Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Kita Sudah Halal


__ADS_3

Setelah semua tamu dan tetangga pulang , tinggallah Caca, Yati dan Hamzah, mereka duduk di ruang tengah, sedangkan Wila masih berada di kamar.


"Nak , Bapak berterima kasih sekali, ini sungguh anugerah bagi Bapak, dan Bapak harap Nak Hamzah meneruskan kewajiban Bapak untuk menjaga Wila", Caca membuka pembicaraan.


"Iya, ini baru akad, tapi sudah banyak merepotkan Nak Hamzah", sambung Yati.


"Nggak apa-apa, Pak, Bu, ini sudah kewajiban bagi saya, justru saya yang berterima kasih karena Bapak sudah mempercayakan saya menjaga Wila" ,


"Dari pertama bertemu juga Bapak sudah yakin kalau Nak Hamzah bisa menggantikan Bapak untuk menjaga Wila",


Hamzah tersenyum, sambil sesekali melirik ke arah kamar Wila. Namun yang diharapkan tidak terlihat ke luar.


Yati yang memperhatikan tingkah Hamzah segera mengajak suaminya istirahat.


"Sudah Pak, sudah malam, kita istirahat!, ngobrolnya besok lagi , pasti sudah pada capek , seharian belum istirahat", ajak Yati.


Caca menuruti ajakan istrinya , lagi pula memang benar dirinya merasa capek sekali.


Caca dan Yati berpamitan untuk beristirahat . Tinggallah Hamzah duduk sendirian. Sebenarnya Hamzah sedang merangkai rencana biar malam pertamanya berkesan, karena ini bukan yang pertama bagi mereka.


Rasa kantuk mulai menyerang, Hamzah pun beranjak menuju kamar . Kamar yang baginya terasa sempit, ruangan persegi panjang itu hanya muat diisi sebuah ranjang ukuran 120.


Hamzah berdiri di ambang pintu, tampak Wila sedang duduk diatasnya, tersenyum kepadanya.


Deg.....


Seketika jantungnya berdebar. Ia berjalan mendekati Wila, ia duduk disampingnya seraya menggenggam tangan Wila.


"Kirain sudah tidur, kenapa nggak ikut ngobrol sama Bapak ibu?",


Wila tersenyum, "Maaf, aku capek, ini perut rasanya nggak enak, tadi sempat kram", aku Wila.


Hamzah terkejut, mungkin acara tadi membuat Wila kelelahan, sehingga mempengaruhi janin di dalam rahimnya.


Hamzah beringsut mendekati Wila, ia meraba perut Wila dengan hati -hati. Wila terperanjat kaget, " Nggak apa-apa, aku kan ayahnya, mungkin dia kangen, sini biar dia tenang", Hamzah mengelus lembut perut Wila.


Jarak diantara keduanya makin dekat, sampai Wila bisa merasakan deru nafas Hamzah. Wila membiarkan Hamzah mengelus perutnya, ajaib memang, sentuhannya membuat Wila nyaman, begitu juga sesuatu yang ada di perutnya, seketika tenang, tidak kram lagi.


"Bagaimana? Sudah baikkan?, Hamzah memandang lekat istrinya.


Wila mengangguk, karena ia pun merasakan debaran dan getaran halus saat saling bersentuhan dengan suaminya.

__ADS_1


"Kramnya masih ada?",


"Sudah tidak lagi",


Hamzah mendekap istrinya dan berbisik ,"Kalau begitu sudah boleh?", Hamzah mengecup mesra kening Wila.


Wila diam, ia tidak bisa berkata-kata, menahan gejolak rasa yang tiba-tiba mendera. Jantungnya berdetak kencang.


"Diam berarti ya", senyum Hamzah.


"Tunggu dulu, aku masih punya ganjalan", aku Wila.


"Kenapa? Ada apa lagi?", Hamzah penasaran.Wila melingkarkan kedua lengannya di pinggang Hamzah.


"Emh ..., aku ini kan lagi mengandung, apa pernikahan kita ini sah?",


Hamzah kembali mengecup kening Wila.


"Sayang, pernikahan kita sah, sebelum ke sini Abang sempatkan bertanya kepada Pak Suparman tentang hal itu".


Wila melepas tangannya dari pinggang Hamzah, "Abang bicarakan rencana pernikahan kita pada Pak Suparman?", tebak Wila.


"Bukan itu sayang", Hamzah mencolek hidung Wila.


"Abang hanya mencari tahu saja", Hamzah kembali mencium Wila, kali ini mendarat di pipi. Hamzah tampak sudah tidak tahan.


"Terus apa katanya?",


"Apa perlu dijawab sekarang?", Hamzah menatap lekat Wila. Deru nafasnya sudah tidak karuan.


Wila mengulum senyum, ia balas mengecup pipi Hamzah.


"Iya, aku ingin tahu dulu Bang, biar tidak ada ganjalan lagi", Wila merajuk.


"Sini Abang kasih tahu", Hamzah kembali merengkuh pinggang Wila, ia bicara sambil menyandarkan dagu di pundak Wila.


" Kemarin Pak Suparman menjelaskan dengan cukup gamlang, Beliau mengambil rujukan dari pendapat Imam Syafi'i yang mengatakan bahwa, perkawinan akibat hamil di luar nikah adalah sah hukumnya. Perkawinan boleh dilangsungkan ketika seorang wanita dalam keadaan hamil, baik oleh laki-laki yang menghamilinya atau oleh laki-laki yang bukan menghamilinya".


Wila manggut-manggut mencerna setiap ucapan Hamzah.


"Jelas" , tanyai Hamzah, ia kembali mengecup pipi Wila.

__ADS_1


Wila mengangguk.


"Terus, ada lagi? ",


"Hah", Hamzah membuang nafas kasar. Itu ia lakukan untuk melepas rasa sesak akibat gejolak yang makin menggebu.


Wila melirik Hamzah yang malah diam.


"Abang tidur?" , ia mengusap lembut kepala Hamzah yang menyandar dipundaknya.


"Nggak, dari tadi juga sudah bangun", goda Hamzah.


"Aww ..., Hamzah menjerit kaget saat Wila tiba-tiba mencubit pinggang Hamzah.


"Terus..., ada lagi katanya aturan menurut Pemerintah. Ini didasarkan pada Keputusan Menteri Agama RI no.154 tahun 1991, yang menyebutkan hukum hamil di luar nikah.


"Pertama, Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya , kedua, Perkawinan tersebut dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya, ketiga, Dengan dilangsungkan perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah melahirkan".


"Itu penjelasan dari Pak Suparman , sudah jelas kan?" Hamzah kembali mengecup kening Wila , entah yang keberapa kali.


Wila mengulum senyum, ia menghadap Hamzah. Mendekatkan wajahnya dengan wajah Hamzah. Dan Wila memejamkan mata seraya berkata.


"Aku milikmu saat ini, Abang boleh meminta hak Abang kapan saja, semau Abang, semampu Abang" , ucap Wila pasrah.


Hamzah tertegun , ia memandangi wajah istrinya yang hanya berjarak satu jengkal saja. Ia belai wajah putih istrinya , dan mulai mengecupinya.


Nafasnya mulai memburu, tatapannya sudah diliputi gairah. Sesuatu dalam boxernya sudah mendesak ingin keluar, ingin segera bersarang.


"Sayang", Hamzah dengan hati-hati membaringkan Wila. Kali ini ia harus lebih hati-hati melakukannya, karena sudah ada sesuatu yang sedang tumbuh dirahim istrinya.


Wila tampak pasrah, ia membiarkan Hamzah melakukan apa pun pada dirinya, karena itu adalah haknya, walau ini bukan yang pertama, tetapi tetap saja membuat dirinya berdebar tidak karuan.


Setelah beberapa saat melakukan pergumulan dengan istrinya, Hamzah terkulai, dan kembali mengecup mesra kening Wila. Malam itu mereka lalui dengan penuh kebahagiaan.


Wila membuka kedua matanya, mendapati suaminya terkulai kelelahan didadanya, Wila menatap lekat wajah suaminya.


Sebongkah kebahagiaan memenuhi relung hatinya. Tapi di sisi lain rasa ketakutan yang tak kalah besarnya.


Wila takut karena Hamzah juga masih berstatus suami bagi Sarah. Memang Hamzah tidak mencintai Sarah, tetapi Hamzah sudah terikat secara sah dengannya.


Bagaimana jika Sarah mengetahui pernikahannya dengan suaminya, relakah Wila bila nanti harus berbagi suami dengan Sarah.

__ADS_1


Wila takut kebahagiaannya yang baru saja dirasakan harus cepat berakhir. Walau pada awalnya ia hanya ingin mempunyai status yang jelas buat anaknya saja, tapi setelah apa yang mereka lalui malam ini, Wila tidak ingin melepaskan Hamzah.


Wila membelai rambut suaminya, dan tak lama ia pun terlelap dalam pelukan suaminya.


__ADS_2