Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab. 29 Kamu pasti bisa Nay..


__ADS_3

" Mas Keenan," lirih Nayla.


Dada nya tiba - tiba terasa sesak melihat laki - laki yang sekarang menyandang sebagai suami nya bermesraan dengan wanita lain di depan mata nya. Walaupun pernikahan mereka tidak selayaknya seperti pasangan suami istri lainnya. Akan tetapi ada perasaan sakit yang Nayla rasakan saat ini.


" Hmmmm... Maaf, permisi tuan dan Nona," sapa Nayla.


Sapaan Nayla berhasil menghentikan aktifitas dua sejoli di depannya. Keenan terkejut melihat siapa pelayan di depannya. Dengan cepat dia langsung melepaskan pelukan Michel. Berbeda dengan Michel yang tampak kesal karena harus bertemu Nayla kembali. Pelayan yang sudah membuat mood nya berantakan tadi.


" Sekali lagi maaf Tuan dan Nona mengganggu aktifitas kalian, saya hanya ingin mengantar pesanan anda," ucap Nayla dengan ramah tidak lupa diiringi senyuman yang manis.


" Ckk ... kenapa harus kamu seh yang mengantarkan pesanan ku, bikin mood ku tambah berantakan lagi," ucap Michel kesal.


" Maaf nona pelayan yang anda maksud sekarang sedang ada pekerjaan lain, jadi saya yang menggantikannya," jawab Nayla masih dalam mode ramah dan mendorong troli makanan yang dia bawa ke arah meja Michel dan Keenan.


Michel memutar bola mata nya, dia benar - benar tidak suka dengan kehadiran Nayla di sini. Beda dengan Keenan, laki - laki itu hanya diam tanpa ekspresi.


" Honey ...." rengek Michel manja kepada Keenan.


" Iya ada apa honey," jawab Keenan lembut.


" Seperti nya kamu harus menambah uang bulanan ku dech, sehabis ini aku mau perawatan ke salon, aku takut wajahku ada kerutan karena ulah pelayan ini," ucap Michel kesal sambil menunjuk ke Nayla.


" Emang kenapa dengan pelayan ini," tanya Keenan.


" Kamu tahu gara - gara pelayan yang sok jadi pahlawan ini, aku harus mengeluarkan banyak tenaga untuk berbicara hal yang tidak penting."


" Maksud kamu..." tanya Keenan yang belum paham dengan arah pembicaraan sang kekasih.


" Aaah ... sudah ngga usah dibahas lagi, pokoknya aku mau kamu transfer 10 juta ke rekeningku sekarang juga honey..."rengek Michel.


" Apa segitu cukup," ucap Keenan menunjukkan kalau dia sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening Michel yang membuat wajah Michel seketika berbinar.

__ADS_1


" Thank you honey," ucap Michel dengan bergelayut di lengan Keenan.


Semua itu tidak lepas dari pandangan Nayla yang sedang mengatur menu makanan di atas meja. Dada nya semakin sesak melihat perlakuan lembut Keenan kepada wanita di sampingnya yang dia yakini adalah kekasihnya.


Apalagi saat dengan mudahnya Keenan memberikan apa yang Michel minta. Sedangkan dia yang berstatus sebagai istri belum pernah mendapatkan nafkah lahir dari Keenan. Lebih tepatnya tidak mendapatkan nafkah apa pun. Karena itu yang Keenan bilang di awal pernikahan mereka.


Walaupun Nayla sekarang tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan mempersiapkan segala kebutuhan Keenan, tanpa sepengetahuan Keenan pastinya. Akan tetapi dia tidak pernah mendapatkan nafkah sepeserpun dari Keenan. Keenan memang memberi uang lebih kepada Bi Marni untuk membeli segala kebutuhan dapur, akan tetapi dia selalu memberi ultimatum kepada Bi Marni untuk tidak melayani Nayla sebagai majikan, apalagi sampai memberikan Nayla makanan dari uang yang Keenan berikan. Alhasil semua kebutuhan Nayla dia sendiri yang harus menanggungnya.


" Kamu benar - benar jahat mas, dengan wanita lain sikap kamu begitu lembut sekali, bahkan kamu rela memberikan apa pun yang dia minta, sedangkan denganku kamu begitu kasar sekali, kamu juga tidak pernah memberikan nafkah mu sebagai seorang suami mas," batin Nayla yang tanpa terasa air mata nya menetes di pipi, dan buru - buru menghapus nya sebelum Keenan dan Michel tahu.


Setelah selesai menata semua menu di meja, Nayla pamit undur diri. Jika lama - lama di ruangan itu bisa membuat hati nya tambah sakit. Dan dia takut tidak bisa mengontrol air matanya nanti.


" Selamat menikmati tuan dan Nona, saya permisi dahulu," pamit Nayla dengan membungkukkan badannya dan berlalu meninggalkan pasangan itu.


" Eh ... tunggu dulu, enak saja main pergi begitu saja sebelum saya mengecek pesanan saya apa kah sudah sesuai dengan yang saya pesan atau tidak," ucap Michel menghentikan langkah Nayla. Dia berniat untuk mengerjai Nayla sebagai balasan atas apa yang Nayla lakukan tadi.


Nayla yang mendengar Michel berbicara dengan nya, kemudian dia menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah meja makan itu lagi.


" Hei,, kenapa sendok makan nya seperti ini?" Michel mengangkat sendok makannya ke arah Nayla.


" Ganti sendok ini, aku tidak suka memakai sendok yang seperti ini, ukurannya tidak pas, dan aku mau sendok yang dari tembaga bukan yang dari stainless seperti ini," ucap Michel.


" Tapi Nona, semua ukuran sendok di sini sudah sesuai dengan standar sendok ada umumnya, dan di sini todak menggunakan sendok tembaga," jawab Nayla tenang.


" Aku tidak mau tahu, pokoknya aku mau makan pakai sendok tembaga, kamu ingat kan kalau pelanggan adalah raja," ucap Michel dengan seringai jahatnya.


" Tapi Nona..."


" Tinggal kamu penuhi keinginan kekasih saya, disini kamu kan cuma pelayan, jadi tugas kamu adalah melayani dan memenuhi semua pesanan dari pelanggan di resto ini," ucap Keenan datar.


Nayla mendongakkan wajahnya, dia memberanikan diri menatap wajah Keenan. Sesaat tatapan mereka saling bertemu tapi dengan segera Keenan memutuskan tatapan nya dengan mengalihkan pandangannya ke arah ponsel yang ada di tangannya.

__ADS_1


" Baik tuan, kalau begitu saya permisi."


Nayla meninggalkan ruangan itu dengan dada yang sesak, sesekali dia menghapus air mata yang tanpa diperintah sudah turun di pipi mulusnya.


" Kamu harus kuat Nay, demi kakek," lirih Nayla menyemangati diri nya sendiri sambil terus berjalan ke arah dapur.


Sesampai nya di dapur dia mencari sendok tembaga yang diminta oleh Michel. Dia juga meminta bantuan dari beberapa karyawan lainnya. Untung saja di resto menyediakan sendok dari segala bahan, karena memang resto tempat kerja Nayla adalah salah satu resto termewah di daerah itu.


Setelah menemukan sendok yang sesuai dengan permintaan Michel, Nayla bergegas menuju ruang VIP dan menyerahkan sendok tersebut. Tidak berhenti di situ saja, Michel terus sengaja membuat ulah untuk mengerjai Nayla, dari jus jeruk yang terlalu asam, makanan penutupnya terlalu manis dan semua itu membuat Nayla menjadi kesal. Tapi bagaimanapun dia harus tetap bersikap profesional.


"Akhirnya urusan dengan Mak Lampir itu beres juga," ucap Nayla merasa lega karena Michel berhenti mengerjai dia.


Nayla duduk selonjoran di ruang istirahat, dengan sesekali memijat kaki nya yang terasa pegal karena harus bolak - balik ke sana sini karena ulah Michel sampai dia melewatkan waktu makan siang dan istirahatnya.


" Nay,, ini jatah makan siang kamu dan habis kamu istirahat kamu disuruh segera menghadap manager, untuk mengambil gaji kamu," kata salah satu pelayan dan di balas anggukan oleh Nayla.


Karena sangat lapar Nayla buru - buru menyantap jatah makan siangnya, Setelah itu dia langsung menuju ke ruang sang Manager untuk mengambil gaji ny bulan ini. Rasa lelah dan kesal nya seketika berubah setelah dia mendapatkan amplop yang berisi gaji nya bulan ini.


" Alhamdulillah... setidak nya gaji aku bulan ini masih utuh, walaupun aku sering izin bulan ini," ucap syukur Nayla dengan memeluk amplop coklat di dadanya.


" Semoga uang ini berkah, dan bisa untuk aku bertahan hidup satu bulan ke depan, aamiin," ucap syukur Nayla.


Seketika Nayla teringat saat Keenan memberikan sejumlah uang kepada kekasihnya, dada nya kembali terasa sesak.


" Tidak apa - apa Nay, jika suami mu tidak memberikan nafkah pada mu, setidak nya kamu masih punya kaki dan tangan untuk bekerja mencari sesuap nasi, ayo Nayla Atifa, kamu pasti bisa," lagi - lagi Nayla menyemangati diri nya sendiri dengan berusaha tersenyum yang ceria dan sesekali menyeka air mata yang entah berapa kali sudah jatuh di pipi nya.


" Kamu ini malu - malu in aja, kenapa kamu harus turun di pipi ku terus seh," ucap Nayla mengusap air mata yang ada di pipi nya.


Tanpa sepengetahuan Nayla ternyata ada sepasang mata yang melihat dan mendengar apa pun yang Nayla ucapkan. Keenan yang tadi nya ingin kembali ke ruang VIP setelah dari toilet mengurungkan niatnya ketika mendengar suara yang familiar baginya sedang berbicara sendiri di depan mushola kecil yang tak jauh dari toilet resto.


Keenan mendengar semua apa yang Nayla ucapkan. Ada perasaan nyeri dalam hati Keenan melihat Nayla yang begitu senang saat melihat beberapa lembar uang yang Nayla keluarkan dari amplop coklat itu. Keenan bisa memprediksi berapa jumlah uang itu, tidak ada apa - apa nya dibandingkan dengan jumlah uang yang dia kirim untuk kekasihnya tadi.

__ADS_1


" Aku tahu jika apa yang aku lakukan ini salah, tapi apa yang dia dan kakeknya perbuat padaku itu tidak bisa aku maafkan," ucap Keenan mengepalkan tangannya.


__ADS_2