Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Aku Menyesal


__ADS_3

Sepulang dari rumahnya, Wila kembali ke rumah Bi Yeni, ia begitu menyesal dengan apa yang telah dilakukannya bersama Hamzah.


Ia tidak berani bercerita kepadsa Yeni. Ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Mana mungkin ia cerita, itu adalah aib baginya.


Akhir pekan ini ada kegiatan di Kampus. Acaranya sampai malam, hingga mengharuskan Mahasiswanya untuk camping di Kampus.


Wila merasa sangat menyesal, kenapa dirinya begitu mudah menyerahkan mahkota kepada Hamzah. Padahal belum tentu Hamzah itu jodohnya.


Seperti biasa sebelum pergi ke Kampus, Wila membantu Yeni mempersiapkan dagangannya. Alhamdulillah, setiap hari omsetnya naik terus.


Tetangganya tak jarang yang memesan dalam jumlah banyak untuk acara syukuran di rumahnya. Terkadang juga tiap hari jum'at , ia mendapat orderan untuk kegiatan jum'at berkah di Masjid sekitar rumahnya.


Sedikit demi sedikit, perekonomiannya mulai pulih , pun dengan hatinya, Yeni sudah mulai menerima keadaannya, walau harus ditinggalkan suaminya.


Wila merasa senang melihat perubahan pada diri Bi Yeni. Dan sekarang dirinyalah yang ia khawatirkan, ia takut terjadi sesuatu pada dirinya sebagai akibat perbuatannya dengan Hamzah.


Namun ia masih fokus dengan kuliahnya. Seperti hari ini, Wila berangkat ke Kampus jalan kaki, ia tidak menunggu Hamzah, kini merasa begitu malu jika bertemu dengan Hamzah.


Ia merasa begitu murahan, mengapa harus terjadi, padahal sebelumnya ia begitu kuat mempertahankannya.


Nasi sudah menjadi bubur, kini ia harus siap dengan segala akibat yang mungkin akan ia dapat.


Yang terpenting sekarang ia harus tetap fokus dengan kuliahnya.


"Tit....tit....tit..., suara klakson mengejutkan langkahnya. Ia menghentikan langkahnya, dan sebuah motor menepi disampingnya.


Hamzah tersenyum memandangnya. Wila menunduk, ia begitu malu. "Kenapa tidak menunggu, masih marah ya?", tanyai Hamzah.


Wila hanya menggeleng , ia segera naik dan duduk di atas jok belakang, ia tidak ingin berlama-lama berada di depan Hamzah.


Kejadian di Gubuk kemarin terus berkelebatan dalam benaknya. Ia begitu malu jika mengingatnya.


"Minggu depan orang tuaku akan pulang, dan secepatnya aku akan menikahimu", jelas Hamzah. Suaranya agak samar terdengar oleh Wila, karena karena mereka sedang berada di jalan raya.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan lepas dari tanggung jawab", lanjut Hamzah, ia mencoba melihat Wila dari kaca spion di sampingnya.


Karena dari tadi Wila diam saja. Hamzah merasa sangat bersalah terhadap Wila, karena ia tidak bisa menjaganya sampai halal. Ia pun bisa mengerti dengan apa yang dirasakan Wila saat ini.

__ADS_1


Sesampainya di gerbang Kampus, ada sebuah mobil yang menghadang mereka, ternyata itu mobilnya Sarah.


Ia memutuskan untuk kembali kuliah walau keadaannya belum pulih benar. Ia di antar oleh sopirnya.


Sarah sengaja menghadang motor Hamzah agar ia bisa ikut sampai ke dalam, secara ia masih harus menggunakan tongkat untuk menopang tubuhnya.


"Hai, tolong aku ikut sampai ke depan kelas ya", ia tidak mengindahkan Wila yang ada di jok belakang motor Hamzah.


"Kok malah diam, ini aku ga bisa jalan tahu", rengek Sarah.


Wila mengalah, ia turun dari motor Hamzah dan bermaksud segera masuk ke dalam, namun langkahnya terhenti oleh teriakan Sarah


"Hai, malah pergi!, tolongin dulu, kenapa siih...", sewot Sarah.


Wila kembali dan segera memapah Sarah menuju motor Hamzah. Sarah segera naik dan tangnnya langsung melingkar mesra dipinggang Hamzah.


"Sudah, ayo jalan", suruhnya, tanpa menghiraukan Wila yang masih mematung. Hatinya tak rela melihat Hamzah di peluk Sarah.


Hamzah melirik Wila, dan pamit dengan hati yang kesal, ia tidak mungkin menolak dengan kondisi Sarah yang seperti ini.


Dan kini berjalan sendiri, namun tak lama kemudian dua sahabatnya datang. Lela dan Mita memeluknya dari belakang.


Lela yang memberondongnya dengan berbagai pertanyaan, karena kemarin waktu Hamzah datang ke rumahnya yang di Kampung, Wila sempat mengabari Lela.


Wila hanya menjawab seperlunya saja karena ia masih merasa kagok saat membicarakan Hamzah di depan Mita.


Walaupun kini Mita sudah ada Juna disampingnya.


"Kok, jalan siih, biasanya diantar dalam parkiran", tanyai Mita sambil melihat sekeliling, seperti sedang mencari seseorang.


"Iya, tadi Kak Hamzah mengantar Sarah ke dalam, ia masih memakai tongkat, kasihan kan", jelaskan Wila.


"Oohh, sudah kuliah lagi?, katanya kemarin disuruh istirahat sampai sembuh", kabari Lela.


"Nggak tahu laah, mungkin lagi semangat kuliah", Wila tersenyum.


"Atau jangan-jangan sudah nggak kuat pingin ketemu sama ....., Mita menghentikan bicaranya, ia takut menyinggung Wila jika mengatakan kalau Sarah pingin cepat-cepat ketemu Hamzah.

__ADS_1


Namun Wila sudah bisa membaca, kemana arah pembicaraan Mita.


Lela cepat-cepat memotong pembicaraan mereka,"Ayo-ayo cepat, nanti keburu telat, ntar ngobrolnya disambung lagi.


"Eh...eh... eh...tunggu, kemarin aku dengar, katanya Juna pernah melihat Sarah di Karaoke dan dia mabuk berat", Mita bicara setengah berbisik.


Wila dan Lela menghentikann langkahnya. Mereka saling melihat, sepertinya tidak percaya dengan perkataan Mita.


"Jangan jadi biang gosip, masih pagi", Lela menepuk pundak Mita.


"Idih..., ini benar, Juna yang menemukanya di room karaoke dalam keadaan mabuk berat", tegas Mita.


"Ya udah, cuma ngasih tahu aja, ini kabar yang bisa bikin heboh di Kampus kita, malah ada anak cowo Kampus ini juga yang ada bersama Sarah waktu itu", lanjut Mita.


"Wah..., nggak nyangka ya, kalau benar begitu", Lela menggeleng- gelengka kepalanya.


Wila diam saja, ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kedua temmannya itu jika mengetahui perbuatannya dengan Hamzah.


Mereka segera menuju kelas yang hampir mau di mulai. Saat kelas bubar, Wila mendapat pemberitahuan dari Bu Rida, kalau pihak Kampus sedang menunggu hasil kesepakatannya dengan Sarah.


Wila harus meminta maaf kepada Sarah atas peristiwa terjatuhnya Sarah, dan itu menjadi sarat agar beasiswanya tetap berlanjut.


Wila menarik nafas panjang, ini adalah hal yang akan sangat sulit, mengingat Sarah yang selalu menyudutkannya.


Tapi Wila kembali harus mengalah, ini semua demi keberlanjutan studinya. Ia memutuskan untuk menemui Sarah hari ini juga.


Ia bergegas menuju kelas Sarah, ia menolak ajakan kedua temannya yang mau ke Kantin. Ia bilang masih ada urusan dengan Pak Dekan.


Wila memberanikan diri menghampiri Sarah yang sedang ditemani Susi. Mereka menatap Wila dengan pandangan elangnya. Namun Wila membalasnya dengan ucapan salam.


"Assalamu'alaikum", Wila menghampiri mereka.


Sarah terlihat menyeringai melihat kedatangan Wila, " Wow ... Wow..., berani sekali , pasti ada hal penting , ada apa sampai loe berani datang menemui gue", Sarah langsung to the point.


Susi melihat Wila dengan pandangan bencinya, "Paling juga mau mohon ampun ke loe Sar", Susi tak kalah ketusnya.


Wila berusaha mengendalikan perasaannya dan tetap bersikap tenang, ia tidak ingin terprovokasi oleh sikap Sarah dan Susi.

__ADS_1


__ADS_2