
" Tuan..."sapa Davin dengan membungkukkan badannya sebagai tanda hormat kepada orang nomor satu di dunia bisnis itu.
Tuan Richard yang mendengar sapaan dari Davin mengangguk kecil dan tersenyum hangat sebagai respond.
Davin pun memilih untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Tidak jauh dari keberadaan tuan Richard.
"Kenapa ada tuan Richard di sini, ada hubungan apa antara kakeknya Nayla dengan beliau," batin penasaran Davin.
Davin tidak ingin berspekulasi lebih jauh lagi tentang keberadaan tuan Richard di sini. Yang terpenting sekarang dia bisa mengantar Nayla kepada kakeknya tepat waktu.
"Gimana keadaan kakek sekarang, apa yang kakek rasakan saat ini," tanya Nayla dengan penuh khawatir.
"Hei....kakek baik - baik saja Nay, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab kakek Yusuf dengan tersenyum berusaha membuat cucu kesayangannya itu tidak khawatir.
"Baik bagaimana, kakek aja baru keluar dari ruang ICU."
"Beneran nak, kakek sudah membaik sekarang. Apalagi cucu kesayangan kakek sekarang sudah ada di sini dampingi kakek."
Nayla sedikit lega mendengar jawaban sang kakek, walaupun dia sendiri tahu kalau sang kakek masih dalam keadaan buruk selama belum melakukan operasi transplantasi ginjal itu.
"Di mana suami mu Nay, kamu tidak datang bersama nya," tanya kakek Yusuf mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan mencari keberadaan Keenan di ruangan itu.
Karena kakek Yusuf mengira Nayla tadi datang bersama Keenan.
"Mas Keenan sedang sibuk kek, ada pekerjaan yang harus dia selesaikan saat ini dan tidak dapat ditinggalkan," jawab Nayla dengan berusaha untuk tersenyum menutupi semua hal yang sebenarnya terjadi di pernikahannya.
"Maafkan Nayla kek, lagi - lagi Nay harus berbohong," batin Nayla sedih.
__ADS_1
"Suami kamu itu emang pekerja keras sekali Nay, kamu beruntung mendapatkan suami seperti dia."
Nayla hanya menanggapi perkataan kakek Yusuf dengan tersenyum tanpa memberi komentar apa pun.
Davin yang melihat ekspresi Nayla hanya menghembuskan nafas nya perlahan. Dia benar - benar tidak habis pikir dalam kondisi yang selalu disakiti dan dikhianati oleh Keenan, Nayla masih selalu berusaha membuat nama Keenan tetap baik di mata keluarga nya.
Ekspresi Davin saat menatap Nayla tidak luput dari pandangan tuan Richard.
"Seperti nya ada yang tidak beres, ada hubungan apa antara Nayla dengan Davin Sanjaya, dan dimana sekarang Keenan suami Nayla," pikir tuan Richard.
Dia pun melirik ke arah sang asisten yang ada di sampingnya. Sang asisten yang paham dengan tatapan sang majikan langsung mengangguk dan segera mengetik sesuatu di layar ponsel nya untuk menghubungi seseorang di seberang sana.
Entah mengapa segala sesuatu yang berhubungan dengan Nayla pasti tuan Richard ingin segera tahu.
"Nay....ada hal penting yang ingin kakek katakan pada mu, karena kakek merasa umur kakek tidak panjang lagi. Kakek tidak ingin membawa rahasia besar ini sampai kakek tiada nanti," lirih kakek Yusuf menatap sendu sang cucu.
"Kakek ini ngomong apa seh...kakek akan sembuh, Nay akan berusaha untuk mencari donor ginjal yang cocok untuk kakek, jadi kakek harus tetap semangat demi Nayla kek," ucap Nayla dengan mata berkaca - kaca.
"Nay.....sebenarnya kamu bukan cucu kandung kakek."
Jduaaaaar.....
Perkataan sang kakek seperti petir di siang bolong. Bagiamana bisa orang yang merawat dia dari kecil, yang begitu menyayangi nya, yang selalu melindungi nya, bahkan yang dia sudah anggap sebagai orang tua nya sendiri mengatakan jika dia bukan cucu kandung nya.
"Becanda kakek tidak lucu ah..." ucap Nayla dengan tersenyum lebar berusaha untuk mencairkan suasana.
Lagi - lagi kakek Yusuf menggelengkan kepala nya lemah. Menandakan jika yang dia ucapkan adalah benar.
__ADS_1
"Kakek serius Nay..." lirih kakek Yusuf.
Dengan susah payah akhirnya kakek Yusuf menceritakan seluruh kejadian puluhan tahun yang lalu. Cerita yang sama persis dia ceritakan kepada tuan Richard tadi.
Nayla begitu syok mendengar semua cerita dari kakek nya. Terjawab sudah kenapa ginjal dia tidak cocok untuk sang kakek. Ternyata memang tidak ada hubungan darah apa pun antara dia dan sang kakek.
"Kalau Nayla bukan cucu kakek, lalu siapa dan dimana keluarga Nayla kek," tanya Nayla dengan bibir bergetar menahan tangis. Dada nya terasa sesak sekali menerima kenyataan ini.
Dia merasa seolah - olah takdir telah mempermainkannya. Sejak kecil dia sudah ditinggalkan oleh kedua orang tua nya. Orang yang selama ini mengasuh dan merawatnya dengan penuh kasih sayang ternyata tidak ada hubungan apa pun dengannya. Di tambah lagi dia harus terjebak dengan pernikahan yang tidak ada cinta di dalamnya. Saat ini Nayla benar - benar dalam kondisi yang sangat terpuruk.
Marah, kecewa itulah yang Nayla rasakan saat jni. Dan dalam kondisi seperti ini siapa yang harus disalahkan. Nayla menangis terisak dalam pelukan sang kakek.
"Kakek kandung kamu sekarang ada di belakang kamu Nay.."lirih kakek Yusuf.
Nayla yang mendengar ucapan sang kakek kemudian melerai pelukannya dan menengok ke belakang. Dia kaget melihat keberadaan tuan Richard di sana. Dia hanya berpikir sejak kapan tuan Richard ada di ruangan ini.
Dan tadi kakek nya bilang jika kakek kandungannya ada di belakang dia sekarang. Nayla langsung menutup mulutnya dan tangisannya langsung pecah dia seakan tidak percaya dengan semua ini, kalau ternyata kakek kandung nya adalah tuan Richard.
Begitu pula dengan tuan Richard yang sama hal nya terkejut seperti Nayla mendengar perkataan kakek Yusuf yang menjelaskan jika gadis cantik dihadapannya sekarang ini adalah cucu kandungnya. Cucu yang dia cari selama ini.
Tanpa terasa air mata tuan Richard turun membasahi pipi nya, bibirnya berusaha untuk tersenyum walaupun dia berusaha untuk menahan isak tangis yang ingin pecah. Hati nya sangat bahagia sekali dengan kenyataan ini. Bearti feeling dia selama ini tidak salah jika Nayla benar - benar adalah cucu kandungnya.
"Kalung liontin yang selalu kamu pakai itu adalah bukti jika kamu adalah cucu kandung dari Tuan Richard Nay, penerus satu - satu nya dari keluarga tuan Richard, liontin itu tidak ada dua nya di dunia ini karena itu merupakan desain khusus yang dipesan khusu oleh tuan Richard untuk cucu satu - satu nya sebagai hadiah ulang tahun kamu yang pertama Nay," ucap kakek Yusuf memecah ketegangan yang ada.
Nayla kemudian mengeluarkan kalung liontin yang selalu dia pakai selama ini. Dia melihat liontin itu sejenak kemudian dia memberanikan diri untuk menatap pria paruh baya yang ada di hadapannya sekarang ini.
"Kakek...." lirih Nayla.
__ADS_1
Tuan Richard menganggukkan kepala nya sebagai tanda kalau dia benar kakeknya dan merentangkan kedua tangannya.
"Cucu ku...."