Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab 61 Emosi Keenan


__ADS_3

"Aku....."


"Da ri....."


Belum sempat Nayla melanjutkan kalimatnya, Keenan sudah keburu memotong perkataannya.


"Menghabiskan malam dengan kekasihmu itu, atau habis melayani pria lain di luaran sana," ucap Keenan dengan senyuman mengejek.


Deg,,


Nayla menatap Keenan dengan tatapan yang sulit diartikan, dia benar - benar tidak mengerti mengapa suami nya itu bisa sampai berkata seperti itu.


" Apa maksud kamu berbicara seperti itu mas," tanya Nayla lirih.


"Hahahahaha...tidak usah munafik kamu, ngapain lagi coba jika seorang wanita dewasa pergi dengan laki - laki dewasa pula dari siang sampai pagi baru pulang, jika tidak menghabiskan malam bersama hah.."


Plakk,,,,


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Keenan.


Untuk pertama kali nya Nayla berani menampar seorang laki - laki dan itu adalah suami nya sendiri. Menurut Nayla perkataan Keenan saat ini benar - benar sudah keterlaluan, selama ini dia bisa menahan segala omongan pedas dan perlakuan kasar dari Keenan. Tapi untuk kali ini, perkataan Keenan benar - benar sudah merendahkan diri nya sebagai wanita.


"Jaga bicara mu mas, aku bukan wanita seperti yang kamu tuduhkan itu !" ucap Nayla dengan bibir bergetar menahan sesak di dada nya.


Hari ini dia benar - benar merasa sangat lelah sekali, dada nya terasa sesak karena banyak hal yang harus dia tanggu sendirian. Tentang penyakit sang kakek, dia juga harus berpikir keras bagaimana mendapatkan biaya untuk operasi kakeknya, tentang kenyataan masa lalu yang baru kakek nya ungkap dan satu lagi kenyataan yang baru dia ketahui pagi tadi sebelum dia pulang bahwa hasil lab menyatakan jika ginjal dia tidak cocok dengan sang kakek. Rasa nya kepala Nayla mau meledak memikirkan semua itu.


Dan sesampai nya di apartemen dia palah mendapati tuduhan yang keji dari sang suami.


"Asal kamu tahu ya mas semalam aku tidak pulang karena aku....."

__ADS_1


Nayla menghentikan perkataannya, percuma dia menjelaskan semua nya pada Keenan yang sudah terlanjur menuduhnya macam - macam seperti itu tadi. Bukannya dia tidak mau menjelaskan kejadian yang sebenarnya tapi tenaga nya benar - benar sudah habis terkuras untuk hanya sekedar berdebat dengan suami nya itu.


Akhirnya Nayla langsung pergi begitu saja meninggalkan Keenan yang masih berdiri mematung memegang pipi nya yang terasa panas akibat tamparan yang Nayla berikan tadi.


"Aku belum selesai bicara woy... Nayla.... !" teriak Keenan tapi tidak diindahkan sama sekali oleh Nayla.


Sesampai nya di kamar Nayla langsung memutuskan untuk membersihkan diri. Dia tidak mau larut dalam kesedihan atas apa yang Keenan lakukan tadi. Fokus dia sekarang hanya untuk sang kakek, bagaimana dia bisa mendapatkan donor ginjal yang tepat untuk sang kakek, dan gimana caranya mendapatkan biaya untuk pengobatan kakek nya itu.


Selesai membersihkan diri, Nayla langsung mengganti pakaiannya dengan dress rumahan yang biasa dia kenakan sehari - hari. Setelah ini dia berniat membuat makanan untuk diri nya sendiri, masa bodoh dengan Keenan yang sudah makan apa belum, dia tidak terlalu ambil pusing sekarang.


Saat keluar kamar dia merasa lega karena tidak mendapati suami nya di ruang tamu lagi. Nayla kemudian melenggang ke arah dapur dan membuka lemari es ternyata di sana tidak ada bahan makanan yang bisa dia olah. Hanya ada telur dan susu saja, dia kemudian membuka penanak nasi, Nayla tersenyum karena di situ masih ada sisa nasi yang dia masak kemarin. Nayla akhirnya memutuskan untuk makan nasi sisa kemarin dan membuat telur mata sapi saja.


Nayla membawa sepiring nasi putih lengkap dengan telur mata sapi ke meja makan. Saat dia akan menyantap makanan itu, tiba - tiba terdengar langkah kaki dari arah tangga. Tapi dia cuek saja tidak memperdulikan sama sekali.


Keenan merasa geram karena Nayla berlaku cuek pada nya. Dia menghampiri Nayla di meja makan.


Mendengar ucapan Keenan, seketika dia menghentikan aktifitas nya yang baru saja akan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Nayla bangkit dari kursi dan menuju arah dapur. Dia membuat kan menu yang sama dengan dirinya untuk Keenan. Hanya butuh waktu lima menit sarapan itu pun jadi. Dia menaruh sepiring nasi putih lengkap dengan telur mata sapi di depan Keenan.


"Cuma ini yang bisa kamu masak?" tanya Keenan memicingkan mata nya melihat menu yang ada di depannya sekarang.


"Hanya itu yang bisa aku buat," jawab Nayla cuek..


****....


Dengan terpaksa Keenan menyantap makanan itu, karena dia benar - benar lapar karena semalam dia melewatkan makan malam hanya karena panik menunggu Nayla pulang.


"Untuk biaya pengobatan kakek apa aku pinjam saja ke mas Keenan ya, aku yakin uang segitu pasti mas Keenan punya, tapi apa dia mau meminjamkannya pada ku setelah apa yang sudah aku lakukan tadi," monolog Nayla yang sesekali melirik ke arah Keenan di sela - sela makannya.

__ADS_1


"Tidak ada salahnya aku coba dulu," batin Nayla memantapkan diri.


"Mas....ada hal yang aku ingin bicarakan."


"Hemmmz...."


Keenan hanya berdehem menanggapi perkataan Nayla sambil melanjutkan aktifitas makannya.


"Apa boleh aku meminjam uang 100 juta mas?" tanya Nayla dengan begitu hati - hati.


Seketika Keenan menghentikan aktifitas nya dan tersenyum sinis ke arah Nayla.


"Emang yang kamu dapatkan semalaman tadi masih kurang ? sampai kamu harus meminjam lagi pada ku," ucap Keenan dengan tatapan yang jijik kepada Nayla.


Nayla yang mendengar perkataan Keenan mengepalkan kedua tangannya dan langsung berdiri.


"Cukup ya mas dari tadi kamu selalu merendahkan ku seperti itu, asal kamu tahu aku bukan wanita murahan seperti yang kamu tuduhkan itu," kata Nayla dengan intonasi yang tinggi.


Dada nya naik turun menahan emosi yang dia tahan dari tadi dan tatapannya tajam ke arah Keenan.


"Tapi tidak ada salahnya aku mencoba seperti apa yang kamu ucapkan tadi mas, jika aku bisa mendapatkan uang dengan jumlah yang banyak hanya dengan menghabiskan waktu semalaman bersama laki - laki di luaran sana kenapa tidak aku coba saja sekarang," ucap Nayla dengan seringai di wajahnya dan berlalu meninggalkan Keenan yang tiba - tiba mengeraskan rahangnya menahan amarah mendengar ucapan sang istri.


Seketika Keenan langsung menarik tangan Nayla dengan kasar dan menyeret ke kamar nya yang ada di lantai dua.


"Lepaskan aku mas, apa yang akan kamu lakukan hah..." teriak Nayla berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Keenan tapi usaha nya sia - sia saja.


Semakin Nayla berusaha untuk melepaskan diri semakin kencang Keenan menarik tangan Nayla.


Brugh...

__ADS_1


__ADS_2