Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab 128 Dasar Alien...


__ADS_3

Davin berjalan terburu - buru keluar cafe sambil mengangkat telepon.


"Hallo....."


Bugh....


"Auws...." seorang wanita cantik memakai pakaian kantoran meringis kesakitan karena badan nya menabrak tubuh kekar Davin.


Tubuh ke dua nya sama - sama oleng dan jatuh ke lantai. Untung saja mereka jatuh nya terpisah, tidak saling tindih.


"Kalau jalan itu pake mata," bentak Davin dengan menatap tajam pada wanita yang sedang sibuk mengumpulkan beberapa berkas yang berceceran.


"Yang ada itu kalau jalan pake kaki, kalau mata itu untuk melihat," cicit wanita itu tanpa menoleh ke arah laki - laki yang telah di tabrak nya.


Davin berdiri sambil membenarkan pakaian nya yang sedikit berantakan. Dia juga membersihan jas nya yang terkena debu dengan tangan nya.


"Lagian kalau jalan itu jangan sambil mengangkat telepon," gerutu wanita itu yang masih sibuk mengumpulkan berkas di lantai.


"Apa kamu bilang, yang ada kamu tuh jalan udah kayak kereta api saja, lurus ngga liat kalau di depan ada orang segede ini."


"Iya maaf..."


"Heh...kalau ada orang ngajak ngomong itu ditatap orang nya!" sarkas Davin yang merasa kesal dengan wanita yang sedang berjongkok merapihkan lembaran kertas yang ada di pangkuan nya.


Untung saja wanita itu menggunakan setelan kantor model celana, jadi posisi wanita itu aman.


"Ngga tahu lagi repot apa," jawab wanita itu dengan ketus.


Setelah selesai merapihkan beberapa lembar kertas yang jatuh tadi, wanita itu langsung pergi begitu saja dari sana tanpa menoleh ke arah Davin sama sekali. Davin terperangah dengan kelakuan wanita itu. Bagi dia wanita itu tidak ada sopan - sopan nya sama sekali.


"Hei..." teriak Davin memanggil wanita yang menabrak nya tadi tapi si wanita itu terus melangkah ke dalam cafe tanpa memperdulikan teriakan serta umpatan Davin.


"Dasar alien..." umpat Davin.

__ADS_1


Saat akan membalikkan badan pandangan mata nya tertuju pada sebuah benda yang ada di dekat sepatu nya. Davin menyipitkan mata nya memandangi benda itu. Karena penasaran dia kemudian mengambil benda tersebut. Ternyata benda itu adalah ID Card karyawan. Davin bisa menebak jika benda itu adalah milik wanita tadi.


"Safira Amelia 23 tahun, staf keuangan Drg. Group, ternyata dia anak buah Keenan di sini," gumam Davin dengan seringai di bibir nya.


Wanita yang berantakan dengan Davin tadi adalah Safira Amelia, seorang karyawan biasa bagian keuangan di perusahaan Keenan yang berada di Amerika. Dia sudah bekerja di perusahan ini selama dua tahun. Dia memang asli orang Indonesia, dia bisa bekerja di sini karena dia di mutasi oleh perusahaan Keenan yang di Jakarta. Dia merupakan salah satu karyawan yang berprestasi di Drg.Group maka dari itu dia di pindah tugaskan ke Amerika.


"Ternyata dia bukan orang sini asli, pantas bahasa Inggris nya masih belepotan. Aku pastikan kamu membayar apa yang sudah kamu lakukan hari ini.


**


"Maaf Mr. Rendi, saya terlambat datang tadi ada accident sedikit di perjalanan," jelas Safira.


"Tidak apa-apa Fira...lain kali jangan terulang lagi ya?"


"Baik Mr."


Rendi menatap Safira dengan lekat, ada yang berbeda dengan penampilan Safira kali ini. Seperti ada yang hilang, gadis berkacamata itu merasa risih dengan tatapan Rendi. Beberapa kali dia merapihkan anak rambut nya yang sebenarnya tidak berantakan.


"Fir.....dimana ID Card kamu" tanya Rendi tiba - tiba.


"Hah...." Safira langsung spontan melirik ke kemeja yang dia gunakan.


Dan benar saja ID Card yang biasa nya tergantung rapih di kemeja nya sekarang tidak ada. Safira sedikit panik, karena peraturan perusahaan seorang karyawan biasa tidak boleh sampai menanggalkan ID Card itu selama jam kerja. Jika ID Card itu sampai hilang maka perusahaan akan memberikan sanksi. Dan untuk mendapatkan atau mengurus ID Card itu kembali sangat sulit, karena dia adalah karyawan mutasi dari Indonesia, otomatis dia harus mengurus itu semua di sana.


"Di mana ID Card ku," gumam Safira sambil mengobrak - abrik isi tas nya.


"Di mana ID Card mu Fir...." Rendi bertanya lagi dengan selidik.


Safira tetap saja fokus mencari benda itu di dalam tas nya, seketika ingatan nya tertuju pada kejadian beberapa menit yang lalu. Dia langsung memeluk jidat nya, karena dia begitu ceroboh tidak memeriksa terlebih dahulu setelah peristiwa tadi.


"Astaga....jangan - jangan...." lirih Safira yang langsung berlari meninggalkan Rendi yang bingung dengan apa yang terjadi dengan bawahan nya itu.


"Ada apa dengan anak itu," cengo Rendi.

__ADS_1


Saat Rendi sedang bingung dengan kelakuan Safira, tiba - tiba ada suara yang tidak asing memanggil nya dari arah belakang.


"Kak...maaf menunggu lama ya," sapa Santi yang langsung duduk di samping kekasih nya itu.


Rendi tersenyum manis menyambut kedatangan sang kekasih.


"Tidak apa - apa cinta....gimana sudah selesai urusan nya?" tanya Rendi.


"Hemm....sudah kak, huft...lumayan merepotkan ternyata mengurus pasangan yang lagi bucin," kata Santi yang langsung merebahkan kepala nya di pundak Rendi.


Rendi yang tahu jika kekasih nya itu sedang kelelahan, dia langsung mengelus rambut sang kekasih dengan lembut guna mengurangi rasa lelah yang kekasih nya di derita sekarang.


Setelah meeting Nayla dan Davin selesai, Santi mendapat kan tugas untuk mencari tempat kencan yang romantis di negeri ini. Bagaimana Santi tidak lelah, semua tempat yang dia rekomendasikan kepada Nayla dan Keenan beberapa kali di tolak, dari restoran mewah dan romantis, tempat wisata yang paling bagus, pantai, sampai resort termewah di sana juga tidak ada yang cocok. Jika Nayla setuju Keenan yang tidak setuju. Begitu pun sebaliknya jika Keenan setuju giliran Nayla tidak setuju.


Walaupun Santi mencari tempat itu lewat internet, tetap saja dia merasa lelah dan capek, karena dia berkali - kali harus membuka situs atau website tempat - tempat yang recommended untuk pasangan yang ingin berkencan.


Santi yang sudah lelah akhir nya dia merekomendasikan tempat wahana bermain untuk anak - anak. Dia sebenarnya yakin jika tempat itu akan di tolak oleh kedua pasangan bucin itu, akan tetapi tidak ada salah nya di coba. Dan di luar dugaan mereka justru setuju dengan tempat yang Santi rekomendasikan.


"Tahu seperti itu kan dari awal mereka bisa bilang kak...jadi tidak mengerjai ku seperti ini," ucap Santi mengakhiri cerita nya dengan mengerucutkan bibir nya karena merasa kesan dengan tingkah Nayla dan Keenan.


Rendi merasa kasihan dengan sang kekasih, dia kemudian mengecup pucuk kepala Santi dengan lembut.


"Sabar sayang....menghadapi bos yang seperti itu kita harus extra sabar, apa lagi bos yang sedang kasmaran seperti mereka," Rendi berusaha untuk menenangkan sang kekasih.


Santi hanya menganggukkan kepala nya, sekarang justru dia menyandarkan kepala nya di dada bidang sang kekasih untuk mencari kenyamanan. Rendi sangat senang dengan apa yang kekasih nya lakukan saat ini. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka seperti ini.


"Kak....aku lapar sekali," rengek Santi yang masih nyaman dalam pelukan nya.


"Ehm....baiklah kakak pesan makanan dulu kalau begitu, kamu mau makan apa hem..." tanya Rendi sebelum dia memesan makanan.


"Terserah kakak saja, yang penting enak dan bisa mengembalikan mood aku yang hilang karena lelah."


Rendi kemudian memanggil pelayan cafe dan memesan beberapa makanan yang menurut nya enak di cafe itu. Tidak lupa dia memesan desert yang manis supaya bisa mengembalikan mood kekasih nya itu.

__ADS_1


Sambil menunggu pesanan makanan mereka sampai, Santi ternyata sudah terlelap dalam pelukan Rendi. Seperti nya dada Rendi sangat nyaman untuk Santi sehingga dia bisa sampai tertidur di sana.


"Maaf Mr......."


__ADS_2