Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab. 114 Hampir saja


__ADS_3

"Kenapa di lepas hemm...."


"Maaf mas...kamu pasti kesakitan ya?" ucap Nayla berusaha untuk membenahi perban yang membalut luka di perut Keenan.


Keenan terkekeh kecil melihat kepanikan mantan istri nya itu. Dia merasa senang dan bahagia karena dengan keadaan nya sekarang ini justru membuat mantan istri nya itu lebih dekat dengan nya. Ibarat kata musibah membawa berkah.


Semenjak sadar kesehatan Keenan semakin membaik setiap har nya. Dia juga sudah bisa duduk dan berjalan pelan - pelan sekedar untuk ke kamar mandi. Nayla masih dengan setia menunggu dan merawat Keenan seperti biasa.


Hari ini Keenan sudah diizinkan untuk pulang, akan tetapi tetap harus melakukan perawatan jalan guna mengecek luka jahitan setelah operasi pengangkatan peluru kemarin.


Nayla sekarang sedang membantu Keenan untuk merapikan beberapa pakaian Keenan ke dalam tas. Untuk masalah administrasi rumah sakit sudah di selesaikan semua nya oleh Abraham. Awal nya baik Nayla maupun Keenan menolak nya, akan tetapi Abraham memasaknya. Dia beranggapan dengan cara itu lah dia sedikit menebus rasa bersalah nya kepada Keenan maupun Nayla.


Abraham pun juga sudah meminta maaf secara tulus kepada Keenan atas apa yang sudah terjadi kemarin akibat ulah sang kakek. Dia juga berpamitan kepada Keenan dan Nayla jika dia akan terbang ke Arah untuk menyelesaikan urusan yang masih ada kaitan nya dengan almarhum kakek angkat nya itu.


Saat ini Keenan terus memandangi mantan istri nya yang sedang sibuk ke sana kemari merapihkan beberapa barang Keenan yang lain nya. Setelah sadar kemarin Keenan sempat mengerjakan pekerjaan kantor dan meeteng dengan beberapa karyawan nya di ruangan di mana dia dirawat sekarang. Karena ada sebagian pekerjaan yang tidak bisa di wakilkan oleh Rendi sang asisten. Jadi mau tidak mau Keenan sendiri lah yang mengerjakan nya.


"Ternyata benar pepatah yang mengatakan jika di baik setiap musibah yang kita terima pasti ada hikmah yang kita peroleh. Terbukti sekarang, dengan aku seperti ini kamu sekarang jadi dekat dengan ku Nay..." ucap Keenan yang masih menatap intens sang mantan istri.


Nayla menghentikan aktifitas nya ketika mendengar Keenan bersuara. Dia hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Keenan itu dan melanjutkan kembali aktifitas nya.


"Nay....yang kamu ucapkan saat aku belum sadar dulu apakah semua itu benar?" tanya Keenan seraya berjalan pelan menghampiri Nayla yang sedang menaruh tas nya di sofa yang ada di ruangan itu.


Deg,


"Ucapan yang mana mas?" tanya Nayla pura - pura tidak tahu arah pembicaraan Keenan.


"Astaga....apa dia mendengar semua yang aku ucapkan dulu. Bukan nya dia koma saat itu," batin Nayla.


Bukannya menjawab pertanyaan Nayla, Keenan palah semakin berjalan mendekati Nayla sampai tidak ada jarak diantara mereka.


"Saat aku sedang tertidur waktu koma kemarin, aku seperti mendengar kamu mengungkapkan perasaan mu," bisik Keenan tepat di telinga Nayla.


Karena jarak mereka sangatlah dekat, hembusan nafas Keenan pun terasa hangat menerpa wajah Nayla. Dan itu membuat jantung Nayla berdesir.


"Maksud mas Keenan apa?" Nayla menjawab dengan suara yang terbata dan berusaha untuk tetap tenang walaupun jantung nya sekarang ini serasa seperti orang yang sehabis maraton.


Keenan menatap intens manik mata Nayla yang sangat dia sukai sejak dulu. Karena dengan menatap manik mata Nayla hati Keenan menjadi menghangat.


"Nay.....aku sangat mencintai mu, aku ingin memulai hubungan yang baru dengan mu. Memulai segala nya dari awal, tidak ada paksaan perjodohan, tidak ada permainan dalam pernikahan, aku ingin menjadikan dirimu istri yang seutuhnya bukan istri....." Keenan men jeda ucapan nya.


"Istri seratus hari," lirih Keenan melanjutkan ucapan nya.


Keenan terus mengikis jarak antara dia dan Nayla sampai tidak ada jarak sama sekali di antara mereka saat ini. Bahkan hembusan nafas di antara mereka bisa saling menerpa wajah masing - masing. Detak jantung ke dua nya juga sangatlah kencang.


"Kamu ma u apa mas?" tanya Nayla dengan nafas yang tercekat di tenggorokan.


Keenan tidak memperdulikan ucapan Nayla sama sekali. Dia palah semakin mendekatkan wajah nya ke wajah Nayla. Sontak Nayla memejamkan kedua mata nya saat wajah Keenan sudah sangat dekat dengan nya. Dan.....


"Maaf tuan...nona....apakah semua nya sudah siap?" ucap asisten Keenan yang masuk begitu saja ke dalam ruangan bersama Santi asisten Nayla.


****.....


Keenan mendesis dan mengumpat i asisten nya itu karena telah datang di waktu yang tidak tepat. Dia langsung membalikkan badan nya dan menatap tajam ke arah asisten nya itu.

__ADS_1


Sedangkan yang mendapat tatapan itu hanya nyengir kuda dan menggaruk tengkuk kepala nya yang tidak gatal sambil berusaha susah payah menelan Saliva nya.


"Maaf tuan....seperti nya kami datang di saat yang tidak tepat, kalau begitu kami permisi dulu," ujar Santi dan menarik lengan Rendi untuk segera pergi dari situ.


Saat kedua nya akan membuka pintu untuk keluar, tiba - tiba terdengar suara yang menghentikan mereka.


"Kalian datang di waktu yang tepat bahkan sangat tepat sekali," ucap Nayla sambil melirik ke arah mantan suami nya dengan tersenyum meledek.


"Hampir saja....." batin Nayla.


"Sial....awas saja kamu Ren....itu juga kenapa Nayla palah seolah - olah meledek ku hem...lihat saja nanti," batin Keenan dengan memberikan tatapan yang sulit diartikan kepada Nayla dengan tersenyum devil ala dia.


Sedangkan Nayla yang mendapat tatapan serta senyuman yang aneh dari mantan suami nya langsung bergidik ngeri.


Mereka pun akhir nya meninggalkan rumah sakit dengan mengendarai mobil yang sama. Selain tujuan mereka sama saat ini, Santi juga tadi datang bersama Rendi jadi dia tidak membawa mobil sendiri. Di dalam mobil tidak ada obrolan apa pun diantara mereka. Semua larut dalam pikiran nya masing - masing. Keenan dan Nayla yang duduk di kursi penumpang pun hanya diam, mereka tampak canggung saat ini karena kejadian tadi.


Tidak lama kemudian mereka telah sampai di gedung Apartemen mereka. Nayla membantu Keenan untuk merebahkan diri nya di kasur. Setelah itu dia mengambil beberapa obat Keenan dan memberikan pada mantan suami nya itu untuk segera meminum nya.


Setelah itu dia menyuruh Keenan untuk segera beristirahat. Keenan pun menurut apa pun yang Nayla bilang. Dia juga merasa jika tubuh nya saat ini belum pulih sepenuh nya, maka dari itu dia memutuskan untuk istirahat sekarang.


Nayla meninggalkan Keenan saat dia sudah


memastikan laki - laki itu benar - benar sudah terlelap.


Hemm....


Nayla berdehem saat melihat kedua asisten pribadi itu sedang dalam obrolan yang serius menurut Nayla. Terbukti saat tahu kehadiran Nayla di sana mereka menjadi salah tingkah sendiri. Mereka pun refleks berdiri secara bersamaan dengan raut wajah yang sangat lucu menurut Nayla.


"Apakah Nona ( ucap Rendi)...Nayla ( ucap Santi) akan pulang," ucap mereka secara bersamaan.


"Tidak...kami tidak ada hubungan apa pun," lagi - lagi mereka menjawab secara bersamaan.


"Hei.....santai dong, jangan panik seperti itu. Jika ada hubungan juga tidak apa - apa kok," kata Nayla dengan tersenyum dan berjalan ke arah pintu keluar apartemen Keenan yang kemudian diikuti oleh Rendi dan Santi.


Saat sampai di depan pintu, Nayla berbalik dan mengatakan sesuatu kepada asisten Keenan itu," jika ada apa - apa tolong segera hubungi aku ya Ren...dan kamu juga tolong untuk sementara ini tinggal lah di sini dahulu untuk menemani mas Keenan dan memastikan supaya dia meminum obat nya secara teratur dan mengganti perban luka nya tepat waktu."


"Baik nona..." kata Rendi dengan menganggukkan kepala nya sebagai tanda mengerti apa yang Nayla perintahkan.


Nayla kemudian meninggalkan apartemen Keenan dan menuju apartemen nya yang hanya beberapa langkah saja dari pintu apartemen Keenan.


Santi yang juga ikut meninggalkan apartemen Keenan, dia pun mengikuti Nayla masuk ke dalam apartemen bos nya itu. Banyak hal yang ingin Santi sampaikan ke Nayla terutama tentang masalah kantor selama Nayla tidak masuk. Dan dia juga sangat kepo dengan apa yang terjadi antara bos nya itu dengan mantan suami bos nya.


Setelah sampai di apartemen nya Nayla langsung menuju kamar nya untuk membersihkan diri. Sedangkan Santi menyiapkan makanan yang sempat dia beli tadi. Dia sangat yakin jika bos nya itu selama seminggu ini tidak pernah merasakan makan dengan nikmat di rumah sakit.


Cklek....


Suara pintu kamar Nayla terbuka, dan muncul lah seorang wanita cantik yang sudah menyandang gelar seorang janda itu dengan menggunakan stelan baju rumahan.


"Hemmm... seperti nya ini sangat nikmat San..." ucap Nayla saat mencium aroma makanan yang Santi siapkan di meja makan.


"Jelas dong.....aku tahu selama seminggu ini pasti kamu tidak enak makan makanan yang di kantin rumah sakit kan? maafkan aku ya cinta...karena kemarin - kemarin aku jarang mengirimkan makanan enak untuk mu saat di rumah sakit. Kamu tahu sendiri kan...menggantikan tugas ibu CEO yang paling cantik ini cukup menguras tenaga dan pikiran ku," kata Santi sambil menarik satu kursi untuk dia duduki.


"I am Sorry bebz.....tapi kamu suka kan? setidak nya dengan kamu menggantikan posisi ku kamu jadi dekat dengan...."

__ADS_1


"Manusia kulkas itu? dich....siapa juga yang senang seh Nay..." sangkal Santi sambil menyibukkan diri untuk mengambil makanan untuk Nayla


"Halaaaah....pura - pura dalam perahu," ledek Nayla.


"Apaan seh Nay....kamu tuh yang seperti nya sangat menikmati sekali merawat tuan Keenan. Sampai ke kantor saja ngga pernah, pulang ke apartemen juga tidak, kayak nya sedetik pun kamu tidak ingin berpaling dari tuh doi, roman - roman nya ada yang mau balikan neh... trs tadi kalian mau ngapain coba itu," kata Santi menyelidik.


"Kamu tahu sendiri mas Keenan seperti itu karena apa? aku hanya berusaha untuk bertanggung jawab saja San...tidak mungkin kan aku tidak peduli dengan orang yang sudah menyelamatkan ku?" jelas Nayla.


"Yakin kamu sudah tidak ada perasaan lagi ma mantan suami kamu itu?" tanya Santi menelisik.


Nayla hanya diam tidak menjawab pertanyaan Santi dan melanjutkan menyuapkan makanan ke dalam mulut nya.


Tanpa mereka sadari ada sosok laki - laki yang mendengar semua percakapan mereka saat ini. Laki - laki itu tertawa getir saat mendengar perkataan Nayla tadi. Keenan langsung membalikkan badan nya dan kembali ke apartemen nya dengan di papah oleh Rendi. Dia awal nya ingin meminta bantuan dari mantan istri nya itu untuk mengganti perban pada luka nya itu dan mengoleskan salep, karena setelah bangun tidur tadi perban luka Keenan terlihat basah seperti ada cairan yang merembes dan terasa nyeri.


Kebetulan pintu apartemen Nayla tidak terkunci otomatis sehingga dia dan Rendi bisa masuk dengan leluasa. Sampai dia juga bisa mendengar segala obrolan Nayla dengan Santi tadi tanpa mereka tahu.


"Ternyata aku salah menilai perhatian nya selama ini, aku kira dia tulus merawat ku seperti seseorang yang merawat orang terkasih nya. Tapi ternyata aku salah Ren, dia melakukan itu semua hanya karena bentuk tanggung jawab dia dan rasa kemanusiaan karena aku telah menyelamatkan nya," ucap Keenan dengan nada sendu kepada Rendi saat sudah sampai di apartemen nya.


Rendi menghela nafas nya perlahan, jujur dia tidak tahu harus berkata apa untuk menghibur tuan nya itu. Dia memutuskan untuk menjadi pendengar saja. Sambil membantu Keenan mengganti perban Keenan dan mengolesi salep di luka nya.


Keenan memejamkan mata nya menahan rasa perih, sesekali dia mendesis untuk mengurangi rasa perih dan nyeri pada luka nya. Tapi ada yang lebih sakit lagi pada diri Keenan yaitu hati nya.


Semenjak kejadian itu, sikap Keenan berubah menjadi dingin seperti dulu lagi. Bahkan beberapa kali Nayla datang ke apartemen Keenan untuk mengecek keadaan nya akan tetapi dia tidak mau menemui Nayla dengan berbagai alasan. Bahkan dia memaksakan diri untuk berangkat ke kantor walaupun keadaan nya belum membaik, itu dia lakukan karena hanya ingin menghindar Nayla semata.


Dia tidak ingin jika dia selalu berdekatan dengan Nayla dia akan menjadi baper sendiri dan menyalah artikan tentang perhatian Nayla pada nya. Padahal dia tahu jika Nayla melakukan itu hanya semata - mata untuk membalas budi. Keenan sudah benar - benar menyadari posisi nya sekarang. Dia tidak bisa memaksakan cinta nya pada Nayla.


Bukan nya dia menyerah tapi keadaan yang membuat dia harus berhenti berharap sebelum dia jatuh lebih sakit lagi nanti nya.


"Ada apa dengan mas Keenan, kenapa aku merasa jika sikap dia berubah pada ku sekarang. Bahkan dia seolah - olah menghindari ku," gumam Nayla menyandarkan kepala nya di kursi kebesaran nya.


Braak....


Terdengar suara pintu ruangan nya terbuka dengan kasar dan masuk lah asisten Nayla dengan tergopoh - gopoh.


"Astaga Santi...bisa tidak kalau masuk itu ketok pintu dulu, bikin orang jantungan saja," kata Nayla sambil melanjutkan memeriksa beberapa berkas yang ada di meja nya.


"Sorry...sorry...Nay, tapi ini emergency banget, kamu harus tahu ini Nay," ucap Santi dengan sedikit panik sambil menunjukkan pesan yang dia terima dari Rendi.


Nayla langsung menghentikan pekerjaan nya dan meraih ponsel sahabat nya itu dan membaca pesan yang di maksud oleh sahabat nya itu.


"Apa!!! mas Keenan akan pulang ke indo sekarang? kenapa dia tidak memberitahu ku?" gumam Nayla.


"Seperti nya ada kesalahpahaman antara kamu dan tuan Keenan."


Santi kemudian menceritakan apa yang terjadi sehingga Keenan memutuskan untuk segera pulang ke Indo. Rendi yang menjelaskan semua nya pada Santi.


"Dia salah paham San..." lirih Nayla.


"Terus apa yang akan kamu lakukan Nay?"


"Antar aku ke bandara sekarang San...aku ingin menjelaskan semua nya kepada mas Keenan sebelum semua nya terlambat," pinta Nayla dengan mata yang sudah berkaca - kaca.


Santi menganggukkan kepala nya dan langsung membawa Nayla ke bandara.

__ADS_1


"Semoga aku tidak terlambat..."


__ADS_2