Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab. 122 Rendi & Keenan


__ADS_3

"Seperti nya kamu dalam masalah yang besar kak."


Rendi hanya menghela nafas nya perlahan. Dia sudah menduga jika hal ini lambat laun pasti akan terjadi juga. Dan dia juga sudah siap dengan segala konsekuensi nya. Karena bagaimana pun dia bersalah telah ikut andil dalam menyembunyikan keberadaan Nayla waktu itu.


"Iya sayang...mau gimana lagi," lirih Rendi.


Dan mereka pun memutuskan untuk pergi dari apartemen Nayla tanpa berpamitan.


Sedangkan yang punya apartemen sekarang ini sedang merasa kesal dengan semua tindakan Keenan yang menurut Nayla seperti anak kecil.


"Sayang....kok kamu palah ngambek sech," protes Keenan sambil meraih tangan Nayla yang hampir saja masuk ke dalam kamar nya.


"Lepas mas....aku capek mau istirahat."


Tapi Keenan enggan untuk melepaskan pegangan tangan nya. Justru dia menarik tangan Nayla ke dalam pelukan nya.


"Mas....." pekik Nayla berusaha untuk melepaskan pelukan Keenan.


"Ngga akan aku lepaskan pelukan ini sebelum kamu jelasin pada ku mengapa kamu marah pada ku."


Nayla menarik nafas nya dalam dan menghembuskan nya perlahan. Dia kemudian menatap Keenan dalam.


"Mas....aku tidak suka dengan sikap mu yang kekanak - kanakan seperti tadi. Bagaimana pun, kita tidak ada hak untuk melarang seseorang dalam mengungkapkan rasa sayang nya pada orang yang dia cintai. Mau dia memanggil apa pun pada orang yang dia sayang itu hak dia mas, sekalipun panggilan itu sudah dipakai orang lain," tutur Nayla lembut.


"Maaf sayang....aku kan cuma sengaja menjahili Rendi, karena dia sudah berani membohongi ku selama satu tahun lebih. Padahal dia tahu tentang keberadaan mu, bahkan kalian sering berkomunikasi kenapa dia tidak memberitahu ku."


"Huft....itu bukan salah Rendi mas...tapi aku yang menyuruh nya untuk merahasiakan semua nya karena saat itu aku sendiri masih dalam keadaan yang terluka. Aku butuh waktu untuk menyembuhkan luka itu. Aku juga ingin tahu bagaimana reaksi kamu selama aku pergi."


Keenan melonggarkan pelukannya dan menangkup kedua pipi kekasih nya itu.


"Maafkan aku ya sayang...." ucap Keenan dengan tatapan yang sendu.


"Sst...."Nayla menggelengkan kepala nya dan membungkam bibir Keenan dengan sebuah kecupan lembut.


Keenan yang mendapat serangan mendadak itu langsung menyambutnya dengan membalas ciuman yang Nayla berikan dengan tak kalah lembut nya.

__ADS_1


Tidak lama mereka saling berolahraga bibir, Keenan yang takut tidak bisa mengendalikan diri kemudian melepaskan ciuman nya. Dia mengusap bibir Nayla yang basah menggunakan jempol nya. Dan menyatukan kedua kening mereka untuk mengatur deru nafas yang sudah memburu diantara kedua nya.


"Sayang...aku ingin hubungan ini segera di syah kan, aku takut tidak bisa mengontrol diri jika sudah berdekatan dengan mu.


Nayla hanya menganggukkan kepala nya seraya tersenyum manis dan kembali memeluk kekasih nya itu.


**


Rendi mengantarkan Santi sampai depan pintu apartemen nya. Setelah itu dia bergegas kembali ke apartemen Keenan, karena tadi sebelum nya Keenan sudah menghubungi Rendi untuk menemui nya di apartemen setelah mengantar Santi.


"Apakah tuan Keenan akan menghukum kakak atas masalah itu?" tanya Santi dengan wajah khawatir.


Rendi mengusap rambut kekasihnya itu dengan lembut dan tersenyum seraya berkata," tenang saja cinta...semua nya pasti akan baik-baik saja, kakak tahu siapa tuan Keenan, walaupun di luar terlihat dingin dan datar tapi hati nya sangat baik dan lembut. Bukti nya tuan Keenan sekarang bucin akut pada nona Nayla."


Santi hanya menganggukkan kepala nya, dia hanya berharap jika apa yang dikatakan Rendi adalah benar.Jujur dia sangat khawatir pada kekasih nya itu, bagaimana pun di sini Rendi juga salah karena telah menutupi kebenaran yang sebenarnya. Dia khawatir jika Keenan akan berbuat yang kejam kepada Rendi. Santi tahu bagaimana sepak terjang dari seorang Keenan Dirgantara itu seperti apa jika sedang dalam keadaan marah atau merasa dikhianati. Kalau mengingat hal itu Santi langsung bergidik ngeri.


"Sekarang masuk dan beristirahat lah," ucap Rendi sambil mengecup kening Santi dengan lembut.


"Hemm....." Santi pun masuk ke dalam apartemen setelah melihat Rendi pergi.


**


"Selamat malam Tuan..." sapa Rendi.


Hemm....


Keenan hanya membalas sapaan Rendi dengan berdehem. Jangan di tanya seperti apa wajah Keenan sekarang. Yang jelas tidak ada guratan senyum sama sekali yang terlihat di wajah nya.


Rendi berusaha menelan Saliva nya dengan susah payah, dia sudah pasrah dengan apa yang akan Keenan lakukan pada nya nanti.


"Kamu mau sampai kapan di situ terus, mengganggu mata ku saja," ketus Keenan.


Rendi kemudian duduk di sofa yang tidak jauh dari Keenan.


"Heh....yang menyuruh kamu untuk duduk itu siapa?aku hanya bilang sampai kapan kamu berdiri di situ karena menggangu ku menonton berita bisnis yang sedang aku lihat. Tapi bukan bearti aku menyuruh mu untuk duduk di sofa."

__ADS_1


"Astaga....untung saja kamu bos ku tuan," batin Rendi sambil menatap Keenan dan kembali berdiri. Kali ini dia berdiri agak menjauh dari tempat dia berdiri sebelum nya. Yang jelas sekarang dia tidak menghalangi televisi yang sedang Keenan tonton.


"Berdiri....berdiri saja tidak usah mengumpat seperti itu juga," sindir Keenan yang bisa merasakan jika sag asisten pasti dengan mengumpat nya sekarang ini.


Rendi hampir saja tersedak ludah nya sendiri mendengar ucapan dari Keenan.


"Tuan....saya minta maaf atas kesalahan yang saya lakukan. Saat itu saya benar - benar dilema," lirih Rendi.


"Ck....dilema? bahasa mu alay banget."


"Saat itu saya diancam oleh tuan Dirga dan Tuan Richard untuk tidak memberitahu tuan tentang nona Nayla. Nona Nayla juga menyuruh saya untuk diam dan melaporkan seluruh apa yang terjadi dengan tuan. Apa lah saya tuan....yang hanya rakyat jelata ini, mana bisa saya menolak perintah dari orang - orang yang berkuasa seperti mereka."


"Lebay...." cibir Keenan.


Huft....


Keenan menghela nafas nya, dia tahu jika Rendi saat itu tidak ada kuasa untuk menolak permintaan dari kedua kakek nya itu. Apa lagi dia tau bagaimana karakter kedua orang tua itu jika sudah berkehendak.


"Aku memaafkan mu, tapi lain kali jika hal seperti ini kamu ulangi lagi. Aku pasti kan akan melemparkan mu ke pedalaman Afrika sana," ucap Keenan dengan tatapan yang tajam.


Rendi langsung gelagapan mendengar ucapan Keenan.


"Saya berjanji hal seperti ini tidak akan terulang lagi tuan."


"Hemm....bagus lah kalau begitu, sekarang duduk lah. Melihat mu berdiri terus seperti itu membuat mata ku jadi sakit."


Rendi langsung menuruti perintah atasan nya itu dan duduk tidak jauh dari Keenan berada.


"Apa hubungan mu dengan asisten Nayla itu serius Ren?" tanya Keenan dengan nada yang serius.


"Iya tuan...saya ingin menjalin hubungan yang serius dengan Santi karena saya sudah menjadikan dia target calon istri saya sejak satu tahun yang lalu," jawab Rendi dengan tegas.


"Aku harap apa yang kamu ucapkan bisa dipertanggung jawabkan, karena aku tidak ingin kamu melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan dulu Ren...mempermainkan suatu hubungan suci. Bagaimana pun Santi adalah orang yang Nayla sayangi, persahabatan mereka sudah seperti saudara jadi aku tidak ingin melihat Nayla sedih jika kamu sampai menyakiti sahabat nya," Keenan memperingatkan Rendi.


"Iya tuan...."

__ADS_1


__ADS_2