Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Janji Dua Hati


__ADS_3

Sejenak Hamzah terdiam , ia berfikir mungkin karena foto-foto itu sikap Wila berubah tadi pagi. Hamzah mengambil Hand phone nya dan memasukkan nomer si pengirim foto-foto tersebut.


Dan ternyata itu nomer milik Susi, sebagai ketua Senat, ia sudah mengantongi nomer kontak semua Mahasiswa.


Hamzah menarik nafas panjang, ia menatap Wila yang terisak, hatinya ikut merasa sakit, ia tidak tega melihatnya.


"Pantas saja kemarin langsung pergi saat dapat telepon, ternyata kamu sudah ada janji sama dia", tuduh Wila.


Hamzah menggeser duduknya mendekati Wila, ia bicara lirih, " Jadi ini, yang membuatmu bersikap dingin tadi pagi?, aku minta maaf, itu memang benar aku, tapi semua itu tidak seperti yang kau pikirkan",


"Semua itu terjadi di luar dugaan, ada seseorang yang sengaja merekam dan mengirimkannya padamu", jelaskan Hamzah.


Hamzah melirik Wila yang masih terisak, "Sudah, jangan menangis lagi, aku tidak tahan melihatnya", ucap Hamzah, yang lagi-lagi hampir menyentuh tubuh Wila.


Hamzah ingin sekali menjadi sandaran Wila, membiarkan ia menangis di dadanya. "Wila, aku itu sayang dan cinta sama kamu saja, aku tidak mungkin berpaling, apa lagi sama Sarah",


"Kamu gak harus percaya, tapi tanyalah hatimu, lebih percaya sama siapa? Sama aku, atau foto-foto murahan itu?", tegas Hamzah.


Wila masih menunduk, tapi kini tangisnya mulai berhenti. Ia cermati semua kata-kata Hamzah. Mungkin ia hanya terbawa perasaan saja, harus diakui, kalau dirinya cemburu, hatinya terasa terbakar melihat foto-foto kemarin.


Hamzah mengeluarkan jus mangga kesukaan Wila dari tasnya. Karena sudah menjadi kebiasaan saat bertemu Wila, pasti ia akan membawakan jus mangga dan snack keju kesukaan Wila.


"Ini minum dulu, biar tenang!", Hamzah memberikannya kepada Wila.


Wila jadi baper, kok Hamzah masih sempat dan selalu ingat untuk membelikannya dua makanan tersebut.


Wila agak tahan harga, ia tidak segera menerimanya. Setelah Hamzah beberapa kali mendesaknya, baru ia terima dan meminumnya.


"Terima kasih", ucap Wila setelah menerima jus mangga dari Hamzah.


"Diminum dong, mumpung masih dingin", ucap Hamzah saat Wila hanya memegang dan memandangi jus mangganya.


"Iya", lalu Wila meminumnya. Dan Alhamdulillah, seketika hatinya menjadi tenang.


Hamzah kembali meyakinkan Wila kalau foto-foto itu seperti sengaja dibuat dan dikirimkannya kepada Wila.


Nanti aku konfirmasi langsung ke orangnya.

__ADS_1


Wila memandang Hamzah, "Siapa?", tanyai Wila penasaran.


Hamzah merasa tidak perlu memberitahu Wila tentang orang yang mengiriminya foto kemarin. "Nanti saja aku beri tahu kalau sudah pasti dia orangnya.", jelas Hamzah.


"Terus tadi katanya ribut lagi sama Sarah, apa itu sengaja buat melampiaskan kekesalanmu", Hamzah melirik Wila


Deg, seperti di timbuk batu saja, hati Wila sakit mendengar tuduhan Hamzah barusan.


"Astaghfirullah, tega ya kamu menuduh aku begitu, ternyata kamu sama saja dengan mereka",


"Bukan begitu, aku cuma nebak saja, kamu kan lagi kesal sama Sarah gara-gara foto kemarin, jadi tadi pagi kamu membalasnya dengan mendorongnya hingga terluka kakinya", jelas Hamzah.


Mendengar ucapan Hamzah tadi, Wila tambah sedih,"Oohh, jadi kamu lebih percaya sama omong kosong mereka", ucap Wila dengan nada seraknya.


"Bukan begitu, coba ceritakan yang sebenarnya, biar aku bisa membantumu", jelas Hamzah. Ia harus sangat hati-hati, saat ini Wila begitu sensitif .


"Lela dan Mita yang tahu cerita sebenarnya, biar kamu yakin, tanyakan saja sama mereka", ucap Wila.


"Gak usah, aku percaya sama kamu, maafkan aku", Hamzah yang kini merasa menyesal dengan apa yang terjadi sama Wila.


Hamzah mengernyitkan dahinya sambil melirik Wila."Dia terluka di kakinya, untuk sementara dia harus beristirahat total untuk memulihkan lukanya.


Hamzah sedikit heran kenapa Wila sepertinya peduli sama Sarah, padahal ia telah kambali membuatnya terkena masalah.


"Kemarin Pak Suparman mengatakan kalau aku harus meminta maaf kepadanya, sebagai syarat beasiswaku bisa terus berlanjut", jelas Wila.


"Untung saja kamu belum bicara apa-apa kepada Bapak kemarin", Wila menunduk berusaha menahan tangisnya kembali.


"Memangnya kenapa?" tanyai Hamzah sedikit heran dengan ucapan Wila.


"Iya, untung orangtuaku belum tahu , jadi mereka tidak akan kecewa jika terjadi sesuatu dengan kita", ucap Wila yang sepertinya sudah meragukan hubungannya dengan Hamzah.


Kini, Hamzah yang merasa menyesal, andai kemarin ia bicara kepada orang tua Wila, mungkin saat ini ia akan lebih leluasa dalam menolong Wila.


"Aku rasa, Sarah sudah terobsesi sama kamu, dia tidak akan membiarkan kamu bersamaku, semua yang aku alami sepertinya karena aku dekat dengan kamu", Wila melirik Hamzah yang ternyata sedang memperhatikannya.


Dan dua mata kini bertemu, saling pandang.

__ADS_1


Pandangan Wila kini sedikit kabur karena ada butiran bening yang mendesak keluar, ia begitu sedih jika harus kehilangan orang yang kini duduk di dekatnya.


Dia adalah penyemangatnya yang sudah lama ia damba. Tapi akan sulit untuk meraihnya, karena ia begitu tinggi dari jangkauannya.


Hamzah sungguh tak bisa melihat Wila seperti itu, ia akhirnya tak bisa menahan lagi, ia memeluk Wila , mendekapnya.


Wila begitu kaget, tapi Hamzah memeluknya erat, hingga wajah Wila terbenam dalam dadanya . "Menangislah", ucap Hamzah sambil tangannya mengelus kepala Wila.


Wila ingin menolak, Wila ingin berontak, Wila ingin melepaskan diri dari pelukan Hamzah, tetapi tidak bisa .


Wila merasa nyaman, Wila merasa tak berdaya, hatinya menolak, ia tahu ini adalah sebuah kesalahn, tapi raganya begitu lemah, tidak bisa menolak rasa yang begitu membuncah.


Wila malah balik memeluk Hamzah, ia menangis di sana, menumpahkan semua kesedihannya yang dari kemarin ditahannya.


Saat ini dua insan yang sedang dilanda asmara itu saling berpelukan. Mereka mengabaikan semua . Mereka larut dalam rasa.


Wila merasa nyaman dan ia pikir ini adalah momen terakhir bersama Hamzah, sebelum dia kehilangannya.


Hamzah berbisik dalam hatinya,' aku tidak akan membiarkan kamu menangis lagi, aku akan menjagamu', sambil terus mengusap kepala Wila.


Selang beberapa detik, Wila baru menyadari posisinya, ia perlahan melepaskan diri dari pelukan Hamzah. Ia menyeka air matanya dan tertunduk.


Wila merasa malu , kenapa sampai tidak bisa menolak dan membiarkan Hamzah memeluknya.


Padahal itu suatu kesalahan.


"Astaghfirullah", berkali -kali Wila beristighfar, ia mohon ampun atas dosanya tadi.


"Nanti aku yang akan mengantarmu menemui Sarah", ucap Hamzah.


"Kita harus saling percaya, mungkin akan banyak kendala buat hubungan kita ke depannya", ucap Hamzah.


"Jangan khawatir, aku akan segera menghalalkanmu, biar kita tidak terus-terusan melanggar norma", jelaskan Hamzah.


Wila langsung terkesiap mendengar ucapan Hamzah , ia masih bingung. Di satu sisi ia ingin menyekesaikan studinya dulu, tapi di sisi lain ,ia juga tidak ingin kehilangan Hamzah.


Sungguh , saat ini Wila tidak bisa memilih, antara kuliahnya dan Hamzah.

__ADS_1


__ADS_2