
Entah kenapa kepala Wila tiba-tiba pusing, ia memejamkan mata selama perjalanan pulang menuju rumahnya.
Andi yang mengantarnya pulang sesekali melirik Wila yang tampak pucat dan lemah. Ingin sekali ia memeluknya, menjadi sandaran untuk meringankan bebannya.
Andi memang mengetahui kedekatan Wila dan Hamzah, ia sangat memahami perasaannya.
Sesampainya di rumah, Bi Yeni menyambut mereka denga senang, ia lagi duduk menunggu pembeli yang datang.
Namun saat melihat turun dengan di tuntun, Yeni kaget dan segera membantunya masuk, "Astaghfirullah, kenapa Neng, sini duduk dulu!,Bibi ambilkan teh hangat ya?", tanpa menunggu persetujuan Wila, Bi Yeni beranjak ke dapur mengambil segelas teh hangat.
Wila meneguk sedikit air pemberian Bi Yeni, tetapi, rasa mual tiba-tiba menyeruak, ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
"Apa perlu kita ke Klinik, Wil?", tawari Andi yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Nggak usah, maaf Wila sudah membuat khawatir, tapi sepertinya Wila cuma perlu istirahat saja, maaf Wila masuk dulu, terima kasih sudah mengantar pulang", Wila melirik kepada Andi.
"Iya, istirahatkan saja, kalau masih belum baikkan, kita ke klinik ya?!", tawari Andi.
Wila mengangguk dan segera menuju kamarnya
Wila sengaja mengunci pintu kamarnya, dia luruh dibalik pintu. Raganya sudah tidak kuasa menahan semua kedukaan, ia harus menyaksikan di depan mata, orang yang dicintainya berikrar setia kepada wanita lain.
Dari tadi ia harus berpura-pura bahagia, menekan semua rasa kecewa, dan menggantinya dengan senyum dan canda tawa.
berpura pura hampir sepanjang hari membuat jiwanya lemah.
Wila memiliki pribadi yang introvert, ia tidak banyak bicara, apalagi saat suasana ramai, ia akan merasa malu mengekspesikan perasaannya.
Apalagi kalau harus menangis. Dari tadi ia pendam semua gejolak rasa, tapi kini saat dirinya seorang diri, ia tumpahkan semuanya.
Wila menangis sambil duduk, menekuk kedua lututnya. Ia tumpahkan semua sakit hatinya, berkecambuk semua rasa di dadanya.
Ia merasa begitu bersalah, kenapa sampai terjerumus dosa besar bersama Hamzah.
Perlahan Wila pegangi perutnya, ia tidak tahu harus bagaimana dengan sesuatu yang mungkin sudah tumbuh di rahimnya.
Wila berdiri menuju tempat tidurnya, ia kembali menggukguk di atas bantal.
Terdengar suara adzan maghrib berkumandang, Wila bangkit, lalu mengambil wudhu.
Wila bersimpuh memohon ampun, mengingat dosa yang telah diperbuatnya. Ia teringat kedua orang tuanya.
Bagaimana reaksi keduanya saat mengetahui anak yang begitu dibanggakannya, melakukan hal yang membuat malu keluarga.
__ADS_1
Tangisnya kembali pecah, tapi ia tahan. Hanya deraian air mata yang terus mengalir dari kedua kelopak matanya.
Ia tidak ingin terus terpuruk, ia tidak ingin mengulang kesalahannya, apalagi menambah besar dosanya.
Ia akan menghadapi apa pun untuk menebus semua kesalahannya. Ia akan mempertahankan apa yang sudah digariskan untuk dirinya.
Selesai shalat Isya, ia membuka mushaf, kembali ia bertilawah untuk menenangkan perasaannya.
Sampai akhirnya ia terlelap di atas sajadah masih mengenakan mukena.
*
*
*
Hamzah sedang menyelesaikan shalatnya saat Sarah memasuki kamar. Ia masih mengenakan gaun pengantin.
Tadi Hamzah meninggalkannya saat Sarah masih asik menemani teman-temannya.
Sarah langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, ia tampak kelelahan.
Namun tersungging sebuah senyum kemenangan. Ia memiringkan tubuhnya, menatap punggung lelaki yang kini sudah menjadi suaminya.
Ia remas bunga mawar yang berserakan di atas kasur , ia melihat sekeliling kamarnya yang berhias bunga melati yang mulai mengeluarkan harum semerbak.
Sarah bangun dengan tiba-tiba , sehingga ia merasakan kram di bagian perutnya. Ia terhuyung dan meringis, hampir saja ia menubruk Hamzah yang masih duduk di atas sajadah.
"Aduh, maaf", Sarah meringis menahan perutnya, dan terjatuh di sofa dekat meja riasnya.
Hamzah kembali kaget, sudah dua kali Sarah jatuh pingsan. Ia segera menghampiri Sarah dan menidurkannya di sofa.
Hammzah bingung harus bagaimana, ia mencoba menyadarkan Sarah. Ia tepuk-tepuk wajah Sarah, namun tetap tidak sadar.
Tak lama ia mendengar pintu diketuk, ternyata Bi Marni yang memberikan dua gelas susu hangat dan obat Sarah yang diberikan Dokter Adis tadi siang.
"Terima kasih Bi", ucap Hamzah. Ia sengaja tidak memberitahu kalau Sarah pingsan lagi.
Hamzah segera masuk membawa nampan dari Bi Marni tadi. Ia lihat obat yang diberikan untuk Sarah.
Duphaston, premaston, Hamzah termenung, mematung untuk beberapa saat, sebagai Mahasiswa jurusan Kedokteran, ia paham dan tahu betul dengan kedua obat itu.
Duphaston dan premaston adalah obat untuk menguatkan kehamilan pada ibu hamil pada trimerter pertama.
__ADS_1
Ia melirik Sarah yang kelihatan sudah mulai membuka mata. Ia kelihatan lemah dan pucat.
Rasanya ingin mengabaikannya, tapi bagaimana pun Sarah saat ini adalah istrinya. Apapun yang terjadi padanya, sekarang menjadi tanggung jawabnya.
Ia melangkah mendekatinya. "Kamu sudah sadar?",
"Ada apa dengan aku?", Sarah masih belum menguasai dirinya, ia masih terlihat bingung.
"Gantilah dulu bajumu!, nanti kita bicara!",
Hamzah membimbing Sarah berjalan menuju water closet, ia membiarkan Sarah mengganti bajunya sendiri.
Hamzah tidak mengindahkan panggilan Sarah yang memintanya masuk untuk membantu mengambilkan pakaiannya
Sarah keluar dengan muka masam. "Apa kamu tidak dengar, aku berteriak memanggilmu", Sarah cemberut menghampiri Hamzah yang sedang duduk di pinggir tempat tidur.
Sarah duduk di samping Hamzah, lengannya dengan berani melingkar di pinggang Hamzah.
"Lepaskan!", Hamzah menjauh dari Sarah, ia menggeser duduknya.
"Kenapa?, Kamu sekarang suamiku", tegas Sarah.
"Jelaskan dulu ini apa?", Hamzah memperlihatkan obat yang tadi diberikan Dokter Adis.
Mata Sarah membulat, ia mengambil obat dari tangan Hamzah.
"Ada yang salah?",
"Ya, itu obat penguat untuk ibu hamil, paham?", Sarah terkesiap mendengarnya. Kenapa ia begitu bodoh, Hamzah kan calon Dokter , pasti lebih paham .
"Nggak tahu, mungkin salah," Sarah mencari alasan
"Seorang Dokter tidak mungkin salah, Sarah", tegas Hamzah.
"Apa benar kamu hamil?, kamu menjebak aku Sarah?, Hamzah mulai marah.
Sarah hanya menunduk, ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya kepada Hamzah.
"Sarah?!!, jawab aku??", Hamzah menaikkan suaranya.
"Malam itu tidak terjadi apa-apa kan?, kamu yang telah menjebak aku, untuk menutupi semua kelakuan burukmu?, benarkan?, jawab???", Hamzah sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, ia mengguncang tubuh Sarah yang hanya diam mematung.
"Aku akan bicarakan ini sama ibumu, biar dia tahu bagaimana kelakuan anaknya?", Hamzah beranjak akan pergi ke luar, tapi Sarah menahannya, ia memeluk kedua kaki Hamzah sambil menangis, "Jangan, tolong, jangan lalukan, maafkan aku", tangisnya pun pecah.
__ADS_1
Sarah menangis sambil memegang erat kedua kaki Hamzah, sehingga Hamzah hanya bisa berdiri sambil menahan semua kemarahannnya kepada Sarah.
Hamzah merasa di jebak.