
"Duduklah, kita sarapan bersama," ucap Keenan datar.
Nayla menautkan alisnya, dia masih tidak percaya dengan apa yang Keenan ucapkan barusan.
"Dia bilang apa barusan, aku tidak salah dengar kan?" batin Nayla.
Merasa tidak ada pergerakan dari Nayla, Keenan kemudian menghentikan aktifitasnya.
"Aku rasa pendengaran mu masih bagus, jadi aku tidak akan mengulangi apa yang aku ucapkan tadi," pungkas Keenan.
Nayla memutar bola mata nya jengah, dan mencebikkan bibirnya dia kira Keenan benar - benar akan berlaku lembut padanya, belum ada limat menit sudah berubah lagi. Tanpa bnyak bicara Nayla menggeser kursi makan yang ada di dekat Keenan dan mendudukkan bokongnya di sana.
Melihat tingkah kesal istri nya, Keenan menyunggingkan senyumnya.
"Kamu tidak melayani suami mu terlebih dahulu?" tanya Keenan.
Pertanyaan Keenan seketika membuat aktifitas Nayla terhenti ketika dia akan mengambil bubur untuk dirinya sendiri. Dia melirik ke arah Keenan, lagi - lagi ucapan Keenan membuat dia kesal. Dia meletakkan kembali mangkuknya dan dengan terpaksa Nayla mengambil mangkuk yang ada di depan Keenan dengan sedikit kasar. Kemudian dia mengambil bubur untuk Keenan dalam jumlah yang lumayan banyak jika untuk porsi sarapan.
"Kalau melayani suami itu yang ikhlas," ucap Keenan kembali.
Nayla memicingkan matanya ke arah Keenan.
"Benar - benar ya, kesambet apa seh ni orang," batin Nayla kesal.
"Mengumpat suami itu dosa," timpal Keenan seakan tahu apa yang sedang Nayla ucapkan di dalam hati.
Huh,
Nayla membuang nafasnya pelan.
"Mau mu apa seh mas," lirih Nayla mencoba untuk bersikap tenang.
"Aku hanya ingin mulai merubah sikapku pada mu, bagaimana pun kita tinggal satu atap akan terasa aneh jika hubungan kita tidak dekat. Tapi dekat yang aku maksudkan itu bukan dekat seperti pasangan suami istri pada umumnya. Karena sampai kapanpun aku tidak bisa menerima pernikahan ini apalagi sampai jatuh cinta pada mu. Kamu tahu pasti nya cinta ini hanya untuk siapa. Jadi, tidak ada salahnya kita mencoba untuk berteman bukan?" jelas Keenan.
"Kamu bilang ingin merubah sikapmu Mas, tapi tanpa kamu sadari ucapan mu barusan membuat hati ku sakit," monolog Nayla dalam hati.
__ADS_1
"Bagaiman kamu setuju dengan penawaran menarik dari ku," ucap Keenan dengan penuh percaya diri.
"Terserah kamu aja mas," jawab Nayla malas.
"Jawaban kamu itu aku anggap setuju, tapi ingat walaupun hubungan kita ini sudah membaik dan seperti teman, aku harap kamu bisa menjaga batasan mu dan jangan mencampuri semua urusan pribadi ku. Begitupun sebaliknya aku akan menjaga batasan ku dan tidak akan mencampuri semua urusan pribadi mu," terang Keenan.
"Hem..."
Nayla terlalu malas untuk menanggapi apa yang Keenan ucapkan, maka nya dia hanya berdehem untuk menandakan jika dia sudah mengerti.
Tidak ada percakapan lagi antara mereka berdua di meja makan, yang ada hanya keheningan dan sesekali terdengar suara dentingan sendok yang beradu.
"Apakah hari ini kamu akan berangkat bekerja?" tanya Keenan saat menyudahi sarapannya.
"Iya."
"Keadaan kamu sudah membaik?"
"Sudah."
Keenan menganggukkan kepala nya kemudian dia mengeluarkan sebuah kartu debit dari dompetnya.
Nayla mengerutkan dahi nya, dia masih tidak mengerti dengan perubahan Keenan yang tergolong mendadak seperti ini.
"Aku hanya ingin menjalankan kewajiban ku saja, walaupun aku tidak bisa menjalankan kewajiban ku sebagai seorang suami pada umumnya setidaknya sebagai sesama manusia yang tinggal satu atap aku berkewajiban untuk memberikan mu makan. Jadi kamu tidak perlu membeli kebutuhan makanan untuk dirimu sendiri," ucap Keenan kemudian berlalu pergi.
Nayla hanya diam terpaku, dia mengambil kartu debit yang Keenan berikan tadi.
"Kewajiban sebagai sesama manusia," Nayla mengulang perkataan Keenan dengan tersenyum pilu.
**
Semenjak kejadian itu hubungan antara Keenan dan Nayla semakin membaik. Tapi membaik bukan dalam hal hubungan suami istri seperti pada umumnya. Akan tetapi komunikasi antara mereka sudah membaik. Keenan juga sudah tidak mengeluarkan kata - kata yang kasar lagi.
Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu oleh Keenan, karena hari ini dia akan mempresentasikan hasil rancangan produk yang dia buat kepada Tuan Richard CEO dari Rich Company perusahaan property terbesar di dunia. Besar harapan dia untuk memenangkan tender itu, tidak hanya nominal tender yang sangatlah besar tapi jika dia yang menang maka akan sangat berpengaruh pada perusahaannya. Reputasi perusahaannya akan semakin diperhitungkan di kancah dunia.
__ADS_1
Pagi - pagi sekali Keenan sudah siap untuk ke kantor. Dia sengaja berangkat pagi - pagi sekali karena dia harus menyiapkan segala berkas yang harus dia bawa. Meeting dengan Tuan Richard akan dilaksanakan pukul sepuluh pagi di sebuah hotel bintang lima yang ada di kota itu.
"Aku pergi dulu," pamit Nayla.
"Mas Keenan tidak sarapan dulu," tanya Nayla.
"Aku sarapan di kantor saja, karena ada kerjaan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu sebelum aku meeting nanti."
"Setidaknya minum teh hangat ini dulu mas," ucap Nayla menyerahkan secangkir teh yang sudah dia buat tadi.
Keenan duduk sebentar dan meminum teh yang disuguhkan oleh Nayla. Setelah itu ia langsung bergegas pergi ke kantor.
"Lho.. ini kan berkasnya mas Keenan," lirih Nayla melihat sebuah map merah yang tertinggal di atas meja.
Nayla segera mengambil map tersebut dan berlari ke luar mengejar Keenan berharap Keenan belum pergi jauh.
Sesampainya di depan pintu Nayla melihat Keenan sedang berjalan di lorong apartemen menuju lift.
"Mas Keenan tunggu...." panggil Nayla.
Nayla segera menutup pintu apartemen dan berlari mengejar Keenan yang hampir masuk ke dalam lift.
"Mas tunggu, ada berkas yang tertinggal," seru Nayla sambil melambaikan map merah ke atas berharap Keenan melihatnya.
Ting..
Pintu lift terbuka, dan Keenan langsung masuk ke dalamnya. Nayla berlari tergopoh - gopoh berusaha supaya pintu lift belum tertutup. Tapi sayangnya setelah Nayla sampai di depan lift bertepatan dengan pintu lift sudah tertutup rapat.
"Bagaimana ini, pasti berkas ini sangat penting untuk Mas Keenan," gumam Nayla melihat ke map merah yang dia pegang.
Dengan langkah gontai Nayla akhirnya kembali ke apartemen.
"Aku harus mengantarkan berkas ini ke kantor Mas Keenan, tapi aku sendiri tidak tahu dimana kantor mas Keenan," lirih Nayla berfikir bagaimana cara nya supaya dia bisa mengantarkan berkas itu.
"Aku baru ingat, perusahaan mas Keenan kan perusahaan property yang besar, pasti kalau dicari di internet akan muncul alamatnya," ucap Nayla tersenyum lebar.
__ADS_1
Nayla langsung mengambil ponselnya dan mengetikkan Drg. Corp di mesin pencaharian internet muncullah semua informasi tentang perusahaan Keenan tersebut. Bahkan foto Keenan dan sang kakek pun terpampang di sana.
"Ternyata kamu sangat terkenal mas," gumam Nayla.