Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Cerita Mita


__ADS_3

Yeni membawa Wila masuk ke kamarnya, ia tidak ingin berlama-lama berurusan dengan Hamzah.


Kelakuan Hamzah dinilainya sudah keterlaluan, Yeni tidak ingin Wila seperti dirinya , depresi, saat ditinggalkan oleh suaminya.


"Sudah, tenangkan diri dulu , nggak usah ke Kampus dulu, nanti kalau sudah baikkan, boleh bantu Bibi lagi", Yeni mengusap kepala Wila, lalu bergegas ke luar.


Belanjaannya masih ada di ruang tamu , ia lihat Hamzah sudah tiada, Yeni berjalan ke teras dan melihat sekeliling untuk memastikan Hamzah sudah benar-benar pergi.


Yeni bergegas menyiapkan semua barang dagangannnya, ia kerjakan sendiri, karena Wila masih berada di kamarnya.


Selang beberapa detik, rumahnya mulai ramai dengan para pembeli. Yeni hampir kewalahan karena sendirian.


Untung saja Wila keburu datang. Ia sudah terlihat lebih baik, walau matanya terlihat sembab. Ia tidak ingin terus terpuruk, ia harus bangkit, masih banyak berguna yang dapat ia lakukan, dari pada terus-menerus menangisi Hamzah.


Wila mencoba tersenyum, menyembunyikan luka hatinya, ia harus terbiasa, ia juga harus siap bertemu setiap saat dengan Hamzah di Kampus dengan statusnya sebagai suami Sarah.


Wila ingin melupakan Hamzah, merelakan Hamzah bersama Sarah, mimpinya kali ini hanya ingin segera menyeselaikan Kuliahnya.


Saat sedang membereskan sisa jualannya, nampak Lela dan Mita berjalan menuju rumah Yeni.


Hatinya senang, jadi ada teman buat ngobrol.


"Assalamu'alaikum, mereka tiba di depn rumah.


"Wa'alaikum salam..."Wila lebih dulu menghampiri kedua temannya dan langsung berpelukan.


"Alhamdulillah, ayo masuk, duduk ya, aku ambilkan minum dulu biar enak ngobrolnya", Wila menyunggingkan senyuman sebelum sibuk menyiapkan minum bagi mereka.


"Ini, ayo makan dulu, mumpung masih panas!", Wila meletakkan nampan berisi teh panas dan sepiring gorengan.


Lela dan Mita saling lirik, 'Alhamdulillah, sepertinya Wila sudah baik kembali', fikir Lela.


"Nggak usah repot-repot, maaf nggak ngasih kabar dulu, karena tadi sempat menelepon, tapi hand phone nya tidak aktif", jelaskan Lela.


"Iya, sengaja, biar tenang aja",


"Oh iya, ini ada surat dari Pak Suparman, tadi beliau mencari kamu, tapi karena tidak ada, jadi dititipkan ke kita", ucap Lela.


"Iya , terima kasih, coba lihat, surat apa ya?", Wila membuka surat yang diberikan Lela padanya. Wila membaca dan setelah itu melipatnya kembali dengan reaksi datar.


"Apa katanya?" tanya Lela kepo.

__ADS_1


"Ini surat pemberitahuan kalau Sarah sudah memaafkan aku, jadi beasiswaku masih tetap berlanjut", ucap Wila menerawang.


Perasaannya datar, tidak senang, tidak sedih dengan isi surat itu.


"Kenapa tiba-tiba dia memaafkanmu?", Mita keheranan.


"Ya iya lah, secara tujuannya sudah tercapai saat ini, Hamzah sudah ia dapatkan", tebak Lela.


Wila meringis, ternyata begitu mahal, Hamzah di tukar dengan beasiswanya. Tapi inilah hidup. Tidak semua yang kita ingin bisa diraih bersamaan.


Seperti sebuah pertaruhan, bagaimana pun , kuliah Wila sangat bergantung pada beasiswanya. Secara ia dan orang tuanya tidak mampu membayar biaya kuliahnya full.


Lela memmperhatikan Wila, ia paham tentang apa yang temannya rasakan.


"Semangat Wil, kamu bisa!", ucap Lela.


Wila tersenyum hambar .


"Eehh, iya , kemarin Juna sempat ngobrol,katanya...",


"Hayo, pasti gibah lagi ya?!", Lela mennyambar pembicaraan Mita.


"Semalam, Juna sempat bicara kalau Sarah minggu kemarin datang kembali ke Karaoke tempat Juna kerja, katanya ia bertanya dan ingin melihat CCTV saat dirinya pulang tidak sadarkan diri waktu itu", jelaskan Mita.


"Sepertinya Sarah mencari tahu siapa orang yang terakhir bersamanya waktu di sana?, ia menanyakan teman lelaki yang bersamanya waktu itu".


"Kira-kira ada apa ya?", Mita melihat kedua temannya bergantian.


Wila dan Lela saling lirik,


"Nggak usah urusin masalah orang lah, masalah aku baru kelar", Wila tersenyum hambar.


"Iya siih..., tapi Juna sempat curiga, kalau Sarah itu ada main dengan laki-laki yang dicarinya itu",


"Ah kamu Mit, ada main apa?", Lela terkekeh.


"Ya gitulah", jawab Mita ambigu.


Wila dan Lela saling lirik, mereka tambah bingung mendengarnya.


"Kita lihat saja nanti, pasti ada sesuatu dengan Sarah", lanjut Mita. Ia kekeh kalau Sarah sedang menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


Wila juga sempat berfikir, kenapa setelah ia mendapatkan Hamzah , ia langsung memaafkannya, padahal waktu itu saat dirinya menemui Sarah untuk meminta maaf, malah ia dikerjain habis-habisan.


"Jangan berburuk sangka dulu, kita lihat saja kedepannya seperti apa, sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai,pasti tercium juga busuknya" , ungkap Wila.


"Sudah-sudah, jangan bicarain itu melulu, mending kita bahas buat acara bazar minggu besok", Lela mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


Lela tahu, Wila sedang menyembunyikan kesedihannya, terlihat dari cara senyum dan candanya yang hambar.


Berusaha menahan tangis dengan senyuman itu sakit sekali. Lela bisa melihat dari ekspresi Wila yang datar, ia tahu temannya itu sedang berusaha merelakan sesuatu yang ia sangat dambakan.


Tak terasa Adzan Dzuhur berkumandang, mereka bersia untuk berwudhu. Hanya Mita yang tetap asik dengan hand phone nya.


Katanya ia lagi dapat siklus bulanan, jadi tidak ikut shalat.


Deg,...


Seketika Wila terpana, ia seolah teringat sesuatu, ia lupa kapan terakhir kali ia dapat siklus bulanannya, ia mencoba mengingatnya.


Sepanjang shalat, Wila menangis, ia memohon ampun atas dosa besar yang telah ia lakukan bersama Hamzah.


Ada hal yang paling ia takutkan saat ini, ia takut ada sesuatu yang terjadi pada dirinya, akibat perbuatannya dengan Hamzah.


Lela merasa kaget saat melihat Wila terisak, ia memegangi tangannya, mencoba menguatkan Wila.


Lela menduga, pasti tangisnya Wila karena masalah Hamzah dan Sarah kemarin. Padahal ada hal lain yang lebih besar dari itu, hal yang jika benar terjadi, akan lebih menyulitkan hidup Wila.


Wila masih terduduk di atas sajadah saat Lela keluar dari kamarnya.


Wila mencoba membuka kalender di hand phonenya, ia suka menandai tanggal saat dapat siklus bulanan, ia hitung dan deg, jantungnya berdetak begitu kencang.


Tangannya gemetar, hingga hand phonenya terjatuh dari tangannya.


Wila bersujud, ia kembali memohon ampun, ternyata kejadian di gubuk bersama Hammzah meninggalkan bekas yang besar dalamm dirinya.


'Bagaimana ini, ini akan menjadi aib besar', pikirnya. Sementara Hamzah sudah tidak mungkin ia ganggu lagi, semuanya akan hancur, hidupnya, kuliahnya, dan orang tuanya akan begitu malu dengan aibnya ini.


Wila bangkit, ia coba hitung kembali siklus bulanannya, sudah telat tiga minggu. Haruskah ia ungkapkan masalah ini sama Hamzah?, tapi sudah terlambat.


'Apa, digugurkan saja, mumpung masih kecil, mumpung belum ada orang yang tahu ', pikirnya lagi.


Tapi Wila tidak ingin menambah lagi dosanya. Bagaimana pun ini adalah salahnya, sesuatu yang ada dirahimnya itu adalah satu-satunya bukti nyata cintanya sama Hamzah, ia ingin menjaganya, bagaimana pun caranya ia akan mempertahankannya.

__ADS_1


__ADS_2