
Rencana mau tidur lebih awal, gagal total. Malam itu Wila tidak bisa tidur, pikirannya masih kalut, hatinya masih sakit, terlepas dari benar tidaknya foto yang ia terima tadi sore.
Ia mencoba untuk memejam mata, namun rasanya sulit sekali untuk terpejam. Bayangan Hamzah dan Sarah terus saja mengganggunya.
Berbagai posisi tidur sudah ia coba, namun tetap tidak membantu dirinya cepat terlelap. Ia bangun, lalu melihat dirinya di depan cermin.
Matanya terlihat sembab, "Ya Allah , jangan sampai Bapak dan Ibu tahu kalau aku habis menangis", gumamnya lirih.
"Bismillah, Wila....kamu bisa, dia bukan siapa-siapa, gak usah kau terlalu memikirkannya, come on, kuat....kuat...stop!!!, jangan menangis lagi!!!", Wila bicara sendiri, memotifasi dirinya sendiri.
Akhirnya ia ambil tasbih dan mulai berdzikir sambil merebahkan kembali tubuhnya di atas kasur, berharap bisa segera terlelap.
"Maafkan aku, itu tidak seperti yang kau sangka, itu tidak seperti yang kau lihat, aku hanya mengharapkanmu untuk menjadi teman hidupku, kamu harus percaya, aku tak perlu mengumbar janji, aku tak perlu mengumbar sumpah, aku akan membuktikan padamu , kalau aku ini sungguh-sungguh padamu", Hamzah mencoba untuk mendekati Wila, semakin dekat, semakin dekat tapi tiba -tiba ada kilatan cahaya diantara mereka, hingga Hamzah pun hilang dari pandangannya.
"Tunggu....tunggu..., jangan tinggalkan aku", Wila berteriak memanggil Hamzah dan mencoba untuk mengejarnya, namun Hamzah sudah berlalu jauh , jauh dari jangkauannya.
"Kak...., Dan Wila pun terperanjat, terbangun dari tidurnya.
"Astaghfirullah, ternyata mimpi", Wila melihat sekeliling, dan mendapati dirinya sedang duduk di atas kasur.
Sejenak ia termenung, mengingat -ingat kembali mimpinya tadi. "Apa artinya mimpi tadi?", gumamnya.
Foto Hamzah dan Sarah yang sedang berpelukan kembali berkelebatan, dan kini ditambah lagi dengan bayangan dari mimpinya tadi. Apa ini suatu pertanda bahwa akan ada sesuatu antara dirinya dan Hamzah.
Apa mimpi tadi sebagai tanda bahwa akan ada suatu penghalang bagi mereka untuk bisa mewujudkan keinginan untuk bersama.
"Astaghfirullah, jika memang ditakdirkan untuk bersama, sebesar apapun penghalang pasti bisa kami hadang", harapkan Wila.
Ia melirik ke arah jam dinding, jarum jam menunjukkan jam 03.30, Wila bangun dan segera membersihkan diri.
Wila sempatkan untuk shalat tahajud, di sepertiga malam itu ia memohon ampun dan memohon ditetapkan hati, tujuan utamanya ke kota adalah untuk kuliah, bukan untuk Hamzah.
Jika dalam perjalanannya ia dipertemukan dengan Hamzah, itu adalah qodarullah.
__ADS_1
Sebelum ke luar kamar, ia memperhatikan dirinya di depan cermin. Terutama ia perhatikan bagian matanya, terlihat sembab bekas menangis semalam.
Ia khawatir Bapak dan Ibunya curiga, namun sudahlah, apapun yang mungkin terjadi akan ia hadapi, dan semoga saja ia diberikan ketabahan .
Wila langsung menuju dapur, di sana Caca, Yati dan Yeni sudah duduk berkumpul, mereka sedang mencatat daftar belanjaan.
"Assalamu'alaikum, maaf telat", Wila ikut duduk bergabung dengan mereka.
"Wa'alaikumsalam, sejenak mereka diam memperhatikan Wila . "Belum siang, masih subuh nih..., Yeni tersenyum.
Yeni memutuskan untun ke Pasar di antar oleh Caca, sementara Yati dan Wila mempersiapkan di rumah.
Alhasil, jam 07.15 semua sudah siap. Dengan memasang meja di teras depan, semua barang jualannya sudah siap. Ada nasi kuning dan aneka gorengan.
Masih sepi pembeli, maklum ini adalah hari pertama mereka buka. Belum banyak para tetangga yang tahu.
Semakin siang , semakin banyak yang mampir untuk membeli. Alhamdulillah walau hari pertama jualan, tapi cukup ramai.
Wila pamit untuk mempersiapkan diri pergi kd Kampus. Ia ingin pergi lebih cepat, untuk menghindari Hamzah . Pasti Hamzah akan menjemputnya hari ini.
"Iya Bi, ada tugas yang belum selesai, jadi Wila mau ke Perpustakaan dulu", Wila sengaja mengarang alasan. Sebenarnya ia sengaja ingin menghindari Hamzah.
Entah mengapa, hatinya belum siap untuk bertemu dengan Hamzah. Walaupun ia juga belum yakin seratus persen atas kebenaran foto kemarin.
Tapi yang pasti, Wila sudah berikrar dalam hati untuk menghindar dari Hamzah, ia tidak ingin banyak berharap. Lebih baik sakit dan kecewa sekarang, dari pada nanti.
Wila cukup tahu diri, antara dirinya dan Hamzah sungguh bagai langit dan bumi. Ada yang lebih baik untuk Hamzah. Sarah, sosok yang sepadan bersanding dengan Hamzah.
"Ya sudah, Wila berangkat dulu, Assalamu'alaikum", Wila berangkat ke Kampus setelah pamit kepada Ayah dan Ibunya.
Wila sedikit terburu-buru berjalan menuju Kampus, ia takut berpapasan dengan Hamzah. Sesampainya di jalanpun, ia langsung naik angkot.
Wila duduk di jok belakang, selang beberapa detik sebuah motor matic memasuki gang Anggrek, itu pasti Hamzah.
__ADS_1
Untung saja angkotnya langsung melaju, jadi Hamzah tidak sempat melihatnya. Wila memandang punggung orang yang selama ini selalu membuatnya bersemangat , orang yang selalu membuatnya berbunga-bunga.
Tapi kini, bunga itu terancam layu. Ada rasa bimbang dan ragu dihatinya, apa iya Hamzah berbuat seperti yang ada di foto kemarin?
Selama ini Hamzah yang ia kenal begitu baik dan religius, selalu menjaga adab bila berhadapan dengan lawan jenis.
Tapi mana mungkin foto itu bohong, kalau sengaja di buat, untuk apa? Dan oleh siapa?, berbagai pertanyaan bermunculan di benaknya.
Wila melamun, sampai tidak menyadari kalau ia sudah berlalu dari gerbang Kampusnya. Untung saja ada seorang ibu yang mengingatkannya,
"Neng, Kampus sudah terlewat?", kabari penumpang yang duduk di depan Wila.
"Astaghfirullah , kiri Bang", Wila langsung menyetop angkot yang dinaikinya. Ia turun dan menyadari kalau posisi dirinya sudah terlalu jauh dari Kampus.
"Yah....kelewat, mana sudah siang", Wila kelimpungan tidak tahu harus berbuat apa. Tak ada pilihan, ia harus menyebrang dan naik angkot lagi ke arah Kampus.
Setelah menyebrang, ia kebingungan lagi, tak ada angkot yang kosong
Ia berdiri beberapa saat , menunggu angkot yang bersedia mengantarnya ke Kampus.
Tanpa di sadari Hamzah sudah ada disampingnya. Ia tadi ke rumah Yeni dan mendapat kabar kalau Wila sudah berangkat.
Maka secepatnya ia menyusul Wila, dan Hamzah bisa melihat Wila di angkot , lalu mengikuti angkot tersebut tanpa sepengetahuan Wila.
"Assalamu'alaikum, ayo naik, sudah telat!", ajaknya saat sudah adadi depan Wila.
Wila terkejut, ia baru menyadari kehadiran Hamzah.
"Wa'alaikumsalam", Wila jadi salah tingkah, niatnya ingin menghindar dari Hamzah, gagal total.
Lagi-lagi ia dipertemukan dengan Hamzah, Wila masih terdiam, namun Hamzah kembali mengajaknya untuk naik ke sepeda motornya.
Tidak ada pilihan lain, kalau tidak naik, pasti bakalan telat sampai di Kampus. Kalau menolak pun , ia tidak punya alasan yang kuat untuk menolaknya.
__ADS_1
Akhirnya Wila pun menuruti Hamzah,ia naik ke sepeda motornya. Dan Hamzah segera melesat menuju Kampus.
Dalam hatinya, Hamzah bertanya-tanya, kenapa Wila tidak menunggunya seperti biasanya. Apa ada sesuatu yang terjadi?.