Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab 44 Jangan sentuh laptop itu


__ADS_3

"Seperti nya sudah aman," ucap Michel saat meninggalkan ruangan Keenan.


Michel langsung menuju ke toilet sebelumnya dia sudah mengirimkan pesan ke Keenan jika dia buru - buru pergi karena ada pemotretan mendadak.


**


"Neng...seperti nya di depan ada kemacetan," ucap tukang ojek.


Nayla mendongakkan kepala nya melihat ke depan, benar yang dibilang oleh bapak tukang ojek jika di depan terlihat jalanan yang sangat padat oleh kendaraan.


"Apakah bapak tahu jalan pintas supaya kita cepat sampai?" tanya Nayla.


"Tahu Non, di depan sana ada belokan kita lewat sana saja nanti, tidak ada lima menit kita pasti sudah sampai di tempat yang kita tuju," terang sang supir ojek.


"Baiklah pak kalau begitu."


Supir ojek tersebut kemudian melajukan kembali motornya lewat jalan yang dia ceritakan tadi. Jalanan itu terlihat sangatlah sepi, tidak ada kendaraan yang berlalu - lalang akan tetapi jarak kantor Keenan jika melewati jalan itu sangatlah dekat.


Saat di pertengahan jalan tiba - tiba Nayla dan tukang ojek melihat sebuah mobil mewah yang sedang dihadang oleh sekawanan orang memakai pakaian serba hitam dan penutup kepala. Mereka terlihat sedang menghadang mobil tersebut.


"Neng, seperti nya di depan ada perampokan," ucap bapak tukang ojek menghentikan motornya di bahu jalan yang tidak jauh dari mobil itu.


"Iya pak, sepertinya mereka membutuhkan bantuan kita."


"Tapi neng, ini sangat berbahaya dan bagaimana jika kawanan perampok itu membawa senjata."


"Bapak tenang saja, serahkan semua nya pada ku bapak tinggal ikuti semua instruksi dari ku," terang Nayla.


Nayla menceritakan rencana nya untuk membantu pengendara mobil tersebut bisa lepas dari kawanan perampok itu.


Pertama, Nayla menginstruksikan sang tukang ojek untuk mendekati mobil itu setelah itu Nayla akan mengambil alih sesuai dengan rencana mereka.


Ketika motor yang ditumpangi Nayla sudah dekat dengan mobil itu, dengan lantang Nayla berteriak.


"Polisi .... polisi...polisi..." teriak Nayla bertepatan dengan tukang ojek menyalakan suara sirine polisi dari ponsel Nayla yang dia pegang tadi. Untung saja jalanan itu sepi jadi suara sirine yang berasal dari ponsel Nayla terdengar jelas oleh kawanan perampok itu.


Mendengar suara sirine yang semakin keras dan mendekat, membuat kawanan perampok panik dan mereka mengendarai motornya kocar - kacir.

__ADS_1


"Alhamdulillah... rencana kita berhasil neng," kata tukang ojek merasa lega.


"Iya pak, Alhamdulillah," jawab Nayla tersenyum puas karena rencana nya telah berhasil.


Merasa sekawanan perampok itu telah pergi, supir pengendara mobil mewah itu kemudian turun menghampiri Nayla dan tukang ojek yang sedang menepikan motornya di bahu jalan.


"Terimakasih nona atas bantuannya, kalau tidak ada nona entah bagaimana nasib kami tadi," ucap sang supir tulus dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Sama - sama pak, sudah sewajarnya sesama manusi untuk saling membantu, yang terpenting bapak lain kali hati - hati jika melintasi jalanan sepi seperti ini, kalau begitu kita duluan ya pak," jawab Nayla dengan dengan tersenyum tulus kemudian dia naik ke motor dan menyuruh bapak tukang ojek untuk melajukan kembali motornya.


Kejadian tadi tidak lepas dari tatapan seorang pria paruh baya yang duduk di kursi penumpang mobil mewah tadi. Sebenarnya dia ingin turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih kepada Nayla. Tapi sebelum dia turun, Nayla sudah berlalu pergi.


"Seperti nya dia sedang buru - buru, suatu saat nanti aku harus mengucapkan terimakasih pada gadis itu jika bertemu kembali," gumam pria paruh baya itu yang tak lain adalah Tuan Richard.


"Lanjutkan perjalanan kita Ton," titah sang tuan kepada supirnya yang sekaligus merangkap sebagai asisten pribadinya.


"Baik tuan."


"Oh ya.. jangan lupa kamu cari informasi tentang gadis yang menolong kita tadi, bagaimana pun saya harus mengucapkan terimakasih pada gadis itu dan kita punya hutang budi pada gadis itu," ucap Tuan Richard.


"Siap tuan," jawab sang asisten menganggukkan kepala nya.


**


Setelah itu dia bergegas masuk ke dalam dan menuju bagian resepsionis.


"Selamat pagi mba, ruangan pak Keenan sebelah mana ya," tanya Nayla ke petugas resepsionis.


"Apa mba sudah membuat janji sebelumnya?"


"Belum mba, cuma saya akan mengantar berkas pak Keenan yang tertinggal di apartemen," jawab Nayla.


Petugas resepsionis memindai penampilannya Nayla dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Kamu asisten rumah tangga nya Tuan Keenan?"


Nayla menganggukkan kepala nya, supaya dia cepat bisa mengantar berkas nya Keenan.

__ADS_1


"Baiklah tunggu sebentar, saya konfirmasi terlebih dahulu ke pak Rendi."


Setelah mendapat konfirmasi dari Rendi, petugas resepsionis tadi menunjukkan dimana ruangannya Keenan.


Nayla langsung naik lift dan memencet tombol sesuai instruksi petugas resepsionis tadi.


Ting..


Lift terbuka, Nayla melangkahkan kaki nya menuju ruangan CEO milik Keenan. Dia mengedarkan mata nya melihat ke kiri kanan untuk mencari ruang kerja suami nya. Maklum ini adalah kali pertama Nayla menapakkan kaki nya di kantor Keenan.


"Maaf mba, apa pak Keenan nya ada di dalam?" tanya Nayla ke sekretarisnya Keenan yang bernama Dewi.


"Kamu Nayla kan yang akan mengantar berkas pak Keenan."


Nayla menganggukkan kepala nya.


"Tadi Pak Rendi berpesan jika kamu datang langsung disuruh masuk saja ke ruangan pak Keenan," kata Dewi dengan ramah.


Dewi langsung mengantarkan Nayla ke ruangan Keenan. Dia membukakan pintu dan menyuruh Nayla untuk menunggu di sofa.


"Kamu tinggu dulu di sini, pak Keenan sedang ada pekerjaan di bagian divisi keuangan, oh ya perkenalan nama saya Dewi sekretarisnya pak Keenan," ucap Dewi memperkenalkan diri.


"Saya Nayla mba."


"Oh ya Nay, mau minum apa nanti saya pesankan ke OB."


"Tidak usah mba terimakasih," tolak Nayla sopan.


"Ya sudah saya tinggal dulu ya, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan," pamit Dewi meninggalkan Nayla sendiri di ruangan Keenan.


Nayla melihat sekeliling yang ada di ruangan Keenan, untuk mengurangi kebosanan Nayla berjalan melihat - lihat beberapa hiasan yang ada di ruangan itu.


Tiba - tiba tatapan Nayla tertuju ke arah meja kerja Keenan. Dia mengitari meja itu melihat dan menyentuh beberapa hiasan yang ada di meja kerja suami nya.


Saat Nayla berada di dekat kursi kebesaran Keenan, dia melihat laptop Keenan dalam keadaan hidup. Nayla melihat layar monitor laptop itu ada keterangan sedang menghapus sebuah file dalam ukuran besar. Dan tinggal hitungan satu menit lagi akan terhapus total.


"Mas Keenan kok ceroboh sech meninggalkan ruangan dalam keadaan laptop yang masih berkerja seperti ini," gumam Nayla sambil menyentuh laptop itu.

__ADS_1


"Jangan sentuh laptop itu," bentak Keenan dari arah pintu dan langsung berjalan ke arah meja kerja nya.


__ADS_2