Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab. 141 Ulah Davin


__ADS_3

"Akhir nya kamu bersuara juga, aku kira kamu tidak bisa bicara," jawab Davin dengan begitu santai.


Safira langsung melongo," hah...dia kira aku bisu apa," beo Safira.


"Jadi apa tujuan mu ke perusahaan ku hem..." tanya Davin tanpa menghentikan pekerjaan nya.


Safira menarik nafas nya perlahan, dia benar-benar harus sabar menghadapi orang yang ada di hadapan nya itu. Dia kemudian perlahan menjelaskan tentang tujuan nya ke sini untuk apa. Walaupun Davin sendiri sudah tahu tentang tujuan Safira di sini, karena memang pada awal nya dia yang mengatur supaya Safira bisa pindah ke perusahaan nya. Tapi dia ingin Safira menjelaskan nya sendiri, bisa dikatakan sebagai formalitas saja supaya rencana nya tidak terbongkar.


"Oh...aku kira tujuan mu di pindahkan ke sini untuk menggoda ku," ucap Davin sambil melirik sekilas ke arah Safira.


Wanita itu langsung mengepalkan kedua tangan nya, bagaimana bisa laki-laki yang kata nya seorang CEO itu dengan mudah nya berkata seperti itu. Padahal sebalik nya justru Davin lah yang sengaja menggoda Safira, dan dengan terang-terangan telah mencuri ciuman pertama ku.


"Apa maksud anda tuan? saya di pindahkan ke sini untuk menggoda anda? CK....apa tidak terbalik? justru anda yang berbuat tidak baik kepada saya," jawab Safira dengan tegas dan lantang.


"Bahkan anda telah mencuri ciuman pertama ku," imbuh Safira dengan suara yang sangat lirih sekali. Tapi apa yang Safira ucapkan masih bisa di dengar oleh Davin.


Seketika laki-laki tampan itu menarik sudut bibir nya membentuk senyuman tipis. Dalam hati Davin bersorak gembira, karena baru dia yang menyentuh bibir manis itu. Tidak hanya Safira saja yang menganggap ciuman itu adalah ciuman pertama nya, bagi Davin itu juga ciuman pertama nya. Karena selama ini Davin tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Hanya dengan Nayla lah dia bisa merasakan jatuh cinta tapi sayang nya cinta itu bertepuk sebelah tangan.


Dan entah mengapa semenjak bertemu dengan Safira di cafe saat mereka masih di Amerika, getaran itu muncul kembali. Safira juga bisa membuat hidup Davin berwarna, dan bisa dikatakan karena Safira lah dia bisa cepat move on dari Nayla.


"Sekarang aku akan menjelaskan tugas kamu selama berada di sini untuk apa, selain kamu mengerjakan proyek kerjasama antara perusahaan ku dengan dengan perusahaan Drg.Group kamu di sini nanti nya akan menjadi sekertaris dan asisten pribadi ku juga. Jadi kamu harus menyiapkan segala sesuatu yang aku butuh kan baik di kantor maupun di luar kantor. Bisa di katakan kamu harus siap bekerja dua puluh empat jam sesuai dengan yang aku butuhkan," Davin dengan tegas menjelaskan tentang pekerjaan Safira apa nanti nya.


"Hah.....mana bisa seperti itu tuan? saya di pindah tugas kan oleh perusahaan saya ke sini karena saya mendapat tugas untuk menangani proyek kerja sama antara perusahaan anda dengan perusahaan tempat saya bekerja sebelum nya. Kalau untuk menjadi sekretaris dan asisten pribadi anda, saya menolak! karena itu bukan bidang saya, dan itu tidak tercantum dalam surat tugas yang saya terima dari perusahaan," tolak Safira dengan tegas.


Davin tersenyum tipis mendengar penolakan dari Safira, dia kemudian membuka surat tugas yang Safira bawa dari perusahaan Drg.Group. Dengan lantang dia membaca lampiran dari surat tersebut, yang menyatakan jika pihak perusahaan SNJ.Group berhak untuk memberikan jabatan atau formasi apa pun pada Safira saat dia masih bertugas di sana.


Otomatis Safira langsung membulatkan mata nya, dia sangat yakin jika dalam surat tugas nya tidak ada hal tersebut. Karena dia sudah membaca nya dengan teliti tadi pagi.


"Itu tidak mungkin tuan...aku sangat yakin jika aku sudah membaca nya dengan sangat jelas jika tidak ada hal seperti itu dalam surat tugas saya," Safira mengelak dengan apa yang Davin bacakan tadi.


Davin melempar lembaran kertas itu di depan Safira. Gadis itu langsung mengambil surat itu dan membaca nya. Ternyata memang benar ada nya di situ tertulis seperti apa yang Davin ucapakan tadi.

__ADS_1


"Kenapa bisa begini, padahal tadi aku sudah membaca nya dengan jelas jika tidak ada tulisan seperti ini, kenapa sekarang ada tulisan seperti itu di sini," lirih Safira sambil mengucek beberapa kali mata nya setelah dia melepaskan kaca mata nya.


"Maka nya, kalau mata baik-baik saja tidak usah di pakaikan kaca mata segala. Jadi nya gitu kan..mata kamu jadi sakit beneran?" sindir Davin.


Deg,


"Bagaimana dia bisa tahu jika mata ku baik-baik saja," batin Safira.


"Saya mau pakai kaca mata atau tidak bukan urusan anda," ketus Safira sambil menaruh kembali surat tugas nya itu di atas meja kerja Davin.


Sebenarnya isi surat tugas itu asli nya memang seperti yang Safira baca sebelum nya. Dia memang hanya bertugas untuk menangani proyek kerja sama antara kedua perusahaan. Tapi bukan Davin nama nya jika tidak bisa merubah iso surat tugas itu dalam waktu yang singkat.


Saat kepala HRD perusahaan Keenan memberi kabar jika Safira sudah pergi menuju perusahaan nya dia langsung menyuruh kepala HRD itu untuk mengubah isi surat tugas itu yang sesuai dengan keinginan nya dan mengirimkan nya ke email nya. Kepala HRD tidak bisa menolak keinginan Davin itu, karena sebelum nya dia sudah diberitahu oleh Rendi, apa pun yang Davin inginkan harus dituruti. Rendi mengatakan hal itu berdasarkan perintah dari Keenan.


Setelah Davin menerima email dari kepala HRD itu dia langsung memeriksa surat itu dan memerintahkan asisten nya untuk mencetak surat tugas itu.


"Jadi bagaimana hem...kamu sudah paham sekarang tugas kamu apa di sini."


"Hahahahaha...saya tidak akan rugi kalau hanya untuk membayar gaji double, triple atau seratus sekretaris dan asisten lagi," kelakar Davin dengan sombong nya.


"Sombong..." lirih Safira dengan memutar kedua bola mata nya.


"Tapi tuan...itu sekretaris anda ..."


"Dia sudah saya pecat!" Davin langsung memotong perkataan Safira begitu saja karena dia tahu apa yang akan Safira tanyakan.


"Hah.... sudah dipecat?sejak kapan?" gumam Safira.


"Sudah jangan terlalu banyak bertanya lagi, sekarang kamu kembali ke meja sekertaris yang sudah aku siapkan di sana, dan tugas pertama mu adalah membuatkan ku kopi," titah Davin.


Safira hanya pasrah dengan apa yang Davin perintahkan. Mau menolak semua nya itu tidak mungkin karena bagaimana pun dia membutuhkan pekerjaan ini. Tahu sendiri mencari pekerjaan sekarang sangat lah sulit. Mau tidak mau dia menerima semua nya. Begitulah nasib orang dari kalangan kelas bawah.

__ADS_1


Saat dia keluar dari ruangan Davin, dia sangatlah terkejut tiba-tiba di sana sudah ada meja sekretaris yang sebelum nya tidak berada di situ.


"Kenapa meja ini sudah ada di sini, sejak kapan meja ini berpindah. Bukan kah meja sekertaris ini letak nya di sana?" ucap Safira sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


Dia meletakan tas kerja nya dan beberapa berkas yang dia bawa dari perusahaan Drg.Group di meja itu. Seketika pandangan nya tertuju pada sebuah kertas yang tertempel di meja itu. Dia memperhatikan kertas itu dan membaca nya. Ternyata kertas itu berisi tentang semua jenis makanan dan minuman yang Davin suka atau tidak dia suka. Di sana juga tertera berapa takaran gula dan kopi yang biasa Davin minum.


Setelah membaca semua nya Safira langsung menuju ke pantry yang jarak nya tidak jauh dari tempat duduk nya. Dan dia langsung membuatkan kopi sesuai perintah atasan nya itu.


Tok..tok...tok..


"Permisi tuan..ini kopi pesanan anda," ucap Safira dengan mencoba untuk se ramah mungkin dan meletakkan kopi itu di meja Davin.


Bagaimana pun dia sekarang adalah bawahan Davin jadi sebisa mungkin dia berusaha untuk tetap menjaga attitude nya sebagai seorang karyawan.


"Hem....setelah itu kamu buka tablet yang ada di meja kerja mu, dan pelajari semua yang ada di sana," titah Davin tanpa menengok ke arah Safira. Karena saat ini dia sedang fokus dengan berkas yang menumpuk di atas meja nya.


"Baik tuan...kalau begitu saya permisi..."


**


"Kantor ini memang luar biasa, semua nya serba ada dalam sekejap, padahal tadi di meja ini tidak ada benda ini, dan baru saja aku tinggal sebentar untuk membuatkan tuan Davin kopi, saat aku kembali benda ini sudah ada di meja ku, apa kantor ini juga memperkejakan jin juga," ucap Safira sambil bergidik ngeri membayangkan jika memang benar jika kantor itu memperkerjakan jin juga.


Davin yang melihat ekspresi Safira dari dalam ruangan nya menggelengkan kepala nya.


"Kamu kira asisten ku jin tomang apa, dasar wanita aneh," gumam Davin yang kemudian melanjutkan pekerjaan nya.


Semua yang serba instan itu adalah pekerjaan asisten Davin yang mengatur semua nya. Dari pemindahan meja sekertaris, sampai menaruh tablet ketika Safira sedang membuatkan kopi untuk Davin.


**


Safira saat ini sedang fokus membaca semua tugas dan jadwal kegiatan Davin dalam tablet. Fokus nya terhenti saat ada seseorang yang tiba-tiba datang di hadapan nya.

__ADS_1


"Permisi mba...apa kak Davin nya ada?"


__ADS_2