
"Apa..Flashdisk itu juga hilang? sepertinya semua ini benar - benar sudah direncanakan sangat matang oleh pelaku nya, dari rekaman CCTV yang tiba - tiba mati, file terhapus secara permanen, sampai flashdisk pun ikut raib. Tapi siapa penyusup itu," monolog Rendi dalam hati.
"Sebaiknya kita memanggil orang IT kepercayaan kita tuan, masih ada waktu 40 menit lagi sebelum persentasi itu dimulai," ucap Rendi.
"Sudah tidak ada waktu lagi Ren, sekalipun kita memanggil orang IT kita untuk mengembalikan file itu, pasti waktu yang mereka butuhkan lumayan lama, karena file itu dalam ukuran besar dan berbentuk program," jawab Keenan pasrah.
"Kalau begitu saya akan menghubungi asisten tuan Richard untuk meminta perpanjangan waktu tuan satu jam lagi," imbuh Rendi.
"Bukankah kamu sudah tahu seperti apa tuan Richard itu, beliau tidak pernah memberikan toleransi dalam bentuk apa pun dan kepada siapa pun," kata Keenan datar memandang kosong ke arah depan.
Rendi sangat prihatin dengan keadaan bos nya sekarang, bukan seperti Keenan Dirgantara yang dia kenal selama ini. Persentasi ini sangat benar - benar mempengaruhi reputasi dari perusahaannya. Bahkan dia sudah berjanji akan memenangkan tender ini kepada Kakek Dirga sebelum Kakeknya bertolak ke negeri Ginseng seminggu yang lalu.
Sekarang Kakek Dirga memang sedang berada di Korea untuk berobat dan mengurus beberapa perusahaannya di sana.
Keenan tidak bisa membayangkan betapa kecewanya sang kakek jika sampai tahu dia tidak dapat memenangkan tender itu. Karena bekerja sama dengan perusahaan milik Tuan Richard adalah impian kakek Dirga sejak dulu.
"Sekarang tinggalkan saya sendiri Ren," titah Keenan.
"Tapi tuan..."
"Aku rasa telinga kamu masih berfungsi normal kan Ren," ucap Keenan dengan tatapan tajam.
Rendi yang mendapat tatapan tajam dari bos nya langsung meninggalkan Keenan sendirian dalam ruangannya.
"Siapa pun yang melakukannya tidak akan pernah aku maafkan, termasuk jika benar wanita sialan itu pelaku nya," geram Keenan mengepalkan tangannya.
**
Di ruangan Rendi,
Nayla masih duduk di sofa yang di ruangan itu dengan tatapan kosong, tangannya menggenggam gelas air putih yang Dewi berikan tadi dengan sedikit gemetar. Sisa air mata masih menghiasi wajah cantiknya, mata nya terlibat sembab, bekas cengkraman tangan Keenan tadi sudah mulai terlihat membiru. Dewi sangat prihatin melihat keadaan Nayla sekarang. Walaupun dia baru bertemu dengan Nayla, tapi entah mengapa dia merasa sudah dekat dengan gadis itu.
__ADS_1
"Nay, kamu benar tidak apa - apa?" tanya Dewi khawatir.
Nayla hanya menggelengkan kepala nya dan tersenyum tipis menandakan bahwa dia tidak apa - apa.
"Tapi itu, tangan dan leher kamu membiru lho Nay, kamu tunggu sebentar aku ambilkan salep dulu ya?"
"Tidak usah mba, ini tidak sakit kok," jawab Nayla dengan menampilkan senyuman manis nya.
"Luka ini tidak terasa sakit sama sekali mba, tapi luka yang ada dalam hati ku yang terasa sakit sekali," batin Nayla.
"Tapi Nay...."
Belum sempat Dewi menyelesaikan bicara nya, tiba - tiba suara pintu ruangan itu terbuka dan muncullah Rendi.
Melihat asisten suami nya datang, Nayla mendongakkan kepala nya dan berdiri menghampiri Rendi yang masih berdiri mematung diambang pintu.
"Demi apa pun, bukan saya yang melakukannya pak, saya berani bersumpah demi kakek saya. Saat saya berada di dekat laptop Tuan Keenan laptop itu sudah seperti itu sedang memproses file untuk dihapus," jelas Nayla.
"Iya Nona, saya sudah tahu itu karena saya dan tuan Keenan sudah mengecek CCTV, tapi seperti nya Tuan Keenan tidak percaya jika bukan anda pelaku nya Nona," ucap Rendi.
"Tidak apa - apa pak Rendi, jika Tuan Keenan tidak mempercayai saya itu hak dia, karena bagaimana pun dia melihat sendiri jika saya berada di dekat laptop nya saat itu," tutur Nayla dengan mencoba untuk tegar.
Rendi menatap iba pada istri dari Bos nya itu, dia berjanji akan menyelidiki kasus ini secara diam - diam tanpa sepengetahuan Keenan. Karena dia sudah mencurigai seseorang dalam kasus ini dan dia juga yakin sekali jika bukan Nayla pelakunya.
"Terus bagaimana dengan persentasi nya nanti pak," tanya Dewi.
"Sepertinya tuan Keenan sudah pasrah, dan tidak akan menghadiri persentasi itu," jawab Rendi.
"Jika tuan Keenan gagal dalam persentasi ini, apa kata pemegang saham nanti pak, pasti akan berpengaruh besar dengan perusahaan kita," ujar Dewi.
"Aku tahu itu, tapi..."
__ADS_1
"Dimana persentasi itu akan dilakukan pak Rendi," tanya Nayla memotong ucapan Rendi.
"Di Hotel XX," jawab Rendi singkat.
"Jam berapa persentasi itu dimulai?" tanya Nayla kembali.
"Jam 10 Nay.." jawab Dewi.
"Bearti masih ada waktu 30 menit lagi," lirih Nayla melihat jam dinding yang ada di ruangan Rendi.
"Pak, ayo antar saya ke sana," pinta Nayla.
"Untuk apa kita ke sana Non sedangkan..."
Nayla langsung menarik tangan Rendi dan bergegas meninggalkan ruangan itu.
"Nanti akan saya jelaskan pak, yang terpenting antar saya ke hotel itu dulu," pinta Nayla.
Tanpa banyak pertanyaan lagi, Rendi pun akhirnya menurut kepada perintah Nayla. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi itu pun atas perintah Nayla. Bahkan Nayla memberitahukan jalan pintas menuju ke hotel itu, karena dia ingat saat tadi pagi dia pergi ke kantor Keenan jalan pintas yang dia lalui bisa menuju ke hotel itu.
Hanya butuh waktu sepuluh menit akhirnya dia dan Rendi sampai di hotel itu. Tidak Inging membuang waktu, Nayla dan Rendi langsung masuk ke hotel dan mencari keberadaan tuan Richard.
Saat di perjalanan tadi Nayla menceritakan rencana nya kepada Rendi, awalnya Rendi ragu tapi karena dia melihat keseriusan dan tekad yang tinggi dari Nayla akhirnya dia setuju dan mendukung apa yang akan Nayla lakukan nanti. Untuk masalah hasil nya nanti seperti apa dia tidak peduli, yang terpenting dia sudah berusaha.
"Itu tuan Richard," ucap Rendi menunjuk ke seorang paruh baya yang sedang berjalan ke arah lobi hotel.
Nayla yang melihat arah telunjuk Rendi langsung bergegas berlari menghampiri tuan Richard.
Nayla mengatur nafas nya yang ngos - ngosan karena berlari dan merapikan penampilannya yang acak - acakan sebelum bertemu dengan Tuan Richard.
"Maaf Tuan Richard, boleh saya meminta waktu anda sebentar," sapa Nayla dengan sopan saat berada di depan tuan Richard.
__ADS_1
Tuan Richard mendongakkan kepala nya melihat ke arah wanita yang berada di depannya.
"Bukankah gadis ini yang tadi sudah menyelamatkan ku tadi," batin Tuan Richard mengernyitkan dahi nya.