
"Apa yang harus hamba lakukan,Ya Allah.." lirih Nayla dengan bibir bergetar.
"Kek... Nay kangen, hiks ... hiks.."
Saat seperti ini ingin sekali Nayla mencurahkan segala isi hati nya kepada sang Kakek. Tapi semua itu urung dia lakukan karena dia tidak ingin Kakeknya tahu betapa peliknya kehidupan rumah tangga nya.
Ting ....
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Nayla. Segera dia merogoh saku celana nya dan mengambil ponselnya. Terlihat jelas di layar ponsel nya ada nama sang sahabat yang mengirim pesan.
"Astagfirullah .... aku sampai lupa kalau hari ini aku ada janji dengan Santi," gumam Nayla.
Dengan segera dia menyeka air mata nya dan bangkit untuk membersihkan diri. Setidak nya saat ketemu sang sahabat nanti dia sudah dalam keadaan segar tidak berantakan seperti tadi.
Setelah membersihkan diri Nayla menata kembali penampilannya. Dia memilih menggunakan celana jeans dan kaos oblong bewarna putih tidak lupa sepatu kets putih untuk menyempurnakan penampilannya. Wajahnya dia poles dengan make up tipis untuk menutupi wajahnya yang sembab untuk rambut nya dia biarkan tetap terurai.
"Selesai.." ucap Nayla tersenyum melihat penampilannya di cermin.
"Sebenarnya kamu cantik lho Nay, body kamu juga tak kalah seksi dengan Mak Lampir itu, tapi kenapa suami mu tidak pernah melirik mu sama sekali," monolog Nayla dengan pantulan bayangannya di cermin sambil memutar badannya.
"Argh ... aku sudah seperti orang gila saja berbicara sendiri," kata Nayla terkekeh sendiri melihat tingkahnya.
"Sebaiknya aku segera berangkat sebelum Santi ngomel - ngomel ngga jelas nanti," ucap Nayla.
Drrrt .... drrrt...
"Panjang umur ini anak."
"Hallo San ..."
Nayla langsung menjauhkan ponsel ny dari telinga nya saat mendengar teriakan dari orang di seberang sana.
"Iya bawel... ini juga sudah mau otw ke sana," ucap Nayla sambil menyambar sling bag nya di atas meja.
**
Hanya butuh waktu tiga puluh menit akhirnya Nayla sampai di Mall yang dipilih Santi. Di depan pintu masuk Santi sudah menunggu nya seperti cacing kepanasan, karena dia sudah menunggu sang sahabat datang dari satu jam yang lalu.
"Stop !!" ucap Nayla dengan mengangkat jari telunjuknya di depan bibir Santi dan menatap tajam pada Santi.
Dia tahu kalau sang sahabat pasti akan mengomel panjang kali lebar atas keterlambatan dia. Santi yang mendapat tatapan tajam dari sang sahabat hanya mendengus kesal dan membuang nafasnya kasar.
__ADS_1
"Harusnya aku yang marah Nay.. kenapa jam segini kamu baru nongol sech, aku sudah menunggu kamu satu jam lho.. mana ponsel kamu susah banget dihubungi," ucap kesal Santi.
"I am sorry...." jawab Nayla mengangkat dua jari nya ke atas dengan tersenyum manis.
Huh.....
"Untung saja kamu cantik Nay...jadi aku maafin dech," kata Santi dengan menampilkan ekspresi yang masih sedikit kesal.
Nayla menautkan alisnya mendengar jawaban absurd dari sahabatnya itu. Santi yang paham langsung merangkul sang sahabat masuk ke dalam Mall.
"Kalau kamu ngga cantik mana mau aku berteman denganmu Nay," ucap Santi cengengesan. Dan langsung mendapat cubitan kecil di pinggangnya oleh Nayla.
"Sakit tau Nay...," teriak Santi sambil berlari kecil mengejar Nayla yang sudah berjalan mendahului nya.
Akhirnya kedua sahabat itu berkeliling Mall untuk mencari barang yang mereka inginkan, lebih tepatnya yang Santi inginkan. Sesekali mereka bersenda gurau saat berjalan dari satu toko ke toko yang lain.
"Nay... ternyata harga - harga di sini mahal - mahal," bisik Santi polos.
Selama ini mereka emang jarang membeli barang di Mall, mereka lebih sering berbelanja di pasar. Selain harga nya yang lebih murah, di sana juga mereka bisa menyalurkan hobi mereka yaitu menawar barang.
"Lha sudah tahu di sini harga nya mahal, kenapa nyari kado dan gaun untuk pesta di sini San," ucap Nayla.
"Heheheh... sekali - kali bergaya dikit lah Nay belanja di Mall, lagian sepupu aku ini selera nya tinggi Nay, dan dia menikah dengan pengusaha juga seorang C E YO kalau ngga salah."
"Iya itu maksud aku, maklum Nay lidahku suka keseleo kalau mengucapkan kata yang berbau English," jawab Santi cengengesan.
Nayla cuma menggelengkan kepala nya melihat tingkah sang sahabat.
"Nay.. lihat sepertinya di toko itu lagi ada sale dech..itu ada tulisan yang terpampang di depan nya," ucap Santi menunjuk ke salah satu toko yang tidak jauh dari hadapan mereka.
Kemudian mereka berdua berjalan ke toko yang ditunjuk Santi tadi. Sesampai nya di depan toko itu Santi langsung bertanya kepada penjaga toko tersebut untuk memastikan apakah benar di toko itu lagi ada sale. Ternyata benar jika di toko itu sedang ada sale. Dengan cekatan Santi langsung masuk ke toko itu.
"Ayo Nay buruan..." antusias Santi menarik tangan Nayla masuk ke dalam toko.
Di toko tersebut khusus menjual gaun pesta. Dan barang yang diperjual belikan juga termasuk gaun - gaun yang mewah dan mahal.
Nayla melihat ke kiri dan kanan sampai pandangannya tertuju pada gaun selutut bewarna peach yang terpampang di patung. Gaun itu terlihat simpel dan tertutup, tidak banyak pernak pernik yang tertempel di gaun tersebut. Tapi jika dikenakan tampak terlihat elegan.
Perlahan Nayla mendekat ke gaun itu, melihat secara lekat desain dari gaun itu dari dekat, tangannya terulur untuk meraba gaun itu dari atas hingga bawah.
"Halus sekali bahannya," gumam Nayla.
__ADS_1
Tangannya terhenti saat melihat label harga yang ada gaun tersebut. Mata nya membola melihat harga yang tertera di label.
"Ya Allah... harga gaun ini sepuluh kali lipat dari gaji ku sebulan, dan ini saja sudah di diskon, kalau harga diskon nya saja segini terus harga normal nya bearti...." Nayla menghentikan ucapannya dan menutup mulutnya karena tidak percaya harga normal dari gaun tersebut setelah dia menghitungnya.
Saat Nayla masih syok dengan harga dari gaun itu, tiba - tiba dari arah samping ada seseorang yang mengambil gaun itu dengan kasar. Dia melirik ke arah orang tersebut dan dia langsung memutar bola mata nya jengah, karena lagi - lagi harus bertemu dengan wanita itu lagi.
"Hei.. pelayan resto seperti kamu tidak pantas menggunakan gaun seperti ini, terlalu mahal," bisik Michel di telinga Nayla dan berlalu dengan mengambil gaun tersebut.
Nayla hanya mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Michel. Seketika pikirannya teringat dengan Keenan.
"Kalau dia ada di sini bearti Mas Keenan ada di sini juga," batin Nayla sambil melihat ke sana sini mencari sosok suami nya tapi tidak terlihat siapa pun di situ selain penjaga toko dan beberapa orang yang sedang mengunjungi toko tersebut.
"Dimana Mas Keenan," lirih Nayla.
Saat Nayla sedang hanyut dengan pikirannya, Santi datang mengagetkan dia dengan menepuk bahu nya.
"Nay ..." ucap Santi.
"Eh .. iya gimana sudah dapat gaunnya," jawab Nayla.
Santi menggelengkan kepala nya menandakan kalau gaun yang dia pilih tidak cocok. Bukan berati tidak cocok untuk badannya tapi tidak cocok untuk dompetnya lebih tepatnya.
"Ngga ada yang pas Nay," ucap Santi lesu.
"Masak dari semua gaun yang ada di sini tidak ada yang pas buat kamu," kata Nayla merasa heran karena yang dia lihat tadi Santi membawa beberapa gaun ke kamar ganti untuk dia coba dan sahabatnya itu bilang kalau semua gaun itu tidak pas untuk Santi.
"Lebih tepatnya tidak pas untuk dompetku Nay," kata Santi cemberut. Dan sontak membuat Nayla tertawa.
"Kan aku sudah bilang, kalau budget kita itu cocoknya untuk di pasar bukan di Mall," ucap Nayla mengingatkan sang sahabat.
"Maka nya sadar diri dong.. pelayan resto macam kalian ini mana mampu membeli gaun mahal di sini, lagian aku juga heran Mall sebesar ini kok memperbolehkan pelayan - pelayan seperti mereka masuk sech," sindir Michel yang tiba - tiba muncul di belakang mereka.
"Eh.. jaga ya mulut anda kalau ngomong, emang di sini ada peraturannya siapa yang boleh atau tidak boleh mengunjungi Mall ini, ngga ada kan mba?" tanya Santi ke salah satu penjaga toko itu.
"Semua orang berhak mengunjungi Mall dan toko ini Nona," jawab sang penjaga toko
" Tuh... denger sendiri apa yang mba ini bilang," ucap Santi berapi - api.
" Lagian situ siapa sech... kenal aja ngga, tapi kepo dengan apa yang kita lakukan," lanjut Santi.
"Udah lah San, kita ngga usah meladeni Mak Lampir kayak dia, buang - buang tenaga kita saja," ucap Nayla melirik Michel.
__ADS_1
" Jadi kamu kenal dia Nay," bisik Santi.
Hem,