
Semua Mahasiswa di kelas Wila sudah masuk semua, tinggal menunggu Bu Rida, Dosen hari ini. Tetapi setelah di tunggu beberapa saat, belum juga datang.
Tak lama ada yang masuk, Petugas bagian akademik, ia mengabarkan kalau hari ini Bu Rida ada halangan, tidak bisa masuk jam pagi, sebagai gantinya kelas di undur tiga jam berikutnya.
Suara riuh sorak pun pecah. Ada yang kecewa, ada juga yang bersorak senang, karena pagi ini tidak ada jadwal kuliah.
"Hah", Lela menarik nafas panjang. "Kalau tahu begini, tadi aku bisa antar adik sekolah dulu", sesal Lela.
"Kan biasanya sama Ibu?",
"Iya, hari ini Ibu membawa adik bayi ke Posyandu, jadi tidak bisa mengantar ke PAUD",
"Hm, terus bagaimana dengan nasib kita, masa mau nunggu tiga jam di sini?", Wila menyandarkan tubuhnya ke kursi, ia merasa malas, mau diam di Kampus, malas, apalagi kalau pulang lagi rumah.
"Kemana ya?", Lela pun tampak bingung.
"Oh iya, aku lagi ingin ke Masjid Al-Fitrah, sudah lama tidak ke sana", usul Wila.
"Good idea", Lela sumringah, ia pun merasakan hal yang sama .
"Terus, tunggu apa lagi?, ayo kita ke sana!", ajak Wila, ia langsung berdiri , namun tiba-tiba ia terhuyung, kepalanya mendadak pusing, pandangannya kabur, kelas seperti berputar, dan ia pun kembali duduk, menelungkupkan kepalanya ke meja.
Lela kaget mendapati Wila seperti itu. "Wila, kenapa?", Lela mendekati Wila dan mencoba memegang pundaknya.
"Kamu sakit?" , Lela mencoba mengguncang pundak Wila lembut . Tak ada reaksi apa pun.
Wila memejamkan matanya, ia ingin menghilangkan rasa pusingnya. "Astaghfirullah, Ya Allah, kenapa ini", gumam Wila lirih.
"Wila, apa sebaiknya kita ke ruang P3K saja?", usul Lela.
Wila menggeleng, ia tidak mau ke sana, karena kalau ke sana akan membuka kembali kenangannya bersama Hamzah.
"Nggak usah, sebentar lagi juga baikan", tolak Wila. Ia perlahan menegakkan kepalanya. Namun matanya masih terpejam.
Lela khawatir melihat Wila seperti itu, "Kamu yakin nggak mau ke ruang P3K?" ,
Wila mengangguk, perlahan ia buka matanya, melihat sekeliling," Alhamdulillah", gumamnya.
Lela ikut senang melihat Wila kembali pada kesadarannya semula.
"Kenapa? Kamu pusing?", Lela penasaran.
"Iya, ada mualnya juga", aku Wila.
"Apa perlu aku mintakan obat?" , tawari Lela
__ADS_1
"Sudah, nggak usah, ini akan baik dengan sendirinya"
"Atau jangan-jangan kamu belum sarapan lagi ya?",
Wila tersenyum, "Sudah, aku sudah sarapan, tapi masih mual ya", Wila menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
"Aduh, biasanya kalau begini suka minum obat apa?, biar aku yang ambilkan",
"Nggak usah, ini mah mau yang segar-segar", senyum Wila.
"Yang segar?, maksudnya?", Lela mentautkan kedua alisnya.
"Emmhh , sepertinya rujak enak kayanya", senyum Wila.
"Rujak???", Lela melongo.
"Iya, aku mau rujak", sumringah Wila.
"Ayo, kita cari",tanpa menunggu jawaban Lela, Wila langsung menyambar tas dan menggusur tangan Lela, membawanya berjalan ke luar kelas.
Lela yang kaget masih berada dalam pengaruh Wila, ia berjalan mengikutinya, mereka berjalan ke luar Kampus.
"Kok nggak ada, biasanya suka nongkrong di sini", Wila melihat sekeliling mencari penjual rujak.
Wila merenggut , ia merasa kecewa, karena keinginannya untuk makan rujak tidak terlaksana.
Kok aneh, pagi-pagi gini mau rujak.
Lela menepuk-nepuk pundak Wila dan memandang tajam wajahnya, "Astaghfirulah, Wila nyebut Wil", Lela mengusap wajah Wila.
"Iiih, kenapa La , kamu ini apa-apaan", Wila menepis tangan Lela.
"Kamu nggak kesurupan kan?, kok kepengen rujak pagi-pagi gini?",
"Setahu aku, kamu itu nggak begitu doyan rujak", jelas Lela.
Wila terdiam, ia tidak bisa mengendalikan keinginannya yang suka tiba-tiba datang.
"Maaf, ini spontan", cicit Wila.
Mereka kembali menuju Kampus, namun baru saja beberapa langkah, "teng...teng....teng", suara piring di pukul.
Dengan spontan Wila berbalik, dan "Alhamdulillah, akhirnya", sumringah Wila, ia setengah berlari menuju gerbang. "Mang....tunggu...." , teriak Wila.
Di sana ada seorang penjual rujak baru saja lewat. Tukang rujak berhenti dan tersenyum, lalu memutar kembali gerobaknya menuju Wila yang sedang berdiri di pinggir jalan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Mang dicari dari tadi", senyum Wila merekah saat pedagang itu sudah ada dihadapannya.
Lela menggelengkan kepala menghampiri Wila yang sedang memilih beberapa buah yang diinginkannya.
"Sudah Mang ini saja, jangan pake pedas ya!",
"Mangga Neng", Pedagang rujak itu dengan sigap menyiapkan pesanan Wila. Ada jambu air, pepaya, mangga, melon, dan bengkuang, lalu menyiramkan bumbu diatasnya.
"Mangga Neng", Pedagang memberikan pesanan Wila yang sudah selesai di buat.
"Mmhh, terima kasih Mang, La cepat, ayo kamu mau?", tawari Wila .
Lela mendekat dan mulai memilih beberapa buah, "Mang satu sendok saja pedasnya", pesan lela.
"Mangga Neng", Pedagang itu kembali menyiapkan pesanan Lela, "Mang buah nanasnya tambah lagi satu", pesan Lela.
Setelah selesai, mereka memilih duduk di tempat yang dekat dengan Pos Satpam, dekat gerbang.
Mereka tampak mulai menikmati pesanannya , "Alhamdulillah, akhirnya kesampaian", Wila mulai memasukan satu per satu irisan buah ke dalam mulutnya.
"Mau ini?", tawari Lela. Ia menawari buah nanas kepada Wila.
"Nggak ah, lagi gak doyan", tolak Wila, ia lagi menghindari buah tersebut, karena Bi Yeni pernah bilang kalau buah nanas itu kurang baik dikonsumsi oleh wanita yang sedang mengandung.
"Aku lagi dapet, jadi kalau makan buah ini, banyak keluarnya", aku Lela.
"Oohh, pantesan agak sensi, lagi PMS rupanya", senyum Wila.
"Biasanya, kita barengan kalau dapet, kamu sudah dapet bulan ini?", tanyai Lela.
"Uhuk, Wila hampir tersedak mendengar pertanyaan Lela.
"Pelan-pelan makannya, tenang saja, aku nggak suka rujak manis kok, nggak bakalan minta", senyum Lela.
Buru-buru Wila mengambil botol minumnya di dalam tas, dan meminumnya .
"Aku baru selesai", aku Wila, ia bicara bohong, padahal sudah beberapa bulan ini ia tidak lagi mendapatkannya.
Tapi ia belum berani bicara terus terang, biarlah waktu yang akan menjawabnya.
"Ooohh", Lela kembali menikmati rujaknya, untung saja ia tidak banyak bertanya lagi.
Wila melirik Lela, bagaimana reaksinya nanti kalau mengetahui dirinya sudah hamil, apa ia masih mau bersahabat dengannya, padahal Lela itu sahabat terbaik bagi Wila.
Sahabat rasa saudara, itu tepatnya. Wila sering menginap di rumah Lela, ikut mengerjakan tugas dengan laptopnya. Lela selalu bersikap baik dan tidak pernah menolak jika dimintai tolong, walaupun dirumahnya ada banyak adik yang harus ia ikut jaga .
__ADS_1
Wila berharap bisa membalas kebaikan Lela suatu saat nanti. Wila banyak belajar dari kehidupan keluarga Lela.