
Menjelang Isya, dua buah mobil beriringan memasuki pekarangan rumah Bu Yati. Yang punya rumah tidak menyadari kehadiran mereka.
Itu adalah Hamzah beserta Bu Rahmi. Mereka baru sampai. Hamzah segera mengetuk pintu dan mengucapkan salam .
"Wa'alaikumsalam", Bu Yati yang membuka kan pintu untuk mereka.
"Alhamdulillah, sudah pulang, silahkan masuk!",
"Terima kasih Bu, Hamzah langsu
menyalaminya, diikuti BuRahmi dan Bi Marni.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang keluaga. Bu Yati menghidangkan minum untuk mereka.
Wila yang sedang ada di kamar pun mendengar kegaduhan itu, " Ayahmu pulang", gumam Wila sambil memeluk Haura yang mulai terbangun. Ia ke luar kamar sambil menggendong Haura.
Di sana ia mendapati semua anggota keluarganya sudah berkumpul. Wila bersalaman dengan Bu Rahmi dan Bi Marni, lalu duduk di samping Hamzah.
Pandangannya tertuju kepada seorang bayi yang ada di gendongan Bu Rahmi.
"Yang ini pasti Wila ya?", tanya Bu Rahmi dengan suara bergetar. Ia mendekati Wila dan duduk disampingnya.
"Iya saya Wila Bu", rengkuh Wila. Bu Rahmi memeluk Wila dengan sebelah tangannya, karena tangan yang satunya lagi menggendong Hazel.
Bu Rahmi menangis " Tolong maafkan anak Ibu ya Nak!, maafkan Sarah, ia ingin Ibu memintakan maaf padamu", isak Bu Rahmi.
"Ibu tahu, pasti Sarah telah berbuat sesuatu yang buruk kepadamu, tapi Ibu mohon padamu Nak, maafkan dia, biar dia tenang" ,
"Iya Bu, saya sudah memaafkan Sarah, Ibu yang sabar ya!", Wila pun ikut terharu. Melihatmu Ibu seperti melihat Sarah , dia pun seusia kamu Nak",
Semua yang melihat adegan itu ikut terharu, mereka memperhatinya dengan mata berkabut. Tidak mudah kehilangan seseorang yang kita sayang.
Semakin lama, semakin banyak kenangan, semakin merindukan kehadirannya. Dan merindukan seseorang yang sudah tinggal kenangan, itu sakit sekali.
Mungkin itu pun yang kini Bu Rahmi rasakan. Untung saja ada Hazel. Kehadiran Hazel telah mengobati kerinduannya kepada Sarah.
"Ini Hazel, Nak, anaknya Sarah", Bu Rahmi memandang Wila. Ibu sudah bicara pada Hamzah, Ibu ingin kalian yang merawatnya, Ibu ingin Hazel tumbuh dalam keluarga yang lengkap. Ada Ayah dan Ibu yang menyayangi dia", jelas Bu Rahmi.
Wila memandang Hamzah, dan Hamzah pun mengangguk.
Sebentar-sebentar, kok Bapak jadi bingung, Ibu ini siapa?, dan itu anak siapa?", tanya Pak Caca keheranan.
__ADS_1
Hamzah dan Wila saling pandang. Sejenak mereka diam. Begini Pak, ini Ibunya Sarah dan cucunya", jelas Wila hati-hati, ia melihat reaksi bapaknya.
"Terus ...mereka itu siapa?", lanjut Caca.
"Begini ya Pak, sebelumnya saya minta maaf", ucap Hamzah.
"Ini Bu Rahmi, beliau ibunya Sarah, dan Sarah itu istri saya Pak", jelas Hamzah.
"Apa?, istri?, lalu Wila?", suara Caca mulai bergetar menahan marah.
"Bapak tenang dulu, Wila mohon maaf, telah menyembunyikan ini dari Bapak dan Ibu, tapi ini semua demi kebaikan kita", lirih Wila. Ia tahu Bapaknya sedang marah.
"Jadi kamu juga sudah tahu masalah ini?, keterlaluan, kamu sudah mempermainkan kami", timpa Caca.
"Pak, tenang dulu, ini tidak seperti apa yang Bapak bayangkan", Bu Rahmi menengahi.
"Saya yang harus meminta maaf kepada Bapak, ini semua salah anak saya, Sarah", isak Bu Rahmi.
"Pak, anak saya hamil di luar nikah, dan dia juga tidak tahu, siapa laki- laki yang sudah melakukan perbuatan bejat pada dirinya, lalu Sarah sengaja menjebak Hamzah , supaya Hamzah menikahinya, agar dia terbebas dari aib", kembali Bu Rahmi terisak.
Semua yang ada di sana terdiam, mereka merasa terharu. "Saya minta kepada semua, tolong maafkan anak saya, biar dia tenang di alam sana",
"Dan ini Hazel, cucu saya, Sarah ingin Hamzah yang merawatnya",lanjut Bu Rahmi
"Jadi ini, yang membuat kalian ingin mengulang ijab qabul?", tanya Caca.
"Iya Pak", Wila mengangguk.
semua diam, namun tangis Hazel memecah suasana. Ia menangis sejadi jadinya.
Bi Marni sudah parno saja, ia langsung menggeser duduknya, menjauh dari Bu Rahmi.
Andi dan Hamzah saling pandang, mereka takut kejadian kemarin terulang lagi di sini.
Hamzah mendekati Bu Rahmi dan mengambil Hazel dari pangkuan Bu Rahmi yang tampak ikut menangis.
"Ibu tidak apa-apa?, Hamzah duduk di samping Bu Rahmi sambil menggendong Hazel.
"Yang sabar ya Bu, yang dibutuhkan Sarah itu hanya do'a". Ucap Hamzah.
"Hazel cantik, sayang, sini sama Mamah saja", Bu Kalila mendekati Hamzah dan mengambil alih Hazel dari pangkuan Hamzah.
__ADS_1
"Oh..., Hazel haus ya ?, mau mimi sayang?", Bu Kalila berbicara dengan Hazel.
"Mah, apa boleh, Wila memberi asi pada Hazel juga?", tanya Wila
"Oh, itu bagus sayang,Hazel juga membutuhkan itu",
"Bagaimana Zah?",
"Iya, nggak apa-apa, kalau Wila bersedia, itu lebih baik, Mah", ucap Hamzah.
"Terima kasih Nak, hati kamu memang mulia, kamu masih ingin memberi asi kepada Hazel, padahal ibunya sudah membuatmu menderita, dan hampir mencelakaimu", Bu Rahmi kembali terisak.
"Sudahlah Bu, itu sudah berlalu, saya juga sudah memaafkan Sarah. Lagi pula, sayang Bu, saya sering membuang asi yang tidak terminum Haura, ini sudah jalan dari Allah Bu", senyum Wila.
Ia menyerahkan Haura kepada Hamzah, dan ia segera mengambil Hazel dari pangkuan Bu Kalila, dan segera membawanya ke kamar, untuk diberinya asi.
Tak lama ia keluar sambil menggendong Hazel yang sudah tenang, ia terlelap tidur dalam pangkuan Wila.
Semua masih bercengkrama di ruang keluarga. Wila duduk di samping Hamzah yang masih menggendong Haura.
"Kita jadi punya dua anak", senyum Wila.
"Lihat, Haura jadi punya teman", Wila memandang Hamzah.
"Terima kasih, hati kamu memang mulia, kamu sudah mau jadi ibunya Hazel", Hamzah menatap Wila.
"Kalau begitu, kita jadi punya dua cucu Pah", senyum Bu Kalila.
"Iya, dua orang putri cantik", timpa Bu Yati. Semua mendukung Wila.
"Sekarang tinggal menunggu waktu untuk mengulang ijab qabul saja ", senyum Caca.
"Tunggu dulu, ada yang terlewat Pah, Mah", sambar Hamzah.
"Sebelum itu, kita wisudaan dulu, ini ada calon Dokter baru kan?, dan katanya juga ada yang mau langsung lamaran nih", kerling Hamzah kepada Andi.
Andi langsung kikuk, ia tidak menyangka Hamzah akan menyerangnya tiba-tiba.
"Wah, lamaran?, siapa yang mau melamar?", senyum Pak Zakarya.
"Tuh, orangnya", Hamzah melirik ke arah Andi.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kalau mau ada lamaran, sebentar lagi ada yang mau memberi kita cucu lagi , Pah", senyum Bu Kalila.
'lamaran?, Andi?, apa jangan-jangan Andi yang mau melamar Lela?', pikir Wila. Hatinya senang jika memang benar, Andilah yang akan melamar Lela".