
"Kamu mau seperti itu cinta...." tanya Rendi yang baru saja tiba di lokasi pemotretan.
Sebelum nya Santi menelepon Rendi untuk menjemput nya di lokasi pemotretan terakhir karena sehabis ini mereka harus meeting dengan WO yang menangani pernikahan atasan mereka itu. Setelah itu mereka juga harus mengecek beberapa hal seperti souvenir pernikahan, mencicipi beberapa menu makanan yang akan dihidangkan nanti nya dan masih banyak lagi yang harus mereka lakukan hari ini.
Santi hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Rendi," some day pasti kita seperti itu kak...tapi aku ngga mau riweh seperti mereka, aku ingin pernikahan kita nanti nya sederhana saja cukup akad dan resepsi kecil-kecil an, gimana menurut kakak?"
"Aku terserah kamu saja, kalau semua itu membuat mu bahagia aku juga bahagia," jawab Rendi dengan bijak.
"Aduh....calon suami aku so sweet banget seh, jadi ngga sabar untuk di halalkan," gemas Santi dengan mencubit hidung mancung Rendi.
Hem....
"Eh......ada tuan dan nona," kikuk Rendi dan Santi.
"Sudah bermesraan nya?" ucap Keenan datar.
Rendi dan Santi menjadi salah tingkah dengan pertanyaan Keenan.
"Sebaiknya buruan temui kedua orang tua Santi meminta restu untuk meminang anak gadis nya, jangan sampai kau buat anak gadis orang tanpa status yang jelas," ujar Keenan menasehati Rendi.
"Gimana aku mau menemui orang tua kekasih ku jika aku selalu disibukkan dengan semua urusan mu tuan," gumam lirih Rendi, walaupun lirih tapi masih bisa di dengar oleh Nayla.
"Apa yang kamu katakan barusan Ren?" tanya Keenan.
"Hah..tidak ada tuan," jawab Rendi gelagapan.
"Nanti jika urusan kami sudah selesai, giliran kalian yang kami bantu untuk mengurus segala persiapan pernikahan kalian, benar kan sayang... Bahkan kalau kamu kesulitan dalam meminta restu dari orang tua Santi, terutama ayah Sugiono aku yang akan turun tangan nanti Ren," ucap Nayla dengan bijak yang kemudian mendapat anggukan dari Keenan.
Setelah urusan pemotretan pra wedding selesai, mereka kemudian meninggalkan tempat itu. Santi dan Rendi langsung menuju ke tempat meeting dengan WO sedangkan Keenan dan Nayla langsung ke mansion kakek Richard karena ada hal penting yang harus mereka diskusikan. Di sana juga sudah ada kakek Dirga.
**
Safira berjalan gontai menuju ruangan nya, sesampai nya di ruangan kerja nya dia mendudukkan bokong nya dengan lesu. Dia menatap sekeliling ruangan itu dengan tatapan yang sendu.
"Baru saja aku menginjakkan kaki ku di ruangan ini lagi, eh...sudah harus pindah lagi, huft....seperti ini kah nasib seorang karyawan biasa. Andai saja aku punya suami seorang CEO, pasti hidup ku tidak akan seperti ini. Astaga Safira......apa yang kamu pikirkan, mana ada CEO yang mau ma kamu, Mr.Rendi saja yang seorang asisten CEO tidak melirik mu sama sekali, Safira...Safira....kalau halu itu yang wajar-wajar saja kenapa," monolog Safira dalam hati.
Dari pada dia harus berpikir yang bukan-bukan, gadis berkaca mata itu langsung membereskan beberapa berkas yang ada di meja nya. Kebetulan dia baru saja kembali ke ruangan itu, jadi tidak banyak barang berharga dia yang ada di meja kerja nya.
"Fir...benar kamu akan di pindahkan tugas lagi?"
"Hemm...."
__ADS_1
"Di SNJ.Group?"
"Hemm...."
"Wah...hebat kamu Fir? bisa jadi perwakilan perusahaan untuk menangani proyek penting di SNJ, trs sampai kapan kamu di sana?" heboh Maimunah.
"Hebat apa nya, aku saja tidak tahu nasib ku di sana seperti apa Mae. Pekerjaan ku apa nanti nya di sana aku juga tidak paham, proyek yang seperti apa yang harus aku kerjakan di sana aku pun juga tidak tahu. Huft...." Safira menghela nafas nya perlahan.
"Semangat Fir....aku yakin pasti kamu bisa," Maimunah berusaha menyemangati sang sahabat yang akan pindah tugas di perusahaan lain.
"Hemm....kalau begitu aku pergi dulu ya Mae," pamit Safira dengan memeluk sang sahabat.
"Hati-hati ya Fir di sana, jaga dirimu baik-baik...jangan lupa sering bertukar kabar. Padahal baru saja ketemu sudah harus berpisah lagi," lirih Safira memandang punggung sang sahabat yang lama kelamaan menghilang dari pandangan nya.
Safira menaiki taksi menuju SNJ.Group, dia tidak banyak membawa barang, hanya membawa beberapa berkas yang di butuhkan dan sesuai instruksi dari kepala HRD nya. Karena setelah sampai di sana dia akan menerima tugas yang sesuai dengan posisi nya.
**
Di Mansion kakek Richard saat ini sedang ada rapat keluarga yang akan membahas tentang kelangsungan kedua perusahaan besar milik kakek Dirga dan kakek Richard.
Karena Keenan tidak ingin melihat Nayla bekerja atau mengurus perusahaan kakek nya setelah menikah. Dia hanya ingin menjadikan Nayla sebagai ratu di istana nya nanti.
Bukan tanpa alasan Keenan berpikir seperti itu, dia tidak tega jika harus melihat istri nya nanti harus pontang-panting mengurus semua urusan perusahaan.
"Kamu benar sekali Chard....kita memang harus segera menyatukan perusahaan kita, biar semua dalam kendali Keenan dengan orang-orang kepercayaan kita yang mengurus nya nanti. Kita hanya memantau saja, jika Keenan kualahan baru kita turun untuk membantu nha. Jika anak-anak mereka sudah dewasa kelak, biarkan cicit-cicit kita nanti nya yang meneruskan perusahaan kita ini, bagaimana menurut kalian?" tanya kakek Dirga pada Nayla dan Keenan.
"Kalau Nayla terserah mas Keenan saja kek, bagaimana baik nya. Dari dulu impian Nayla juga hanya ingin menjadi istri yang berada di rumah dan bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak Nayla nanti nya."
Keenan tersenyum lega mendengar penuturan calon istri nya itu.
"Terima kasih sayang...aku berjanji akan menjadi kepala keluarga yang baik dengan memenuh segala kebutuhan mu dan anak-anak kita nanti nya. Dan aku siap kek untuk mengurus perusahaan kita bersama, tapi aku tetap meminta doa dan dukungan kakek selalu."
Kedua orang tua itu hanya menganggukkan kepala nya, mereka merasa lega akhirnya urusan perusahaan sudah menemui titik terang. Kebetulan perusahaan kakek Dirga dan kakek Richard bergerak di bidang yang sama. Jadi tidak susah untuk menyatukan kedua perusahaan itu untuk di jalankan oleh satu orang.
Hanya tetap saja Keenan pasti akan kualahan memegang perusahaan mereka yang sekarang lebih besar dari sebelum nya. Tapi baik dari pihak kakek Dirga maupun kakek Richard sudah menentukan beberapa orang kepercayaan mereka untuk membantu Keenan nanti nya.
**
"Kenapa wanita itu lama sekali sampai kantor ku, bukan kah kata kepala HRD di perusahaan Keenan dia sudah pergi dari tadi kenapa sampa sekarang belum sampai juga. Apa mungkin dia tersesat? ah....mencari alamat perusahaan ku yang besar ini tidak lah susah, argh....kenapa aku jadi seperti ini, siapa dia sampai aku kelimpungan seperti ini menunggu nya," gumam Davin sambil mengusap wajah nya dengan kasar.
Sedangkan di lobby kantor SNJ.Group ada seorang wanita berkaca mata yang sedang terkagum-kagum dengan kemewahan perusahaan tersebut.
__ADS_1
Dia mengira perusahaan SNJ.Group itu hanya perusahaan biasa dan jauh di bawah Drg.Group. Setelah melihat semua nya, ternyata tidak seperti yang dia pikirkan. Ternyata perusahaan yang akan dia tempati untuk mengais rezeki tidak kalah besar dari Drg.Group.
"Waw.....luar biasa," gumam Safira saat pertama menginjakkan kaki nya di lobby perusahaan sampai dia tidak sadar tingkah nya itu seperti orang yang kampungan.
Bahkan banyak orang yang lalu-lalang di lobby perusahaan yang menatap aneh pada Safira. Selain mereka menatap aneh pada sikap Safira yang kampungan, dia juga memindai penampilan Safira yang menurut mereka sedikit aneh. Pakaian kantor yang jauh dari kata fashionable belum lagi kaca mata besar yang bertengger di hidung nya menambah penampilan Safira sangat udik bagi mereka.
Padahal kalau meraka sampai tahu CEO mereka sedang kelimpungan menunggu wanita yang dia bilang kampungan dan katrok itu, entah apa yang mereka pikirkan nanti nya tentang Safira.
"Maaf nona, bisa saya bantu?" tanya security perusahaan yang sejak tadi mengamati Safira seperti orang yang sedang kebingungan.
"Eh..iya pak...saya Safira dari perusahaan Drg Group, apakah saya bisa bertemu dengan kepala HRD perusahaan ini. Karena saya merupakan karyawan yang diutus oleh perusahaan saya menangani proyek kerjasama antara Drg.Group dengan SNJ.Group di sini," terang Safira.
"Oh..jadi ini yang nama nya mba Safira? tadi kepala HRD menitipkan pesan pada saya jika mba datang langsung saja di antar ke ruangan nya, mari mba saya antar ke ruangan HRD."
Safira hanya menganggukkan kepala nya dan mengikut security itu menuju ruangan HRD.
"Silahkan masuk mba, pak Seno sudah menunggu anda di dalam."
"Terima kasih pak..."
Safira kemudian mengetok pintu ruangan itu sebelum dia masuk ke dalam.
Saat dia sudah dipersilahkan masuk, Safira langsung menyerahkan surat tugas dia dari kantor sebelum nya, dan beberapa bekas yang berhubungan dengan pekerjaan nya di sini nanti nya.
"Baiklah nona Safira, selama anda di sini maka anda menjadi karyawan kami yang harus mentaati peraturan yang ada di perusahaan ini. Anda juga akan menerima gaji sesuai jabatan dan posisi anda di sini nanti nya. Dan karena penting nya proyek ini, maka anda akan di tempatkan di kantor CEO perusahaan ini."
"Hah...di kantor CEO perusahaan langsung pak?" kata Safira kaget.
Dia tidak menyangka jika dia akan ditempatkan di kantor CEO langsung. Sebegitu penting apa proyek yang akan dia tangani sehingga mengharuskan dia berhadapan langsung dengan CEO perusahaan ini.
Sedangkan di Drg.Group saja dia belum pernah berhadapan langsung dengan CEO nya, lha ini dia langsung berhadapan dengan orang nomer satu di SNJ.Group.
Safira beberapa kali menelan ludah nya dengan susah payah, sesekali dia mengusap dahi nya yang tiba-tiba berkeringat.
"Maaf pak...apa bapak tidak salah menempatkan saya di sana?" tanya Safira untuk memastikan jika apa yang dia dengar itu salah.
"Tidak nona, posisi anda di sini memang berada di kantor CEO," jelas pak Seno sekali lagi.
"Ya tuhan....nikmat mana lagi yang akan kamu berikan pada ku," pasrah Safira dengan langkah gontai meninggalkan ruangan HRD.
"Apa aku bisa bekerja langsung di bawah CEO, selama ini aku hanya bekerja di bawah pimpinan kepala divisi, itu saja sudah mengerikan, gimana jika harus bekerja di bawah tekanan dan pimpinan CEO langsung," batin Safira.
__ADS_1
"Safira....Safira...malang sekali nasib mu,"