Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Hubungan yang Rumit


__ADS_3

"Alhamdulillah, semuanya sehat, tapi usahakan kondisi ibunya harus stabil, biar janinnya tumbuh dalam suasana tenang", ucap Petugas yang telah selesai memeriksa Wila.


Andi mengangguk, "Baik, terima kasih Bu",


Wila membuka matanya perlahan, ia mengerjap-ngerjap, melihat sekeliling. Saat mau bangun, kepalanya terasa pusing.


"Astaghfirullah", gumam Wila.


Andi mendengar gumaman Wila, ia segera menghampirinya.


"Kamu sudah sadar, bagaimana sekarang, apa yang sakit?",


Wila tersenyum, "Satu-satu attu nanyanya, aku nggak apa-apa, terima kasih",


Andi jadi salah tingkah saat Wila memandangnya lekat, "Terima kasih, lagi-lagi kamu yang menolong aku",


Namun seketika senyuman itu berubah menjadi muram, matanya mulai berkabut, cairan bening terlihat menerobos ke luar.


"Kamu nggak boleh sedih, kasihan yang ada di rahimmu, dia juga akan ikut merasakan apa yang yang kamu rasakan", Andi menghampiri, ia hampir merengkuh tangan Wila, tetapi cepat-cepat ia urungkan, mengingat ia bukan muhrimnya.


Wila menyeka air matanya dengan punggung tangan. Perasaannya tidak menentu, tapi yang pasti ia merasa trauma dengan dua kejadian yang menimpanya secara berurutan. Kemarin ia hampir menjadi korban tabrak lari, dan hari ini ia hampir menjadi bulan-bulanan teman di kampusnya.


Ia sedih mengingat dirinya yang seorang diri menghadapi ini semua, untung selalu ada Andi yang membelanya.


Dimana Hamzah?, mungkin ia sudah tidak ingat lagi memiliki Wila.


"Terima kasih, maaf selalu merepotkan", lirih Wila.


Ia bermaksud untuk turun dari bed pasien. Andi mendekatinya untuk menolong, namun Wila melarangnya, "Nggak usah, aku bisa sendiri", tolak Wila sambil tersenyum.


"Aku harus membiasakan mandiri, biar tidak menyusahkan orang lagi", senyum Wila.


"Kamu marah dengan ucapan aku tadi?",


"Yang mana?",


"Aku mengaku sebagai ayah dari anak yang kamu kandung, maaf, hanya itu yang bisa membuat mereka diam", jelas Andi


"Oh...yang itu, ya nggak apa-apa", senyum Wila.


"Tapi mereka pasti akan mengira itu benar, dan itu akan menyulitkanmu, maafkan aku", Wila balik memandang Andi.


Hatinya berkata, " Kenapa selalu kamu yang ada di saat aku kesulitan, apa maksud Allah di balik semua ini", Wila menunduk.


"Ya, nggak apa-apa, kamu kan ipar aku", senyum Andi.


Andi pernah bercerita kalau dia sangat berhutang budi kepada keluarga Hamzah yang sudah merawatnya dari kecil, seperti anaknya sendiri, mereka tidak membeda-bedakan kasih sayang kepada mereka berdua.


"Ting....", gawai Andi berdering.


Di layar nampak Hamzah memanggilnya.


"Ini kesempatan, buat mereka bisa bicara', pikir Andi.


Ia segera memijit tombol biru di layar gawainya.


"Assalamu'alaikum..." , terdengar suara Hamzah di sana.


"Wa'alaikum salam", jawab Andi.


"Lagi dimana?, bagaimana kabar Wila ?",


"Alhamdulillah, ini ada bersama aku", Andi memberikan gawainya kepada Wila dengan tersenyum.


"Bicaralah!", senyum Andi .


Wila ragu menerimanya. Namun akhirnya ia bicara juga.


"Assalamu'alaikum, ....."

__ADS_1


Tak ada jawaban dari sana


Wila mengulangi lagi mengucapkan salam, namun tetap tidak ada jawaban..


"Kenapa...Di, ini siapa kok nggak ada jawaban", Wila melirik Andi.


"Masih nyambung, tapi kok nggak ada jawaban",


Andi mengecek gawainya, "Hallo, masih di sana?",


"I....iya...",


Andi kembali menyerahkan gawainya kepada Wila.


"Nggak mau ah, siapa sih...kok malah diam saja", tolak Wila.


"Coba lagi aja", desak Andi


"Sudahlah Di, kita pulang saja", ajak Wila. Ia hendak melangkah ke luar ruangan.


Namun terdengar suara memanggilnya, suara yang sudah ia kenal, suara yang selama ini ia rindukan.


"Wila....,tunggu...!",


Seketika Wila menghentikan langkahnya. Hatinya bergetar, ia mematung.


Andi kembali memberikan gawainya kepada Wila


"Bicaralah", Andi menganggukkan kepala, meyakinkan Wila.


Dengan tangan bergetar ia menerima gawai Andi


"Assalamu'alaikum, Wila, masih di sana?, tolong jangan pergi dulu!, maafkan aku!", terdengar suara di seberang sana. Jelas , itu nama Hamzah.


Wila terdiam, ia mematung seolah terhipnotis. Selama ini ia sangat merindukan suara itu, tapi saat sudah ada , walau hanya lewat udara, lidahnya terasa kelu, tak bisa berkata-kata.


"Wila..., maafkan aku! , aku tahu kamu masih di sana, aku tahu kamu bisa mendengar aku",


"Wila...., maafkan aku, aku lemah, tidak bisa memperjuangkan kalian",


"Maafkan aku, tidak bisa melindungimu",


"Maafkan aku...maafkan aku", terdengar isakan di sana.


Wila masih tidak bergeming. Antara senang dan marah berkecamuk dihatinya.


"Aku serahkan semuanya kepada Andi, hanya dia yang bisa melindungimu saat ini",


"Aku......tuuuuttttt", sambungannya terputus.


Wila tidak bergeming, ia serahkan kembali gawai ditangannya kepada Andi. "Aku ke Masjid dulu, belum shalat asar", Wila berlalu tanpa memperdulikan Andi.


Andi memandang kepergian Wila. Dan segera menyusulnya setelah memasukkan gawainya ke dalam tas.


Wila terus berjalan menuju Masjid, di sana tampak Lela sedang menyelesaikan do'anya.


Wila berdiri di samping Lela dan segera mendirikan shalat. Selesai salam, Wila sudah tidak mendapati Lela disampingnya.


'Tidak biasanya Lela begitu, kenapa ia tidak menunggu aku?', pikir Wila.


Wila kembali memanjatkan do'a agar semua yang sedang ia hadapi segera menemukan jalan keluarnya yang terbaik.


Wila sudah tidak berharap banyak kepada Hamzah, ia hanya ingin segera menyelesaikan kuliahnya, dan segera keluar dari Kampus ini.


Wila merasa tersiksa dengan semua kenangannya bersama Hamzah di Kampus ini. Setiap sudut Kampus ini selalu mengingatkannya kepada Hamzah. Tidak mudah untuk melupakkan cinta pertamanya, apalagi kini buah cintanya sedang tumbuh dirahimnya.


Andi sampai di Masjid tepat saat Wila keluar dari sana. Mereka saling tersenyum.


Pemandangan itu kembali menjadi pusat perhatian sepasang mata yang sedari tadi mengawasinya.

__ADS_1


Mata yang diliputi kekecewaan dan berubah berkabut saat melihat kedekatan mereka.


Ya, itu adalah mata milik Lela. Yang sengaja memperhatikan Wila dan Andi. Dia masih merasa tidak percaya dengan pengakuan Andi.


Kekaguman dan rasa sukanya kepada Andi mengalahkan nilai persahabatannya dengan Wila.


Matanya menatap dengan penuh kebencian .


Andi dan Wila berlalu tanpa menyadari kehadiran Lela.


Memang cinta itu sungguh aneh, hadirnya bisa mewarnai dunia dengan keceriaan seperti bunga-bunga yang bermekaran, tapi juga bisa membuat dunia gelap seketika, dipenuhi rasa benci dan kecewa yang membara, hingga menghanguskan semua rasa yang ada.


Begitu juga yang dialami Wila dan Lela .


******


"Kamu sudah bangun, kenapa membiarkan aku tidur sampai kesiangan begini" , Sarah mengambil gawai dari tangan Hamzah dan memelukna dari belakang.


Hamzah kaget, ia coba menggapai gawainya lagi dari tangan Sarah, namun keburu di simpan di atas meja riasnya oleh Sarah.


"Astaghfirullah", gumam Hamzah, ia kaget dan berusaha melerai tangan Sarah dari pinggangnya.


"Kebiasaan, kalau sudah begini", Hamzah kembali berusaha melerai pelukan Sarah.


"Aku ini istri sahmu, kenapa masih saja menghindar?", Sarah makin merapatkan tubuhnya ke punggung Hamzah.


Hamzah diam, ia tidak bergeming. Rasa hangat mulai menjalar ke tubuhnya, 'Ini tidak salah, ini halal', pikir Hamzah.


Ia membayangkan Wila yang ada dibelakangnya. Ia pejamkan mata menikmati rasa hangat yang menjalar dari tubuh Sarah.


Tiba-tiba ada yang menendang dari perut Sarah ke punggung Hamzah.


"Aduh", hampir bersamaan Sarah dan Hamzah mengucapkan kalimat yang sama.


Sarah mundur beberapa langkah, dan Hamzah pun membalikkan badan menghadap Sarah.


"Apa itu tadi?, siapa yang menendang punggungku?", selidik Hamzah.


Sarah tersenyum sambil mengusap perutnya, " dia yang menendangmu", senyum Sarah sambil menunjuk ke perutnya yang kian membesar.


"Dia?", Hamzah menunjuk perut Sarah.


Sarah mengangguk,"Coba pegang", Sarah kembali mendekati Hamzah.


Hamzah tidak bergeming, ia memperhatikan perut Sarah, ia mengangkat tangannya untuk menyentuhnya, tapi segera ia tarik lagi dan segera meninggalkan Sarah di sana",


"Hah", Sarah menghembuskan nafasnya .


Usahanya gagal lagi, berulang kali ia berusaha membuat Hamzah menerima anaknya, namun selalu gagal .


Hamzah meninggalkan Sarah , ia menuju balkon. Ingatannya kembali kepada Wila, ia tidak bisa menyaksikan tumbuh kembang anaknya. Mungkin anak yang sedang dikandung Wila pun akan bertingkah sama dengan anak yang dikandung Sarah.


' Kenapa semuanya menjadi rumit begini',pikirnya. Ia menjambak kasar rambutnya.


Sarah memperhatikan Hamzah ," Pasti gadis kampung itu yang membuatnya seperti ini", gerutu Sarah.


"Tiing......", gawai Sarah berdenting.


Sarah mengambil gawainya dzn duduk di pinggir ranjang. Ia membuka pesan yang masuk.


[Wila sedang hamil anaknya Andi], Sarah melotot, namun sedetik kemudian tersenyum.


[Serius....?, Good news]. Balas Sarah.


[Andi sendiri yang mengaku dihadapan kita], Sarah kembali tersenyum membaca balasan pesannya.


[Ok!, pantau terus mereka!], balas Sarah.


Ia segera simpan gawainya kembali karena ia melihat Hamzah kembali memasuki kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2