
Semerbak wangi bunga tercium di area pemakaman, sebagian pengantar pun sudah mulai meninggalkan area tersebut, hingga hanya tinggal Bu Rahmi , Hamzah, dan Andi.
"Sudah Bu, yang sabar, Ibu harus kuat, kesedihan Ibu akan memberatkan Sarah, ikhlaskan Bu!, memang tidak mudah, tapi kalau Ibu sayang kepada Sarah, Ibu harus ikhlas melepaskannya, biar Sarah merasa tenang di sana!", Hamzah mendekati Bu Rahmi yang masih terduduk di sa,m.ping6 pusara Sarah.
"Iya Nak, Ibu hanya tidak menyangka saja, Sarah begitu cepat meninggalkan Ibu, usianya masih muda, harusnya Sarah yang mengantarkan Ibu ke Pemakaman, bukannya Ibu yang mengantarkan dia", isak Bu Rahmi.
"Ini sudah takdir Bu, sekali lagi , Ibu harus Ikhlas!, masih ada Hazel yang msmbutuhkan Ibu",
"Hazel., kasihan kamu Nak, harus kehilangan Ibu saat masih kecil", isak Bu Rahmi terdengar lagi.
"Sudah, Bu!, kita pulang saja, yang dibutuhkan Sarah saat ini hanyalah do'a", ajak Hamzah.
Sejenak Bu Rahmi diam, dia seperti sedang membacakan sesuatu, tangannya berada di atas tanah pekuburan yang masih merah, lalu beralih pada nisan Sarah, dan setelah itu ia bangkit, dengan gontai ia berjalan, Hamzah memapahnya sampai masuk ke dalam mobil.
Andi kembali melajukan mobilnya menuju Villa Bu Rahmi. Tidak ada obrolan apa pun du dalam mobil, mereka fokus dengan pikirannya masing-masing. Hingga Andi membelokkan mobilnya ke pekarangan Villa.
Mobil berhenti , kembali Bu Rahmi menitikkan air mata, pandangannya lurus melihat bangunan di depannya, bangunan yang penuh kenangan bersama Sarah, di sanalah kehidupan masa kecil Sarah , saat dirinya harus bolak-balik ke luar kota, bahkan ke luar negeri untuk mengurus bisnis kulinernya.
Hamzah melirik Bu Rahmi, "Ayo Bu, Ibu pasti bisa, Ibu harus kuat, ingay Bu , masih ada Hazel", kembali Hamzah mengingatkan.
Bu Rahmi menarik nafas panjang, ia melangkah ke luar mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Andi.
Ia segera menghambur menuju dalam, dan Hazel yang menjadi tujuannya. Begitu berada di depan boks bayi, ia langsung menggendong Hazel yang sedang terlelap, ia mendekapnya, baginya kini Hazel adalah pengganti Sarah.
Bayi mungil itu mulai gelisah dan tangisnya pun pecah. Tangisan bayi yang menyayat hati orang yang mendengarnya.
__ADS_1
Bi Marni langsung menghampiri, dan ia tertegun saat melihat Bu Rahmi di sana. "Nyonya, saya ikut berduka, semoga Nyonya di beri kesabaran menghadapi ini semua", isah Bi Marni.
Ia pun merasa sangat sedih, anak yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri, anak yang sedari kecil ia rawat dan asuh, kini sudah berpulang ke hadapan Yang Maha Kuasa.
"Iya Bi, terima kasih, maafkan semua kesalahan Sarah, Bi",
Mereka duduk di ruang keluarga, Bu Rahmi memberikan Hazel kepada Hamzah, seketika tangisnya berhenti begitu berada di pangkuan Hamzah.
"Nak Hamzah, Ibu sudah tua, tidak mungkin bisa menjaga Hazel dengan baik, lagi pula Hazel membutuhkan sosok orang tua yang utuh dalam masa pertumbuhannya, jadi Ibu serahkan sepenuhnya pengasuhan Hazel kepadamu, Wila orang baik, ia pasti bisa menerima Hazel", jelas Bu Sarah.
Hamzah menatap Hazel yang kini tenang dalam pangkuannya, ia membelai lembut pipinya, hatinya terenyuh melihatnya, seorang bayi mungil yang tidak diakui ayah biologisnya dan bayi yang baru saja ditinggalkan oleh ibu yang telah melahirkannya.
"Iya Bu, Inshaa Allah saya akan menjaga dan merawatnya dengan baik, lagi pula ini juga amanat terakhir Sarah", Hamzah menerawang, ia masih ingat saat Sarah memintanya menjaga Hazel di saat-saat terakhirnya.
"Terima kasih, jadikan dia anak yang sholeh, ajarkan dia untuk berbakti kepada ibunya", Ucap Bu Rahmi.
Tak dapat dipungkiri, setiap sudut Villa ini akan terus mengingatkannya kepada Sarah, karena di Villa ini mereka sering menghabiskan waktu berdua.
"Sekalian Ibu akan mengurus ke Notaris, semua kekayaan Ibu akan menjadi milik Hazel saat dewasa nanti", jelas Bu Rahmi.
"Ibu yakin Wila bisa menerima Hazel", Bu Rahmi memandang Hamzah.
"Iya, Bu. Saya akan nengulang ijab qabul setelah masa idah usai", jelas Hamzah.
"Oh iya, untuk keperluan pengajian, sudah Ibu percayakan kepada pihak DKM Masjid, uangnya pun sudah Ibu berikan",
__ADS_1
"Baik Bu, mungkin nanti setelah selesai tujuh hari pengajian Sarah, saya akan kembali ke Bandung", ucap Hamzah
"Bi, tolong ini Hazel sudah tidur kembali, saya belum mengabari orang rumah", Hamzah melirik Bi Marni.
Bi Marni langsung menghampiri dan memindahkan Hazel dari pangkuan Hamzah ke boks bayi .
"Ibu istirahat dulu", Bu Rahmi berdiri, ia berjalan didampingi Bi Marni menuju kamarnya. "Nyonya yang sabar, harus ikhlas, biar Non Sarah juga tenang di alam sana",
"Saya masih penasaran Bi, saya ingin segera tahu, siapa laki-laki yang menjadi ayah biologis Hazel. Sarah bisa sampai depresi , ini semua gara-gara dia", geram Bu Rahmi, ia mengepalkan tangan kanannya.
"Ita Nyonya, semoga saja Tuan Muda bisa segera mengungkap pelakunya",
Nanti setelah selesai urusan di sini, kita pulang ke rumah yang ada di Bandung dulu, semoga di sana ada titik terang", harap Bu Rahmi.
Ia segera memasuki kamarnya, ia mencoba berbaring dan memejamkan mata, namun rasanya sulit , kelebatan bayangan Sarah terus mengganggunya, hatinya yang sakit, membuat ia kembali menumpahkan air matanya.
Tidak mudah menghadapi situasi ini, kehilangan orang yang kita sayang untuk selamanya, tiap teringat, hati terasa sakit. Dan akhirnya Bu Rahmi pun menangis, menumpahkan semua beban berat yang serasa menindih tubuhnya.
Kalau boleh memilih, ia ingin memutar waktu, ia tidak akan terlalu fokus mengurus bisnis kulinernya yang ada di luar kota, mungkin ia akan lebih mengutamakan Sarah, agar Sarah tidak terjerumus dalan dunia gemerlap yang membuat dirinya terjerumus juga dalam pergaulan bebas.
"Maafka Ibu sayang, Ibu telah membiarkanmu hidup sendirian, sehingga kamu tumbuh mengikuti egomu ",,
"Kamu mencari kasih sayang di luar sana di dunia bebas", Bu Rahmi terus meratapi kepergian putri kesayangannya.
"Maafkan ibu sayang, Ibu janji akan mencari laki-laki itu, yang telah membuatmu tiada, sayang, semoga kamu tenang di sana, semoga Ibu bisa terus melanjutkan hidup . Kini Ibu hanya punya Hazel, putri kamu. Ibu yakin Hamzah bisa mendidiknya dengan baik, Ibu yakin Hamzah bisa menjadikan Hazel anak yang sholeh yang bisa berbakti dengan mendo'akanmu",
__ADS_1
"Astaghfirullah, Ya Allah berikan hamba-Mu ini kekuatan untuk bisa melanjutkan sisa usiaku walau sendiri, semoga orang-orang yang aku cintai , suami dan putriku yang kini sudah menghadap-Mu, Engkau berikan ampunan dan kelapangan di alam kuburnya, Aamiin ",
Akhirnya hanya seuntai do'a tulus yang ia lafadkan untuk suami dan putrinya yang telah mendahuluinya menghadap Allah SWT, kita sebagai manusia tidak bisa menolak apa pun yang telah digariskan oleh-Nya, yang baik kita syukuri, dan yang tidak baik, itu menuntut kita untuk lebih sabar dalam menghadapinya.