Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Salah Faham


__ADS_3

Hamzah tampak gelisah, ia terus mengecek gawainya. Berharap Andi segera menghubunginya, ia sudah begitu rindu kepada Wila.


Namun setelah sekian lama menunggu, gawainya tak juga berdering. Dengan berat , ia langkahkan kakinya menuju Villa kembali.


"Pagi tuan?", sapa Satpam di ambang gerbang.


Hamzah tersenyum, "Ucapkan saja salam Pak, kita kan sama-sama muslim",


"Emm, Assalamu'alaikum Tuan?", ucap Satpam sambil tersenyum.


"Wa'alaikumsalam, nah begitu Pak, ucapan salam itu do'a", senyum Hamzah.


"Ini buat sarapan Pak", Hamzah memberikan bungkusan berisi gorengan yang tadi diberikan oleh Mang Darmat kepadanya, ia tidak memakannya karena hari ini sudah berniat untuk puasa.


"Aduh, merepotkan Tuan", Pak Satpam mengambilnya dengan sungkan. Tidak lupa ia pun berterima kasih.


Hamzah bergegas masuk , rumah tampak sepi, Bi Marni mungkin sedang ke Pasar. 'Kemana Sarah', hati Hamzah bertanya.


Ia menaiki tangga, saat tepat berada di depan kamarnya, ia mendengar seseorang berbicara, dari nadanya terdengar seperti sedang marah.


"Dasar nggak bisa diandalkan, masa begitu saja tidak bisa, bisanya cuma minta duit saja, kerjanya nggak benar",


"Maaf ...,maaf...., uangnya sudah di tangan, kerjanya nggak becus",


"Masa harus aku yang turun tangan",


"Nggak usah , tahan dulu!, biarkan saja dulu!, kalau dilanjutin sekarang, sama dengan bunuh diri, mereka pasti lagi menggali informasi, kalau kalian beraksi, bisa mampus",


Hamzah yang sedari tadi berdiri di depan pintu mengernyitkan dahinya, ia masih jelas bisa mendengar, itu suara Sarah.


Tapi sedang bicara dengan siapa?, apa yang sedang mereka bicarakan?",


"Apa ada yang melihat aksi kalian kemarin?",


"Bagus, sekarang lihat saja dulu perkembangannya, kita main cantik. Nanti kalau sudah reda, kita susun rencana lagi",


"Hassyimmm", Hamzah bersin.


Seketika suara di dalam kamar tidak terdengar lagi.

__ADS_1


"Ceklek", suara pintu terbuka


Sarah keluar dengan menenteng Hand Phone, "Sejak kapan kamu di sini, Mas?", introgasi Sarah.


"Barusan" , refleks Hamzah.


"Kebiasaan kalau sudah keluyuran pagi-pagi", Sarah melangkah masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Bukan keluyuran, tapi habis shalat ke Masjid", bela Hamzah.


"Alasan , shalat itu bisa di sini juga", Sarah tidak mau kalah.


"Iya....tahu, tapi shalat berjamaah di Masjid itu yang lebih baik bagi seorang laki-laki",


"Shalat berjamaah di Masjid itu mempunyai beberapa keutamaan, pertama shalat berjamaah akan mendapatkan ganjaran pahala sebanyak 27 kali lipat, kedua, shalat berjamaah lebih disukai Allah SWT, ketiga akan dijaga dari godaan setan, ke empat, akan dibebaskan dari api neraka, dan yang kelima, akan dismpuni dosa-dosanya yang lalu",


"Apa kamu tidak ingin mendapatkan lima keutamaan tadi?", jelaskan Hamzah.


"Iya, tapi kan bisa dilakukan di sini juga, nggak usah ke Masjid" kekeh Sarah.


"Aku???, berjamaah di sini?, dengan siapa? , kamu??",


"Kamu itu ya, selalu mematahkan perdebatanku dengan dalil" , gerutu Sarah.


"Ting...", sebuah notifikasi masuk di Hand phone Sarah. Ia membukanya. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya.


"Nih...coba lihat, apa yang sedang mereka lakukan, mungkin pacaran ya?, bebas sudah nggak ada kamu di sana", Sarah mendelik melihat ke arah Hamzah.


Dia memperlihatkan layar hand phone nya kepada Hamzah. "Coba lihat, sebenarnya sedang apa mereka? , ada hubungan apa di antara mereka berdua?",


Hamzah mengambil hand phone Sarah dan terkesiap melihat foto yang ada di sana , jelas sekali Andi dan Wila sedang berpelukan.


Wajah Hamzah memerah menahan marah , 'Pantesan saja dari tadi di tunggu, tidak ada , bukannya menyambungkan telepon ke Wila, malah asik-asikan berduaan' , hati Hamzah bicara.


Sarah memperhatikan perubahan wajah Hamzah dengan senyuman penuh kemenangan.'Mungkin dengan melihat foto itu, Hamzah akan mulai melupakan gadis kampung itu, atau bahkan akan balik membencinya', pikir Sarah.


"Sudah jelas kan?, bagaimana dia itu, baru di tinggal beberapa bulan saja sudah berpaling, sama Andi lagi, ini mah seperti pagar makan tanaman", cerocos Sarah.


Sekarang ia merasa di atas angin, ia berharap dengan melihat foto tadi, Hamzah akan bisa melupakan Wila.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan dibahas lagi", Hamzah mengembalikan hand phone Sarah.


Hamzah berlalu menuju balkon, ia memandangi hamparan kebun teh yang menghijau , pikirannya tidak bisa lepas dari foto tadi, 'Apa iya mereka mengkhianatinya? , tapi kok bisa sedekat itu', Hamzah meremas kasar kepalanya.


Tapi yang tidak kalah membuatnya penasaran yaitu obrolan Sarah tadi, dengan siapa Sarah bicara?,


"Gagal...?, Apanya yang gagal?, sebenarnya apa yang sedang Sarah rencanakan?", Hamzah makin pusing saja.


Tanpa ia sadari, sedari tadi Andi berusaha meneleponnya. Andi ingin memberitahukan kejadian yang tadi menimpa Wila,


Andi merasa khawatir kalau hal yang sama akan menimpa Wila lagi. Apalagi mendengar keputusan dari Bu Rida.


Sebagai suami, sudah selayaknya ia melindungi Wila dan calon bayinya.


Hamzah beranjak ke dalam, ia baru sempat memegang Hand phone lagi, dan ia kaget melihat ada beberapa panggilan yang masuk dari Andi.


"Masih berani ternyata", dan karena marahnya belum reda, Hamzah melewatkan begitu saja chat yang masuk dari Andi.


Hamzah masih kesal mengingat foto Wila dan Hamzah tadi . 'Berani-beraninya mereka mengkhianatiku', batin Hamzah masih dongkol, tapi bagaimana pun juga, Hamzah merasa sangat perih, setelah sekian lama meninggalkan Wila, ia begitu kangen, tapi sekalinya bertemu walau hanya melihat foto, tapi kenapa harus dengan Andi.


Andi , orang yang ia percaya untuk menjaga Wila , kenapa bisa-bisanya mencuri kesempatan untuk mendekatinya. Dia memanfaatkan keadaan.


Hamzah tahu kalau Andi itu menyukai Wila, tetapi ia memilih mundur saat mengetahui dirinya pun menyukai Wila.


Dan kini di saat dirinya jauh dari Wila, Andi masuk dan memanfaatkan keadaan. Sungguh sebuah kenyataan yang menyakitkan.


Apakah Andi sudah melupakan semua kebaikannya, hingga kini ia berani mengkhianatinya.


Hamzah menyimpan Hand Phone nya di dalam tas . Ia beranjak ke luar dari kamarnya.


Ia mendapati Sarah sedang sarapan. Melihat Hamzah turun dengan menekuk wajahnya, membuat Sarah senang. Setidaknya satu rencana untuk menjauhkan Hamzah dari Wila sudah berhasil.


Sarah tersenyum , "Sini duduk!, temani aku sarapan!", senyum Sarah.


"Nggak, maaf , saya mau keluar sebentar",


Sarah memperhatikan Hamzah, 'Sepertinya Foto itu ampuh membuat dia lemah', Sarah tersenyum sinis.


'Semoga saja itu ampuh membuatnya melupakan gadis kampung itu', batin Sarah bersorak .

__ADS_1


Kini ia sedikit lega, satu langkah untuk menyingkirkan Wila di hati Hamzah sudah berhasil.


__ADS_2