
Begitu pulang dari Rumah sakit, Sarah langsung menghubungi agen Baby Sitter. Walau Hamzah menyarankan untuk merawatnya sendiri, Sarah tidak mau.
Padahal Bi Marni pun bersedia untuk membantunya. Bahkan dari awal Sarah tidak mau menyusui anaknya.
Tidak ada yang bisa membujuknya, Sarah memang tidak pernah mau mengikuti saran dari orang lain, dia selalu menuruti kata hatinya.
Itu yang membuat Hamzah semakin tidak respect kepadanya. Apalagi ia sudah berencana untuk menemui Wila, ia ingin menemani Wila disaat melahirkan.
Suara tangis bayi memenuhi ruangan, Hamzah yang baru selesai shalat Subuh terburu -buru menuju kamar bayi. Benar saja Sarah di sana terlihat asik memainkan hand phone nya, dan membiarkan Hazel menangis.
"Ya Allah Sarah, itu anakmu menangis, apa tidak dengar?", Hamzah mendekat ke ranjang bayi. Ia bingung harus bagaimana , dia tidak ngerti dengan keinginan bayi.
"Itu kasih susu aja, dia lapar kayaknya", sahut Sarah yang tidak bergeming sedikit pun.
"Ya, sama kamu dong, masa aku sih?,
"Aduh ribet amat sih, tinggal seduh saja dengan air, lalu kasih ke anaknya", sewot Sarah.
"Astaghfirullah, kamu itu tidak berubah, sifatmu masih sama",
"Ya, memang inilah aku, aku tuh paling nggak suka ada orang yang nyuruh-nyuruh, bahkan memaksa aku untuk melakukan sesuatu yang aku nggak suka, harusnya kamu tahu itu",
"Dengar ya, tugas aku sudah selesai, aku sudah bersamamu sampai bayi itu lahir, sekarang aku akan kembali mengejar cinta sejatiku", ucap Hamzah.
Sarah seakan tersentak, ia menghampiri Hamzah yang sedang memberi susu anaknya.
"Apa?, kamu mau mengejar gadis kampung itu?, silahkan!, gadismu kini sudah hamil anaknya Andi", cibir Sarah.
"Ternyata gadis kampungmu itu kelihatannya saja polos ya, ternyata genit juga", Sarah kembali mencibir.
"Diam!, tahu apa kamu tentang dia?", Hamzah memandang lekat Sarah.
"Anehnya dia selalu saja selamat", gumam Sarah.
"Apa kamu bilang?, jangan katakan kalau kamu dalang di balik semua kejadian yang hampir mencelakakan Wila",
"Kalau iya kenapa?, mau marah, mau penjarakan aku?,
Hamzah mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia tidak akan memaafkan Sarah jika itu benar terjadi.
__ADS_1
"Sarah, lihat aku!, apa benar kamu yang ada dibalik semua kejadian buruk yang menimpa Wila?", Hamzah menatap lekat Sarah.
"Itu semua gara-gara kamu juga, kamu yang selalu menghindar dan menolak aku, dan semua itu gara-gara gadis kampung itu kan?",
"Aku benar-benar tulus mencintaimu, sejak awal kuliah dulu, tapi kenapa kamu lebih memilih gadis kampungan itu, apa kurang aku?, aku lebih segalanya dari dia", sewot Sarah.
Tanpa sepengetahuan mereka, Ibu Rahmi sudah sampai di villa, dia sengaja tidak mengabari Sarah akan rencana kepulangannya itu, dia ingin membuat surprise .
Begitu mendengar Sarah sudah melahirkan seorang bayi perempuan, Rahmi begitu antusias, dia membeli semua kebutuhan untuk cucu pertamanya, sampai full satu koper.
"Alhamdulillah nyonya, kok pulang nggak ngabarin Bibi dulu", rengkuh Bi Marni begitu melihat Nyonya nya sudah ada di depan pintu.
"Iya Bi, sengaja, biar surprise", senyum Bu Rahmi.
Bi Marni membawakan koper Bu Rahmi. "Yang ini biar saya saja, itu perlengkapan si kecil, dimana mereka?", Bu Rahmi melihat sekeliling rumahnya yang sepi.
"Mungkin masih di atas Bu?", jawab Bi Marni.
"Iya, biar saya langsung ke atas saja Bi", Bu Rahmi membawa koper yang satunya lagi ke lantai atas.
Baru beberapa anak tangga ia lalui, terdengar suara tangis bayi dan orang yang sedang bertengkar.
"Sampai kapanpun aku benci gadis Kampung itu, dia sudah merebutmu dari aku, ragamu saja yang ada bersamaku, tapi hatimu tidak", suara Sarah mulai terdengar serak.
"Dengar ya, bukan dia yang merebutku dari kamu, tapi kamulah yang sudah merebut aku dari dia. Dari pertama, aku cintanya sama dia, bukan kamu, kamunya saja yang licik, dengan sengaja kamu menjebak aku malam itu, untuk apa?, untuk menutup aibmu kan?, kamu sudah hamil, entah sama siapa, tapi yang jelas, dia bukan anakku", tegas Hamzah.
Degh, Bu Rahmi seakan tersambar petir, ia mendengar kenyataan yang pahit, memang dia tahu Sarah sudah hamil saat hari pernikahannya. Dan Bu Rahmi menyangka kalau itu perbuatan Hamzah, ternyata bukan.
Ia makin merapatkan tubuhnya ke tembok, ia ingin lebih jelas mendengar semuanya.
"Kamu yang sudah memperjara hidupku, kalau kamu tidak sedang hamil?, aku akan meninggalkanmu di hari pernikahan",
"Aku berada di posisi yang sulit, aku tidak menyentuhmu karena kamu sedang hamil anak dari laki-laki lain, aku pun tidak bisa menceraikanmu karena kehamilanmu itu, sekarang, bayimu telah lahir, maka sudah tidak penghalang lagi bagiku untuk meninggalkanmu",
"Ok, silahkan , pergi saja!, silahkan kejar gadis kampungmu itu , tapi aku dengar saat ini dia juga sudah hamil bukan?, dia sudah menikah dengan Andi, kamu juga mau merusak hubungan mereka?", seringai Sarah.
"Kalau tidak ada dia, mungkin gadis kampungmu itu sudah lama celaka",
"Jadi benar, kamu yang telah membayar seseorang untuk mencelakakan Wila?",
__ADS_1
"Ini sudah kriminal Sarah, keterlaluan",
"Aku benci gadis itu, aku ingin dia celaka, bahkan aku ingin dia tiada", aku Sarah.
"Sekarang kamu mengejar dia?, sudah terlambat, dia sudah menjadi istri orang",
"Kamu tidak tahu apa-apa Sarah", senyum Hamzah.
"Aku akan tetap meninggalkanmu dan menemui dia", tegas Hamzah.
"Kamu ini bodoh apa?, sudah jelas ada aku, istri sahmu, malah mau mengejar istri orang",
"Iya, aku memang bodoh, aku bodoh karena dari awal tidak punya keberanian untuk membela diri, aku bodoh karena tidak berani menolakmu, aku bodoh karena telah masuk dalam perangkapmu,aku bodoh karena tidak berani meninggalkanmu dan aku bodoh telah meninggalkan cinta sejatiku", tegas Hamzah.
Sarah membelalak, "Kamu....., apa sih istimewanya gadis kampung itu, hingga kamu sampai tergila-gila",
"Wila, Sarah. Gadis kampung itu punya nama",
"Iya, apa istimewanya dia, hingga setelah dia menikah pun kamu masih mau mengejarnya",
"Kamu ingin tahu, kenapa aku masih ingin mengejar Wila?, dengarkan aku baik-baik Sarah, ada hal yang sampai saat ini tidak kamu ketahui, saat ini memang Wila sedang hamil, dan dia sudah menikah, tapi bukan Andi suaminya", Hamzah diam sesaat.
"Aku suaminya, aku ayah dari anak yang sedang dikandung Wila", aku Hamzah.
Sarah makin terbelalak, merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kamu...., kamu tidak lagi bercanda kan?, bagaimana bisa kamu menikahi gadis......",
"Wila", Hamzah menyambar ucapan Sarah.
"Ya..., dia, bagaimana bisa?",
"Aku menikahinya secara sah, setelah aku nenikah dengan kamu",
"Jadi kamu telah membohongiku?, kamu telah mengkhianatiku?", geram Sarah.
"Dari awal kamu sendiri yang bohong, kamu sudah hamil dari laki-laki lain, tapi malah menjebak aku untuk bertanggung jawab, tidak pernah terjadi hubungan apa-apa diantara kita, aku tidak pernah menyentuhmu, karena kamu sudah menjadi milik laki-laki yang menjadi ayahnya Hazel",
Bu Rahmi benar-benar tidak menyangka , kedatangannya untuk memberi surprise kepada Sarah, malah dirinya yang benar-benar Surprise mengetahui fakta tentang hubungan antara Sarah dan Hamzah.
__ADS_1