
"Karena saya pemiliknya," ucap Davin.
Nayla tidak bergeming sama sekali, dia masih bingung dengan apa yang Davin ucapkan.
"Pemiliknya?" ucap Nayla bingung.
"Sudah tidak usah bingung, lain kali kamu bisa mengganti semua ini," kata Davin sambil menarik tangan Nayla meninggalkan kasir.
Davin dan Nayla berjalan keluar beriringan menuju pintu keluar. Banyak karyawan yang membungkuk hormat saat Davin dan Nayla melintasi mereka. Hal itu tidak lepas dari penglihatan Nayla.
"Siapa sebenarnya Tuan Davin ini, kenapa semua karyawan menunduk hormat pada dia," batin Nayla.
"Selamat sore tuan," sapa Satpam supermarket dengan membungkukkan badannya dan hanya dibalas anggukan oleh Davin.
Lagi - lagi Nayla dibuat bingung dengan apa yang dia lihat. Davin hanya tersenyum melihat wajah bingung Nayla.
"Kenapa?" tanya Davin.
"Hm... tidak apa - apa Tuan, cuma saya bingung saja sebenarnya Tuan ini siapa? tanya Nayla yang benar - benar penasaran dengan sosok Davin Sanjaya.
"Saya Davin Sanjaya, kan kita sudah berkenalan," jawab Davin santai.
"Eh.. iya, tapi maksud saya anda ini si...."
"Sudah tidak penting aku ini siapa, yang jelas aku ini makhluk Tuhan yang paling tampan," narsis Davin. Nayla hanya mengerutkan dahi nya mendengar narsisnya Davin.
Entah semenjak kenal dengan Nayla, banyak perubahan pada Davin. Dia sekarang menjadi laki - laki yang ramah, banyak senyum dan terkadang menjadi lebay dan narsis seperti yang dia ucapkan barusan. Bukan lagi seorang Davin Sanjaya yang cool, irit bicara dan pelit senyum.
Bersama Nayla dia merasa menemukan jati dirinya sendiri seperti dulu. Dahulu Davin adalah seorang pribadi yang hangat, ramah dan ceria. Tapi semenjak kejadian beberapa tahun lalu, sifat nya berubah seratus delapan puluh derajat. Menjadi Davin Sanjaya yang dingin, irit bicara dan jarang menampakkan senyumannya.
Kehadiran Nayla benar - benar membawa perubahan pada Davin.
"Tuan.. berapa yang harus saya bayar untuk mengganti biaya belanjaan saya tadi."
"Ck ... sudah aku bilang kalau semua ini gratis."
"Tapi tuan...."
Melihat Nayla yang merasa tidak enak, Davin kemudian berpikir bagaimana cara nya agar wanita dihadapannya ini tidak bertanya terus menerus masalah belanjaan. Tiba - tiba mata nya tertuju pada penjual es cendol yang ada di dekat area parkir. Seketika Davin menemukan ide yang cemerlang.
"Kamu yakin ingin mengganti semua nya," tanya Davin dengan serius.
"Iya tuan.." jawab Nayla mantap.
Walaupun dalam hati nya ketar - ketir, takut kalau uang gaji nya tidak cukup untuk mengganti semua biaya belanjaannya.
__ADS_1
Davin tersenyum melihat ada guratan khawatir dari wajah Nayla.
"Kalau kamu ingin mengganti semua nya, cukup kamu traktir aku minum itu," ucap Davin menunjuk penjual es cendol.
"Seperti nya enak dan segar kalau sore - sore seperti ini minum es cendol," lanjut Davin.
Jawaban Davin sontak membuat Nayla bengong. Dia melihat penampilan Davin dari ujung kepala sampai kaki.
"Apakah anda yakin ingin minum es cendol di tempat seperti itu tuan," tanya Nayla ragu.
"Iya.." jawab Davin mantap.
"Hm.. tapi tuan....."
"Kenapa? kamu mau bilang kalau orang seperti saya tidak biasa makan di tempat seperti itu," tanya Davin.
"I ya tuan, biasa nya orang kaya seperti tuan tidak akan mau makan di tempat seperti itu," kata Nayla.
"Hahahahaha... selama makanan/minuman itu enak, terlihat bersih dan higienis tidak masalah buat aku," jawab Davin santai.
"Ayo buruan, aku sudah tidak sabar ingin menikmati es cendol itu, tapi kamu yang traktir lho Nay," ucap Davin dengan senyum manisnya kemudian berjalan ke arah penjual es cendol.
"Baiklah tuan," jawab Nayla.
Mereka memesan dua gelas es cendol dan menikmati nya dengan bersenda gurau sesekali ada tawa kecil dalam obrolan mereka. Nayla sekarang sudah merasa nyaman berbicara dengan Davin sudah tidak canggung lagi.
"Tapi tu..."
Davin langsung mengangkat jari telunjuknya menandakan supaya Nayla tidak memanggil dengan sebutan itu lagi. Nayla menghela nafasnya pelan.
"Terus saya harus panggil apa," tanya Nayla.
"Apa saja asal jangan Tuan, risih aku dengarnya," kata Davin.
"Gimana kalau Mas atau kakak, seperti nya itu lebih enak didengar," ucap Davin memberikan ide.
"Mas??" lirih Nayla.
Mendengar kata itu Nayla seketika teringat pada Keenan, sebutan itu sudah melekat di hati dan pikiran Nayla hanya untuk suami nya.
"Gimana kalau saya panggil Kakak saja," usul Nayla.
"Itu lebih baik," jawab Davin merasa senang.
"Ehm .. kak, boleh aku tanya sesuatu?"
__ADS_1
"Hmm .. tanya lah apa yang ingin kamu tanya, dari pada kamu penasaran dan tidak bisa tidur nanti," jawab Davin santai.
Dia tahu hal apa yang ingin Nayla tanya kan. Pasti masih berhubungan dengan masalah di kasir tadi.
"Emang kakak benar pemilik SNJ Mart itu," tanya Nayla menunjuk tulisan yang ada di atas pintu masuk supermarket.
"Hmm..."
"Serius kak???"
"Duarius palah," jawab Davin santai sambil menikmati es cendolnya.
Nayla menatap wajah Davin yang sedang asyik menikmati es nya, dia seperti tidak asing dengan wajah pria yang ada dihadapannya ini. Tiba - tiba Nayla langsung menutup mulutnya. Dia baru ingat kalau pernah melihat Davin di majalah bisnis yang ada di meja managernya saat mengambil gaji nya tadi siang. Davin Sanjaya CEO dari SNJ Group bearti benar jika dia pemilik SNJ Mart ini.
"Ada apa?" tanya Davin heran melihat Nayla yang melamun.
"Eh..iya kak, tidak apa - apa," jawab Nayla gugup.
"Huft ... masih tidak percaya kalau aku pemilik itu," ucap Davin menunjuk tulisan yang ada di atas pintu masuk supermarket.
"Percaya kok kak," jawab Nayla langsung.
"Kenapa kakak menggratiskan belanjaan ku, apa nanti supermarket kakak tidak akan rugi," ucap Nayla polos dan sontak membuat Davin tertawa.
"Sekalipun kamu setiap hari belanja di sana tidak bayar juga aku tidak bakalan rugi Nay."
"Dih... sombong," sungut Nayla mengerucutkan bibirnya.
Davin semakin tertawa melihat ekspresi Nayla yang menggemaskan menurutnya.
"Oh ya kak, ini sudah sore banget aku harus segera pulang," ucap Nayla.
"Ya sudah kita pulang bareng saja, lagi pula tujuan kita kan sama," ajak Davin.
"Maaf kak, aku pulang sendiri saja itu aku bawa motor," kata Nayla menunjuk motornya di parkiran.
Davin hanya mengangguk, walaupun dalam hati nya sangat mengharapkan bisa pulang bareng supaya banyak waktu untuk mengobrol berdua dengan Nayla. Tapi dia tidak bisa memaksakan kehendaknya.
Setelah Nayla membayar es cendol yang mereka pesan, kemudian Nayla pamit pulang lebih dahulu pada Davin. Sebelumnya tidak lupa Nayla mengucapkan terima kasih karena belanjaannya telah digratiskan.
"Sekali lagi terima kasih ya kak, untuk belanjaannya ini," ucap tulus Nayla dengan tersenyum manis.
"Iya sama - sama Nay, makasih juga untuk traktiran es cendol nya," kata Davin mengangkat gelas es cendol yang masih ada di tangannya.
Nayla menganggukkan kepala nya dengan tersenyum manis dan berlalu meninggalkan Davin yang masih duduk di dekat gerobak es cendol.
__ADS_1
Davin menatap kepergian Nayla sampai gadis itu menaiki motor dan meninggalkan area parkir supermarket. Seketika Davin teringat sesuatu.
"Kenapa aku tidak meminta nomor handphone nya tadi," gumam Davin.