
Masa Orientasi Siswa sudah berakhir. Kini saatnya masa perkuliahan efektif. Jadwal kuliah buat satu semester pun sudah terpampang di papan pengumuman di tiap fakultas.
"inilah perjuangan sesungguhnya," semangat Wila! Batin Wila berkata.
Saat pulang dari kampus sengaja ia mampir ke kantin dulu, ia masih penasaran ingin tahu apa bisa gerbang belakang itu di buka? Jadi ia bisa melewati gerbang itu saat masuk dan pulang kuliah.
Kantin sedang lengang, tak begitu banyak mahasiswa yang ada di sana. Ia celingukan mencari mencari, kepada siapa harus bertanya?"
Mau pesan apa Neng?". Tanya seorang ibu mengagetkan Wila. "Oohh, ngga Bu, saya cuma mau tanya , kalau gerbang yang disana kapan di bukanya?" Sambil menunjuk ke arah gerbang di tembok belakang kantin.
"Ooohh, itu gerbang darurat, biasa di gunakan kalau ada peristiwa genting, seperti ada demo Mahasiswa, atau kalau ada insiden kebakaran di Kampus, maka gerbang itu sebagai jalur evakuasinya." Katanya.
"Jadi ga bisa di buka tiap hari, Bu?" tanya Wila penasaran. "Nggak Neng, kecuali kalau ada izin dari pihak Kampus."Ada apa Neng, kok nanyain itu?".
" Ini saya kan rumahnya di belakang sana, jadi kalau gerbang itu di buka, saya bisa lewat sini tiap hari". Katanya sambil tersenyum.
"Ooh begitu, nanti saya coba bicarakan dengan pihak Kampus." Iya, terima kasih Bu, kalau begitu saya pulang dulu." Kata Wila sambil membalikkan badan.
"Neng, katanya mau pulang?". Tanya Ibu Kantin."lewat sini aja, ibu yang pegang kuncinya."Katanya ."jadi boleh lewat sana bu", Wila kegirangan.
Baru mau mengikuti ibu kantin terdengar ada yang memanggilnya." Wila, bisa ikut sebentar?" katanya. Wila menoleh ke asal suara, dilihatnya Andi melambaikan tangan kepadanya.
"Maaf Bu, lain kali saja, saya masih ada urusan". "Iya, Neng". Kata Ibu kantin sambil tersenyum. Wila menghampiri Andi.
"Ada apa?". Tanyanya sesaat setelah ada dihadapan Andi. "Temenin aku nyari perlengkapan buat cucunya Bi Asih, kalau cewe kan pasti lebih ngerti" katanya.
"Hah, ga salah?, kenapa Bi Asih nyuruhnya sama kamu?" . Kata Wila sambil tersenyum merasa lucu. " Besok aku mau ke Kampung, biar sekalian jadi bi Asih nitip beliin ini buat cucunya.
__ADS_1
Katanya sambil memperlihatkan daftar barang yang harus di beli. "Ok, jadi kita belinya di mana?", tanya Wila. "di matrial." Kata Andi sambil tertawa.
"Sini ikut saja." Ajaknya. Mereka berjalan menuju parkiran. Di kejauhan Sarah dan Susi melihat mereka dengan perasaan tidak suka. "Kok bisa ya, si cupu itu dekat sama Andi." Kata Sarah.
"Dasar gateul." Susi menimpali.
Saat di parkiran , kembali Wila melihat motor yang sama yang waktu itu memberi tumpangan kepadanya. "siapa pemilik motor itu?".
Batinnya berkata. Ia kira itu milik Andi. Tapi ternyata hari itu Andi membawa sebuah Katana berwarna hitam. "Ayo, cepat masuk!" katanya saat sudah ada di samping Wila.
Tanpa menjawab, Wila masuk ke kedalam mobil. Dan secepatnya meninggalkan Kampus dan meluncur di jalanan. katanya Pak Caca sempat dirawat di klinik ya?" Andi membuka pembicaraan.
"Iya, bersamaan dengan waktu registrasi kemarin, sempat di rawat selama dua hari". Kata Wila.
Tahu dari mana kalau Bapak sakit". "Tadi Bi Asih sempat memberi tahu, dan Ibumu senang sekali katanya saat tahu kita satu Kampus." Kata Andi. Wila diam saja .
Mobil memasuki parkiran sebuah supermarket. Andi turun di ikuti Wila. Mereka memasuki supermarket dan langsung menuju stand perlengkapan bayi dan anak.
"Nih,daftarnya !" Kata Andi memberikan secarik kertas berisi daftar belanjaan. Wila menerimanya.
"Lucu ya." Kata Wila saat melihat lihat pakaian bayi yang berjajar. "Buat berapa bulan ,Bu? Buat anaknya ya?". Katanya lagi. "eeehh, berapa bulan Ndi anaknya?" Wila bertanya pada Andi.
"Baru mau tiga bulan kayaknya". Katanya ga yakin." iihh, kamu". Kata Wila. Pelayan merasa bingung melihat mereka berdua.
"Nanti saya tanyakan dulu". Kata Andi sambil mengeluarkan Hand phone dan terlihat sedang mengetik sesuatu. " lima bulan katanya". Andi menjawab.
Pelayan terlihat membantu Wila dan Andi mencarikan barang barang yang akan dibelinya. Kini mereka giliran antri dikasir.
__ADS_1
Pengunjung lain yang sama lagi antri melihat Wila dan Andi sebagai pasangan muda. Mereka terlihat senyum senyum . Andi membayar semua belanjaannya. Dan memberikan sebuah kresek kepada Wila.
"Ini buat loe, anggap saja sebagai imbalan sudah mau nganter ke sini." Katanya. "Ga usah." Tolak Wila. "Sudah terima saja!". Katanya maksa.
" Ya udah, terima kasih." Wila akhirnya mau menerimanya. " Kapan mau ke kampung? ,"tanya Wila saat mereka memasuki parkiran. "Week end aja". Kata Andi.
" Kenapa? Mau sekalian ikut?" tanyanya. "Ngga, baru juga beberapa hari di sini, masa pulang" . Katanya. Setelah menyimpan barang barang dimobil, mereka kembali meluncur di jalanan.
Sepanjang perjalanan pulang Wila menerka nerka, yang menolongnya waktu itu mungkin bukan Andi, karena ia sedang di luar kota. Dan parfum Andi pun berbeda dengan aroma parfum si penolong.
Wila pun tidak pernah melihat Andi ke Kampus mengendarai motor . Tiba tiba ia teringat , kemarin di kelas mencium aroma parfum yang sama dengan aroma parfum si penolong, berarti ia ada di kelasnya.
Apakah ia teman sekelasnya ? Ntahlah Wila belum bisa memastikan. " Kok melamun? Kenapa lapar ya? ". Pertanyaan Andi mengagetkan Wila. " Oiohh, eehh, ngga." Katanya.
Andi menepikan mobilnya ke sebuah kedai makanan. "Makan dulu, yuk!". Ajaknya. Wila menurut saja, karena meskipun ia menolak, Andi pasti akan memaksanya.
Andi langsung memesan makanan untuk mereka berdua. "aku jadi ga enak, di traktir terus". Kata Wila . "kamu itu satu satunya orang yang aku kenal di Kampus, aku jadi merasa punya saudara di sini." Katanya lagi.
" Cuma saudara?" Tanya Andi. " Terus apa ?" Wila balik bertanya. Andi menghentikan makannya dan memandang Wila. Wila tidak menyadari kalau Andi sedang memperhatikannya, ia cuek aja makan.
Deg, seketika wajahnya memerah saat menyadari Andi sedang memandangnya sedari tadi. Ia ambil gelas berisi jus alpukat dan meminumnya, untuk sekedar menenangkan perasaannya yang tiba tiba tidak karuan.
"Cuma saudara?" Andi kembali mengulangi pertanyaannya. " Iya, saudara , itu kan yang lebih baik, jadi kalau sama saudara kan bisa saling menolong". Jawab Wila.
" Lebih dari saudara juga aku mau" .Jawab Andi. Sejenak mereka terdiam seolah ingin mencerna maksud dari perkataan mereka. Duar, suara petir mengagetkan mereka.
Dan mereka segera menghabiskan makanannya, setelah itu kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang .
__ADS_1
Dan benar saja baru beberapa saat ada di jalan, hujan pun turun. Tak ada obrolan apa pun. Mereka saling diam seolah terhipnotis oleh derasnya hujan di luar sana.