Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab.51 Lebih dari sekedar undian


__ADS_3

"Permisi...."


Keenan dan Rendi langsung terdiam mendengar suara yang tidak asing di telinga mereka. Seketika Keenan langsung menatap ke arah sumber suara.


Tatapannya terhenti pada sosok wanita yang sedang berdiri di ambang pintu. Dia menelisik penampilan Nayla dari ujung rambut sampai ujung kaki, sampai tatapannya terhenti pada bekas luka lebam yang ada di beberapa bagian tubuh Nayla.


Ada rasa nyeri dalam hati Keenan melihat tampilan Nayla sekarang. Apalagi itu dari hasil perbuatannya tadi pagi.


"Kenapa aku bisa lepas kontrol tadi pagi, sehingga aku menyakiti dia seperti itu, padahal dia belum terbukti salah," batin Keenan menatap Nayla dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


Karena merasa risih dipandang Keenan dengan tatapan seperti itu, akhirnya Nayla memberanikan diri untuk masuk ke dalam, walaupun belum dipersilahkan masuk oleh sang pemilik ruangan.


"Maaf...jika saya mengganggu, saya hanya ingin mengambil tas saya yang tertinggal di sofa," kata Nayla dengan nada lirih.


Rendi menganggukkan kepala nya dan berjalan ke arah sofa untuk mengambilkan tas Nayla kemudian dia serahkan tas itu kepada Nayla.


"Terimakasih pak Rendi, kalau begitu saya permisi," ucap Nayla dengan tersenyum tipis dan berlalu meninggalkan ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun kepada suami nya.


Rendi melihat kepergian istri dari bos nya itu dengan tatapan yang prihatin. Dia menghela nafas nya perlahan.


"Kalau begitu saya juga pamit kembali ke ruang kerja saya tuan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang di butuhkan untuk persentasi nanti," Rendi undur diri dan meninggalkan ruangan Keenan.


Saat Rendi memegang kenop pintu, Keenan memanggil nya kembali.


"Tunggu dulu Ren..."


Keenan membuka laci meja kerja nya dan mengambil sebuah salep kemudian dia berjalan menghampiri Rendi dan memberikan salep itu kepada nya.


"Tolong berikan ini pada dia, dan suruh dia mengobati luka nya, tapi jangan bilang jika ini dari saya," ucap Keenan datar.


"Baik tuan..." Rendi tersenyum tipis menerima salep dari Keenan.


"Aku tahu jika anda sebenarnya orang baik tuan, dan anda sangat perhatian pada Nona tapi anda terlalu gengsi untuk mengakui nya," batin Rendi.

__ADS_1


Setelah keluar Rendi melihat kiri kanan mencari keberadaan Nayla. Tatapan terhenti pada seorang gadis yang berdiri di depan lift sambil memegang tali Sling bag nya.


"Itu dia...untung saja Nona Nayla belum jauh," gumam Rendi berlari menghampiri Nayla.


"Non Nayla tunggu sebentar," ucap Rendi sambil mengatur nafas nya karena berlari tadi saat menghampiri Nayla.


Nayla yang mendengar suara Rendi, membalikkan badannya.


"Iya pak Rendi ada apa ?"


"Ini ada salep untuk mengobati luka Non Nayla, kalau tidak segera diobati bisa infeksi nanti Non," jelas Rendi.


Nayla menerima salep itu, benar kata Rendi jika luka lebam nya tidak segera diobati nanti bisa infeksi.


"Terimakasih pak, kalau begitu saya pergi dulu," kata Nayla sebelum dia masuk ke dalam lift.


"Sama - sama Non..."


Saat di dalam lift dia memandangi salep itu, dia berpikir orang lain saja begitu peduli pada nya, sedangkan suami nya sendiri yang menyebabkan luka itu ada tidak perduli sama sekali. Nayla hanya tersenyum getir jika mengingat semua kejadian tadi pagi.


Sesampainya di apartemen dia langsung membersihkan diri dan mengoleskan salep itu ke luka yang ada di beberapa bagian tubuhnya. Kemudian dia merebahkan diri untuk istirahat. Tidak perlu waktu lama dia sudah terlelap ke alam mimpi.


**


Semenjak kejadian itu hubungan antara Keenan dan Nayla semakin memburuk. Mereka jarang sekali bertatap muka, atau pun saling komunikasi. Keenan selalu berangkat ke kantor saat pagi buta sebelum Nayla terbangun dan pulang saat Nayla sudah tertidur. Tak jarang Keenan bahkan tidak pulang ke apartemen karena dia harus menginap di kantor untuk menghindari Nayla.


Nayla pun lama kelamaan sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Tinggal seatap tapi hubungan mereka seperti orang asing.


"Bukankah hari ini jadwal mas Keenan melakukan persentasi dengan Tuan Richard ya?" gumam Nayla.


"Aku yakin pasti mas Keenan bisa memenangkan persentasi itu dan mendapatkan tender itu, Ya Allah...permudahkan dan lancarkan lah urusan suami hamba hari ini, semoga mas Keenan bisa melakukan persentasi dengan baik dan mendapatkan hasil seperti yang dia inginkan, aamiin..." doa tulus Nayla untuk suami nya.


Setelah mendoakan suami nya, dia kemudian bersiap - siap untuk pergi ke resto. Saat Nayla akan meninggalkan apartemennya tiba - tiba terdengar notifikasi dari ponselnya. Dia tersenyum sumringah setelah membaca pesan itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah.... selamat mas," gumam Nayla dengan senyum yang cerah di wajahnya.


Pesan yang dia terima tadi adalah pemberitahuan jika Keenan lah yang memenangkan persentasi itu. Pengirim pesan itu tak lain adalah Rendi, asisten pribadi suami nya.


Nayla berangkat ke resto dengan perasaan yang sangat bahagia. Setidak nya apa yang dia lakukan waktu itu membuahkan hasil yang baik. Dia sangat yakin jika suami nya yang memenangkan persentasi itu, karena dia begitu yakin dengan kemampuan dari suami nya itu.


Sesampainya di resto, Nayla masih menampakkan senyum manisnya, dia juga menyapa setiap orang yang dia temui dengan ramah dan selalu menampakkan senyuman manis nya.


"Nay....."


"Iya Santi sayang ada apa hemmzz..." Nayla menjawab sapaan dari Santi sahabatnya.


"Kamu kenapa sech, hari ini kok kayaknya ada yang beda, seperti nya lagi happy banget. Kamu menang undian ya Nay..." tanya Santi yang sedikit heran dengan sikap sahabatnya itu.


"Ah....perasaan aku biasa saja tidak ada yang berubah, kamu aja yang berlebihan San.." jawab Nayla santai sambil mengerjakan pekerjaannya.


Santi memutar bola mata nya jengah mendapati jawaban santai dari sahabatnya itu.


"Tahu ah... yang jelas kalau kamu sampe menang undian terus lupa tidak mentraktir aku awas aja kamu Nay..." gemas Santi.


" Asal kamu tahu, ini melebihi dari sekedar menang undian tahu San..." bisik Nayla dan meninggalkan Santi yang masih terdiam mencerna ucapan Nayla.


"Nayla...... maksudnya apa, itu anak palah main pergi begitu saja," teriak Santi.


Nayla yang mendengar teriakan Santi tertawa geli karena berhasil mengerjai temennya yang super kepo itu. Saat Nayla berjalan menuju meja pesanan tiba - tiba ada yang memanggil nya dari belakang.


"Nay.. ada pesanan khusus untuk paket dinner romantis malam ini, orang yang memesan paket itu meminta kamu untuk yang menyiapkan semua nya dan orang itu juga meminta kamu sebagai pelayan khususnya nanti. Apa kamu bersedia Nay..." ucap sang manager resto.


"Dengan senang hati bos, saya siap memberikan pelayanan terbaik dari resto ini dan saya pastikan orang itu akan puas dengan servis kita nanti," jawab Nayla dengan semangat.


"Oh ya bos, kalau boleh tahu siapa yang memesan paket dinner romantis ini," tanya Nayla penasaran karena tidak semua orang bisa memesan paket dinner romantis ini. Apa lagi sampai memesan pelayan khusus untuk mempersiapkan segala nya di ruangan private room nanti nya. Hanya kalangan pengusaha atau selebritis papan atas yang mampu memesan paket ini.


"Dia CEO perusahaan ternama, rencana nya dia ingin memberikan surprise pada orang yang sedang dekat dengannya," jelas sang manager.

__ADS_1


"Oh...."


Note : Mohon maaf kakak-kakak readers jika lama UP nya, karena author sedang tidak enak badan, mohon pengertiannya🙏🏻 dan mohon dukungannya selalu🤗


__ADS_2