Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab. 32 Mas Keenan....


__ADS_3

"Kenapa aku tidak minta nomor handphone nya tadi," gumam Davin.


"Semoga saja aku bisa bertemu dengannya nanti, lagi pula kita juga satu apartemen," ucap Davin dengan tersenyum.


**


Nayla mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, dia ingin segera tiba di apartemennya. Bagaimana pun dia harus tiba terlebih dahulu sebelum Keenan. Karena dia harus menyiapkan makan malam untuk Keenan.


"Alhamdulillah sampai juga," ucap Nayla lega.


Dengan langkah terburu - buru Nayla bergegas menuju unit apartemen Keenan. Dia berharap Keenan belum sampai di apartemen.


Cklek,


Nayla masuk ke dalam, samar - samar dia mendengar suara televisi menyala di ruang tengah. Nayla melihat jam yang melingkar di tangannya, dia merasa heran melihat Keenan sudah duduk santai dan menonton televisi. Karena biasa nya jam segitu Keenan belum sampai di apartemen.


"Tumben jam segini dia sudah pulang," gumam Nayla lirih.


Dia berjalan santai melewati ruang tengah menuju dapur tanpa menyapa Keenan.


"Itu anak kenapa, datang - datang bukannya menyapa suami nya dulu kek, atau bertanya kenapa jam segini sudah pulang mas, ini palah cuek, lewat gitu aja," sewot Keenan melihat Nayla yang melewati nya begitu saja tanpa menyapa nya.


Sesampainya di dapur Nayla langsung menaruh semua belanjaannya di lemari pendingin. Dia memisahkan semua belanjaannya supaya tidak tercampur dengan barang - barang milik Keenan.


"Kalau dia berada di sana, bagaimana aku bisa menyiapkan makan malam untuk nya," lirih Nayla sambil melirik Keenan yang sedang asik menonton televisi.


"Non Nayla sudah pulang," sapa Bi Marni.


"Eh.. iya sudah Bi, aduh Bibi mengagetkan saya saja," jawab Nayla setengah terkejut dengan kedatangan Bi Marni tiba - tiba.


"Mas Keenan sudah pulang lama Bi?" tanya Nayla.


"Sudah dari satu jam yang lalu Non."


"Ooh.." Nayla hanya ber oh ria.


"Bi, untuk malam ini tidak usah menyiapkan makan malam, karena saya akan makan malam di luar nanti," ucap Keenan tiba - tiba.


"Baik tuan."

__ADS_1


Keenan sempat melirik ke arah Nayla yang berdiri di dekat lemari pendingin. Dia melihat Nayla sedang memegang sebuah kantong plastik yang berisi dua bungkus makanan. Karena kantong plastik yang Nayla pegang transparan jadi Keenan bisa melihat isi di dalamnya.


"Apakah dia setiap hari seperti itu, membeli makanan dari luar," batin Keenan.


"Terserah dia mau beli makanan dari luar, atau tidak makan sama sekali aku tidak perduli," monolog Keenan dalam hati dan berlalu pergi dari dapur.


Nayla menghela nafas perlahan melihat punggung suami nya yang berlalu. Sebenarnya dia mau menyapa Keenan, cuma bibir nya terlalu kelu untuk mengeluarkan suara. Hati nya masih terasa perih kalau teringat kejadian di resto tadi siang.


Nayla sendiri juga tidak tahu kenapa hati nya bisa terasa sakit melihat Keenan berlaku lembut dengan kekasihnya. Padahal dia tahu pernikahannya dengan Keenan tidak dilandasi dengan cinta. Dan dia juga sudah tahu dari awal jika Keenan sudah memiliki seorang kekasih.


"Seperti ini mungkin lebih baik, karena aku harus membiasakan diri dengan segala tingkah laku mu mas, status kita memang suami istri tapi kita seperti orang asing," monolog Nayla dalam hati menahan sesak dalam dada nya.


"Kalau begitu Bibi pamit pulang ya Non, karena pekerjaan Bibi sudah selesai," kata Bi Marni.


"Iya Bi, hati - hati ya di jalan," jawab Nayla.


"Oh ya Bi, ini ada makanan untuk Bibi tadi Nay beli dua bungkus makanan sebelum pulang," ucap Nayla dengan memberikan sebungkus makanan kepada Bi Marni.


"Terima kasih Non.. Non Nayla memang baik semoga Non Nayla selalu diberikan kesehatan dan murah rezeki," ucap Bi Marni tulus.


"Aamiin.." Nayla mengaminkan doa dari Bi Marni.


Di kamar atas Keenan sedang bersiap diri untuk menghadiri jamuan makan malam dengan klien. Selesai bersiap - siap, Keenan langsung turun ke bawah.


Saat melintasi ruang tengah tanpa sengaja dia melihat Nayla yang sedang asik menyantap makanan. Nayla tidak menyadari kehadiran Keenan, karena posisi Nayla membelakangi Keenan.


Hmmm,


Nayla seketika menghentikan aktifitasnya mendengar deheman dari Keenan. Dia membalikkan badannya, dan melihat Keenan sudah berdiri tegak di belakangnya. Mulut Nayla masih penuh dengan makanan, karena dia baru saja menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Dan itu terlihat sangat menggemaskan oleh Keenan, pipi Nayla terlihat menggembung seperti ikan, kalau tidak gengsi pasti Keenan sudah tertawa terbahak - bahak.


"Aku pergi dulu, ada jamuan makan malam dengan klien," ucap Keenan dan berlalu pergi meninggalkan Nayla.


Nayla menautkan alisnya tidak percaya dengan apa yang Keenan ucapkan barusan.


"Tunggu dulu, ini mimpi atau nyata dia pamitan padaku kan tadi?" batin Nayla.


Dengan reflek Nayla mencubit tangannya, dan terasa sakit.


"Bearti ini nyata mas Keenan berpamitan dengan ku dan tadi dia bilang kan menghadiri jamuan dengan klien nya, bearti dia tidak makan malam dengan wanita itu dong," ucap Nayla merasa senang.

__ADS_1


**


Di resto tempat jamuan itu diadakan telah hadir beberapa tamu undangan dari pimpinan perusahaan terkemuka. Jamuan itu diadakan oleh seorang pengusaha terkenal dari Negara A. Tidak hanya Keenan yang datang di acara tersebut, tetapi ke tiga sahabatnya juga hadir di sana. Kedatangan Keenan disambut antusias oleh sang punya acara. Karena Keenan merupakan pebisnis yang handal, banyak perusahaan dari berbagai negara yang ingin menjalin kerjasama dengan nya.


Keenan yang melihat ke tiga sahabatnya sudah berada di sana langsung menghampiri mereka. Malam ini Keenan datang bersama Rendi sang asisten, karena kebetulan Rendi sudah pulang dari tugas luar kota nya.


"Hai, Nan.." sapa Alex.


Hmm..


Keenan hanya berdehem untuk membalas sapaan dari sahabatnya itu. Dia langsung duduk diantara ketiga sahabatnya itu.


"Selamat malam tuan - tuan," sapa Rendi membungkukkan badannya.


"Malam Ren," jawab Alex, Raka dan Davin secara bersamaan.


Keenan melirik ke arah Davin, ada sedikit perubahan dengan penampilan Davin yang sekarang. Wajah nya terlihat fresh, dan terlihat sesekali Davin mengumbar senyumannya terhadap orang yang menyapa nya.


"Dia sedang jatuh cinta," bisik Alex.


Keenan menautkan alisnya mendengar ucapan dari sang sahabat.


"Aku jadi penasaran, wanita seperti apa yang bisa menaklukan hati seorang Davin Sanjaya," timpal Raka.


"Ternyata beruang kutub itu bisa jatuh cinta juga," ucap Keenan datar.


Obrolan mereka terhenti ketika acara jamuan malam dimulai.


**


Tepat jam sebelas malam Keenan sampai di apartemen. Sejak di perjalanan tadi dia merasa pusing dan tidak enak badan. Dia bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah itu dia langsung merebahkan badannya.


Keenan merasa badannya semakin tidak enak, kemudian dia turun ke bawah untuk mencari sesuatu. Pandangan Keenan semakin kabur, kepala nya juga semakin pusing.


Praaang,


"Ya Allah, suara apa itu," ucap Nayla merasa kaget karena mendengar benda terjatuh dari arah ruang tengah.


Kebetulan Nayla sedang berada di dapur, untuk mengambil air putih. Nayla berjalan mengendap menuju sumber suara. Sesampai nya di ruang tengah, dia langsung menyalakan lampu. Dan begitu terkejutnya dia saat melihat Keenan tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Nayla langsung berlari menghampiri Keenan.

__ADS_1


"Mas Keenan..." pekik Nayla.


__ADS_2