
Setelah sarapan, Wila kembali membantu ibunya membereskan dapur. Dan sekarang giliran Hamzah yang menemani Bapak ngobrol, ditemani secangkir kopi panas.
"Kapan kalian berangkat?", tanyai Caca.
"Nanti habis dzuhur saja Pak, biar ga terlalu panas dijalannya",
"Bapak titip Wila, Bapak yakin Nak Hamzah bisa menjaganya dengan baik",
"Wila itu anak yang mandiri, selama dia merasa bisa, ia tidak akan meminta bantuan dari orang lain"
"Tapi Wila juga anaknya pemalu,sedari kecil, ia tidak suka dengan keramaian , ia cenderung pendiam. Tapi walaupun begitu, Wila anak yang pintar, ia tekun belajar", ucap Caca bangga.
"Wila kecil anaknya cengeng, kalau mau sesuatu ya, harus dituruti, kalau tidak, ia bisa menangis seharian", kenang Caca.
"Tidak terasa, sekarang ia sudah dewasa, sudah menikah lagi. Rasanya seperti mimpi",
"Bapak sangat menyayangi Wila, ia begitu dekat dengan Bapak, dulu waktu awal masuk SD, Bapak yang selalu mengantarnya sekolah, lucu sekali, tiap pagi Ibu yang selalu mengepang rambutnnya. Kadang kalau lagi rewel, Bapak selalu menggendongnya sampai ke sekolah", senyum Caca.
"Wila anak yang cerdas, prestasinya bagus sejak SD, padahal ia belajar sendiri, Bapak dan Ibu kan kurang mengerti dengan pelajarannya, rumit"
"Bapak titip sama Nak Hamzah, harus lebih sabar menghadapi Wila, kalau ada masalah, bicarakan baik-baik!, jangan pakai marah, apalagi saling menyalahkan",
Hamzah mengulum senyum mendengar cerita Bapak tentang Wila. Dirinya memang belum begitu mengenal Wila .
Kebersamaannya selama ini hanya lebih banyak membahas masalah perkuliahan saja . Jarang-jarang bercerita masalah pribadi.
"Bapak mau nanya, apa selama di sana Wila pernah sakit?, soalnya ia itu punya penyakit apa ya, Bapak juga belum pernah memeriksakan serius ke Dokter",
Hamzah sedikit terkejut mendengarnya, sekama di Kampus, ia belum pernah mendengar Wila sakit.
"Memang kenapa dengan Wila Pak?", Hamzah penasaran.Wila itu entah kenapa waktu kecil kalau menangis, selalu saja mimisan. Karena itu, sejak kecil, Bapak dan Ibu selalu memanjakannya",
"Apapun yang Wila minta, selalu dituruti, karena takut dia merajuk dan menangis?"
"Kalau saya belum pernah melihat Wila seperti itu, tapi nggak tahu dengan Bi Yeni, karena Wila kan lebih banyak tinggal di sana",
__ADS_1
"Ya, mudah-mudahan bukan apa-apa , dan tidak kambuh lagi", harap Caca.
"Oh iya, ada satu lagi, Wila kecil sangat takut saat naik mobil, ia mudah mabuk kendaraan, karena memang sewaktu kecil, ia jarang diajak jalan -jalan, Bapak dan Ibu kan lebih sibuk ke ladang",
"Tak jarang juga Wila ditinggal sendirian di rumah. Dia itu pemalu, jadi lebih senang menyendiri",
"Tapi sekarang sepertinya sudah banyak berubah, Wila jadi lebih berani saat berhadapan dengan orang banyak",
"Sekarang, giliran Nak Hamzah yang menasihati dan membimbing Wila", Caca menepuk pundak Hamzah.
Sesaat mereka terdiam,
Drttt....
Kemmbali Hand Phone Hamzah bergetar, dari kemarin ia sengaja matikan hand phone nya, karena tidak ingin kebersamaannya dengan Wila terganggu.
"Maaf, Pak saya terima telepon dulu", Hamzah berjalan ke halaman saat di lihat Sarah yang meneleponnya.
"Lagi dimana?, kenapa dari kemarin Hand phone nya nggak aktif?, kapan pulang?", Sarah langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
"Aku tunggu , langsung pulang ya, jangan kemana- mana dulu!",
Sarah langsung menutup sambungan teleponnya.
"Hah", Hamzah menarik nafas kasar. Sepertinya ini baru permulaan, nanti pasti ia akan sering berhadapan dengan situasi seperti ini, apalagi saat pernikahannya dengan Wila terkuak.
Ia simpan kembali Hand Phone nya di saku kemeja, lalu kembali menghampiri ayah mertuanya.
Hamzah menyeruput kopi yang mulai dingin untuk menenangkan hatinya. Caca meliriknya , tapi tidak berani bertanya.
"Hayo, lagi ngomongin aku ya?!", Wila menghampiri. Ia membawa sepiring setoples saroja.
Hamzah tersenyum , ada rasa ketakutan dihatinya, ia takut tidak bisa menjaga Wila, sebagaimana harapan Caca.
Bukan masalah materi yang ia takutkan, tapi Sarah dan ibunya, bagaimana reaksi keduanya saat mengetahui pernikahannya dengan Wila.
__ADS_1
Kedua orang tua mereka pun tidak tahu, kalau pernikahannya dengan Wila adalah pernikahan yang kedua.
"Oh, iya Pak, nanti akan ada yang mengirim bahan-bahan bangunan, Bapak tinggal terima saja, dan untuk sementara, mungkin Bapak dan Ibu harus pindah dulu, menunggu pembangunan selesai."
Hamzah diam, tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Bapak pikir, nggak usah pindah, di sini aja, bekas rumah di buat saung dulu, supaya ada tempat berteduh saja buat Bapak dan Ibu", ucap Caca. Ia tidak ingin menambah repot menantunnya.
"Iya, Ibu juga setuju, nanti sebelum dibangun rumah baru, ya buatkan dulu Bapak dan Ibu saung, di sini aja", Yati menunjuk lahan kosong di samping rumahnya.
"Iya, nanti saya sampaikan kepada Pak RT, biar para pekerja membuatkan Ibu dan Bapak saung, sebagai tempat tinggal senentara", ucap Hamzah.
"Mudah-mudahan kita diberi umur panjang dan kesehata, rencananya setelah lulus, kita mau menetap di sini, kita bangun sebuah klinik kesehatan di sini, biar membantu warga di sini juga, kalau sakit, tidak perlu berobat jauh", Hamzah menerawang.
"Wah, itu rencana bagus, Nak, semoga tercapai", Caca terlihat gembira. Membayangkan anak dan menantunya saat sudah lulus nanti.
"Dulu, saat masih ada Nenek dan kakeknya Wila, Kampung ini masih gelap, belum ada listrik. Kalau ada yang sakit, cukup diberi air dari orang yang di anggap pintar, mau pergi ke Dokter , jaraknya jauh, mana dulu itu belum ada kendaraan",
"Kalau ada orang yang sakit dan harus segera ke Dokter, warga di sini membawanya dengan jampana, di gotong bersama-sama",
"Makanya kalau ada orang sakit parah, jarang tertolong, karena selain jarak ke Dokter yang jauh, biayanya juga tidak terjangkau, maka banyak dari warga di sini yang berobat ke tabib, atau bahkan meramu obat sendiri dari resep turun -temurun", ucap Caca.
"Makanya Bapak sangat berharap pada kalian, Nakk Hamzah kan calon Dokter, dan Wila, calon Perawat, jadi cocok tuh kalau nanti membuka klinik kesehatan di sini",
"Bapak sudah senang, walau baru membayangkannya juga",
"Iya Aamiin Pak, semoga kuliah kita cepat beres, biar bisa mewujudkan impian Bapak, dan cita-cita kami",
Wila kembali menunduk, melihat perutnya yang sebentar lagi akan kelihatan gendut. Apa ia akan mampu menyelesaikan kuliahnya dengan dia yang akan tumbuh semakin besar.
Apa iya, dirinya masih bisa melanjutkan kuliah dengan situasi sekarang?,
Atau apakah pihak Kampus masih membolehkan dirinya tetap kuliah walau dalam keadaan hamil?, dan beasiswanya tidak di cabut.
Semua pertanyaan itu terus berkecamuk di benaknya.
__ADS_1
Hamzah menyadari Wila melamun, ia sentuh lembut tangannya,"Bersiaplah, kita sebentar lagi berangkat", Hamzah memegang erat tangan Wila, seolah ingin mengalirkan semangat kepadanya.