
"Orang kalau mau halu itu jangan terlalu tinggi, belum tahu dia jatuh dari ke haluan itu rasa nya seperti apa," ejek Safira yang mengira Davin sekarang ini sedang ber halu seraya berjalan dengan percaya diri nya ke arah Davin sekarang.
Davin berdecak kesal karena apa yang dia tunjukan pada gadis bar-bar itu di anggap remeh. Dia kemudian memutar papan nama yang ada di meja nya ke arah Safira.
"Davin Sanjaya CEO SNJ.Group, iya aku tahu pemilik perusahaan ini nama nya tuan Davin Sanjaya, tidak perlu kamu memberi tahu ku lagi," Safira mengeja nama yang ada di papan itu dengan perlahan.
Safira memang sudah tahu jika pemilik perusahaan SNJ.Group ini bernama Davin Sanjaya, dia sudah di beri tahu oleh kepala HRD sebelum nya. Akan tetapi dia belum pernah melihat wajah nya, karena kepala HRD itu tidak menunjukkan foto atau identitas Davin. Ya jelas lah mereka tidak akan asal memberikan informasi berupa foto atau gambar pemilik perusahaan besar seperti SNJ.Group pada sembarang orang.
"Bagus lah jika kamu sudah mengetahui nya, terus ada masalah jika aku duduk di sini hem..." ucap Davin mencondongkan wajah nya di depan Safira.
Sontak Safira langsung memundurkan wajah nya, karena jarak ke dua nya sangatlah dekat saat ini. Dan itu membuat Safira tidak nyaman. Melihat Safira yang memundurkan wajah nya Davin justru melangkahkan kaki nya untuk maju dan itu membuat Safira memundurkan langkah nya ke belakang.
Davin merasa senang melihat wajah Safira yang panik seperti itu, membuat dia semakin ingin menjahili gadis berkaca mata itu.
"Apa yang akan kamu lakukan hah...cepat minggir dari hadapan ku," hardik Safira dengan mendorong dada Davin.
Tapi apa mau di kata tenaga Safira jelas kalah kuat dengan tenaga Davin, semakin Safira mendorong Davin justru membuat Davin melangkahkan kaki nya kembali ke arah Safira sampai akhirnya Safira menempel pada dinding ruangan Davin.
Dengan seribu cara Safira berusaha untuk kabur dari keadaan yang tidak mengenakan itu, tapi belum sempat Safira kabur kedua tangan Davin sudah mengukung nya terlebih dahulu. Dan di luar dugaan Davin langsung..
Cup,
Satu ciuman berhasil mendarat di bibir Safira dengan begitu cantik. Ciuman yang hanya sekedar menempel saja dan itu juga dengan durasi yang sangat singkat. Karena Davin langsung melepaskan ciuman itu. Mata Safira langsung menatap nyalang ke arah Davin, nafas nya naik turun menahan emosi yang sudah memuncak. Jangan di tanya lagi seperti apa wajah nya sekarang ini, sudah merah padam menahan amarah yang siap untuk di ledakkan.
Bagaimana Safira tidak marah seperti itu jika dengan tiba-tiba Davin dengan lancang mencuri ciuman pertama nya.
__ADS_1
"Jangan kurang ajar kamu! lepas tidak!" teriak Safira mata nya menatap tajam ke arah Davin dengan mengangkat tangan kanan nya hendak menampar pipi Davin.
Belum sempat tangan itu mendarat ke pipi Davin, tapi sudah ditangkap terlebih dahulu oleh Davin.
Davin langsung mengangkat kedua tangan Safira ke atas. Safira semakin menatap tajam ke arah Davin," jika kamu macam-macam lagi maka aku akan teriak!" ancam Safira.
"Teriak lah sekencang-kencang nya, asal kamu tahu ruangan ini kedap suara sekuat apa pun kamu berteriak tidak akan ada yang mendengar nya. Sekalipun ada yang mendengar teriakan mu mereka tidak aka ada yang berani mendekat, karena apa? karena aku pemilik ruangan ini. Dan itu artinya apa...aku adalah CEO SNJ.Group," ucap Davin dengan senyum devil nya.
Safira langsung menelan Saliva nya dengan susah payah, wajah nya menjadi pias dia tidak menyangka jika orang dihadapan nya ini adalah pemilik dari perusahaan yang akan dia tempati ke depan nya.
Davin menatap inten wajah Safira, entah dorongan dari mana sehingga membuat tangan nya terangkat untuk melepaskan kaca mata tebal yang menghiasai mata indah Safira.
Seketika Davin terpesona dengan manik mata Safira yang begitu indah. Tatapan kedua nya bertemu cukup lama mereka saling menatap saling mengagumi satu sama lain nya.
"Kalau di lihat dari dekat seperti ini, ternyata gadis alien ini cantik juga. Kecantikan yang dipancarkan sungguh sangat natural sekali. Bola mata berkilau indah, bulu mata lentik, hidung mancung, pipi putih bersih dan bibir nya begitu menggoda sekali, rasa nya ingin sekali lagi aku menikmati manis nya bibir itu, kamu pintar sekali menutupi kecantikan mu ini dengan kaca mata yang tebal ini, padahal mata mu tidak bermasalah sama sekali," batin Davin menatap intens wajah sempurna Safira.
Davin masih belum juga melepaskan pandangan mata nya dari wajah Safira. Justru dia semakin mencondongkan wajahnya ke wajah gadis itu, Safira mengedipkan beberapa kali mata indah nya. Jarak mereka semakin lama semakin dekat, bahkan hidung mereka pun saat ini sudah saling menempel. Bahkan deru nafas Davin bisa Safira rasakan di wajah nya dan itu membuat tubuh Safira menjadi meremang. Satu...dua...tiga....
Tok...tok...tok....
"Permisi tuan...ada lapo......eh..maaf tuan kalau saya mengganggu, kalau begitu saya..." ucap asisten Davin dengan terbata.
"****...." umpat Davin yang langsung melirik tajam ke arah sang asisten yang berada di ujung pintu, bibir Davin hampir saja mendarat sempurna di bibir tipis Safira tapi semua itu gagal total karena ulah sang asisten yang tiba-tiba muncul seperti jelangkung yang tidak di undang.
Hal itu langsung di manfaatkan oleh Safira untuk melepaskan diri nya dari kukungan Davin dan mendorong Davin menjauh dari nya, dia juga merebut kaca mata nya dari tangan Davin. Dengan segera dia memakai kaca mata itu dan merapihkan penampilan nya yang sedikit berantakan karena ulah Davin. Safira langsung menggeser tubuh nya mencari jarak aman dari Davin.
__ADS_1
Sedangkan asisten Davin sendiri, langsung menundukkan kepala nya setelah mendapat tatapan tajam dari atasan nya itu.
"Ada apa?" tanya Davin dengan nada kesal pada asisten nya itu seraya berjalan ke arah kursi kebesaran nya.
"Maaf tuan...ada laporan yang harus anda periksa," asisten Davin menyodorkan sebuah berkas laporan yang harus Davin periksa. Mata asisten Davin sempat melirik ke arah Safira yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Siapa wanita itu?" batin asisten Davin.
"Jaga pandangan mu!" sindir Davin pada asisten nya.
"Eh...iya tuan..maaf," jawab asisten Davin yang langsung menundukkan kepala nya.
Setelah selesai memeriksa laporan itu Davin langsung menandatangi laporan tersebut dan menyerahkan kembali pada sang asisten, dia juga menyuruh asisten nya itu untuk membuat kontrak kerja untuk Safira.
"Kalau begitu saya permisi tuan," pamit asisten nya Davin, lagi-lagi asisten Davin melirik ke arah Safira.
"Hem...." Davin berdehem. Sang asisten yang tahu arti dari deheman atasan nya itu langsung mempercepat langkah nya untuk meninggalkan ruangan itu.
Safira masih betah berdiri tidak jauh dari meja Davin, dia bingung harus bagaimana. Terlebih dari apa yang sudah Davin lakukan pada nya tadi dia sangat kesal dengan laki-laki itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tahu posisi Davin yang sebenarnya sekarang ini siapa. Dia juga merasa bersalah karena sempat mengatai Davin yang tidak-tidak tadi.
Davin sendiri sengaja membiarkan Safira kebingungan. Dia ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu selanjutnya seperti apa.
Satu jam berlalu ...Safira masih sama tidak ada pergerakan sama sekali, terlihat kaki nya sudah mulai lelah berdiri terus dengan menggunakan sepatu yang ada heels nya. Tapi untung nya heels yang dia pakai tidak terlalu tinggi, tapi tetap saja itu membuat kaki nya tidak nyaman.
Dua jam berlalu....masih juga tidak ada instruksi apa pun dari Davin untuk diri nya. Justru Davin sibuk dengan semua pekerjaan nya. Walaupun sesekali pria itu melirik ke arah Safira untuk memastikan keadaan Safira seperti apa sekarang.
__ADS_1
"Apa aku memberanikan diri untuk bertanya pada tuan Davin saja ya, tentang tugas yang harus aku lakukan di sini, dari pada aku harus berdiri seharian seperti ini terus," batin Safira.
"Ehm.....maaf tuan, apa yang harus saya kerjakan selama saya bertugas di sini?"