Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Tak Bisa Mengelak


__ADS_3

"Kamu jangan mengada-ada, mana bukti dari omonganmu tadi, jangan mencari alasan untuk bisa lepas dari tanggung jawab, kalau perlu kita buktikan sekarang, apa aku sedang isi⁸ atau tidak", tantang Sarah.


"Aku sudah cukup malu dengan kejadian kemarin malam, jangan tambah lagi dengan tuduhanmu yang tanpa bukti, harusnya kamu fokus pada persiapan akad kita, aku tidak mennuntut acaranya digelar mewah, sederhana pun tidak apa-apa", jelaskan Sarah.


Hamzah diam , ia sudah tidak mempunyai alasan apa pun untuk menolak Sarah.


Ia pun sedang menunggu kedatangan orang tuanya. Kalau tidak ada halangan, hari ini ibunya akan datang.


Sengaja Hamzah shareloc alamat rumah Sarah kepada ibunya. Ia ingin ibunya langsung datang ke rumah Sarah.


Sebenarnya Hamzah hanya menduga duga, ia hanya mengungkapkan kecurigaannya kepada Sarah, ia tidak mempunyai bukti kalau Sarah sedang menipunya.


Drrttt


Hand phone Hamzah bergetar, "Ibu", gumamnya.


Hamzah berdiri sambil berjalan menuju halaman. Ia memandu ibunya untuk menemukan kediaman Sarah.


Ia pun berdiri di depan gerbang rumah Sarah sambil tetap berbicara dengan hand phone yang menempel di telinga kanannya.


Tak lama kemudian, berhenti sebuah mobil sedan hitam di hadapannya. Kaca mobil terbuka dan tampaklah seorang wanita duduk di belakang kemudi dan tersenyum kepadanya.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga", wanita itu sumringah, ia mengikuti Hamzah memasuki gerbang rumah Sarah.


"Di sini rupanya?, ia keluar dari mobilnya dan menghampiri Hamzah, lalu memeluknya.


"Bagaimana kabarmu?, kok tiba-tiba menyuruh Kami pulang, ayahmu baru bisa pulang lusa", kabari Bu Kalila.


Ia melihat sekeliling, memperhatikan bangunan rumah Sarah, "ini rumahnya?",


Hamzah mengangguk, lalu membawa ibunya masuk. Tampak Sarah masih duduk di sana, ia tampak asik dengan hand phone nya.


Bu Kalila tampak bingung , ia merasa asing dengan Sarah. Ia melihat sekeliling seperti mencari seseorang.


Seingatnya, wanita yang dikenalkan Hamzah dulu berkerudung. "Apa benar ini rumahnya?", bisik Bu Kalila kepada anaknya.


Hamzah menuntun ibunya masuk, ia memperkenalkannya kepada Sarah. "Sar, in Ibu, sengaja langsung datang ke sini", kabari Hamzah.


Sarah berdiri, ia langsung menyalaminya."Apa kabar Tante?" , Sarah menyapa ramah ibunya Hamzah.


Ia senang , karena sebentar lagi ia akan menjadi ibu mertuanya.


Ibu Kalila menyambut jabatan tangan Sarah, "Ooh, ini siapa, temannya Hamzah?", tanyanya. Kalila masih merasa bingung, karena ia masih mmemikirkan Wila.


Hamzah belum sempat bercerita apa pun pada ibunya, dan selama ini cuma Wila yang ia kenalkan kepada ibunya.

__ADS_1


Sarah tampak tidak senang mendengar pertanyaan ibunya Hamzah, ia melirik Hamzah sambil cemberut.


Tapi Hamzah cuek saja, "Tolong panggilkan ibumu ", bisiknya .


Dengan perasaan yang masih kesal, Sarah beranjak ke dalam , mencari keberadaan ibunya.


Kalila melihat heran anaknya, "Nanti dijelaskan semuanya", ucap Hamzah.


"Terus , mana Wila nya?",


Hamzah menunduk, " Maaf, ini berbeda Bu", jawabnya ambigu.


Tak lama kemudian Sarah kembali bersama ibunya, diikuti Bi Marni yang membawa nampan berisi makanan dan minuman.


Bi Marni menata makanan dan minuman di meja, lalu kembali lagi ke dapur , menyiapkan masakannya untuk makan siang.


Bu Rahmi menghampiri Kalila, sejenak ia tertegun melihatnya, senyumnya merekah, "Ya ampun, Kalila?" tanyanya seketika.


Sontak membuat Sarah dan Hamzah saling pandang.


Kalila bangkit dari duduknya, ia pun sama, tampak sumringah," Rahmi?", tanyanya.


Dan mereka pun tampak langsung berpelukan. Menambah bengong Sarah dan Hamzah.


"Iya", jawab Kalila. Ia melonggarkan pelukannya.


Rahmi menuntun Kalila duduk, mereka seolah melupakan kehadiran Sarah dan Hamzah yang sama-sama melongo.


"Aduh senang banget, setelah los kontak hampir tujuh tahun , sekarang tanpa di duga bisa bertemu lagi", aku Kalila.


"Dan sekarang kita akan besanan",


"Besanan?", kaget Kalila. Ia memandangi Sarah dan Hamzah bergantian.


"Iya, anak-anak kita mau menikah", kabari Rahmi tanpa basa-basi lagi.


"Apa?", kaget Kalila.


"Benar ?", Kalila bertanya kepada Hamzah.


Hamzah mengangguk malas mengiyakan ucapan ibunya Sarah.


"Benar-benar kejutan ini, ternyata celotehan kita waktu sekolah dulu, jadi kenyataan ya", senyum Kalila mengembang.


Hamzah dan Sarah saling pandang. Sarah pun tersenyum senang, ternyata ibunya dan ibu Hamzah sahabatan sejak SMA, ini akan mempermudah hubungannya dengan Hamzah.

__ADS_1


Sarah merangkul tangan Hamzah, dengan senyuman penuh kemenangan.


"Tahu nggak, dulu Mami sama ibunya Hamzah ini sahabat karib, besti kalau istilah anak sekarang ya, dan kita sempat bercanda kalau nanti kita besanan, eh...kesampaian juga", kenang Rahmi dengan senyuma merekah.


"Saya nggak pernah tahu kalau Hamzah dekat dengan anakmu, dia tidak pernah cerita , terus tahu-tahu sekarang mau nikah saja", Kalila tertawa , ia merasa lucu dengan kejadian hari ini


"Iya, kalau sudah jodoh, pasti tidak akan lari kemana",ungkap Rahmi.


"Kenapa buru-buru, kita bisa mempersiapkan sebuah pesta pernikahan yang mewah buat anak-anak kita", jelas Kalila.


Rahmi menatap Sarah, ia menunggu jawaban dari Sarah. Sarah pun memahami arti pandangan Ibunya.


"Nggak usah Tante, kami ingin akad saja dulu, nanti kalau mau pesta, nunggu lulus kuliah dulu", jelas Sarah.


Kalila memandangi Hamzah, ia pun menunggu jawaban dari Hamzah.


"Iya, kita akad saja dulu", jawabnya.


"Iya maaf, minggu depan aku harus kembali lagi ke luar kota, ada kerjaan yang tidak bisa di tunda", jelas Rahmi.


" Jadi sebaiknya kita laksanakan akadnya sebelum aku kembali",


Sejenk Kalila terdiam, " Kalau begitu kita hubungi saja Papah, biar dia pulang dulu, sekalian menentukan harinya", ia tampak menghubungi seseorang lewat hand phone nya.


Tak lama terdengar percakapan dengan seseorang di sebrang sana. Kalila sedang berbicara dengan suaminya,


Sayang sekali, ayah Hamzah yang sedang berada di Dubai rencananya baru lusa bisa pulang, namun tidak jadi karena ada urusan mendadak. Namun ia sempat menyampaikan bahwa akadnya dilaksanakan hari jum'at saja.


Jadi hanya tersisa empat hari ke depan dari sekarang.


"Nih, Papah mau bicara", Kalila memberikan hand phone nya kepada Hamzah.


Hamzah pamit ke luar untuk bisa berbicara dengan Papahnya.


Hamzah memohon maaf sekaligus meminta restu kepada papahnya. Ia sengaja bicara di luar biar leluasa ngobrol dengan papahnya.


Hamzah kembali masuk dan memberikan kembali hand phone ibunya.


Setelah semua sepakat, Hamzah dan ibunya pamit. Sarah tampak begitu senang, tak lama lagi ia akan menikah dengan Hamzah, pria idamannya.


Sementara Rahmi dibantu Bi Marni menyiapkan semua keperluan akad, mulai dekorasi dan catering.


Sesuai rencana, acara akad akan dilaksanakan hari Jum'at. Semua persiapan sudah selesai, tinggal menunggu hari H nya saja.


Berbeda dengan Sarah, Hamzah tampak tidak senang, ia masih memikirkan Wila. Ia merasa begitu bersalah padanya, karena telah mengambil mahkotanya sebelum menghalalkannya, dan kini ia malah menikahi wanita lain.

__ADS_1


__ADS_2