Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Berdamai Dengan Keadaan


__ADS_3

"Neng, ini semuanya sudah siap, tinggal dibawa saja", Yeni menyimpan bungkusan kue yang disimpannya di meja depan.


Wila masih bersiap di kamarnya, tetapi ia mendengar dengan jelas ucapan Yeni.


"Sarapan dulu, jangan lupa itu susunya di minum!", perintah Yeni, sambil terus menggoreng adonan bakwan.


"Iya Bi", Wila melihat ada sepiring nasi kuning+ balado telur, dan segelas susu. Ia menyantap sarapannya sambil terus memperhatikan Yeni.


'Alhamdulillah, Bi Yeni sudah benar- benar bisa move on dari Mang Dirja, ia lebih bisa menikmati hidupnya walau tanpa sosok suami di sampingnya', batin Wila berkata.


Dengan kesibukannya jualan, perlahan namun pasti , Yeni bisa kembali menata hatinya. Yang awalnya sempat depresi, kini sudah kembali berseri.


Hidup itu sudah ada yang mengatur. Kalau kita gagal di tengah jalan, jangan menyerah, teruslah berjalan, walau terjatuh, walau tertatih, teruslah berjalan. Yakinlah di ujung jalan sana akan ada keberhasilan, sebagai buah dari usaha dan kerja keras kita.


Bahkan setelah ia sembuh dari sakitnya, ia harus dihadapkan dengan keadaan ekonomi yang memprihatinkan . Biasanya ada suami yang selalu memenuhi semua kebutuhan keluarga, saat suami pergi, sudah tidak ada lagi yang menanggungnya.


Apapun yang terjadi, life is go on, kehidupan terus berjalan. Dengan keahlian yang dimiliki, Yeni bangkit dengan berjualan aneka gorengan, dan kue basah.


Awalnya berat, namun kembali harus ingat, hidup ini perjuangan. Yang tidak mau berjuang, ya terima saja hidupmu apa adanya.


Jangan banyak maunya, jangan neko-neko. Nrimo aja lah.


Wila menghampiri Bi Yeni," Bibib sudah sarapan?",


"Belum Neng, ini tanggung, sebentar lagi", Yeni masih sibuk menggoreng adonan bakwan.


"Sini, ini sama Wila, Bibi sarapan dulu aja!" , Wila mengambil sutik dari tangan Yeni.


"Nggak usah Neng, nanti kesiangan, Neng berangkat saja", tolak Yeni.


"Sudah Bi , Wila masih lama, dari tadi diperhatikan, Bibi belum sarapan apa-apa, Wila mau Bibi sehat terus. Di sini Wila cuma punya Bibi", desak Wila.


Akhirnya Yeni pun menurut , ia menuju meja makan dan sarapan di sana.


Seperti Wila, Yeni pun sarapan sambil memperhatikan Wila. Keponakan yang sudah seperti anak baginya.


Apa yang dialami Wila itu lebih perih pastinya. Ia sedang mengandung, dan suaminya memilih hidup bersama wanita lain.


Terlepas dari alasan apa pun, tapi yang pasti , bagi seorang perempuan , hidup bersama suami yang dicintai itu adalah impian yang ingin menjadi kenyataan.


Tapi kalau pun harapan tidak sesuai dengan kenyataan, itu berarti kita harus terus berjuang untuk menggapainya. Karena yakinlah, di balik kegagalan ternyata ada rencana Tuhan yang lebih baik.


Segala hal akan indah pada waktunya.


"Neng , mau nasi kuning tiga bungkus", pinta seorang pembeli di hadapan Wila.


"Oh, iya Bu ,tunggu sebentar", Wila segera menyiapkan pesanan. Ia sudah cekatan dalam melayani pembeli.


"Di tambah gorengannya sepuluh, campur", pintanya lagi.


"Baik Bu, sebentar", Wila kembali membungkuskan pesanan .


"Ini Bu, sudah", Wila memberikan plasik berisi pesanan pembeli tadi.


"Iya, terima kasih" , sambil memberikan sejumlah uang kepada Wila.


"Sama-sama Bu", senyum Wila.


Bi Yeni tersenyum sambil membereskan piring kotor di atas meja makan.


"Sudah, sekarang berangkatlah, nanti kesiangan!",


"Ya ,Bi Wila berangkat dulu, Assalamu'alaikum", Wila meraih tangan Yeni, setelah mencium punggung tangannya Wila pun berangkat menuju kampus dengan mejinjing kreseng berisi kue basah pesanan Kantin di kampusnya.

__ADS_1


Tanpa Wila sadari, sepasang hazel memperhatikannnya di balik tembok gang yang menjadi tempat menyembunnyikan tubuhnya.


Ia tampak mengarahkab Gawainya ke arah Wila, ya ..., orang itu mengambil Foto Wila secara diam-diam


********


Sebuah notifikasi terdengar dari gawainya . Dengan malas ia bangun, menggeser tubuhnya yang sudah kelihatan gendut mendekati meja kecil dekat tempat tidurnya.


Ia menyeringai, melihat pesan yang baru diterimanya. 'Kamu ya, yang membuat suamiku selalu menghindar dariku?' , rutuk wanita itu dalam hatinya.


Ia melihat sekitar, suaminya sudah tidak ada d sana. "Kebiasaan, pagi-pagi sudah kelayapan ", gerutunya.


Dia mencoba mendial nomer yang tadi mengiriminya pesan. Tak lama terdengar sambungan telpon yang di angkat" Hallo, lakuka n denga baik dan rapi ya, jangan sampai ada jejak", perintahnya.


"Kalau sampai gagal, kamu yang harus tanggung akibatnya",


"Ceklek", suara pintu kamar dibuka. Sontak membuatnya kaget. Dengan buru -buru ia matikan sambungan teleponnya.


"Sudah bangun Non?, ini Bibi bawakan sarapan", Bi Marni masuk membawa nampan berisi sarapan.


"Aduh, Bibi itu kebiasaan, kalau masuk itu ketuk dulu", gerutunya.


"Iya Non, maaf", dengan tergopoh Bi Marni menaruh nampan yang dibawanya di atas meja dekat tempat tidur majikannnya.


"Suami saya kemana Bi?",


"Emmh, tadi Bibi lihat, Tuan muda sepertinya keluar mau shalat subuh di Masjid, Non",


"Kok belum pulang ya, Bi, Apa dia gak lapar gitu, sekarang kan sudah waktunya sarapan",Sarah mencebik.


"Tuan muda sepertinya lagi berpuasa Non, tadi Bibi lihat sedang makan sahur, sebelum pergi ke Masjid",


"Kebiasaan", Sarah kembali mencebik. " Itu tuh alasan saja biar bisa menghindar dari aku",


"Ya, sudah Neng, Bibi tinggal dulu, kalau perlu sesuatu, panggil saja", pamit Bi Marni.


"Iya Bi", Sarah kembali memainkan gawainya untuk kembali ngobrol, setelah terputus karena kaget dengan kedatangan Bi Marni yang tiba-tiba.


"Kemana nih orang, kenapa jadi tidak aktif", Sarah menggerutu setelah tidak berhasil menghubungi orang yang tadi meneleponnya


Sementara Hamzah , selepas shalat subuh di Masjid , ia tidak cepat-cepat pulang . Ia mengikuti kultum dan tilawah Qur'an.


Seperti Wila, Hamzah pun merasa menyesal karena telah berbuat dosa bersama Wila. Dan kini ia pun tidak bisa mendampingi Wila .


Double penyesalan yang kini ia rasakan. Tidak mudah untuk bisa menjalaninya, sering kali ada pertentangan di hatinya.


Hari ini ia sangat berharap Andi bisa menghubungkannya untuk berbicara dengan Wila, atau sekedar melihatnya , untuk mengobati kerinduannya.


Sedari tadi ia pantengi gawainya , takut terlewat jika ada panggilan masuk.


*******


Andi memarkir mobilnya di pinggir gang Anggrek, gang menuju rumah Bi Yeni. Ia bermaksud menjemput Wila. Baru beberapa meter ia berjalan, Andi melihat Wila sudah ada di jalan , berjalan ke arahnya, sambil menjinjing dagangannya.


Andi sudah bersiap untuk menvidio Wila , yang akan dikirimkannya kepada Hamzah . Namun tanpa di duga ada sebuah sepeda motor melaju cepat di belakang Wila.


'Lo....lo...., ngapain itu motor, kok seperti....", Andi setengah berlari menyongsong Wila , yang tidak menyadari kedatangan Andi, dan tidak menyadari pula ada sepeda motor melaju cepat di belakangnya.


"Awas....",teriak Andi sambil menyambar tangan Wila, dan Wila pun tertarik sampai badan mereka berhimpitan di tembok gang. Dan motor itu berlalu menabrak angin.


"Astaghfirullah, Ya Allah, kenapa ini?",Wila memegangi perutnya yang terguncang saking kerasnya ia ditarik Andi.


Wila belum menyadari kalau dirinya kini berpelukan dengan Andi.

__ADS_1


Sampai ia menyadari saat tangan Andi memegangi pundaknya,"Kamu nggak apa-apa Wil", Andi tampak khawatir melihat Wila yang masih terdiam dan nemegangi perutnya.


"Ya Allah", Wila terperanjat dan melepaskan dirinya dari Andi. Walau dengan sedikit limbung, ia berusaha berdiri. Namun Andi kembali menopangnya.


"Kamu baik-baik saja, apa ada yang luka?", kembali Andi bertanya. Ia begitu khawatir .


Sampai beberapa orang datang menghampiri mereka, "Ada apa ini", tanyai salah satu warga yang datang.


"Ini tadi ada sepeda motor yang melaju kencang dari arah sana, seperti sengaja mau menambrak Wila", jelas Andi.


"Wah, kok bisa, apa mungkin sengaja?, di sini itu tidak pernah ada kejadian sampai tertabrak, karena mayoritas yang menggunakan jalan ini ya, warga asli sini, tidak pernah sampai ngebut", jelas seorang warga.


Tanpa mereka sadari ada sepasang hazel yang tampak geram melihat kejadian itu, tangannya memukul kesal tembok yang menjadi tempat menyembunyikan tubuhnya.


"Sial..., kenapa harus ada orang itu", gerutunya. Dan ia pun berlalu meninggalkan tempat itu dengan tergesa, takut, warga yang ada di sana melihatnya.


"Beruntung ada Aden ini yang tadi menarik si Neng, kalau tidak , wah ....sudah tertabrak si Neng", jelas seorang ibu yang tadi menyaksikan kejadiannya.


Wila memandangi Andi yang terlihat meringis, "Kamu kenapa?, ada yang luka?", Wila khawatir.


"Sebaiknya kalian berdua periksa ke Klinik dulu, cek siapa tahu ada yang perlu diobati" usul warga.


"Nggak usah, kami periksa di Klinik Kampus saja tidak apa-apa, hanya sedikit kaget saja" , Andi berjalan menghampiri Wila.


Wila mengangguk, " Maaf sudah membuat keributan, kami tidak apa-apa, terima kasih", Wila berjalan mengikuti Andi menuju mobilnya yang diparkir di pinggir jalan.


"Benar, kamu tidak apa-apa?", Andi kembali memastikan keadaan Wila.


"Iya, aku baik, terima kasih, kalau tidak ada kamu, aku...., nggak tahu ginana", Wila menerawang.


"Ting....", bunyi notifikasi terdengar dari gawai Andi. Ada sebuah pesan masuk dari Hamzah yang menanyakan kepada Andi, kenapa tidak jadi menelepon hari ini.


Andi abaikan pesan Hamzah karena ia tidak ingin Wila mengetahuinya.


Untung saja Wila tidak banyak bertanya, karena ia pun masih sock dengan kejadian tadi.


Berkali-kali Wila mengucap Hamdalah, ia tidak tahu apa yang akan dialaminya jika tidak di tarik oleh Andi, mungkin saja ia dan calon bayinya tidak akan selamat.


Andi melirik Wila , ia pun merasa khawatir , takut kejadian serupa terulang lagi . Untung saja tadi dirinya ada di waktu yang tepat, kalau tidak, entah bagaimana keadaan Wila saat ini.


"Ddrrrttt",


Gawai Andi kembali bergetar, bersamaan dengan sampainya mereka di parkiran Kampus.


"Alhamdulillah", gumamnya.


"Terima kasih Di, aku tidak tahu kalau tidak ada kamu , mungkin aku sudah.....",


"Sstt, Alhamdulillah, ini pertolongan Allah", senyum Andi.


"Iya, Alhamdulillah Allah mengirim kamu untuk menolong aku", Wila balas tersenyum.


"Aku duluan ya, mau nganter ini dulu ke Kantin ", Wila menunjuk ke kue-kue nya.


"Iya, hati-hati!", nanti pulangnya bareng lagi, ada yang mau diomongin", senyum Andi.


Wila menautkan kedua alisnya, lalu tersenyum dan segera keluar dari mobil Andi.


*******


"Maaf ???, dasar tidak becus, disuruh begitu saja gagal", gerutunya. Ia lempar gawainya ke atas kasur melampiaskan kekesalannya.


"Ngerjain gadis kampung saja tidak bisa", dia terus merutuki orang suruhannya yang dianggap gagal melaksanakan perintahnya.

__ADS_1


Ia tampak meringis memegangi perutnya yang kembali menegang.


__ADS_2