
"Aku akan cari informasi itu setelah urusan dengan Keenan selesai," lirih Diego kemudian melajukan mobilnya kembali.
**
Di perusahaan Dirgantara
"Di mana berkas itu," gumam Keenan mencari berkas yang sudah dia persiapkan untuk persentasi nanti.
"Astaga... berkas itu pasti tertinggal di meja makan saat aku minum teh tadi pagi," ucap Keenan menepuk jidatnya.
Keenan segera mengambil ponselnya dan menghubungi Bi Marni.
Tut...Tut..Tut...
"Hallo tuan," jawab Bi Marni dari seberang sana.
"Bibi ada sudah ada di apartemen sekarang?" tanya Keenan.
"Sudah tuan.."
"Saya minta tolong sekarang bibi ke ruang makan, lihat apakah di situ ada sebuah map yang tertinggal di meja makan, cepat ya Bi," titah Keenan.
"I ya tuan.."
Bi Marni langsung bergegas menuju ruang makan, dia melihat ke arah meja makan yang tampak bersih tidak ada satu barang pun di sana.
"Maaf tuan, tapi di meja makan tidak map yang tuan maksud bahkan di sana tidak ada apa - apa pun," jelas Bu Marni.
"Lalu dimana map itu," batin Keenan.
"Coba bibi ke ruang kerja saya, cek di sana Bi apakah ada map merah di atas meja kerja saya."
"Baik tuan.."
Bi Marni naik ke lantai atas dan masuk ke ruang kerja Keenan yang berada di samping kamar Keenan. Dia langsung menuju meja kerja Keenan, di sana pun sama dia tidak menemukan keberadaan map itu.
"Maaf tuan, di meja kerja tuan juga tidak ada map yang tuan maksud," terang Bi Marni.
"Ya Tuhan, di mana map itu sekarang," gumam Keenan mulai panik.
Dia mengusap kasar wajahnya, tiba - tiba terlintas dalam pikirannya tentang Nayla. Dia berharap istri nya itu tahu keberadaan map itu. Karena dia sangat yakin jika map itu tertinggal di meja makan tadi pagi.
"Nayla ada di mana Bi," tanya Keenan.
"Non Nayla sudah berangkat tuan sebelum bibi datang tadi," jawab Bi Marni.
"Ya sudah Bi."
Keenan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
"S***t....." umpat Keenan.
"Ren.. ke ruangan saya segera," titah Keenan kepada sang asisten pribadi nya melalui sambungan telepon.
Tok..tok..tok..
"Permisi tuan, ada yang bisa saya bantu," sapa Rendi.
"Ren, kamu tahu nomer Nayla," tanya Keenan.
"I ya tuan saya tahu nomer non Nayla," jawab Rendi.
Keenan mengernyitkan dahi nya mendengar jawaban dari sang asisten, bagaimana bisa asistennya palah tahu nomer handphone istri nya, sedangkan dia suami nya sendiri palah tidak tahu.
Melihat ekspresi dari bos nya, Rendi segera mengklarifikasi bagaimana dia sampai mempunyai nomer Nayla.
"Saya mendapatkan nomer Nona Nayla dari Pak Mun Tuan," jelas Rendi.
"Sekarang hubungi dia, tanyakan apa dia tahu tentang map merah yang tertinggal di meja makan tadi pagi," ucap Keenan datar.
"Baik tuan.."
Rendi segera menghubungi nomer Nayla, cuma sekali pencet langsung tersambung dengan Nayla.
"Hallo Non Nayla, saya Rendi asisten tuan Keenan," sapa Rendi.
"Cepat sekali dia mengangkat telepon dari Rendi, apa dia juga sudah menyimpan nomor handphone nya Rendi," batin Keenan kesal.
Rendi yang mendengar jawaban Nayla dengan keras agak menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Maaf nona, apakah nona tahu tentang map merah milik tuan Keenan yang tertinggal di meja makan tadi," tanya Rendi.
"Iya pak saya tahu, sekarang map nya ada sama saya dan ini saya sedang di perjalanan menuju kantor mas Keenan untuk mengantar map tersebut," jelas Nayla masih dengan suara yang kencang.
"Syukurlah jika map itu ada pada non Nayla, kalau begitu saya tunggu di kantor ya Non, dan hati - hati di jalan," ucap Rendi mengakhiri panggilan teleponnya.
"Dasar asisten tidak sopan, berani - berani nya dia mengatakan ucapan perhatian kepada istriku," gerutu Keenan dalam hati.
"Map nya ada di Non Nayla tuan, dan dia lagi di perjalan menuju kantor sekarang," terang Rendi.
Hem,
"Tapi tunggu dulu, bagaimana dia tahu alamat kantor ini," pikir Keenan.
"Argh... yang terpenting map itu tidak hilang, bodoh amat dia mau tahu alamat kantor ini dari mana," monolog Keenan dalam hati.
"Kamu boleh kembali ke meja mu sekarang," titah Keenan.
" Kalau begitu saya permisi tuan.."
__ADS_1
Keenan melihat jam yang ada di pergelangan tangannya menunjukkan pukul delapan pagi, bearti masih ada waktu dua jam lagi untuk dia persentasi. Waktu yang lumayan panjang itu dia manfaatkan untuk mengecek semua persiapan yang akan dia bawa nanti.
Dia membuka laptopnya dan melihat desain produk yang sudah dia buat selama beberapa hari lalu, dia juga mengcopy file tersebut ke dalam flashdisk untuk backup.
Saat dia sedang mengcopy file tersebut, tiba - tiba pintu ruangannya terbuka.
"Hai honey..." sapa Michel dengan suara manja seperti biasa nya.
Keenan terperanjat kaget dengan kehadiran Michel secara tiba - tiba di kantornya. Karena Michel selama ini belum pernah datang ke kantor Keenan. Karena Keenan sendiri selalu melarang Michel untuk datang ke kantornya.
Melihat ekspresi terkejut dari sang kekasih Michel langsung menghampiri Keenan yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Surprise...." ucap Michel bergelayut manja di lengan Keenan.
Dan mata nya langsung terfokus dengan laptop yang menyala di atas meja Keenan.
"Seperti nya keadaan berpihak pada ku," batin Michel tersenyum devil. Secepat mungkin dia langsung berekspresi seperti tadi supaya Keenan tidak curiga.
"Kok kamu tidak memberitahu ku kalau kamu akan ke kantorku sekarang honey," tanya Keenan.
"Kalau aku kasih tahu bukan surprise dong nama nya," jawab Michel dengan senyum yang di buat semanis mungkin.
Keenan membalas senyum dari kekasihnya dengan mengusap lembut pucuk kepala sang kekasih.
"Gimana persiapan untuk persentasi nanti honey, apakah sudah beres semua nya," tanya Michel.
"Sudah honey.." jawab Keenan dengan tatapan yang masih fokus ke laptop.
Michel juga menatap lekat apa yang sedang Keenan kerjakan di laptop, bahkan dia juga tahu di mana Keenan menyimpan file tersebut. Setelah selesai mengcopy file itu Keenan langsung mencabut flashdisk itu dan menaruhnya di dekat laptop.
"Honey.. kamu tunggu aku di sofa itu dulu, aku akan ke bagian keuangan dulu bersama Rendi, karena ada beberapa hal yang harus aku cek," ucap Keenan.
"Baiklah.. jangan lama - lama," ucap Michel dengan senyum menggoda dan hanya dibalas anggukan oleh Keenan.
Keenan meninggalkan ruangannya dengan laptop yang masih dalam keadaan menyala. Kesempatan ini benar - benar sangat menguntungkan bagi Michel. Dia tidak perlu susah payah meretas password yang ada di laptop Keenan.
Setelah kepergian Keenan, dengan cepat Michel langsung duduk di kursi Keenan dan membuka folder penyimpanan file yang dia lihat tadi, tidak perlu waktu yang lama dia langsung menemukan file tersebut, Michel kemudian langsung menekan tombol delete pada keyboard laptop. Michel langsung mengambil ponselnya dan merekam processing penghapusan file itu dan mengirimnya ke Diego.
Diego yang menerima pesan dari sang kekasih, menyunggingkan senyumannya. Dia langsung membuka video yang Michel kirim.
"Kamu memang selalu bisa diandalkan baby," puji Diego atas keberhasilan kekasihnya.
Dia sudah yakin jika Michel selalu bisa diandalkan untuk memperdaya musuhnya.
"Sekarang nikmati kehancuran mu Keenan Dirgantara.." ucap Diego dengan senyum smirknya.
Sedangkan di ruangan Keenan, Michel menunggu proses penghapusan file itu dengan perasaan was - was. Karena terlalu gugup, tiba - tiba Michel merasa ingin buang air kecil.
Karena tidak bisa menahan lagi, akhirnya Michel meninggalkan ruangan itu dalam keadaan laptop yang masih memproses penghapusan file itu. Sebelum pergi Michel tidak lupa mengambil flashdisk Keenan yang ada di samping laptop.
__ADS_1
"Seperti nya sudah aman," ucap Michel saat meninggalkan ruangan Keenan.