
"Jangan sentuh laptop itu," bentak Keenan dari arah pintu dan langsung berjalan ke arah meja kerja nya.
Betapa terkejutnya Nayla mendengar suara bentakan dari suami nya. Sampai tangannya gemetaran dan tanpa sengaja menyenggol bingkai foto yang ada tidak jauh dari laptop itu.
Prang...
Sebuah bingkai foto Keenan kecil bersama kedua orang tua nya jatuh ke lantai.
Keenan membulatkan mata nya mendapati bingkai foto kesayangannya jatuh ke lantai. Dia langsung menarik Nayla ke belakang dengan kasar dan betapa terkejutnya dia saat menatap layar monitor laptopnya yang menampilkan sebuah proses penghapusan file yang sangat dia tahu file apa yang sedang terhapus itu.
"Apa yang kamu lakukan hah!" bentak Keenan kembali dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya dengan berusaha menghentikan proses delete file tersebut.
Tapi upaya Keenan itu tidak berhasil justru sekarang file itu sudah terhapus secara permanen.
Nayla yang masih tidak paham dengan apa yang terjadi hanya berdiri mematung di belakang Keenan. Dia menatap bingung sang suami yang sedang berusaha mengotak - ngatik laptopnya untuk mengembalikan file tersebut.
"Argh..." teriak Keenan frustasi karena file yang sudah terhapus itu tidak bisa dikembalikan lagi.
Dia mengepalkan kedua tangannya dan berbalik ke arah Nayla dengan tatapan yang sangat mengerikan.
Nayla yang mendapatkan tatapan tajam dari sang suami menjadi gemetaran, sekalipun dia tidak tahu apa pun yang terjadi saat ini.
Dengan penuh emosi Keenan langsung mencengkram dagu Nayla dan mendorongnya ke belakang sampai menempel di dinding dan menekannya dengan kuat.
"Apa yang sudah kamu lakukan dengan file itu hah!" tanya Keenan dengan penuh emosi dan penekanan.
Nayla yang bingung dengan pertanyaan Keenan hanya mampu menggelengkan kepala nya. Dia tidak mampu berucap apa pun karena dia sendiri benar - benar tidak melakukan apa pun dari tadi.
"Kenapa kamu hapus file itu," ucap Keenan dengan mencengkram dagu Nayla lebih kuat lagi.
__ADS_1
"A ku ti dak melakukan apa pun mas," jawab Nayla dengan terbata menahan sakit atas cengkraman Keenan.
"Tidak usah bohong kamu, atau kamu sengaja ingin membalas semua perlakuanku pada mu selama ini dengan menghapus file yang kamu tahu jika file itu sangat penting bagi ku, benar seperti itu Nayla Atifa!"
Keenan semakin kalap, dia tidak bisa mengontrol emosi nya lagi kepada Nayla. Sekarang tangannya berpindah mencekik leher Nayla, tatapan Keenan begitu tajam pikirannya sudah diselimuti oleh emosi yang membuncah sehingga dia tidak bisa berpikir jernih lagi.
Muka Nayla mulai memerah karena mulai kehabisan nafas, berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkraman suami nya. Dia berusaha untuk menjelaskan jika bukan dia yang menghapus file tersebut tapi mulutnya terasa begitu kelu, pandangannya semakin kabur. Dalam hati Nayla cuma bisa berdoa supaya ada seseorang yang menolong dirinya saat ini.
Brakkk,,
Tiba - tiba pintu ruangan Keenan terbuka dan masuklah Rendi bersama dengan Dewi sekretaris Keenan. Merasa ada suara kegaduhan dari ruangan bos nya, Rendi dan Dewi memberanikan diri untuk masuk ke ruangan tanpa seizin pemilik ruangan itu. Karena mereka takut terjadi sesuatu di dalam, dan ternyata dugaan mereka benar di dalam sedang terjadi sesuatu.
"Tuan.. apa yang anda lakukan kepada Nona Nayla," ucap Rendi yang kaget melihat Keenan sedang mencekik leher Nayla.
"Wanita s***an ini sudah menghapus file terpenting ku Ren, jadi dia pantas menerima nya," jawab Keenan dengan penuh emosi.
Nayla yang mendengar penjelasan Keenan kepada Rendi hanya bisa melirik dan menggelengkan kepala nya. Tatapan Nayla sangat sendu, wajah nya sekarang sudah berubah menjadi pucat pasi, dia benar - benar sudah kehabisan nafas sekarang.
"Tapi tuan, tindakan anda sekarang ini bisa membunuh Nona Nayla," kata Rendi dengan intonasi yang agak tinggi.
Mendengar perkataan Rendi, seketika Keenan melepaskan cengkraman tangannya di leher Nayla. Dia melihat wanita yang ada di depannya sekarang ini benar - benar dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.
Tubuh Nayla seketika melorot lemas ke lantai, dia juga terbatuk - batuk karena baru terlepas dari cekikan Keenan.
Entah setan apa yang merasuki Keenan barusan, sehingga dia bisa tersulut emosi seperti itu. Otaknya benar - benar tidak bisa untuk berpikir jernih. Karena semua itu dikuasai oleh emosi yang sudah meledak terlebih dahulu.
"Kasihan sekali Nona Nayla, sebenarnya apa yang terjadi sehingga Tuan Keenan begitu marah seperti ini, aku belum pernah melihat Tuan Keenan semarah ini sebelumnya. Tapi tadi Tuan bilang file terpenting dia terhapus oleh Nona Nayla. Jangan - jangan file yang dimaksud adalah file desain produk yang sudah Tuan Keenan siapkan untuk persentasi nanti dengan Tuan Richard," monolog Rendi dalam hati.
"Apa yang terjadi sebenarnya, dan siapa gadis ini kenapa Pak Rendi dan Tuan Keenan seperti nya mengenal baik gadis ini. Dan bahkan Pak Rendi memanggil dia dengan sebutan Nona tadi. Siapa pun dia, kasihan sekali kamu Nay..menjadi sasaran amukan dari Tuan Keenan," batin Dewi merasa iba melihat keadaan Nayla sekarang.
__ADS_1
"Ren.. bawa wanita s***an itu keluar dari ruangan ku sekarang juga!" titah Keenan dengan nafas yang masih tersengal menahan emosi.
Rendi yang mendengar titah dari bos nya, bergegas menghampiri Nayla yang masih terkulai lemas di lantai. Dia membantu Nayla untuk berdiri.
Betapa miris nya keadaan Nayla sekarang, wajah cantiknya berubah menjadi pucat pasi, lehernya terlihat ada bekas cekikan dari Keenan, dagunya juga merah karena cengkraman Keenan tadi. Ada memar dan luka kecil di tangan Nayla akibat jatuh dari ojek tadi pagi saat mengantar berkas Keenan.
Penampilannya sekarang jangan ditanya lagi, sangat memprihatinkan.
"Saya tidak melakukan apa pun pak Rendi, saya tidak tahu menahu dengan file yang terhapus itu, saya ke sini hanya mengantar berkas ini," lirih Nayla dengan berurai air mata dan menunjukkan map yang sedari tadi dia pegang erat bagian pinggirnya sampai map itu terlihat kusut.
Rendi mengangguk kecil mengerti apa yang Nayla katakan.
"Sebaiknya Non Nayla keluar dulu dari ruangan Tuan, biar saya mengurus semua nya ini," ucap Rendi memapah Nayla dan menghampiri Dewi.
"Wi.. tolong kamu bawa Nona Nayla ke ruangan saya, beri dia minum dan obati luka nya," kata Rendi ke sekretaris bos nya itu.
"Baik pak."
Dewi kemudian memapah Nayla keluar dari ruangan Keenan dan mengajak dia ke ruangannya Rendi seperti yang Rendi ucapkan tadi.
Sesampainya di ruangan Rendi, Dewi menyuruh Nayla untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Dia segera menghubungi OB untuk membuatkan teh hangat dan membawa kotak obat.
"Sebenarnya apa yang terjadi Nay, sampai kamu seperti ini," tanya Dewi yang sangat iba melihat kondisi gadis di depannya.
"Saya tidak tahu apa - apa mba, semua yang dituduhkan Tuan Keenan itu tidak benar, saya tidak menghapus file itu, bahkan saya tidak tahu menahu tentang file yang dimaksud oleh Tuan Keenan," terang Nayla dengan berurai air mata.
Dewi menatap mata Nayla yang sendu, dia melihat tidak ada kebohongan apa pun di sana. Yang terlihat hanya kekecewaan dan kesedihan.
"Aku semakin penasaran dengan wanita ini, jika dia hanya asisten rumahtangga di apartemen Tuan Keenan, tidak merasa kekecewaan dan kesedihan seperti ini. Yang ada dia pasti sudah ketakutan atas perlakuan Tuan Keenan tadi, tapi Nayla tidak ada rasa takut sama sekali, melainkan seperti rasa kecewa karena telah disakiti oleh orang yang dekat dengannya," batin Dewi menatap lekat wajah Nayla.
__ADS_1
"Kenapa kamu perlakukan aku seperti ini mas, aku tidak melakukan apa pun seperti yang kamu tuduhkan tadi, tidak bisakah kamu bertanya terlebih dahulu dengan baik - baik, aku ini istri mu mas. Sekarang tidak hanya hati ku yang kamu sakiti tapi fisikku juga kamu sakiti. Jahat sekali kamu mas.." monolog Nayla dalam hati dengan air mata yang masih setia jatuh membasahi pipi nya.