Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab 71 Amplop coklat


__ADS_3

"Ini baru permulaan Keenan Dirgantara...."


"Aku pastikan hidupmu akan hancur sehancur -hancurnya," ucap Diego dengan seringai licik.


"Sssh.....sialan, muka ganteng ku jadi hancur kayak gini karena ulah pria brengsek itu," ringis Diego merasakan perih di sudut bibir nya akibat Bogeman mentah yang di layangkan Keenan tadi.


Orang yang sudah mengirimkan foto dan video ke nomer Nayla itu adalah Diego. Bukan hal yang sulit bagi Diego untuk mendapatkan nomer Nayla. Dia sengaja mengirim itu semua supaya hubungan antara Nayla dan Keenan semakin berantakan. Sebenarnya tidak cuma Nayla yang mendapat kiriman itu. Kakek Dirga pun mendapatkan kiriman yang sama.


Itu baru permulaan, ada hal besar yang akan terjadi nanti dari foto itu yang nanti nya akan merusak reputasi seorang Keenan Dirgantara di mata publik dan sesama rekan bisnis.


"Tuan...semua yang anda minta sudah saya laksanakan, kita tinggal tunggu besok semua akan berjalan seperti yang tuan inginkan," ucap sang asisten.


"Bagus..."


**


Para pelayat berangsur - angsur meninggalkan area pemakaman kakek Yusuf. Dan sekarang tinggal lah Nayla, tuan Richard dan Davin yang masih setia di samping Nayla.


Dia tidak ada niatan sedikit pun untuk meninggalkan wanita yang dia sayangi itu, apa lagi sampai saat ini Keenan belum menampakkan batang hidungnya.


Nayla sendiri sudah tidak memperdulikan lagi tentang keberadaan suami nya itu. Hati dan perasaannya sekarang sudah mati untuk Keenan.


Dia mengusap nisan sang kakek dengan masih berderai air mata, banyak hal yang belum dia lakukan untuk kebahagiaan sang kakek. Tuan Richard sangat iba melihat kondisi sang cucu sekarang ini. Dia hanya bisa mengusap pundak sang cucu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Berharap dengan usapan yang dia berikan bisa menyalurkan energi supaya sang cucu tetap kuat dan tegar menghadapi segala ujian hidup yang dia terima.


"Kamu harus kuat nak, ada kakek di sini. Yang akan selalu ada untukmu," lirih Tian Richard.


Nayla yang mendengarkan ucapan sang kakek langsung mendongakkan wajahnya dan langsung memeluk sang kakek.


Setidak nya dia masih mempunyai tuan Richard yang tak lain adalah Kakek kandungnya sendiri. Jadi dia tidak sebatang kara di dunia ini selepas kepergian Kakek Yusuf.


Nayla berpikir jika ini semua sudah jalan takdir yang Allah berikan untuknya. Dia kehilangan seorang kakek yang merawatnya sejak kecil, tapi dia juga mendapati kenyataan jika dia masih mempunyai keluarga kandung.


"Kakek pulanglah dulu, sejak kemarin kakek belum istirahat, nanti kakek sakit. Nay sekarang hanya mempunyai kakek saja di dunia ini," lirih Nayla.


"Kamu juga harus istirahat nak, tidak baik jika kamu terus seperti ini. Yusuf akan sedih jika melihat cucu yang paling dia sayangi sedih terus seperti ini."

__ADS_1


"Biarkan Nayla di sini sebentar lagi kek, Nay janji setelah ini Nay akan pulang menyusul kakek."


"Baiklah kalau begitu, kakek pulang duluan y nak...nanti malam kakek ke rumah Yusuf untuk mengikuti tahlilan."


Nayla hanya mengangguk kepala nya. Tuan Richard dan sang asisten kemudian meninggalkan Nayla dan Davin di makan Yusuf. Saat melintasi Davin Tuan Richard berbisik pada Davin supaya menemani sang cucu terlebih dahulu dan membujuknya untuk segera pulang supaya Nayla bisa beristirahat. Dan mengiyakan apa yang tuan Richard perintahkan untuk nya.


"Nay....." ucap Davin sambil memegang bahu Nayla.


Ucapan Davin sontak menyadarkan Nayla dari lamunannya. Dia baru tersadar jika ada Davin di sana. Dia tidak mengetahui jika Davin masih setia menemani dirinya sampai ke pemakaman sang kakek.


"Aku ucapkan bela sungkawa ya, semoga kakek Yusuf tenang di sana dan diampuni segala kesalahannya."


"Aamiin.... terimakasih kak untuk doa nya, maaf Nay tidak tahu jika kakak masih di sini. Dan terimakasih juga untuk yang kemarin, kak Davin sudah mengantarkan Nayla ke rumah sakit, maaf Nay belum sempat mengucapkan terimakasih kepada kakak, karena banyak hal yang terjadi di luar kendali Nayla kemarin," ucap Nayla.


"Iya tidak apa - apa, aku memaklumi nya. Sekarang kita pulang yuk Nay, kamu juga perlu istirahat. Dari kemarin kamu belum istirahat sama sekali. Bahkan kamu juga belum makan apa pun sejak tadi pagi."


"Sebentar lagi kak, Nayla masih ingin di sini dulu menemani kakek, kalau kak Davin mau pulang duluan tidak apa - apa."


Mana mungkin Davin tega meninggalkan Nayla sendirian di sini. Apalagi tadi tuan Richard sudah berpesan kepada Davin untuk menemani sang cucu dulu di sana.


"Nay....."


Tangan Nayla terhenti seketika, mendengar suara yang tidak asing di telinga nya. Dia sontak menengok ke belakang, begitu juga dengan Davin. Tatapan Nayla begitu tajam menatap sosok itu. Tidak ada respond apa pun yang Nayla tunjukkan pada orang itu.


"Aku turut berduka cita atas kematian kakek," ucap Keenan dengan menundukkan kepala nya.


"Terima kasih."


Hanya kata itu yang Nayla lontarkan dengan tatapan yang dingin dan datar.


"Maafkan aku Nay..."


"Maaf untuk apa mas...."


"Maaf karena aku...."

__ADS_1


"Karena aku terlalu sibuk bermesraan dengan kekasih ku, iya seperti itu yang ingin kamu ucapkan mas," potong Nayla dengan tersenyum sinis dan berlalu meninggalkan Keenan begitu saja.


"Tapi Nay..."


Belum sempat Keenan mengejar Nayla dia sudah dihadang oleh Davin.


"Jangan pernah kamu ganggu Nayla lagi," ucap Davin mencekal lengan Keenan kuat.


"Apa maksud kamu hah...Nayla itu istri ku," teriak Keenan.


"Hahahahaha....istri di atas kertas maksud kamu? Ups....lebih tepat nya, istri yang akan kamu buang setelah 100 hari nanti," ucap Davin dengan tertawa sinis.


"Kamu ingat ya Keenan Dirgantara yang terhormat, kamu akan menyesal nanti nya dengan apa yang sudah kamu lakukan pada istri mu, dan aku semakin yakin akan merebut istri mu dari laki - laki bejat seperti mu," kata Davin dengan penuh tekanan dalam setiap ucapannya dan berlalu menyusul Nayla dan meninggalkan Keenan yang diam mematung.


"Aarggh......" Keenan mengusap wajahnya kasar.


Dia kemudian berlutut di depan pusara kakek mertua nya. Dia menyesali perbuatannya karena selama ini tidak pernah mengunjungi kakek dari istri nya itu. Bahkan di sisa - sisa hidupnya pun dia tidak ada di sampingnya.


"Maafkan Keenan kek...." lirih Keenan terisak di pusara kakek Yusuf.


**


Tidak terasa sudah tujuh hari kepergian Kakek Yusuf menghadap sang khalik. Selama acara tahlilan baik Keenan maupun Davin tidak pernah absen sedikit pun. Mereka selalu hadir setiap malam. Hanya tuan Richard yang tidak tampak pada acara tahlilan itu, karena kondisi kesehatannya drop jadi dia harus berisitirahat total di Mansion ya.


Nayla tidak mempermasalahkan ketidakhadiran sang kakek, karena bagi dia kesehatan seng kakek lebih penting. Karena cuma dia yang Nayla miliki sekarang.


Kakek Dirga sepulang dari Korea langsung menuju ke sana, tidak lupa dia juga berziarah ke makam sang sahabat terlebih dahulu.


Sikap Nayla kepada Keenan pun berubah drastis, tidak seperti dulu lagi. Dia sekarang bersikap dingin kepada suami nya itu. Dia juga tidak tinggal di apartemen Keenan lagi setelah kematian sang kakek.


Kakek Dirga yang melihat perubahan dari cucu menantu nya itu tidak bisa berbuat apa - apa, karena dia tahu orang yang harus disalahkan atas perubahan sikap sang menantu adakah cucu nya sendiri, Keenan Dirgantara.


Saat ini Nayla berada di dalam kamar nya. Acara tujuh harian sang kakek sudah selesai. Para tamu juga sudah pulang, begitu juga dengan Keenan dan lainnya. Sebenarnya nya Keenan ingin tinggal di sana, tapi tidak ada respond apa pun dari Nayla jadi dia mengurungkan niatnya untuk tinggal di sana menemani sang istri. Keenan sangat merasa bersalah pada Nayla. Karena itu dia sudah bertekad untuk berubah.


"Semoga keputusan ku sudah benar..." ucap Nayla menatap sebuah amplop coklat di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2