Istri 100 Hari

Istri 100 Hari
Bab. 142 Undangan khusus untuk Davin


__ADS_3

Safira langsung mendongakkan kepala nya ke atas, tatapan nya terpana dengan sosok wanita cantik yang sedang berdiri di depan nya itu. Safira sampai tidak berkedip sama sekali melihat wanita cantik itu.


Nayla yang merasa sapaan nya tadi tidak di respond oleh sekretaris Davin kemudian dia menjentikkan jari nya di depan wajah Safira.


"Maaf mba...apa kak Davin nya ada?" Nayla mengulang pertanyaan nya.


"Eh iya ada ...tuan Davin ada di ruangan nya nona," jawab Safira dengan gugup.


Nayla tersenyum manis," apa saya boleh masuk?"


"Ehm...apakah nona sudah ada janji dengan tuan Davin?" tanya Safira dengan sangat hati-hati.


Karena di lihat dari penampilan nya dia bisa menebak jika wanita yang ada di depan nya itu bukan wanita sembarangan. Apalagi wanita itu sempat memanggil Davin dengan sebutan kakak.


"Belum...kalau begitu kamu bisa mengatakan pada kak Davin jika Nayla mencari nya."


Safira menganggukkan kepala nya, dia kemudian menghubungi Davin dengan telepon mengatakan pada atasan nya itu jika ada tamu yang bernama Nayla ingin bertemu dengan nya.


"Silahkan masuk nona...tuan Davin sudah menunggu," ucap Safira dengan sopan.


Nayla mengangguk dan masuk ke dalam ruangan Davin," tumben kak Davin memilih sekretaris seperti itu," batin Nayla saat memasuki ruangan Davin.


"Cantik sekali wanita itu, penampilan nya juga berkelas. Apakah wanita itu kekasih tuan Davin?" lirih Safira dengan tatapan sendu menatap punggung Nayla yang sudah masuk ke dalam ruangan atasan nya itu.


"Selamat siang kak... aduh, CEO yang satu ini sibuk sekali ternyata sampai pesanku saja tidak di baca, " sapa Nayla dengan senyuman ramah dan manis khas dia.


"Hai Nay..." jawab Davin yang langsung menghentikan pekerjaan nya dan berjalan ke arah Nayla.


"Pantas saja kakak tidak membaca pesan ku ternyata kakak sangat sibuk sekali," protes Nayla.


"Ya seperti ini lah Nay, kegiatan ku sehari-hari disibukkan dengan tumpukan-tumpukan berkas yang tidak ada habis nya," jelas Davin sambil mempersilahkan Nayla untuk duduk d sofa yang ada di ruangan nya itu.


"Jangan terlalu sibuk lah kak, bagiamana kakak mau cepat dapat jodoh kalau terlalu sibuk seperti itu," goda Nayla.


"Jodoh kakak sudah diambil orang," cicit Davin.


"Kak...."


"Hahahahaha ......becanda Nay..."


**


Keenan berjalan dengan langkah tegap menuju ruangan Davin.


"Tuan Davin nya ada," tanya Keenan pada Safira yang saat itu sedang sibuk dengan layar komputer nya, sehingga dia tidak menyadari kehadiran bos Drg.Group itu.


Safira mendongakkan wajah nya ke arah sumber suara.


Deg,


"Tuan Keenan Dirgantara," lirih Safira dengan berusaha susah payah menelan Saliva nya. Dia langsung berdiri dari tempat duduk nya dan membungkuk kan badan nya sebagai tanda hormat pada atasan nya itu.


Keenan menatap wanita itu dengan sangat intens sekali, dia merasa seperti pernah melihat wanita itu sebelum nya. Tapi dia lupa dimana pernah melihat wanita itu. Seketika pandangan nya mengarah ke ID Card yang ada di baju Safira, setelah membaca benda pipih itu dia langsung tahu siapa wanita itu.


"Ternyata Davin gerak cepat juga," batin Keenan dengan menyunggingkan senyuman nya.


"Selamat siang tuan Keenan...." sapa Safira dengan ramah dan penuh hormat.


"Hemm..selamat siang, apakah tuan Davin ada di dalam?" tanya Keenan kembali karena pertanyaan dia sebelum nya belum di jawab oleh Safira.


"Tuan Davin ada di dalam ruangan nya tuan..tapi di dalam ada...."

__ADS_1


Belum sempat Safira melanjutkan ucapan nya tapi Keenan langsung saja menerobos masuk ke dalam ruangan Davin.


"Tuan Keenan...maaf Tuan Davin sedang ada tamu," tapi ucapan Safira tidak diindahkan sama sekali oleh Keenan.


"Aduh....gimana ini, bisa kena marah nanti aku," panik Safira.


**


"Oh ya Nay... kamu datang sendiri ke sini? tumben calon suami mu yang...."


"Yang apa!" ucap Keenan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Davin tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"CK.....bisa tidak kalau masuk itu permisi dulu, minimal ketuk pintu kek, jangan main nyelonong saja," cebik Davin.


"Suka-suka aku lah..." jawab Keenan santai yang langsung duduk di sebelah Nayla.


"Yang dikatakan kak Davin benar mas...dimana pun kita harus tetap menjaga attitude kita," ucap Nayla dengan lembut.


"Iya sayangku....maaf" jawab Keenan tak kalah manis dan lembut sambil mengelus pipi Nayla.


Davin yang melihat kemesraan pasangan bucin itu hanya memutar kedua mata nya jengah.


"Permisi tuan...maaf tadi saya tidak bisa menahan tuan Keenan untuk tidak masuk terlebih dahulu karena tuan sedang ada tamu," ucap Safira yang merasa bersalah.


"Iya tidak apa-apa...yang terpenting lain kali tidak terulang kembali. Lagi pula tamu ku memang mereka, berdua," kata Davin datar dengan menunjuk ke arah Keenan yang kebetulan sedang merangkul Nayla.


Safira langsung membungkukkan badan nya ke arah Keenan dan Nayla.


"Kalau begitu, saya permisi tuan..." pamit Safira.


"Tunggu dulu...tolong kamu buatkan kedua tamu istimewa ku ini minuman," titah Davin dengan nada yang dingin dan datar.


"Baik tuan..."


**


Entah Keenan sengaja atau tidak, yang jelas sekarang dia menunjukkan kemesraan nya dihadapan Davin. Bahkan berkali-kali dia mencium pucuk kepala Nayla berulang-ulang.


"Mas...." Nayla yang mulai tidak nyaman dengan perlakuan Keenan langsung mengingatkan calon suami nya itu tentang tujuan utama dia menemui Davin untuk apa.


Keenan menganggukkan kepala nya dan dia langsung menyerahkan sebuah undangan pernikahan kepada Davin.


"Aku harap kamu bisa menghadiri acara tersebut dari akad sampai resepsi nanti. Dan aku juga ingin kamu bersama yang tema kita lainnya menjadi pendamping ku nanti," ucap Keenan dengan serius.


"Jadi juga kalian nikah?"


"Kamu menginginkan kami tidak jadi menikah begitu? terus kamu mau mendekati Nayla lagi?"


Saat Keenan mengatakan itu bersamaan dengan Safira yang masuk membawakan minuman.


"Jadi tuan Davin pernah mendekati wanita cantik ini," batin Safira sambil melirik ke arah Nayla saat menyajikan minuman di atas meja.


"CK...masih saja kamu su'uzon ma aku Kee..."jawab Davin dengan tersenyum tipis.


"Mas...kak Davin...sudah-sudah...kenapa sih setiap kalian bertemu tidak pernah akur. Lagian sekarang kan kak Davin sudah punya kekasih, iya kan kak?" ledek Nayla dengan tersenyum lebar sehingga membuat Davin tersedak minuman nya.


"Uhuk..uhuk...apaan sih Nay..." lirih Davin sambil melirik ke arah Safira yang menundukkan wajah nya.


Setelah menyajikan minuman, gadis berkaca mata itu langsung keluar dari ruangan itu dan kembali ke meja nya.


"Kenapa dengan perasaanku ini, kenapa terasa sesak saat mendengar jika tuan Davin ternyata sudah mempunyai kekasih. Safira....jangan berpikir yang aneh-aneh kamu, ingat tujuan mu apa di sini, bekerja..bekerja...mencari cuan yang banyak supaya bisa cepat jadi orang kaya," monolog Safira dalam hati dengan tatapan sendu.

__ADS_1


Cklek....


Suara pintu terbuka membuat Safira tersadar dengan lamunan nya. Dia melihat Keenan dan Nayla keluar dari ruangan Davin dan diikuti oleh Davin dari belakang.


"Kalian benar tidak mau makan siang dulu?" tawar Davin.


"Tidak kak, terima kasih banyak..masih banyak hal yang akan kami kerjakan," tolak Nayla secara lembut.


"Lain kali lagi kita makan bersama jika kamu sudah menaklukan wanita itu," bisik Keenan di telinga Davin.


Hal itu sontak membuat Davin melototkan mata nya. Keenan hanya tertawa kecil melihat ekspresi sahabat nya itu. Dia kemudian menoleh ke arah Safira.


"Oh ya Safira, saya harap kamu bisa bekerja dengan baik di sini. Jika atasan mu berbuat yang tidak baik segera laporkan langsung kepada saya," ucap Keenan seraya melirik ke arah Davin.


Sedangkan yang di lirik cuek-cuek saja seolah-olah tidak mendengar apa pun.


"Baik tuan..." jawab Safira dengan sopan dan membungkukkan badan nya.


Setelah mengatakan hal itu Keenan dan Nayla pamit kepada Davin dan pergi meninggalkan kantor itu. Davin pun mengantarkan mereka sampai lobby kantor nya.


Safira memandangi kepergian atasan-atasan nya itu dengan pandangan yang kagum.


"Ternyata tuan Keenan orang nya baik dan perhatian kepada karyawan bawahan seperti ku. Aku kira tuan Keenan orang nya sombong seperti tuan Davin. Ternyata aku salah menilai, jadi wanita cantik tadi adalah calon istri nya tuan Keenan. Serasi sekali mereka, yang satu cantik yang satu tampan. Aku yakin calon istri nya itu juga bukan wanita sembarangan. Dari penampilan nya saja sudah kelihatan, apa lagi tutur sapa nya itu sangat lembut dan berkelas. Pantas saja jika tuan Davim juga pernah menyukai wanita itu Ah....aku jadi insecure sendiri. Eh...lagian kenapa aku membandingkan diri ku ma calon istri nya tuan Keenan sih, ya jelas tidak sebanding lah. Aduh Safira....otak kamu semakin lama semakin tidak beres," ucap Safira sambil memukul-mukul kepala nya sendiri.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Davin yang tiba-tiba di hadapan Safira.


"Eh...tuan Davin..." jawab Safira terbata.


"Dasar manusia alien aneh," lirih Davin yang kemudian masuk ke dalam ruangan nya begitu saja.


"Situ kali yang manusia alien," gerutu Safira tidak mau kalah.


"Apa kamu bilang barusan, " ucap Davin yang kembali nongol di pintu ruangan nya.


"Astaga tuan...mengagetkan saya saja," Safira terkejut dengan kemunculan Davin lagi. Dia sampai memegangi dada nya karena terlalu terkejut.


"Tadi kamu ngatain saya apa hem....!"


"Tidak tuan....saya tidak ngatain tuan apa pun, beneran," Safira mengangkat dua jari nya ke atas.


Davin memicingkan kedua mata nya dan berkata," temani aku makan siang,"


"Hah...makan siang? kapan tuan....?"


"Tahun depan..."


"Oh....tahun depan."


"Safiraaaa....."teriak Davin karena kesal wanita di depan nya tidak fokus dengan apa yang dia ucapkan barusan.


"Eh iya tuan ada apa?"


"Astaga kenapa aku bisa tertarik dengan wanita yang seperti itu," lirih Davin frustasi sampai dia mengusap wajah nya dengan kasar.


"Temani aku makan siang," bisik Davin telan di telinga Safira dengan penuh penekanan di setiap ucapan nya.


Tubuh Safira seketika meremang akibat ulah Davin barusan. Dia beberapa kali menelan Saliva nya dengan susah payah untuk menetralkan detak jantung nya yang sudah tidak karuan. Apa lagi saat Davin dengan sengaja meniup daun telinga Safira setelah selesai berbicara seketika membuat tubuh Safira menjadi tegang.


"Segera bersiap-siaplah, aku tunggu di bawah."


"Baik tuan...." jawab Safira yang tiba-tiba menjadi gagap.

__ADS_1


__ADS_2