
"Aargggh..... " Keenan menjambak rambutnya frustasi.
"Maafkan aku Nay..."
**
Di negara ginseng tampak seorang laki - laki tua yang sedang berdiri di balkon kamar nya. Laki - laki itu memandangi keindahan langit yang tampak begitu cerah pada hari itu. Dia menarik nafas nya perlahan dan membuang nya asal. Maksud hati supaya rasa sesak dalam dada nya berkurang.
"Kenapa kamu pergi begitu cepat Suf, bahkan aku belum sempat membalas semua kebaikan mu pada ku," lirih kakek Dirga.
Kepergian sang sahabat dirasa begitu cepat bagi nya. Yang dia sesalkan saat ini kenapa dia sampai tidak tahu jika kakek Yusuf masuk ke rumah sakit. Jika dia tahu dari awal mungkin dia bisa bertemu dengan sahabatnya itu dan berusaha untuk menolong nya sebisa mungkin.
"Keenan.....ngapain saja anak itu, sampai kakek mertua nya sakit keras tidak mengabari ku," geram kakek Dirga.
Saat kakek Dirga sedang larut dalam pikirannya, tiba - tiba sang asisten datang membuyarkan semua lamunannya.
"Maaf tuan...semua persiapan sudah siap, kita bisa berangkat sekarang."
Kakek Dirga hanya menganggukkan kepala nya sebagai tanda mengerti dengan apa yang diucapkan oleh sang asisten.
**
Di rumah sakit
Nayla terduduk lemas di ruang tunggu bersama Tuan Richard, kakek kandungnya. Sekarang ini mereka sedang menunggu proses pengurusan jenazah kakek Yusuf. Semua urusan tersebut sedang diselesaikan oleh asisten Tuan Richard.
__ADS_1
Davin pun masih setia menemani Nayla di situ, tidak banyak hal yang bisa dia lakukan saat ini. Hanya support dan doa yang bisa dia lakukan supaya Nayla kuat dan tabah menghadapi semua ini.
Air mata Nayla tak henti - henti nya mengalir membasahi wajah sendu nya. Dia masih belum percaya dengan apa yang terjadi saat ini, semua terasa begitu cepat bagi nya. Ada gurat penyesalan dalam hati nya, karena dia merasa belum bisa membahagiakan orang yang telah berjasa dalam hidupnya itu. Orang yang telah menyelematkan hidupnya, bahkan rela merawat nya dengan penuh kasih sayang walaupun tidak ada ikatan darah diantara mereka. Di tambah sampai menjelang ajal sang kakek Nayla tidak bisa menemukan pendonor ginjal yang cocok untuk nya.
"Maafkan Nayla kek...karena Nayla belum bisa membahagiakan kakek," ucap Nayla dalam hati.
Tuan Richard yang melihat kesedihan yang mendalam pada cucu nya berusaha untuk menenangkan sang cucu.
"Sudah nak, jangan seperti ini terus...ikhlaskan kepergian Yusuf supaya dia bisa pergi dengan tenang," hibur sang kakek.
Nayla menyandarkan kepala nya di pundak sang kakek. Biasa nya setiap dia sedih hal ini yang selalu dia lakukan saat bersama kakek Yusuf. Karena dengan seperti ini dia akan merasa nyaman.
Tuan Richard tersenyum saat Nayla melakukan hal itu, dia merasa jika sang cucu sudah menerima nya dengan baik. Dia pun langsung memeluk sang cucu, berusaha memberi kenyamanan untuk sang cucu tercinta.
"Keenan.....kamu benar - benar cari mati, jika tuan Richard sampai tahu bagaimana cucu kesayangannya ini kamu perlakukan seperti apa, aku pastikan hidupmu akan hancur oleh tuan Richard," monolog Davin dalam hati.
"Dia juga dimana sekarang, dari tadi kenapa susah untuk dihubungi, kakek mertua nya sekarat sampai meninggal tapi dia tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Lihat betapa rapuhnya istri mu sekarang, dalam keadaan ini dia sangat membutuhkan mu sebagai suami, tapi sampai sekarang kamu tidak menampakkan diri," Davin benar - benar geram dengan tingkah sang sahabat.
Walaupun Davin menyukai Nayla tapi dia masih punya batasan, dia tidak mau merebut istri orang. Apa lagi dia tahu jika Nayla adalah istri dari sahabatnya sendiri. Sekalipun dia tahu sahabatnya itu tidak pernah memperlakukan istri nya dengan baik, tapi setidaknya dia masih menghargai pernikahan mereka.
Sejak dia datang bersama Nayla di ruangan perawatan kakek Yusuf, Davin berusaha untuk menghubungi Keenan, ntah sudah berapa kali dia menelpon tapi nomer Keenan tidak aktif, dia juga mengirimkan pesan tapi hasilnya pun sama, nihil. Terakhir dia menghubungi Rendi asisten Keenan, untuk memberitahu jika kakek Yusuf sudah meninggal dunia.
Ting.....
Sebuah notifikasi pesan masuk ke handphone Nayla. Pesan berupa gambar dan video dari nomer yang tidak dia kenal. Perlahan dia membuka pesan tersebut, betapa terkejutnya dia melihat gambar dan video yang dikirimkan oleh nomer tersebut. Dia meremas handphone itu dan terisak pilu di pelukan sang kakek.
__ADS_1
Di saat dalam keadaan berduka seperti ini, dia palah harus melihat sang suami sedang berciuman dengan wanita lain. Seharusnya suami nya ada di sisi nya saat ini, memberi dukungan untuk diri nya. Tapi pada kenyataannya dia palah asyik bermesraan dengan kekasihnya di luar sana. Sungguh sangat menyayat hati Nayla.
Hati Nayla benar - benar hancur sehancur - hancurnya saat ini.
Foto dan video yang Nayla terima adalah dengan Keenan saat tiba - tiba dicium oleh Michel. Dari foto dan video itu memang terlihat sekali jika Keenan dan Michel sangat menikmati ciuman itu.Tapi pada kenyataannya tidak seperti itu, karena yang mengambil foto dan video itu dengan posisi yang pas jadi terlihat seperti mereka saling menikmati adegan itu.
Tuan Richard yang melihat sang cucu semakin terisak dalam tangisnya setelah membaca pesan yang dia terima kemudian memberanikan diri untuk mengambil ponsel Nayla, dan melihat isi dari pesan tersebut.
Betapa kaget nya dia melihat foto dan video yang ada di ponsel Nayla. Dia membulatkan mata nya dan tangan nya terkepal kuat meremas ponsel sang cucu.
"Kurang ajar..." geram tuan Richard penuh dengan emosi.
Davin yang melihat perubahan ekspresi tuan Richard yang mendadak setelah melihat ponsel Nayla pun merasa heran. Ada apa sebenarnya, pertanyaan itu yang muncul di otaknya sekarang. Mau bertanya langsung pada tuan Richard atau Nayla tapi tidak enak hati, karena melihat situasi dan kondisi yang tidak pas. Lagi pula dia tidak mau dituduh menjadi orang yang kepo sekalipun dia sangat penasaran.
Tuan Richard berusaha untuk menenangkan sang cucu, dia mengusap rambut cucu nya itu dengan lembut dan mengecup pucuk kepala Nayla supaya Nayla merasa lebih tenang.
"Aku pastikan hidupmu akan menderita Keenan Dirgantara, karena telah menyakiti cucu ku satu - satu nya," ucap Tuan Richard dalam hati dengan pandang nyalang ke depan.
Saat mereka larut dalam pikirannya masing - masing, datanglah asisten tuan Richard memberitahu jika semua urusan administrasi kakek Yusuf sudah selesai, dan jenazah kakek Yusuf bisa segera dibawa pulang untuk dimakamkan.
**
Di sebuah apartemen mewah, seorang laki - laki tampan dengan wajah yang babak belur sedang tertawa puas dengan apa yang sudah dia lakukan.
"Ini baru permulaan Keenan Dirgantara...."
__ADS_1