Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Skenario


__ADS_3

Di kantin, Lela dan Mita sedang ngobrol sambil menikmati pesanannya. Lela kelihatan muram tidak seperti biasa, hanya diam dan melamun. Bahkan minuman yang dipesannya hanya diaduk-aduk saja.


Mita melihatnya dengan heran, Lela yang selalu bercerita dan bercanda saat bersama, kini hanya diam.


"La, kamu sakit?," Mita menyentuh tangan Lela. Lela langsung terperanjat kaget.


"Eh.. Apa, ada apa?", Lela tergagap.


Mita menggelengkan kepala, "Kamu ini kenapa?, sakit, kok seperti kurang bersemangat ",


"Nggak tahu ya, rasanya hampa, jadi minuman ini juga hambar", Lela melengos.


Mita mentautkan kedua alisnya, "Ehm, kamu ini kok seperti yang patah hati ya, benar ga?", Mita menyenggol lengan Lela yang ada disampingnya.


"Hah", Lela menghembuskan nafas panjang.


"Patah hati?, apa iya begini rasanya patah hati", Lela menatap kosong ke depan.


"Makanya, kalau suka sama seseorang itu tunjukkan, nggak perlu diutarakan, bisa lewat perhatian yang spesial, dianya nanti juga akan ngerti sendiri, kalau diam saja, bagaimana dia tahu kalau kamu suka?, tau-tau di ambil orang, nyesel kan, bikin nyesek", omel Mita.


"Kamu itu ya, bukannya bantuin", Lela cemberut.


"Aku bantuin ayo!, siapa orangnya?", desak Mita.


Lela diam, 'apa sebaiknya aku kasih tahu saja Mita, ah tapi sudah terlambat, orangnya juga kan sudah jadi suami orang lain, tak ada gunanya lagi', pikir Lela.


"Sudahlah, sudah nggak penting sekaranng", Lela mulai melahap pesanannya.


"Ya, sudah, nggak maksa kok", Mita kembali memainkan gawainya sambil sesekali memperhatikan Lela , ia menebak -nebak, siapa orangnya yang sudah membuat Lela patah hati, selama ini Lela belum pernah dekat dengan siapa pun.


'Apa jangan-jangan Andi orangnya?, Lela berubah setelah mengetahui hubungan Andi dan Wila', pikir Mita.


"Maaf,aku boleh tebak kan ?, sepertinya aku tahu siapa orang yang telah membuatmu begini",Mita melirik Lela.


Lela terkeasiap, ia pasrah, karena selama ini Mita selalu bisa menebak apa yang sedang ia alami.


"Tenang, yakin saja, jodoh itu sudah di atur, sampai kemana pun, ia tidak akan pergi, walau jalannya yang harus ditempuh untuk menemukan nya berliku, tapi kalau sudah waktunya bertemu, akan indah", senyum Mita.


Lela menunduk, ia merenung, kenapa ia harus membenci hubungan Wila dengan Andi, padahal selama ini mereka tidak mengetahui perasaannya kepada Andi, andai saja ia mau bercerita kepada Wila, sahabatnya tentang perasaannya kepada Andi, mungkin Wila tidak akan menjalin hubungan dengannya, tapi kembali, ini semua sudah ada yang mengatur, ada skenario dari Sang Maha Pengatur Semesta Alam.


Lela jadi merasa bersalah telah menjauhi Wila, ia berniat untuk meminta maaf kepadanya.


"Tunggu, aku mau pesan sesuatu", ia melihat sekeliling, mencari Penjaga Kantin. "Bu", ia memanggil Ibu Kantin.


"Saya pesan jus mangga, di bungkus, gulanya diganti dengan madu ya, itu buat teman saya yang lagi mengandung", pesan Lela.


"Baik Neng, tunggu ya, ibu buatkan dulu", ibu kantin ke belakang untuk menyiapkan pesanan Lela.

__ADS_1


Percakapanmereka di dengar oleh Joko yang sedari tadi memantau mereka, lalu ia mengikuti ibu Kantin ke belakang, "Maaf Bu, saya mau minta garam sedikit",


Ibu kantin yang sedang memotong mangga ke dalam juicer menunjuk ke tempat bumbu, "Ambil saja di sana Den di dalam toples", katanya sambil terus menyiapkan pesanan jus untuk Lela.


"Emh, Ibu saja yang ambilkan, saya suka tertukar antara gula dan garam", alasan Joko.


"Tunggu sebentar", tanpa ada curiga apa pun , Ibu Kantin mengambilkan garam untuk Joko, dan saat itulah , secepat kilat Joko memasukkN sesuatu ke dalam juicer yang terbuka.


"Ini garamnya, maaf ya, tadi baksonya kurang garam ya?", tanyai Ibu Kantin.


"Bukan untuk itu Bu, bakso ibu mah selalu mantap, ini buat tugas Bu", kembali Joko mencari alasan.


"Saya lupa membawanya dari rumah", senyum Joko.


"Ooohh", senyum Ibu Kantin. Ia kembali menyelesaikan membuat jus mangga. Setelah selesai , ia masukkan ke dalam cup , lalu menutupnya dan segera menyerahkannya kepada Lela.


"Terima kasih Bu", senyum Lela.


Joko memperhatikan mereka dengan senyuman penuh kemenangan, ia telah berhasil menjalankan rencananya.


"Sekarang kita tunggu, bagaimana hasilnya", seringai Joko.


Iya bergegas pergi meninggalkan Kantin setelah berhasil menjalankan rencananya.


Tak lama Lela dan Mita pun meninggalkan Kantin.


"Ya, kan aku sudah lama tidak bareng sama Wila jadi ingat saja, dulu kan kita trio , kemana-mana bertiga", senyum Lela.


"Iya...., sekarang dia sudah ada pengawal, jadi susah untuk bisa trio lagi",


"Lagian, kok aku merasa aneh saja, masa sama kita, sahabatnya sendiri, dia nggak pernah cerita soal kedekatannya dengan Andi, tahu-tahu, dung aja itu perutnya berisi",


"Setahu aku, Wila itu kan sukanya sama Hamzah, iya kan?" , Mita melirik Lela.


"Hah apa?" , Lela balik bertanya.


"Ssshh, sudah melamun lagi, dari tadi aku ngomong sudah kaya radio bubut aja" , kesal Mita.


"Iya maaf....., tadi ngomong apa?" Lela menatap Mita.


"Ah nggak, tidak ada siaran ulang", Mita melengos.


"Iiihh, kamu, mulai lagi ngambek", Lela menggandeng pundak Mita sambil tetawa kecil.


"Kemana kita?", Mita menghentikan langkahnya di persimpangan gang.


"Ke Masjid?, atau ke Perpustakaan?"

__ADS_1


Lela melihat arloji di tangan kirinya , jam menunjukkan pukul 14.55.


"Kita ke Masjid saja, biasanya Wila ada di sana",


Tidak banyak bicara, Mita mengikuti Lela menuju Masjid.


Benar saja, Wila sudah ada di sana, ia sedang tilawah Al-Quran sambil menunggu shalat Asar.


Mita mendekati Wila, sedang Lela menunggu di luar, karena ua sedang datang bulan. Wila menghentikan tilawahnya begitu melihat Mita duduk disampingnya.


"Assalamu'alaikum", mereka saling bersalaman.


"Sendiri?", tanya Wila.


"Sama Lela, dia menunggu di luar", senyum Mita.


Tak lama setelah menyesaikan empat raka'at shalat asar, mereka keluar menemui Lela.


Wila sudah sangat merindukan sahabatnya itu , karena hampir satu minggu, Lela selalu menghindar darinya.


"Maafkan aku, ini ada sesuatu buat bumil kita", Lela menyerahkan plastik berisi jus mangga yang dibawanya kepada Wila


"Alhamdulillah, terima kasih, tahu aja apa yang aku suka", Wila sumringah membukanya dB langsung menyedot jus mangga itu dan menyisakan setengahnya.


Lela tersenyum memperhatikan tingkah Wila. "Sudah mau jadi Mamy juga masih kayak anak kecil", senyum Mita meledek Wila .


Wila mengulum senyum, tak dapat dipungkiri memang, kahamilannya ini membuat dirinya lebih manja, ga tau mungkin juga bawaan orok.


Setelah berbincang beberapa saat, Andi datang menghampiri untuk menjemput Wila. Kedatangannya membuat Lela salah tingkah.


Andi terlihat makin tampan saja dimatanya, dengan rambut yang terlihat sedikit basah bekas air wudhu.


"Eh ada kalian, ayo mau ikut pulang sekalian!?", ajak Andi. Dia melirik Lela yang menunduk.


"Nggak terima kasih, aku juga lagi nunggu di jemput", jawab Mita.


"Ayo La, kamu ikut saja, kan searah?", ajak Wila.


"Nggak, terima kasih, aku mau langsung ke minimarket dulu", tolak Lela.


"Ya sudah, kalau begitu kita pulang duluan ya", pamit Andi. Wila dan Andi meninggalkan mereka.


Lela menatap kepergian mereka dengan nanar.


"Hoek.....Hoek....." , Wila tiba -tiba mau muntah, kepalanya sangat pusing, dan perutnya terasa melilit.


Andi yang lagi nyetir segera menepikan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2