuman dengan kekasihmu itu, di mana hati nurani mu mas, bahkan saat terakhir kakek sebelum menghembuskan nafas terakhir nya kakek masih sempat memuji mu mas, di mana empati mu mas setidaknya sebagai sesama manusia. Kamu tahu, kakek ku bisa sampai sekarat seperti itu karena apa? karena salah satu ginjal kakek sekarang ada pada kakek Dirga, kamu tahu itu ! tangis Nayla akhirnya pecah juga.
Jduaaaaar......
Bak di sambar petir di siang hari, Keenan benar - benar terkejut dengan apa yang Nayla ucapkan barusan. Dulu emang dia pernah mendengar jika kakek nya mendapat donor ginjal sehingga masih bisa bertahan sampai sekarang. Tapi dia benar - benar tidak mengetahui jika pendonor itu adalah Kakek Yusuf. Karena saat itu dia juga masih kecil jadi tidak begitu paham dengan hal seperti itu.
"Apa maksudmu Nay..." ucap Keenan dengan terbata.
"Aku yakin pendengaran kamu masih normal mas, kakekku sekarat karena ginjal nya yang tinggal satu sedang bermasalah, dan harus melakukan operasi transplantasi ginjal secepatnya, kamu tahu? itu karena di akibatkan satu ginjal kakekku sudah disumbangkan kepada kakek Dirga puluhan tahun yang lalu. Dan karena itu pula kakek Dirga membuat pernikahan ini ada, karena sebagai balas budi kepada kakek karena sudah menyelematkan nyawa nya," ucap Nayla dengan nada yang penuh emosi.
Awalnya dia sudah bertekad tidak akan mengungkit masalah ini, tapi setelah mendengar perkataan Keenan maka tanpa dia sadari dia mengungkit masalah itu.
"Itu tidak mungkin...." lirih Keenan masih tidak percaya dengan apa yang Nayla ungkapkan.
Nayla menghapus air mata nya dengan kasar. Dan dia beranjak dari tempat duduk nya dan berlalu pergi. Baru beberapa langkah dia kembali berhenti dan mengucapkan sesuatu kepada Keenan.
"Aku harap kamu tidak mempersulit perceraian kita mas," kata Nayla dengan nada dingin dan datar kemudian berlalu meninggalkan Keenan yang masih duduk mematung.
"Ini tidak mungkin...aku harus minta penjelasan kepada kakek tentang apa yang Nayla ucapkan barusan," lirih Keenan.
__ADS_1
Bahkan perkataan Nayla yang barusan tidak terdengar jelas oleh Keenan.