Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab. 81 Resmi berpisah


__ADS_3

Lagi - lagi Keenan tidak dapat informasi apa pun dari Davin. Dia bisa melihat dari sorot mata Davin jika sahabatnya itu tidak membohongi nya.


"Kemana lagi aku mencari kamu Nay..orang suruhan ku juga tidak mendapatkan informasi apa pun tentang kamu, bahkan nomer ponsel mu saja sudah tidak aktif sekarang...Arrrrgh..." Keenan benar - benar frustasi.


**


Waktu berlalu sangat cepat, dan sampai detik ini juga tidak ada yang tahu tentang keberadaan Nayla di mana. Tuan Richard benar - benar menutup seluruh akses tentang cucu nya itu. Bahkan di saat persidangan perceraian Nayla tidak menampakkan batang hidung nya sama sekali, semua sudah diserahkan kepada pengacara nya.


Keenan benar - benar dibuat frustasi oleh kepergian sang istri, dan apa lagi saat ini dia benar - benar sudah resmi berpisah dengan Nayla. Sidang perceraian mereka tergolong berjalan sangat cepat, karena semua bukti memberatkan Keenan, apalagi saat mediasi pihak Nayla tidak datang sehingga membuat hakim cepat untuk mengambil keputusan bercerai antara mereka berdua.


Keenan menatap nanar sebuah kertas yang baru diterima nya dari pengadilan agama. Di lembar kertas itu disebutkan jika antara dirinya dan Nayla sudah tidak ada hubungan apa pun sekarang ini. Mereka benar - benar menjadi orang asing sekarang. Keenan menghela nafas nya berat, dada nya terasa sesak sekali tanpa disadari ada butiran kristal bening yang mengalir dari sudut mata nya.


"Kita benar - benar berpisah Nay..." lirih Keenan dengan suara yang berat.


Kali ini dia benar - benar pasrah dengan apa yang terjadi, mungkin ini yang memang seharusnya dia dapat kan dari apa yang sudah dia lakukan dulu seperti yang kakek nya ucapkan waktu itu.


**


Di belahan benua lain, seorang gadis cantik sedang menghela nafas nya perlahan dia juga menampilkan sebuah senyuman yang sulit untuk diartikan setelah menerima panggilan dari seseorang di seberang sana. Entah senyuman ungkapan perasaan senang atau perasaan sedih hanya dia yang tahu.


"Akhirnya....kita benar - benar pisah mas, tidak ada hubungan apa pun lagi antara kita lagi, dan semua itu sesuai dengan apa yang kamu inginkan sejak dari awal pernikahan kita," lirih Nayla.


Ya..gadis itu adalah Nayla Atifa, dia sekarang berada di Amerika. Dia pergi ke sana atas permintaan diri nya sendiri, dan negara itu adalah pilihan sang kakek. Jelas saja selama ini Keenan susah untuk mencari keberadaan Nayla, karena dia benar - benar di sembunyikan oleh Tuan Richard.


Di sana Nayla fokus dengan study nya sekalian itu dia juga menangani salah satu perusahaan sang kakek yang ada di sana. Nayla merupakan wanita yang cerdas, jadi dia cepat menguasai segala hal yang berhubungan dengan perusahaan sang kakek. Tentu nya dia tetap ditemani sang asisten setia nya sahabatnya sendiri Santi.


"Aku harap kamu bisa melupakan semua nya Nay..dan mulai lah dengan kehidupan yang baru dengan status yang baru," ucap Santi menghibur seng sahabat.


Nayla menganggukkan kepala nya mengiyakan apa yang sahabatnya itu ucapkan.


"Semangat Nayla Atifa..kamu pasti bisa ! " Santi menyemangati sang sahabat dengan ceria dengan ciri khas nya yang cempreng dan itu sontak membuat Nayla tertawa. Karena sahabatnya itu selalu bisa membuat dia untuk tertawa dengan gaya nya yang bar - bar.


"Okey Bu CEO yang cantik..hari ini anda ada jadwal meeteng dengan Tuan Abraham Davidson dari The Royal Company jam 10 pagi ini di Resto X, aku dengar...dia orang nya tampan lho," bisik Santi yang sontak mendapat tatapan tajam sang sahabat.


"Apaan sech..." ucap Nayla sewot.

__ADS_1


"Kali aja kamu bisa cepat move on dari mantan suami mu itu, siapa nama nya? Lupa aku..."


"Mas Keenan..." tanpa sengaja Nayla menyebut nama mantan suami nya itu.


"Nach...lho,, jangan - jangan kamu masih ada rasa ma dia ya Nay,,, tu nama nya saja masih sangat melekat di otak mu."


Nayla memutar bola mata nya malas, dan berlalu meninggalkan sang asisten yang mulai tidak jelas itu bagi Nayla.


"Nay...tunggu...kenapa main pergi begitu saja seh..."


**


Di sebuah restoran mewah seorang pemuda tampan berwajah blasteran Arab - Indo sedang menunggu seseorang dengan sesekali melirik ke arah arloji di tangan nya.


"Benar - benar tidak profesional," gerutu Abraham.


Laki - laki itu emang terkenal dengan disiplin waktu yang sangat tinggi. Dia paling tidak suka dengan yang nama nya keterlambatan. Dia tidak mentolerir untuk hal satu itu.


"Jo..."


Baru saja Jonathan meraih ponsel nya untuk menghubungi seseorang, tiba - tiba datanglah dua orang wanita cantik yang ditunggu oleh sang bos sejak tadi.


"Selamat pagi Tuan Abraham," sapa Nayla dengan sopan.


"Ck.....anda terlambat 5 menit nona," jawab Abraham dingin tanpa menatap lawan bicara nya.


Nayla mengernyitkan dahi nya, dia langsung menengok ke arah arloji di tangannya, di situ menunjukkan jam 10 pas, jadi dia tidak terlambat sama sekali.


Santi juga melihat ke arloji nya dan benar jam di tangannya juga menunjukkan tepat jam 10 pagi.


"Maaf tuan...tapi saya datang tepat waktu sesuai perjanjian awal jam 10 pagi," ucap Nayla membela diri.


"Benar tuan yang dikatakan atasan saya, jika kamu datang tepat waktu, di jam dinding yang ada di resto ini juga menunjukkan tepat pukul 10 pagi tuan, jadi kita tidak terlambat sama sekali," kata Santi membela sang atasan.


"Tapi di arloji saya sudah lebih lima menit nona, jadi pertemuan ini kita batalkan."

__ADS_1


"Mana bisa begitu tuan...kami tidak terlambat sama sekali," ucap Santi dengan nada yang agak tinggi. Karena dia merasa kesal dengan laki - laki yang ada di hadapannya itu seenaknya sendiri main membatalkan kerja sama yang baru saja akan dimulai hanya dengan alasan yang tidak masuk akal itu.


Nayla mengelus lengan sang sahabat supaya bisa mengontrol emosi nya dihadapan klien. Santi memang suka tidak bisa menahan emosi jika ada yang membuat nya kesal.


"Jika anda ingin membatalkan kerja sama ini hanya dengan alasan yang tidak masuk akal itu, silahkan tuan... dengan senang hati saya menerima nya, saya juga tidak suka bekerja sama dengan orang yang tidak mempunyai toleransi dan empati seperti anda tuan. Di sini kami tegaskan sekali lagi jika kami datang tepat pada waktu perjanjian, terbukti jika arloji yang kamu pakai sama dengan jam dinding yang di resto ini. Kami juga selalu mengedepankan kedisiplinan waktu tuan, tapi kami tidak seperti anda pasti nya, kalau begitu kami permisi, selamat pagi..." ucap Nayla dengan tegas dan beranjak meninggalkan tempat itu.


"Siapa wanita itu berani nya dia berkata seperti itu kepada ku, biasa nya klien ku yang lain akan berlutut meminta maaf dan memohon kepada ku untuk tetap melanjutkan kerja sama ini, tapi kenapa wanita ini dengan tegas menerima jika kerja sama dengan perusahaan ku dibatalkan, apa dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini," monolog Abraham memandangi punggung Nayla yang berlalu pergi begitu saja sebelum Abraham melihat wajah nya.


"Jo....cari tahu tentang wanita itu segera," titah sang tuan.


"Wanita yang mana tuan?" jawab Jo agak bingung, karena dia tadi sedikit tidak fokus karena terpesona dengan kecantikan dan ketegasan Nayla.


Karena baru kali ini ada seseorang yang berani berkata seperti itu kepada tuan nya tanpa ada rasa takut sedikit pun dan itu adalah seorang wanita. Sungguh luar biasa menurut Jonathan.


"Wanita yang barusan mengataiku bodoh," geram Abraham dengan tatapan tajam kepada Jo karena asisten nya dinilai tidak fokus kali ini.


"Ba ik tuan...." jawab Jo dengan terbata.


**


Di luar resto Nayla berjalan dengan begitu santai ke arah parkiran mobil. Berbeda dengan Santi, asisten nya itu sedari tadi ngomel - ngomel tidak jelas dengan keputusan Nayla yang tiba - tiba main membatalkan kerja sama dengan perusahaan The Royal Company itu.


Tidak sembarangan perusahan yang bisa bekerja sama dengan perusahaan yang dipimpin Abraham itu, dan untuk mendapatkan kerja sama itu sangatlah sulit sekali. Dan perusahaan Nayla mempunyai kesempatan untuk menjalin kerja sama dengan The Royal Company tapi tiba - tiba Nayla palah membatalkan nya begitu saja.


"Nay...harusnya kamu tidak seperti itu tadi, harusnya kita tadi mengalah dan meminta maaf kepada tuan Abraham Nay...tidak langsung mengambil keputusan seperti itu, untuk mendapatkan kerja sama itu kan susah Nay..." protes Santi.


Kalau sudah berada di luar kantor atau jam kerja maka Santi akan berbicara santai kepada Nayla, tapi jika masih dalam urusan pekerjaan maka dia akan profesional.


"Tenang saja Susanti Wulandari binti Bapak Sugiono, perusahaan kita toh tidak merugi sama sekali, dan jika memang kita berjodoh kerja sama dengan perusahaan itu pasti nanti ada jalan nya," jawab Nayla santai.


"Tapi Nay...."


"Sssst.... sudah ngga usah dibahas lagi, okey.. lagi pula orang seperti itu sekali - kali perlu dikasih siraman rohani biar tidak songong dan semau nya sendiri. Aku sudah tahu tuan Abraham itu seperti apa San...jadi menurutku tidak akan rugi jika kerja sama itu kita batalkan. Lebih baik temani aku ke salon yuk, aku sudah tidak ada jadwal apa - apa lagi kan sampai jam makan siang nanti."


"Ngga ada, jadwal kamu hanya bertemu dengan tuan Abraham itu saja hari ini."

__ADS_1


"Okey,,,let's go girl....kita manjakan diri kita dulu."


__ADS_2